
Sudah lebih dari dua jam Daniel Demam, matanya terpejam tetapi wajah nya meringis seolah menahan sakit.
Karena khawatir, akhirnya Sisil dan Alex memutuskan untuk membawa Daniel ke rumah sakit.
Pukul 2 dini hari mereka sampai di rumah sakit, tampak perawat yang sedang berjaga malam langsung menghampiri Alex yang menggendong Daniel ke ruang Unit Gawat Darurat.
Dua perawat dengan dengan satu Dokter langsung membawa Daniel, sementara Alex dan Sisil hanya menunggu di ruang tunggu.
''Kamu jangan khawatir ya, Daniel pasti baik baik saja.''
Ucap Alex mencoba memenangkan kekasih nya, dia meraih lengan Sisil dan menggenggam erat jemari nya.
''Aku tidak tahu kalau dia sebenarnya demam, aku tertidur pulas sementara adik ku sedang menahan sakit, seharusnya aku lebih memperhatikan dia.''
Sisil terlihat berkaca kaca.
''Semua ini bukan salah kamu, dia tidak ingin mengatakan kepada mu mungkin karena tidak ingin kamu merasa cemas.''
Alex menyandarkan kepala Sisil di bahunya, yang sudah mulai terisak.
Sisil menggenggam erat jemari Alex, dirinya sungguh khawatir akan keadaan adiknya.
Akhirnya Dokter yang tadi merawat Daniel keluar dari ruangan Unit Gawat Darurat.
''Di sini siapa wali dari Pasien.?'' Ucap Dokter tersebut.
''Saya Dokter, bagaimana keadaan adik saya.?''
Sisil tampak berdiri menghampiri Dokter tersebut.
''Syukurlah kalian membawa pasien ke sini di waktu yang tepat, andai saja kalian sampai telat sedikit, tubuhnya pasti akan mengalami kejang hebat, karena suhu badan nya sudah mencapai 40°Celcius.''
''Tapi Adik saya tidak apa apa kan Dokter?''
Sisil tampak sangat cemas.
''Sekarang sudah sedikit membaik, sudah di beri obat penurun panas, kami akan memeriksa kondisi pasien lebih lanjut, mencari apa penyebab tubuh pasien sampai mengalami Demam.''
''Nanti setelah panas nya sudah benar benar turun, Pasien akan di pindahkan ke Ruang Rawat Inap.''
Ucap Dokter tersebut.
''Terima kasih Dokter. Tolong lakukan yang terbaik untuk adik saya,'' ucap Sisil dengan nada lembut.
Dokter pun kembali masuk ke dalam Ruangan, sementara Sisil masih menunggu di luar Ruangan dengan di temani Alex.
__ADS_1
''Sebaik nya kamu segera menghubungi Nyonya Angel, beliau harus tahu kondisi adikmu,'' ucap Alex.
''Aku takut akan di salah kan oleh Tante Angel, dia pasti akan marah jika tahu Daniel sakit gara gara aku kurang baik dalam menjaga nya.''
Sisil menunduk, wajahnya terlihat sangat ketakutan.
''Sayang...! Dengarkan aku, adik mu sakit bukan karena kamu, sakit itu datang nya dari yang maha kuasa, kamu tidak boleh menyalahkan dirimu seperti ini.''
Alex mengusap punggung kekasih nya dengan satu tangan
''Tapi tetap saja, aku yang salah karena kurang memperhatikan dia.''
Sisil tampak sedikit terisak.
''Sayang... Kamu yang tenang ya, adikmu tidak akan apa apa, dia akan segera sembuh, yang harus kamu lakukan sekarang adalah berdoa, semoga Tuhan segera mengangkat penyakit Daniel.'' Alex menenangkan kekasihnya tercintanya.
Sisil hanya mengangguk.
Alex meraba pipi mulus kekasihnya, mengusap satu persatu bulir air mata yang mengalir deras membasahi wajah cantik sang kekasih.
Sebenarnya dia tidak mengerti mengapa Sisil menjadi sangat rapuh, wanita yang di awal perkenalan mereka terlihat kuat, selalu tersenyum dan terlihat sangat ceria, dan dia selalu bisa membunyikan kesedihan nya.
Sisil yang dia lihat sekarang tidak Sekokoh dulu, semenjak ayah nya menikah lagi, dia tak layaknya seperti wanita yang terkekang, wanita yang biasa nya hidup bebas dengan kemewahan yang selalu di berikan oleh ayah nya, kini telah berubah menjadi wanita rapuh dengan segala kesedihan dan kegundahan nya.
Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa kekasihnya begitu takut terhadap Ibu tiri nya? Bukan kan kekasihnya bukanlah anak kecil yang bisa di perlakukan dengan semena mena oleh seorang Ibu tiri.
Dia hanya bisa menggenggam erat jemari sang kekasih, seolah memberi isyarat bahwa dirinya akan selalu ada di sisinya, apapun yang terjadi.
Setelah satu jam menunggu, akhirnya Dokter sudah memperbolehkan Daniel untuk di pindahkan ke ruangan Rawat Inap.
Di dalam Ruangan Rawat Inap.
Sisil menatap handphon miliknya, dia berencana akan segera memberi tahukan keadaan Daniel kepada Ayah dan Ibu tirinya.
Meski ada rasa sedikit takut dalam hatinya, akhirnya dia pun memutuskan untuk menelpon sang ayah.
Sisil menghubungi ayahnya, beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
Lalu dirinya mencoba menelpon Ibu tirinya, masih tetap sama tidak ada jawaban.
Mungkinkah ayah dan ibunya sedang menikmati kebersamaan mereka, sehingga mereka tidak membawa handphone mereka.
Lalu dirinya menatap wajah Daniel yang sedang terlelap di atas ranjang Rumah sakit, wajahnya sudah tidak lagi meringis karena kesakitan, Daniel terlihat tertidur pulas.
Sisil pun menatap wajah Alex yang kini sedang tertidur di kursi, kepalanya tampak bersandar di bahu kursi.
__ADS_1
Hanya dirinya sendiri yang tidak bisa terlelap, mata nya seperti tidak bisa terpejam sama sekali.
''Kamu belum tidur? kamu juga harus istirahat Sisil.''
Tanya Alex dengan sedikit membuka matanya dan tampak menguap menahan kantuk.
''Kamu saja yang tidur, aku ingin menjaga adikku sebentar.''
''Ya sudah, aku tidur sebentar, nanti gantian, aku yang menjaga adikmu.''
Sisil hanya mengangguk.
Alex pun memejamkan matanya kembali, rasa kantuk yang di rasanya sudah tidak dapat dia tahan lagi.
***
Pagi hari, handphone Sisil berdering, rupanya sang ayah menelpon nya setelah melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari putrinya.
Sisil mengangkat telpon, menceritakan semua yang terjadi kepada ayah nya, ayah terlihat sangat panik, dan berjanji akan segera pulang ke tanah air hari ini juga.
Siang hari, kondisi Daniel sudah sedikit membaik, dia masih terlihat lemas, dengan jarum infus yang tertanam di lengan kirinya.
''Kaka sudah makan belum?''
Tanya Daniel melihat wajah Kaka nya, yang terlihat sayu karena kelelahan menjaga dirinya semalaman.
''Tidak apa apa dek, kakak belum lapar, bagaimana keadaan kamu? apa masih ada yang sakit? maafkan Kaka karena kurang perhatian dalam menjaga mu.''
Sisil terlihat menunduk.
''Kaka tidak salah, sakit aku bukan karena Kaka, mungkin memang sudah waktunya aku sakit, Tuhan memberi rasa sakit padaku agar aku bisa beristirahat dan menghentikan aktivitas ku sementara.'' Ucap Daniel.
Lagi lagi Sisil di buat tersentuh oleh ucapan adik nya yang baru berusia 11 tahun, setiap kata yang terucap dari mulutnya tidak seperti celotehan biasa yang keluar dari mulut anak seusianya.
Sisil mengelus rambut sang adik dengan lembut.
''Kamu cepat sembuh ya, Kaka sungguh sedih melihat mu seperti ini.''
Ucap Sisil mulai berkaca kaca.
Daniel hanya mengangguk sembari sedikit tersenyum.
Tak lama kemudian Ayah dan Ibu tirinya memasuki Ruangan, Sisil terlihat sangat terkejut, mengapa Sang ayah bisa begitu cepat sampai ke tanah air.
Angel menghampiri Daniel yang tampak pucat terbaring di ranjang Rumah Sakit, wajah nya terlihat sedih melihat anak kesayangan nya dalam kondisi yang seperti ini.
__ADS_1
Lalu dia menatap tajam wajah Sisil, terlihat sangat jelas dari sorot matanya kalau dia akan menumpahkan semua kesalahan kepada anak tirinya, karena tidak bisa menjaga dengan baik anak kesayangan nya.
*****