Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Mencari tahu sendiri


__ADS_3

Alex masih mendekap erat tubuh sang kekasih yang sangat dia cintai, dia tidak memaksa Sisil untuk menceritakan semua permasalahan yang sedang dia hadapi kepada dirinya.


Suara deburan ombak sesekali terdengar bergemuruh di tengah lautan. Seolah menjadi saksi bagi sepasang kekasih yang sedang memadu kasih.


Alex berfikir bahwa usaha nya untuk mengetahui permasalahan kekasihnya ternyata tidaklah berhasil, dirinya sudah berusaha membujuk Sisil supaya bisa bercerita tentang apa yang menyebabkan dirinya mengalami perubahan sikap.


Mulai saat ini Alex akan berusaha mencari tahu sendiri, apa sebenarnya yang menjadi akar dari masalah yang sedang di hadapi oleh Sisil.


''Kita pulang ya, hari sudah semakin sore.'' Alex berucap.


''Sebentar lagi ya, aku ingin melihat matahari terbenam.''


Alex hanya mengangguk.


''Sisil, aku mau bertanya padamu. Apa arti hubungan kita di mata mu.''


Alex memandang wajah sang kekasih.


Sisil tersenyum, mata nya jauh memandang ke tengah lautan yang terlihat tak berujung.


''Hubungan kita? Bagi ku bukan masalah tentang arti hubungan kita, tapi lebih ke arti kehadiranmu dalam hidupku, Oppa adalah orang pertama yang mengerti perasaan ku''


''Merubah Sisi gelap dalam hidup ku, membuat ku berhenti menghisap rokok, dan membuat hidupku menjadi lebih berwarna''


''Oppa adalah orang yang paling aku sayangi saat sini setelah Papih dan Almarhumah Mommy''


''Percaya tidak percaya tapi jujur, Oppa adalah pacar pertama ku, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun selain dengan Oppa.''


''Separuh umurku telah aku habiskan untuk membenci cinta, karena Ibuku sendiri sudah menodai cinta suci Papih, mengkhianati kepercayaan yang telah di berikan oleh Papih kepadanya.''


Sisil menunduk.


''Jadi penyebab kamu sempat membenci mendiang ibumu, karena beliau telah berkhianat kepada Tuan Lionel? Berselingkuh maksudnya? Maaf, jika perkataan ku sedikit menyinggung perasaan mu.''


Sisil menggelengkan kepala lalu menunduk.


''Tidak apa apa, memang seperti itu lah kenyataan nya.''


Alex menggenggam erat jemari Sisil.


''Terima kasih karena telah menjadi wanita yang kuat, kamu harus menanggung semua permasalahan kedua orang tua mu sendirian,'' ucap Alex.


''Terima kasih Oppa.'' Sisil tersenyum.


''Tapi tunggu...! rasanya tidak mungkin wanita secantik kamu tidak pernah memiliki kekasih? lalu laki laki yang bernama Alvin itu siapa ya? bukan nya sedari dulu kalian sudah dekat.''


Sisil tertawa, lalu melihat wajah tampan kekasihnya.


''Alvin itu sahabat ku sedari dulu, meski sekarang sudah tidak lagi.''


Lalu Sisil menatap dengan tatapan kosong.

__ADS_1


''Kenapa kalian tidak berteman lagi?''


''Entahlah, aku memutuskan untuk tidak berteman lagi dengan nya.''


''Apa karena dia menyukaimu.''


Sisil terlihat kaget.


''Dari mana Oppa tahu? apa Oppa mendengar semua percakapan kami waktu itu?''


Sisil sedikit mengerutkan keningnya.


Alex hanya terdiam, membuat Sisil mengerti apa arti dari diam nya Alex.


''Oppa jangan salah paham, aku sama sekali tidak mencintai dia. Oppa adalah satu satu nya orang yang ada di hati ku...! Jangan bilang kalau Oppa masih cemburu sama dia?.''


''Apa...? siapa yang cemburu? Tidak.''


Sisil tersenyum lepas, Alex kekasihnya selalu terlihat sangat lucu di matanya saat sedang cemburu, meski mulutnya mengatakan tidak, tetapi sangat terlihat jelas dari sorot matanya, kalau rasa cemburu itu menghantui dirinya.


Kemudian Alex mengingat sosok Alvin, prita tampan, berpendidikan tinggi dan tentu saja berasal dari keluarga berada.


Membuat rasa tidak percaya dirinya kembali muncul.


Alex hanya terdiam.


Sisil meraih wajah Alex dengan kedua tangannya yang kini terlihat muram, mendekatkan wajah tampan sang kekasih tepat di hadapan nya.


Lalu Alex mengecup tipis bibir kekasihnya yang berada sangat dekat dengan wajahnya.


''I love you to.'' Jawab Alex sesaat setelah melepas kecupan nya.


Matahari sudah mulai tenggelam, warna nya yang kemerahan terpantul dari bayangan air laut, langit yang semula terang kini berubah menjadi berwarna kemerahan yang perlahan tenggelam,yang di gantikan dengan kegelapan, dengan bertabur bintang yang menghiasi langit yang gelap.


Sisil dan Alex beranjak dari duduknya, berdiri lalu berjalan dengan bergandengan tangan, senyum tipis mengembang dari bibir mereka, menyiratkan kebahagiaan yang kini sedang mereka rasakan sebagai sepasang kekasih.


Sebelum pulang ke rumah, mereka menyempatkan untuk mampir dahulu ke Restoran, untuk mengisi perut mereka yang terasa lapar.


Lalu setelah nya baru mereka berdua pulang ke kediaman Sisil.


Sisil dan Alex akhirnya sampai di kediamannya, mereka terlihat sangat bahagia setelah menghabiskan waktu seharian bersama.


Sisil masuk ke dalam rumah dengan berpegangan tangan.


Setelah mereka menginjakan kaki di dalam rumah, alangkah terkejutnya mereka berdua, saat mendapati ayah sudah duduk di ruang Televisi, menunggu kedatangan mereka berdua.


Alex dengan cepat melepaskan genggaman tangan nya dari Sisil, entah majikan nya itu melihat atau tidak, tapi Alex sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya di hadapan majikan nya tersebut.


''Kalian dari mana saja, jam segini baru pulang?''


Ucap Tuan Lionel.

__ADS_1


''Eee... anu Pih, tadi aku ada kelas tambahan, terus kami mampir dulu sebentar ke Restoran untuk makan malam.''


Sisil sedikit terbata bata dalam menjelaskan.


Lalu dirinya melangkah ke hadapan ayah dan memeluk tubuh ayah nya, melingkarkan kedua tangan nya ke pinggang Tuan Lionel.


Sungguh Sisil sangat merindukan ayahnya, hal pertama yang ingin dia lakukan saat bertemu kembali dengan ayah adalah memeluk nya erat.


Kini mata nya sudah sedikit berkaca kaca.


''Aku rindu sekali sama Papih.''


Sisil sedikit menitikkan air mata.


''Papih juga rindu sama kamu sayang.''


Ayah mengusap rambut panjang putrinya.


''Kamu kenapa? mengapa terlihat sedih?'' Ayah menatap lekat wajah Sisil.


''Tidak Pih, aku hanya sangat merindukan Papih.''


Sisil mengusap pipi yang sudah basah dengan air mata.


''Saya permisi ke belakang Tuan,'' ucap Alex yang sedari tadi hanya berdiri di belakang Sisil.


Tuan Lionel hanya mengangguk.


''Papih tidak di rumah sakit? bagaimana keadaan Daniel? apa dia sudah boleh pulang ke rumah?''


Sisil memberondong ayah nya dengan tiga pertanyaan sekaligus.


''Papih hanya pulang sebentar, untuk mengambil baju ganti untuk adik dan ibumu, keadaan Daniel sudah mulai membaik, lusa juga sudah di perbolehkan pulang ko,'' jawab ayah.


''Syukurlah, aku sangat khawatir akan keadaan Daniel.''


''Terima kasih ya sayang, kamu sudah bersedia menerima dan merawat Daniel dengan baik, Daniel sudah menceritakan semuanya, bahwa kamu menjaga dan menemani Daniel selama kami tidak ada di sini.''


Ucap ayah dengan mengecup pelan rambut putri kesayangan nya.


Sisil tersenyum, dirinya melepaskan pelukan dari tubuh sang ayah.


''Aku sudah menyayangi Daniel seperti adikku sendiri, dia anak yang baik, dan semenjak dirinya berada di rumah ini, aku sama sekali tidak pernah merasa kesepian lagi.'' Sisil berucap.


''Terima kasih sayang, Papih sayang sama kamu.''


''Aku juga sayang sama Papih.''


Setelah puas melepas kerinduan antara ayah dan putrinya, akhirnya Tuan Lionel berpamitan untuk kembali ke Rumah sakit, karena dirinya masih harus menemani Angel istrinya, yang sekarang hanya sendiri menemani Daniel yang masih terbaring sakit.


*****

__ADS_1


__ADS_2