
Sisil tampak sedikit membuka mata dan mengusapnya nya perlahan, lalu mulut nya terlihat menguap dengan sangat lebar sambil merentangkan kedua tangannya.
Dia pun mencoba untuk duduk, matanya yang masih sedikit mengantuk tampak sesekali terpejam namun sebisa mungkin ia tahan dan kembali mencoba membuka matanya.
Sisil tertidur dengan hanya menggunakan baju tidur tipis dengan satu tali di kedua bahu nya. Rambut nya pun tampak berantakan dengan mata yang sedikit sembab karena dirinya telah begadang semalaman menunggu telpon dari sang kekasih.
Kini Sisil sudah benar benar dalam keadaan duduk, dia hendak membalikan badannya dan turun dari tempat tidur, namun sebelumnya ia meraih handphone nya terlebih dahulu untuk melihat apakah sang kekasih menghubunginya atau tidak.
Ternyata harapannya sirna, Alex kekasih tercintanya sama sekali tidak mengirim pesan atau pun menelpon.
Ia pun akhirnya kembali menyimpan handphone nya di atas tempat tidur.
Kemudian ia membalikan tubuhnya hendak turun dari atas tempat tidur, namun ketika dia melakukan hal tersebut, hatinya sungguh terkejut, matanya terlihat melotot seperti akan lompat dari tempat nya.
''Kamu ngapain di sini?'' tanya Sisil, yang baru menyadari kehadiran kekasihnya berada di sana.
''Nungguin kamu bangun,'' jawab Alex dengan tersenyum geli, sedari tadi dirinya memang tersenyum melihat tingkah wanita yang di cintai nya dalam keadaan baru bangun tidur.
''Sejak kapan kamu di sini?'' tanya Sisil dengan wajah cemberut.
''Dari pagi,'' jawab Alex singkat.
''Bukannya bangunin aku, malah nonton aku tidur,'' ujar Sisil lalu turun dari tempat tidurnya.
''Aku tak tega jika harus mengganggumu tidur,'' ujar Alex dengan mata yang sedikit menghindar dari tubuh sang kekasih.
Alex tampak sedikit menelan ludah ketika Sisil sudah dalam keadaan berdiri, baju tidur yang di kenakan sang kekasih sungguh membuat jantung nya berdetak sangat kencang.
Bagaimana tidak, baju tidur tipis dan pendek dengan hanya satu buah tali di setiap bahunya, dengan belahan buah dada yang putih mulus menggantung dengan begitu indahnya, juga paha panjang nan putih yang terlihat mulus seolah dengan sengaja di ekspos untuk menggoda iman setiap mata laki laki yang melihat nya.
Bagaimana pun juga dirinya adalah laki laki yang normal, yang pasti akan merasa tergiur jika melihat wanita cantik yang hanya mengenakan pakaian seperti itu, andai saja wanita ini sudah sah menjadi istrinya, dia pasti sudah menerkamnya seperti harimau buas yang menemukan mangsa, ujar nya dalam hati.
__ADS_1
Namun sebisa mungkin Alex mencoba menekan hormon seksual yang kini sedang menggelora di dalam hatinya. Pandangan nya pun tampak sedikit menunduk saat sang kekasih berdiri tepat di hadapannya, dengan tanpa merasa malu sedikit pun kekasih nya itu berjalan melewati dirinya menuju kamar mandi.
''Tunggu di sini sebentar nya, aku mandi dulu,'' ucap Sisil sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.
''Iya... Jangan lama ya, aku harus segera berangkat ke kantor,'' jawab Alex dengan suara yang sedikit keras.
Ia tampak memegangi dadanya, mengatur detak jantung yang sempat berdetak tak beraturan dengan nafas yang sedikit di tahan.
Meski ini bukan kali pertama nya melihat sang kekasih berpakaian seperti ini, namun entah mengapa kali ini darah nya seperti mendidih seolah memberontak meminta untuk menyalurkan hormon seksual yang sudah terlalu lama ia tahan.
Karena seperti nya Alex sama sekali tidak bisa mengatur detak jantung nya yang masih saja tidak bisa berdetak dengan tenang, ia pun memilih untuk keluar dari dalam kamar dan menunggu kekasihnya di halaman rumah saja, walau bagaimana pun ia merasa jika ia harus bisa menjaga martabat dan kehormatan kekasih tercintanya.
Meski gejolak dalam tubuh nya semakin menggelora, dan hasratnya sebagai laki laki normal tidak bisa di kendalikan lagi namun hatinya masih tetap teguh dalam memegang pendirian.
Alex tidak akan pernah melakukan hubungan intim sebelum kekasih tercintanya tersebut menjadi istri sahnya, baik sah secara hukum dan sah secara agama.
30 Menit kemudian Sisil sudah selesai mandi, dia keluar dari dalam kamar mandi sudah dengan mengenakan pakaian lengkap, gaun pendek berwarna merah muda menjadi pilihan pakaian yang ia kenakan.
Ia pun meraih handphonenya dan mencoba untuk menelepon sang kekasih, namun lagi-lagi teleponnya sama sekali tidak diangkat oleh kekasihnya tersebut.
Sisil pun berjalan keluar dari dalam kamarnya, berjalan menuruni tangga dan matanya masih terlihat berkeliling ke seisi rumah mencari sosok Alex.
Lalu Ia pun bertanya kepada bibi Surti yang kebetulan melintas di hadapannya.
''Bi lihat Alex tidak?''
''Mas Alex ada di halaman belakang non,'' ujar bibi Surti.
Sisil pun segera berjalan ke halaman belakang Ruman nya. Lalu dirinya melihat Alex sedang duduk diatas kursi yang biasa dia duduki sewaktu dirinya masih tinggal di rumah itu.
''Kamu di sini?'' tanya Sisil yang sudah berada di sebelah Alex.
__ADS_1
Alex mengangguk lalu tersenyum.
Sisil tampak cemberut dan hanya terdiam di samping kekasih nya tersebut, dirinya masih merasa kesal kepada sang kekasih, karena kejadian yang kemarin ia lihat.
''Aku mau minta maaf atas kejadian kemarin, aku dengan wanita itu tidak melakukan apapun, kami hanya makan siang bersama karena aku tak kuasa menolak ajakannya,'' ujar Alex dengan memandang lekat wajah sang kekasih.
''Seharusnya kamu bisa menolak dong, masa Oppa menerima ajakan wanita itu begitu saja,'' ujar Sisil masih dalam keadaan kesal.
''Iya... aku minta maaf, tak akan aku ulangi lagi, aku janji,'' Alex menatap sang kekasih dengan pandangan sayu.
''Terus mengapa kamu tidak menghubungi atau menelponku setelah kejadian itu?''
''Handphone ku hilang tak tahu ada dimana, karena kemarin aku terburu-buru mengejarmu sehingga aku lupa membawa kembali handphoneku yang aku letakkan di atas meja di dalam kantin.''
''O ya...? apa perlu aku membelikan handphone baru untukmu,'' ujar Sisil.
''Tak usah sayang, kamu baru saja membelikan banyak barang di tempat tinggal baruku. Aku akan berusaha mencari handphone ku dulu, mudah-mudahan saja ketemu.''
Sisil mengangguk lalu tersenyum.
''Terima kasih ya sayang, kamu sudah mengisi tempat tinggal ku dengan begitu banyak barang, nanti jika aku sudah menerima uang gaji, aku akan segera mengganti semuanya.''
Sisil tersenyum.
Lalu ia pun duduk di atas pangkuan sang kekasih, melingkarkan kedua tangannya di leher Alex lalu mengecup bibir nya.
Sontak saja Alex yang sudah berusaha keras menahan gejolak hormon seksual yang sedari tadi mendidih di dalam tubuhnya merasa usahanya itu sia sia, kini hasrat itu kembali bangkit dan menjalar di seluruh tubuhnya karena kecupan yang layangkan oleh kekasihnya tersebut.
Karena sudah tidak bisa di bendung lagi, akhirnya nya ia pun mendekap erat tubuh sang kekasih yang kini berada di pangkuannya, melahap bibir mungil Sisil dengan sangat agresif, tangannya pun sesekali meraba tiap bagian sensitif yang berada di tubuh kekasihnya tersebut membuat sang kekasih menggeliat merasakan kenikmatan dari sentuhan tangan dirinya.
*****
__ADS_1