
Alex keluar dari dalam kamar, menghampiri Sisil yang sedang duduk bersama ibundanya.
''Bu... Sisil istirahat di kamar aku saja ya, biar aku yang tidur di sopa, kita berdua berencana akan menginap beberapa hari di sini,'' ucap Alex sambil duduk di samping Sisil.
Ibu mengangguk lalu tersenyum.
''Sekarang nak Sisil istirahat saja dulu di kamar, ibu yakin kamu pasti capek.''
''Iya Bu, terima kasih,kalau begitu saya permisi.''
Sisil berjalan menuju kamar kekasihnya, akan tetapi beberapa saat kemudian dia pun kembali ke hadapan Alex dan ibu.
''lho kenapa balik lagi nak Sisil?'' ibu terlihat heran.
''Anu... Maaf Bu, saya tidak tahu harus masuk ke kamar yang mana?''
ucap Sisil sambil menggaruk rambutnya yang tidak terasa gatal sama sekali.
Alex dan ibu tampak tersenyum.
''Ayo aku antar, maaf ya tadi aku lupa,menunjukan letak kamar nya.''
Lalu Alex berjalan di depan Sisil menuju kamarnya. kamar Alex terletak di ruang Televisi, di sana berjejer dua kamar lainnya yang merupakan kamar adik adik nya.
Alex membukakan pintu kamar.
''Ini kamar aku, kamarnya kecil dan juga sederhana, sangat jauh berbeda dengan kamarmu di Jakarta.''
Sisil memasuki kamar, menatap ke sekitar kamar yang terlihat sangat rapih walau keadaan kamar tersebut memang sangat sederhana, hanya terdapat satu ranjang, lemari pakaian serta meja kecil yang terletak di sebelah tempat tidur.
Sisil duduk di atas pembaringan sedangkan Alex berjongkok di depannya.
Alex meraih jemari Sisil.
''Kamu istirahat di sini ya, lupakan dahulu permasalahan mu, jangan memikirkan apapun, tenangkan dulu pikiran mu''
''Setelah perasaan mu sudah tenang dan siap, kamu bisa bercerita padaku semuanya.''
Sisil mengangguk.
Alex mengecup kening kekasihnya lalu berdiri, melangkah keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan, memberi waktu kepada sang kekasih untuk beristirahat dan menenangkan pikiran nya.
Sisil berbaring di pembaringan, kamarnya terlihat jauh berbeda dengan keadaan kamar dirinya di rumah ayahnya, tapi entah mengapa saat mulai memejamkan mata hatinya terasa nyaman dan tenang.
Dan tanpa di sadari akhirnya dirinya pun terlelap.
***
Dua gadis berseragam sekolah berjalan di halaman rumah, mereka berdua terlihat heran saat melihat mobil sport merah terparkir di depan rumahnya.
__ADS_1
Kedua gadis itu adalah adik dari Alex, Amel adik pertamanya masih bersekolah kelas 11 Sekolah Menengah Atas, sedangkan Widya adik bungsunya masih bersekolah kelas 8 Sekolah Menengah Pertama.
Kedua gadis itu tampak melihat lihat ke dalam mobil dari balik kaca jendela mobilnya.
Keduanya sungguh penasaran siapakah pemilik mobil tersebut.
Amel dan Widya memasuki rumah dengan mengetuk dan mengucap salam terlebih dahulu.
Di dalam Rumah.
''Aa...'' Keduanya kaget melihat kakaknya sedang berbaring di atas sopa ruang tamu.
''Aa kapan datang? yang di luar itu mobil Aa.?'' Tanya keduanya.
''Kalian sudah pulang.'' Jawab Alex yang sudah dalam keadaan duduk.
Kedua adiknya langsung menyalami kakaknya lalu berpelukan secara bergantian.
''Yang di luar mobil siapa?''
Tanya Widya yang masih penasaran akan siapa pemilik mobil tersebut.
''Itu bukan mobil Aa, tapi mobil pacar Aa.'' Alex tampak malu malu.
''Haaaah Pacar...?'' Amel dan Widya bertanya secara berbarengan.
Kedua bola matanya tampak melotot, melihat sekitar mencari sosok perempuan yang menjadi kekasih kakaknya.
''Nanya nya satu satu dong dek.'' Alex mengelus rambut adiknya.
''Sekarang dia dimana Aa.?''
''Sedang istirahat di kamar Aa.''
Tak lama kemudian Sisil keluar dalam kamar. Dirinya kaget melihat dua gadis sedang menatap wajah nya sampai ujung kaki secara bergantian.
Sisil menghampiri Alex dan kedua adiknya di ruang tamu.
''Ini pacar Aa?'' ucap Amel.
Sisil tampak bengong mendengar ucapan Amel, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di maksud dengan kata ''Aa'' yang baru saja di ucapkan oleh adik dari kekasihnya, dengan logat Sunda yang terdengar sangat kental.
Lalu Amel dan Widya menghampiri Sisil, menyalami nya dan menyebutkan nama mereka masing masing.
''Teteh namanya siapa?'' tanya Amel.
''Maaf dek, nama saya Sisil bukan Teteh.'' Jawab Sisil dengan sedikit kikuk.
Alex dan kedua adik nya pun tertawa, ternyata calon kakak ipar nya ini tidak tahu sama sekali arti dari kata 'Teteh' yang merupakan bahasa Sunda yang biasa di gunakan untuk memanggil Kaka perempuan.
__ADS_1
''Teteh itu panggilan yang biasa di gunakan untuk Kaka perempuan,'' Alex menjelaskan.
''Kalau Aa..?'' ucap Sisil dengan mengerutkan kening.
''Sedangkan Aa itu panggilan untuk kakak laki laki.'' Alex menambahkan.
Sisil menganggukan kepala tanda mengerti.
''Teteh cantik banget, kulit teteh halus, Amel juga mau punya kulit mulus seperti teteh.''
Ucap Amel dengan meraba wajah nya sendiri dengan kedua tangan nya.
''Widya juga mau teh, teteh pake bedak apa, ko bisa putih gitu kulit wajahnya.?''
''Sudah sudah... nanya nanya nya nanti saja, sekarang kalian ganti pakaian terus mandi dulu sana.''
Alex mendorong kedua adik ke dalam kamar mereka.
''Ikh Aa mah ya... Ya sudah nanti kita ngobrol ngobrol lagi ya teh.''
Ucap Amel lalu memasuki kamar di ikuti oleh Widya adik bungsunya.
Sisil tersenyum melihat kedua adik Alex, raut wajahnya terlihat senang melihat kebersamaan kekasihnya dengan adik adiknya.
''Aa... aku lupa tidak membawa baju ganti, kita kan kesini tanpa persiapan apapun.'' Sisil tampak menirukan gaya bicara Amel dan Widya.
Alex tersenyum geli.
''Iya ya, aku sampai lupa, nanti kamu bisa pakai baju adikku, tapi ya baju nya juga sederhana, tidak seperti baju baju mu di Jakarta.''
''Tak apa apa Aa, yang penting baju nya nyaman di pakai.'' Jawab Sisil masih menirukan logat Sunda calon adik ipar nya.
Alex tersenyum, dirinya merasa senang karena sudah bisa melihat senyum kecil dari wajah sang kekasih.
''Iya teteh... tungguin disini sebentar ya, aku akan ambilkan baju buat mu.'' Jawab Alex dengan sedikit bercanda, lalu dirinya memasuki kamar kedua adiknya.
Sisil menunggu di ruang tamu dengan perasaan bahagia, entah mengapa semenjak memasuki rumah itu, hatinya sungguh merasa tenang, apalagi setelah bertemu dan berkenalan dengan kedua adik dari kekasihnya.
Tak lama kemudian Alex keluar kamar dengan membawa beberapa setel baju milik adiknya, lalu dirinya memberikan baju tersebut kepada Sisil.
''Maaf ya cuman ada baju yang seperti ini, kamu bisa memilih yang mana yang mau kamu pakai.''
Ucap Alex sambil memberikan baju tersebut ke tangan sang kekasih, yang langsung terima oleh Sisil dengan senyum mengembang di bibirnya.
''Aku mandi dulu ya, rasanya badanku sudah sangat lengket.'' Ucap Sisil.
Alex mengangguk sambil tersenyum.
''Tapi kamar mandinya di sebelah mana?'' Ucap Sisil dengan sedikit malu-malu.
__ADS_1
Lalu Alex berdiri dan berjalan di depan Sisil, untuk menunjukan letak kamar mandi yang terletak di ruangan paling belakang rumahnya tersebut.
*****