Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Merasa rendah diri


__ADS_3

Alex merentangkan kembali tubuh nya di atas ranjang.


''Oppa... salanghae'' Ucap Sisil dari luar kamar nya.


''I love you to...'' Jawab Alex.


Sisil Akhirnya pergi dari kamar Alex, dia masih tersenyum geli mengingat Alex yang ternyata cemburu pada Alvin yang merupakan sahabat nya sendiri.


Sementara itu, Alex masih merentangkan tubuh nya di ranjang, mata nya menatap langit langit kamar. Rasa ngantuk masih belum hilang dari mata nya, tapi sebisa mungkin dia mencoba menahan nya, dan akhirnya dia beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Hari berganti dan waktu berlalu, tak terasa sudah hari Minggu, hari Minggu adalah saat nya untuk Sisil menghabiskan waktu untuk bersantai di rumah, begitupun dengan Tuan Lionel, dia selalu menghabiskan waktu akhir pekannya bersantai di rumah megah nya.


Pukul 10 pagi, sisil sudah selesai mandi, dia mengenakan kaos pendek berwarna hijau, dan celana pendek dengan warna senada dengan baju nya.


Dia duduk di kursi kayu yang terletak di halaman belakang rumah nya, sembari menikmati satu buah es cream rasa coklat.


Saat sedang menikmati es cream di tangan nya, tiba tiba Bi Surti datang menghampiri Sisil.


''Permisi Non, di depan ada tamu yang mencari Non Sisil.''


''Siapa Bi?''


''Saya kurang tau Non, tapi orang cakep non, katanya dia teman Non Sisil.'' Ucap Bi Surti mencoba menjelas kan.


Sisil beranjak dari duduk nya, dia masih memegang es cream rasa coklat di tangan nya. Sisil berjalan ke ruang tamu, dia melihat Alvin sudah duduk di kursi.


''Alvin...'' Sapa Sisil.


''Hai...! kamu lagi ngapain?'' Tanya Alvin yang kemudian bangkit dari duduknya.


''Lagi santai saja,'' jawab Sisil sambil mempersilahkan Alex untuk kembali duduk, ''ada keperluan apa kemari?'' Tanya Sisil.


''Iseng saja, sudah lama kita tidak jalan bareng,'' ucap Alvin dengan mata yang terus memandangi wajah cantik Sisil, ''kita keluar yu? jalan jalan kemana gitu?'' Ajak Alvin.


Tak lama kemudian Bi Surti datang dengan membawa secangkir teh hangat,dan susu putih untuk Sisil.


''Silahkan di minum...'' Ucap Bi Surti.


''Terima kasih Bi.'' Ucap Alvin, lalu meraih cangkir yang di berikan Bi Surti dan menyeruput nya perlahan.


''Gimana, mau tidak jalan jalan sama aku?'' Tanya Alvin lagi.


Sisil berfikir sejenak, dia memikirkan perasaan kekasih nya, bagaimana kalau dia sampai salah paham nantinya.

__ADS_1


''Gimana ya...'' Ucap Sisil sembari menggaruk kepala nya yang tidak terasa gatal sama sekali.


''Ayo dong, sudah lama kita tidak jalan bareng.'' Bujuk Alvin.


''Tunggu di sini ya, aku ke belakang dulu sebentar.'' Ucap Sisil sembari melangkahkan kaki nya.


Dia berjalan menuju kamar Alex mencari keberadaannya, tapi Sisil tidak menemukan keberadaan Alex di sana. Lalu dia berjalan ke halaman belakang rumah nya.


Akhirnya dia menemukan Alex, dia sedang mencuci mobil sport berwarna merah kepunyaan Sisil.


''Oppa...'' Sisil memanggil Alex dari kejauhan.


Alex tersenyum lebar melihat Sisil yang datang menghampiri nya.


''Oppa, boleh ya aku keluar sama Alvin?''


''Keluar kemana?'' Jawab Alex, dengan tangan penuh dengan gelembung busa yang sedang dia usap kan ke mobil dengan menggunakan kain.


''Sebentar saja ko,'' tambah Sisil dengan nada manja, ''janji deh tidak bakalan macem macem.'' Tambah nya lagi.


Alex menghentikan tangan nya, dia melihat ke arah Sisil, dengan mencoba menenangkan perasaan nya, sebisa mungkin menekan rasa cemburu yang membakar hati nya, toh dia juga sudah di perkenalkan kepada Alvin sebagai kekasih Sisil.


''Ya sudah boleh... tapi janji tidak akan lama?'' Ucap Alex.


''Makasih ya oppa.'' Ucap Sisil sembari berlari ke dalam rumah.


Alex menghela nafas panjang. Sejujurnya berat untuk nya mengizinkan kekasih nya pergi dengan laki laki lain selain dirinya, tapi dia tidak ingin terlalu membatasi pergaulan Sisil, Alex tidak mau di pandang sebagai pacar yang posesif.


Tak lama kemudian Alex melihat mobil berwarna putih melintas di halaman depan rumah, dia melihat Alvin tersenyum mengendarai mobil nya, dan dia pun melihat Sisil duduk di kursi depan sebelah Alvin.


Hatinya memang sedikit terbakar api cemburu, tapi sebisa mungkin dia menepis perasaan itu.


***


Alvin menghentikan laju mobil nya di sebuah Restoran besar, dan dia membukakan pintu mobil nya untuk Sisil.


''Kita makan di sini ya.'' Ucap Alvin


''Tempat ini kan Restoran yang sering kita kunjungi dulu.''


''Masih ingat juga kamu.'' Jawab Alvin berjalan beriringan dengan Sisil.


Di dalam Restoran, mereka duduk di kursi yang terletak di samping jendela kaca, kursi itu memang sudah menjadi pavorit mereka sejak dahulu, dari tempat itu mereka bisa melihat pemandangan di luar Restoran, melihat orang orang yang melintas, atau pun memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya.

__ADS_1


Satu orang pelayan menghampiri mereka dan mencatat pesanan.


''Kamu mau makan apa?'' Tanya Alvin.


''Aku pesan spaghetti ya mbak, minum nya es jeruk.'' Ucap Sisil.


''Aku juga sama Mbak.'' Tambah Alvin.


''Baik, mohon tunggu sebentar, pesanan nya akan segera di siapkan.'' Ucap pelayan tersebut.


Pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.


''O ya Sil, sudah berapa lamu kamu pacaran sama Supir pribadi kamu itu?'' Tanya Alvin.


''Baru juga sekitar satu bulan lebih.'' Jawab Sisil dengan nada datar.


''Papih kamu tau?''


''Belum Vin, tapi seperti nya lama lama juga dia bakalan tau.''


''Kamu yakin bakalan di kasih restu pacaran sama dia, secara kan dia cuma seorang supir.'' Ucap Alvin dengan sedikit merendahkan pekerjaan Alex.


''Aku tidak tau Vin, Papih tuh orang nya pemilih, aku tidak tau bakalan di kasih restu atau tidak untuk terus berpacaran dengan Alex.'' Jawab Sisil dengan nada rendah.


''Sudah tenang saja, kan ada aku, kalau Papih kamu tidak ngasih izin pacaran sama supir kamu, kamu bisa pacaran sama aku.'' Jawab Alvin dengan sedikit bercanda.


''Apaan si Vin?'' Jawab Sisil ketus.


Pesanan pun akhirnya datang, mereka berdua makan dengan terus bercerita, tentang kehidupan masing masing.


***


Alex melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, sudah pukul 19.00


sudah sekitar setengah hari Sisil keluar bersama Alvin, Alex merasa cemas, perasaan cemburu itu masih menghantui perasaan nya, apa lagi Sisil tidak menelpon atau pun sekedar mengirimkan pesan teks kepadanya.


30 menit kemudian mobil Alvin sampai di rumah Sisil, mobil sedan berwarna putih itu terparkir di halaman rumah besar Sisil.


Alex merasa rendah diri, dia merasa tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan Alvin, orang tua nya pun berasal dari keluarga sederhana, jauh berbeda dengan Alvin, yang berasal dari keluarga berada.


Entah mengapa Alex merasa dirinya tidak pantas bersanding dengan Sisil yang sudah selama satu bulan lebih menjadi kekasihnya.


*****

__ADS_1


jangan lupa tekan like sama vote nya. Terima kasih.


__ADS_2