
Angel tersenyum licik, dirinya seperti mendapatkan jekpot setelah melihat kelakuan anak tirinya.
''Akhirnya aku mendapatkan kartu merah mu wahai anak tiri ku..."
Ucap Angel di dalam hatinya.
Dia berlalu meninggalkan Sisil yang sedang bermesraan dengan Alex, tak lupa sebelum dirinya pergi Angel mengeluarkan handphone dari dalam saku nya dan memotret kebersamaan Sisil dengan supir pribadinya.
Setelah Alex mengecup kening kekasih nya, mereka berdua pun kembali berjalan menuju gudang, tempat dimana Alex menyimpan barang pribadi milik Sisil yang sudah di kemas nya di dalam kardus besar.
Mereka memasuki gudang, membuka kembali kardus yang sudah di rekat kan dengan perekat.
Sisil tampak mencari sesuatu. Satu persatu barangnya di keluarkan dari dalam kardus.
Alex hanya melihat dengan sedikit mengerutkan keningnya.
Kardus sudah hampir kosong, semua isinya sudah berada di lantai, tapi barang yang Sisil cari masih belum juga ketemu.
Hingga akhirnya ada satu barang yang tersisa di dalam kardus. Bingkai Poto. Sisil meraih bingkai Poto dengan tangan nya.
Tapi dirinya nampak terlihat sangat terkejut saat mendapati isi dari bingkai yang di pegang nya sudah terlihat kosong.
Wajah nya terlihat kecewa.
''Kamu sebenarnya mencari apa?''
Tanya Alex.
''Aku mencari selembar Poto yang semula terpasang di bingkai ini.''
Sisil terlihat kecewa.
''Ini satu satunya potret kenang kenangan aku bersama Mommy, tapi sekarang sudah tidak ada.''
Tambahnya lagi dengan sedikit berkaca kaca.
Lalu Alex mengeluarkan selembar Poto dari dalam saku celana nya, potret Sisil yang sedang bersanding dengan ibunya, yang tadi dia ambil dari dalam bingkai.
''Ini yang kamu cari?'' Alex memperlihatkan potret tersebut, yang langsung di raih oleh tangan Sisil.
''Ya ampun... kenapa bisa ada pada kamu?''
''Tadi aku sengaja mengambilnya, aku pikir akan sangat disayangkan jika potret yang sangat cantik seperti ini harus di simpan di gudang.''
''Makasih ya Oppa.''
Sisil memeluk erat kekasih nya.
''Di Poto itu kamu terlihat sangat ceria, kamu juga terlihat sangat bahagia duduk bersanding dengan ibumu.''
Sisil tidak menjawab dan hanya menunduk, dia meraba dengan jari manisnya wajah ibu yang tersenyum bersama dirinya di dalam potret.
''Cerita nya panjang Oppa, dan aku tidak ingin menceritakan pada siapa pun,tentang apa yang menyebabkan aku membenci Mommy dahulu, termasuk padamu.''
Sisil berkaca kaca.
''Aku minta maaf.'' Tambah nya lagi dengan memandang dengan lekat wajah kekasih nya.
''Tidak apa apa. Kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan memaksa mu untuk menceritakan hal yang tidak ingin kamu ceritakan.''
__ADS_1
Alex mengusap rambut panjang kekasih nya.
''Terima kasih sudah mau mengerti.''
Alex hanya tersenyum.
Kejadian itu memang hanya Sisil yang mengetahuinya, dia tidak pernah membicarakan ataupun bercerita pada siapa pun, karena ia tidak ingin membuka aib ibunya sendiri pada orang lain, termasuk kepada Alex, orang yang saat ini dia cintai.
Mungkin itulah yang membuat dirinya depresi, harus menyimpan rapat aib ibunya, menelan sendiri rasa sakit dan kecewa yang dia dapat dari orang telah mengandung dan melahirkan nya.
***
Sisil sudah kembali ke dalam kamar nya, dia memegang selembar Poto yang merupakan satu satu nya kenangan dirinya dengan mendiang sang ibu.
Dia meraih satu bingkai kosong dari dalam laci meja, memasangkan potret tersebut, dan di letakan di meja kecil yang terletak di sebelah tempat tidurnya.
Semua keluarga Tuan Lionel sudah berkumpul di meja makan, Sisil melihat begitu banyak makanan yang tersaji di atas meja.
Mungkin karena ini kali pertama nya mereka makan malam bersama setelah acara pernikahan selesai di selenggarakan.
Angel tampak menuangkan nasi ke dalam piring suaminya, tak lupa pula beberapa macam lauk di tambah kan di atas nya.
Bibir nya sesekali tersenyum sembari melayani suaminya. Sisil sedikit risih melihat ibu tirinya, dia melirik dengan sedikit sinis arah Angel.
''Sisil sayang, makan yang banyak ya, mau ibu ambilkan?''
Sisil hanya terdiam, melihat Angel tersenyum pada nya seperti hanya sebuah sandiwara di mata nya, dia masih teringat tatapan Angel yang sinis kepadanya beberapa waktu yang lalu.
''Sayang, kenapa kamu malah melamun?'' Angel masih berusaha ramah kepada Sisil, seolah dia sedang berakting menjadi seorang ibu yang baik di mata suaminya.
''Tidak Tante,'' Sisil mengaduk nasi di hadapan nya, lalu memasukan ke dalam mulut nya.
''Baik Papih.''
''O iya, Sisil... Mulai besok Alex akan mengantar adik kamu pergi bersekolah, dia juga akan mengantar ibu mu apabila dia ingin pergi keluar.'' Ucap Tuan Lionel.
Sisil tampak sangat terkejut.
''Kenapa seperti itu pih? Alex supir pribadi aku, jadi dia hanya bisa mengantarkan aku, kenapa mendadak jadi supir bersama, kalau seperti ini, jadwal kuliah aku bisa terganggu.''
''Kenapa kamu terlihat begitu keberatan?''
Angel menyela ucapan Sisil.
''Tentu saja saya keberatan, jadwal kuliah saya tidak tentu, kalau Alex menjadi supir kalian juga bagaimana dengan kuliah saya, belum lagi Alex harus mengantar saya ke sana kemari.''
Angel hanya tersenyum sinis.
''Kalau hanya mengantarkan Daniel ke sekolah, saya tidak keberatan, tapi kalau harus mengantar Tante Angel juga, saya rasa itu akan sangat berdampak besar terhadap jadwal kuliah saya yang tidak menentu.''
Sisil menambahkan.
''Baiklah, lakukan seperti yang kamu inginkan.'' Ucap ayah mengalah kepada putrinya.
Angel mengepalkan tangan nya, dia terlihat geram karena suami nya dengan begitu saja menuruti keinginan Sisil tanpa meminta pendapatnya sama sekali.
''Sayang, nanti biar aku menyediakan supir baru khusus buat kamu.'' Tuan Lionel menatap istrinya.
''Tidak perlu, aku bisa menyetir sendiri.''
__ADS_1
Jawab Angel dengan suara ketus.
Tuan Lionel menarik nafas panjang, menyaksikan istri dan anak kandung nya bersitegang, dia sudah mulai merasa kalau Angel dan sisil belum bisa saling menerima kehadiran masing masing.
Tuan Lionel menatap mereka bergantian.
''Sudah, sekarang lanjut kan makan kalian.'' Ucap Tuan Lionel.
Sisil mengaduk makanan dengan sendok yang berada di tangan nya, memasukan sesuap demi sesuap ke dalam mulutnya.
***
Sisil berbaring di pembaringan nya, mata nya menatap kosong ke langit langit kamar.
Hingga suara pintu di buka tanpa di ketuk membuyarkan lamunan nya.
Angel... Ibu tiri Sisil memasuki kamar, wajah nya terlihat sedikit kesal. Menghampiri Sisil yang kini telah duduk dengan bersandar bantal di belakang nya.
''Tante... kalau masuk kamar orang biasakan ketuk pintu dulu.''
''Terserah saya.''
Jawab Angel dengan suara ketus.
''Ada apa Tante kemari?''
''Saya tahu sebenarnya kamu menjalin hubungan dengan Alex.''
Sisil terlihat kaget mendengar ucapan Angel.
''Maksud Tante apa.?
''Sudah jangan mengelak.''
Angel memperlihat kan potret Sisil yang sedang bersama Alex, yang sempat dia ambil sewaktu melihat mereka berdua.
Sisil terlihat sangat terkejut.
''Ini maksud nya apa? mengapa Tante melakukan ini kepada saya?.''
''Apa ayah kamu tahu kalau putrinya diam diam berpacaran dengan supir nya sendiri?''
Sisil hanya terdiam.
''Saya ingin tahu bagaimana reaksi ayah mu jika mengetahui semua ini?''
''Saya mohon, jangan memberi tahu beliau.''
Sisil mencoba memohon.
''Baiklah... saya akan merahasiakan semua ini, asalkan kamu mau menuruti semua keinginan saya.''
''Apa sebenarnya yang Tante inginkan dari saya.''
''Saya ingin kamu tunduk kepada saya, dan tidak pernah membantah perkataan saya.''
Sisil menundukkan kepalanya.
*****
__ADS_1