
Alex tampak memangku sisil masuk ke dalam mobil, mereka sama sekali tidak menghiraukan jika semua orang yang sedang berada di sana menatap mereka dengan perasaan iri.
Tak terkecuali dengan Alvin, dirinya sudah dari tadi memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.
Iya nampak mengepalkan kedua tangannya, wajahnya terlihat merah karena menahan amarah dan rasa cemburu yang kini telah memenuhi seluruh hatinya.
Sungguh... jauh dari lubuk hati yang paling dalam, Alvin merasa sangat tidak rela jika Sisil jatuh ke pelukan laki laki lain. apalagi harus menerima kekalahan dari seorang Alex yang notabenenya hanya seorang supir biasa.
Dengan perasaan kesal dan dibutakan oleh api cemburu yang kini telah membara di dalam hatinya, Alvin berjalan menghampiri mobil yang dikendarai oleh Alex dan Sisil.
Alvin menyuruh Alex untuk keluar dari dalam mobil dengan meneriakkan namanya.
''Keluar kamu Alex,'' sungut Alvin, membuat semua orang yang berada di sana memperhatikan dirinya.
Awalnya Alex tidak ingin meladeni Alvin dan akan terus menjalankan mobilnya, namun Alvin terus berteriak dan menggedor kaca mobil yang dikendarai nya.
Akhirnya Alex pun keluar dari dalam mobil, saat baru saja Alex membuka dan menapakkan kakinya keluar dari dalam mobil, Alvin langsung menarik kerah baju Alex dan melayangkan pukulan di wajahnya yang sontak membuat Sisil berteriak dari dalam mobil.
Alex pun jatuh tersungkur ke atas tanah, dirinya tidak sempat mengelak pukulan Alvin karena semua itu terjadi diluar dugaannya, ujung bibir Alex tampak terlihat robek dan mengeluarkan darah segar, karena tinju yang di layangkan Alvin sangat keras tepat mengenai pipinya.
Semua orang yang berada di sana kini sudah berkerumun di depan mobil merah tersebut, menyaksikan Alvin yang sedang melayangkan pukulan secara bertubi tubi kepada Alex.
Sisil tampak keluar dari dalam mobil, dengan dibantu oleh satu buah tongkat untuk nya berjalan, ia mencoba untuk menghampiri Alvin dan melerai mereka berdua.
''Alvin hentikan...!'' Sisil berteriak sekuat tenaganya.
Namun Alvin tidak menghiraukan teriakan sisil dan terus menghantamkan pukulan kepada wajah Alex, hingga akhirnya seorang satpam menghampiri mereka berdua dan memegang tubuh Alvin.
Dengan tertatih-tatih Sisil menghampiri Alex yang kini sudah bersimbah darah di atas tanah.
''Ada apa ini? mengapa kalian berkelahi di sini? jika kalian ingin beradu tinju mengapa kalian tidak naik saja ke atas ring dan berduel di sana,'' ucap Bapak Satpam tersebut.
''Dia yang memulai perkelahian terlebih dahulu, tolong bawa dia ke kantor polisi, saya akan segera memproses kejadian ini ke jalur hukum,'' ucap Sisil dengan nada yang sangat marah dan lelehan air mata yang kini telah membasahi seluruh pipinya.
__ADS_1
Alvin tidak dapat berkutik sedikitpun di dalam dekapan satpam tersebut, karena tubuh satpam yang tinggi dan juga kekar membuat tubuh Alvin tidak dapat digerakkan sama sekali.
Dirinya pun hanya pasrah, ketika bapak satpam itu memasukkan dirinya ke dalam mobil dan hendak membawanya ke kantor polisi.
Kini Tinggal Alex yang berbaring di pangkuan Sisil yang berada di sana, Alex tampak sangat kesakitan dengan luka memar serta darah segar mengucur dari wajahnya.
''Oppa aku akan segera membawamu ke rumah sakit,'' ucap Sisil dengan berlinang air mata.
Alex pun hanya mengangguk dan meringis kesakitan.
Akhirnya dengan dibantu oleh mahasiswa lain Alex dibawa ke dalam mobil, lalu sisil pun masuk ke dalam mobil dan mencoba untuk mengendarai mobil nya meski kondisi kakinya dalam keadaan seperti itu.
Sisil menginjak pedal gas dengan sangat pelan, karena kondisi kakinya masih terasa sakit akibat terjatuh oleh Alvin, ia pun tidak bisa menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
''Tidak usah ke rumah sakit Aku tidak apa-apa kok,'' pinta Alex dengan wajah yang masih meringis kesakitan.
''Tidak Oppa, aku akan segera membawamu ke rumah sakit, wajah tampan mu terdapat banyak darah, aku takut nanti akan infeksi jika tidak segera diobati.''
Alex tampak sedikit tersenyum, melihat ekspresi wajah kekasihnya yang terlihat sangat khawatir.
''Alvin sudah benar-benar keterlaluan, aku akan segera melaporkannya ke kantor polisi, agar dia bisa dipenjara lalu tidak bisa mengganggu aku lagi,'' ucap sisir geram.
''Tidak usah diperpanjang, ini hanya perkelahian laki-laki biasa yang memperebutkan satu orang wanita cantik seperti mu,'' ucap Alex.
''Tidak Oppa aku akan tetap melaporkan dia ke polisi, aku tidak terima dia melakukan hal ini padamu, sudah cukup dia membuatku terjatuh tadi pagi, dan sekarang dia memukuli mu, apa mungkin aku bisa memaafkan nya begitu saja.''
''Apa...?'' Alex terkejut, dia hendak mengangkat tubuhnya namun meringis kesakitan lalu kembali menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.
''Mengapa kamu tidak bilang jika Alvin telah membuatmu terjatuh, jika aku mengetahuinya tadi, mungkin saja aku dapat membalas perbuatannya dan tidak akan diam saja diperlakukan seperti ini oleh dia,'' Alex terlihat kesal.
''Lalu mengapa oppa diam saja dipukuli seperti itu? seharusnya oppa melawan dan membalas dia.''
''Itu karena aku merasa bersalah kepadanya karena telah merusak persahabatan kalian dan merebutmu dari nya.''
__ADS_1
Sisil hendak menjawab ucapan Alex, namun ia mengurungkan niatnya, karena kini mereka berdua telah sampai di depan Rumah Sakit.
Sisil tampak memanggil perawat yang sedang berjaga di ruang UGD dengan cara berteriak dari dalam mobil, dia ingin keluar dari dalam mobil namun kakinya masih terasa sakit.
Akhir nya tiga perawat datang menghampiri mereka berdua dan membawa Alex masuk ke dalam UGD.
Sisil jalan di belakangnya dengan tertatih-tatih.
Selama hampir satu jam Alex di obat oleh para perawat dan juga dokter, dan wajahnya yang terluka tampak sudah dibalut oleh perban.
Karena lukanya yang tidak terlalu parah Alex pun sudah diperbolehkan pulang hari itu juga.
Setelah menyelesaikan proses administrasi mereka berdua pun berjalan menuju mobil, Alex sudah tampak baik-baik saja meski bagian tubuhnya dan juga wajahnya masih terasa sakit.
''Aku yang menyetir ya,'' ucap Alex saat Sisil akan memasuki mobil.
''Tapi kamu sedang terluka oppa.''
''Tidak apa-apa sayang, karena yang terluka itu wajahku tapi tangan dan kakiku masih baik-baik saja, aku masih bisa menyetir dengan baik.''
'Apa Oppa yakin?'' tanya Sisil khawatir.
Alex mengangguk dan membuka pintu di sebelah pengemudi, dan memapah Sisil untuk masuk kedalam nya.
Akhirnya mereka sampai di rumah Sisil, Alex hendak berpamitan kepada Sisil karena harus langsung bekerja.
''Oppa tak usah kembali ke kantor, nanti biar aku yang menelpon Papih dan bicara padanya agak kamu bisa beristirahat sebentar,'' ucap Sisil.
''Tapi sayang, hari ini hari pertama aku bekerja, apa mungkin aku sudah bolos bekerja di hari pertamaku masuk bekerja?''
''Tapi oppa wajahmu penuh luka, apa kamu tidak melihat perban yang menempel di wajah tampan itu.'' jawab Sisil.
*****
__ADS_1