
Sisil tampak mengerang kesakitan, saat lelaki paruh baya itu mulai memijit kakinya nya, air matanya tampak mengalir membasahi pipi putihnya.
Tuan Lionel tampak khawatir melihat putri kesayangannya kesakitan hingga menangis.
Apa seharusnya dia membawa Sisil ke rumah sakit, namun dirinya sudah terlanjur menelpon tukang urut yang kini sedang mengobati putrinya.
Selama hampir setengah jam, tukang urut tersebut mengobati Sisil,
setelah selesai, orang tersebut membalut kaki Sisil dengan kain kasa berwarna putih, dan setelah itu dia pun berpamitan.
Beliau hanya berpesan kepada Sisil supaya tidak terlalu banyak bergerak ataupun beraktivitas seperti biasanya.
Tuan Lionel menghampiri Sisil yang masih terlihat meringis kesakitan, tangannya masih terlihat menggenggam erat jemari kekasihnya yang sedari tadi duduk disampingnya.
''Apa sebaiknya kita pergi saja ke rumah sakit?'' tanya ayah.
''Kita lihat saja keadaan Sisil sampai besok, jika kondisi nya tidak membaik, baru kita membawa nya ke rumah sakit,'' ucap Angel.
Sisil mengangguk, dan ayah pun ikut mengangguk tanda setuju.
''Alex, sebaiknya kamu menunda dulu rencana kepindahan mu, sepertinya Sisil sedang membutuhkan kehadiranmu di sini,'' pinta Tuan Lionel.
''Baik Tuan,'' jawab Alex.
''Sayang, kamu istirahat saja ya, jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa menelpon ibu,'' ujar Angel kepada Sisil, seolah dia terlihat tulus.
''Terima kasih Bu,'' jawab Sisil.
''Papih tinggal dulu ya.''
Sisil mengangguk.
''Kamu temani dulu Sisil,, tapi ingat jangan sampai ketiduran di sini,'' ujar Taun Lionel kepada Alex.
''Tidak akan tuan saya akan segera pergi setelah Sisil tertidur,'' jawab Alex.
Lalu tuan Lionel berbalik hendak pergi, namun saat hendak melangkah dirinya kembali membalikan badan dan menatap ke arah Alex.
''O iya, Alex... mulai sekarang kamu tidak usah lagi memanggil saya dengan panggilan Tuan, panggil saya Om... Atau jika kamu ingin memanggil dengan sebutan Papih juga boleh, karena mulai sekarang kamu adalah calon menantu saya,'' ucap Tuan Lionel dengan tersenyum.
Alex tampak senang mendengar ucapan majikan tersebut, atau lebih tepatnya calon mertuanya kelak.
''Baik Om Tuan,'' ujar Alex yang masih merasa canggung dengan panggilan tersebut, hingga membuat nya mengucapkan dua panggilan sekaligus, membuat Sisil serta ayahnya pun tertawa.
__ADS_1
Lalu Tuan Lionel pergi meninggalkan mereka berdua, dirinya percaya jika Alex tidak akan pernah berbuat macam-macam kepada Sisil, sehingga dia tidak merasa khawatir meskipun meninggalkan Alex hanya berdua di dalam kamar.
Setelah sang ayah beserta ibu tirinya benar-benar keluar dari dalam kamar, Sisil melihat wajah Alex yang terlihat merah bersemu, dengan raut wajah yang terlihat sangat gembira.
''Cie... calon mantu,'' sisir meledek kekasihnya.
Alex pun tersenyum.
''Masih sakit tidak?'' tanya Alex.
''Sakit banget Oppa, namun rasa sakit ini sedikit terlupakan jika mengingat kebahagiaan yang sedang aku rasakan saat ini, mungkin ini adalah karma yang harus aku terima karena sudah menyakiti hati Alvin.''
''Ini hanya musibah, kejadian ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Alvin, kamunya saja yang kurang hati-hati dalam berjalan,'' Alex berusaha menghibur.
Karena walau bagaimanapun Alvin dan Sisil sudah bersahabat dari sebelum dirinya masuk ke dalam kehidupan kekasihnya.
Dan dia tahu persis bagaimana perasaan Sisil, dirinya harus kehilangan sahabat yang sedari dulu selalu menemaninya.
''Sudah... jangan terlalu dipikirkan, sekarang sebaiknya kamu istirahat agar kondisimu cepat pulih, jika besok kakimu masih terasa sakit aku akan mengantarmu ke rumah sakit.''
Lalu Sisil mengangguk.
Alex meraih selimut yang melipat di ujung tempat tidur, lalu menutupi tubuh Sisil dengan selimut tersebut.
''Aku akan berada di sini sampai dirimu benar-benar tertidur, jadi coba lah untuk beristirahat dengan tenang tanpa memikirkan apapun,'' ujar Alex sambil mengusap rambut sang kekasih lalu mengecup keningnya.
Alex mengangguk dan tersenyum.
Sisil memejamkan matanya, dengan tangan yang masih menggenggam erat jemari sang kekasih. Dan tak lama kemudian dia pun benar benar terlelap.
Alex bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Sisil yang sudah tertidur pulas.
Keesokan harinya.
Angel beserta Daniel mengunjungi kamar Sisil, dirinya ingin melihat kondisi anak tirinya, dia juga tidak tega melihat Daniel yang terlihat sangat khawatir setelah mengetahui kejadian yang menimpa kakaknya tersebut.
Sisil tampak masih terlelap, saat Angel dan Daniel sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
''Apakah kakak baik-baik saja Bu?'' tanya Daniel dengan raut wajah yang sangat khawatir.
''Kakakmu akan baik-baik saja, kamu tidak usah terlalu cemas ya, kakinya hanya terkilir, nanti beberapa hari juga sembuh,'' jawab Angel menenangkan putra kesayangannya.
Tak lama kemudian Sisil pun membuka mata, dirinya terbangun setelah mendengar suara Daniel beserta ibunya.
__ADS_1
''Kakak sudah bangun?'' tanya Daniel setelah melihat Sisil membuka mata.
''Kamu di sini dek? apa kamu tidak pergi sekolah?''
''Sebelum aku berangkat sekolah, aku ingin melihat keadaan kakak dulu, aku dengar kaki kakak terkilir, Apakah masih sakit?'' tanya Daniel.
''Masih sakit sedikit sih, tapi nanti juga sembuh, kamu tidak usah cemas ya, sekarang mendingan kamu pergi sekolah nanti terlambat lho,'' jawab Sisil.
''Ya sudah kakak cepat sembuh ya, aku berangkat sekolah dulu, nanti pulang sekolah aku balik lagi ke sini untuk menemani kakak.''
Sisil mengangguk lalu tersenyum.
Daniel pun akhirnya pergi meninggalkan Sisil, yang di ikuti oleh ibunya.
sebenarnya Sisil merasa kalau dirinya tidak baik-baik saja, badanya terasa demam, dan rasa sakit di kaki nya belum juga hilang, namun dirinya tidak ingin membuat Daniel khawatir, sehingga menyembunyikan semua itu dari adik kesayangannya.
Sisil meraih handphone yang tergeletak tidak terlalu jauh dari tempatnya berbaring, dirinya hendak menelpon sang kekasih, namun saat dirinya baru saja akan menekan tombol di handphone nya, Alex masuk ke dalam kamar dengan membawakan sarapan untuk dirinya.
''Kok kamu di sini oppa, bukannya kamu harus mengantarkan Daniel ke sekolah?'' tanya sisil dengan raut wajah heran.
''Daniel berangkat ke sekolah dengan Tuan Lionel, eh maksud saya Om Lionel,'' jawab Alex.
Sisil tersenyum geli mendengar ucapan Alex.
''Aku membawakan roti bakar dengan selai kacang kesukaanmu, beserta susu hangat yang biasa kamu minum, kamu sarapan dulu ya sayang.''
Sisil mengangguk lalu meraih gelas berisi susu hangat lalu meminumnya. Setelah itu dirinya meraih roti bakar dan segera memakainya.
''Makan nya pelan pelan dong,'' ujar Alex sambil membersihkan selai kacang yang berada di ujung bibir sang kekasih.
Dirinya seketika terkejut, karena saat jarinya menyentuh wajah Sisil, suhu tubuh dari kekasihnya tersebut terasa sangat panas.
''Kamu Demam?'' tanya Alex dengan wajah khawatir.
Sisil mengangguk.
''Kenapa kamu tidak bilang sama aku?'' Alex terlihat kesal.
''Aku tidak ingin membuatmu khawatir.''
Sisil menunduk.
''Aku akan segera membawamu ke rumah sakit, aku takut terjadi apa apa sama kamu.''
__ADS_1
Sisil mengangguk sambil terus mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.
*****