Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Kartu merah lagi


__ADS_3

Alex ******* dengan sangat lembut bibir mungil kekasihnya tersebut, hasrat yang sedari tadi ia tahan seolah memberontak tak bisa lagi di kendalikan nya.


Tangannya pun tampak meraba dan meremas gunungan indah yang tadi sempat ia lihat saat Sisil memakai pakaian tidurnya.


Sisil pun memejamkan matanya, merasakan nikmatnya setiap remasan lembut dari jemari kekasihnya yang baru kali ini ia rasakan semenjak dirinya berpacaran dengan sang kekasih.


Alex hampir saja memasukan tangan ke dalam dress yang kenakan oleh Sisil, namun dengan segera Sisil meraih tangan sang kekasih dan menahannya.


Mereka melepaskan ciumannya masing masing, Sisil tampak menggelengkan kepala sambil menatap lekat wajah kekasih tercinta nya, seolah memberi isyarat jika mereka berdua hampir saja melewati batas.


''Maafkan aku...! aku sungguh tidak bermaksud,'' ucap Alex dengan nada menyesal.


Sisil terdiam lalu memeluk sang kekasih.


''Oppa boleh menyentuh bagian atas tubuhku, namun jika Oppa ingin meminta yang lainnya, kamu harus membawaku ke penghulu terlebih dahulu, karena biarpun kita sudah dewasa, kita berdua tidak boleh melewati batas wajar dalam berpacaran,'' ujar Sisil di dalam pelukan Alex.


''Iya sayang.... aku sungguh minta maaf, aku janji tak akan melakukanya lagi,'' Alex tampak mengecup kepala kekasihnya tersebut.


Sisil mengangguk lalu tersenyum.


Alex sungguh menyesal, karena hampir saja dirinya menyentuh bagian sensitif dari tubuh indah sang kekasih, jika saja kekasihnya tersebut tidak menahannya mungkin dirinya sekarang sudah melanggar prinsip yang selama ini ia pegang teguh.


Sisil berdiri lalu merapikan tatanan rambutnya yang sudah tidak beraturan lagi, ia pun terlihat merapikan pakaian yang di kenakan nya karena remasan yang di sebabkan oleh tangan sang kekasih membuat gaun yang di kenakan Sisil terlihat sedikit kusut.


Alex yang masih dalam keadaan duduk di sebuah kursi tampak meraih jemari sang kekasih lalu mengecupnya.


''Sekali lagi aku minta maaf ya,'' ujar nya dengan perasaan sangat menyesal.


Sisil hanya mengangguk lalu tersenyum.


''Sudah jam 8 Oppa, apa kamu tidak terlambat untuk pergi ke kantor?'' ucap Sisil.


Alex melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


''Iya, aku sampai lupa.''


''Ya sudah aku antar kamu ke kantor ya.''


''Tak usah sayang aku bawa motor ko,'' jawab Alex.


''Motor mu kamu simpan di sini saja, sekali kali aku ingin mengantarmu bekerja, boleh ya....'' ujar Sisil dengan suara manja seperti biasanya.


Alex pun akhirnya mengangguk.

__ADS_1


''Tapi aku yang menyetir ya.''


Sisil mengangguk lalu tersenyum.


Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan, dengan senyum yang mengembang dari bibir keduanya.


tanpa mereka sadari sepasang Mata telah memperhatikan mereka sedari tadi, dengan menggenggam satu buah handphone di tangannya.


Dia adalah sang ibu tiri, ternyata ia sudah cukup lama berada di balik tembok dan merekam semua yang sedang dilakukan oleh anak tirinya menggunakan handphone miliknya.


Rasanya Angel benar benar senang akhirnya bisa mendapatkan kembali kartu merah anak tirinya, sudah terlalu lama ia berdiam diri membiarkan saja kelakuan sang anak tiri yang dengan semena mena melawan dan tidak takut dengan dirinya sama sekali.


Rekaman yang berada di dalam handphone tersebut akan dijadikan sebagai senjata untuk dirinya menekan dan mengontrol anak tirinya.


Angel menyeringai licik, pagi ini dirinya seolah mendapatkan senjata besar. Ia pun berjalan menuju ke dalam rumahnya dengan handphone di dalam genggaman tangannya.


***


Alex tampak sedang menyetir mobil menuju kantor tempatnya bekerja, dengan kekasih cantiknya yang duduk masih di kursi sebelah dirinya.


Bibir mereka tampak bernyanyi mengikuti alunan lagu yang mereka putar di dalam mobil.


Sebuah lagu dari band ungu menjadi pilihan keduanya untuk menemani perjalanan singkatnya menuju kantor tempatnya bekerja.


Berat rasa hatiku lupakan durinya


Dan demi waktu yang bergulir di samping mu


Maafkan lah diriku sepenuh *hatiku


seandainya bila ku bisa memilih*.


''Kamu tak akan menduakan aku kan?'' tanya Sisil secara tiba tiba.


Alex tertawa mendengar pertanyaan konyol dari kekasihnya tersebut.


''Tak mungkin lah, ngaco kamu, seperti nya kamu terlalu menghayati isi lagu ini,'' masih dalam keadaan tertawa.


''Ya siapa tahu saja kamu tergoda oleh wanita lain, secara di kantor kan banyak gadis cantik, terus yang kemarin makan bersamamu itu siapa?''


''Dia Rani sekretaris ayahmu, kamu juga pasti mengenal dia dengan baik,'' jelas Alex.


Sisil terdiam dan cemberut, mengingat kejadian kemarin membuat rasa cemburu di dalam hatinya kembali membayanginya.

__ADS_1


''Kamu tak usah khawatir sayang, aku tidak akan pernah berpaling kepada wanita lain, karena hanya kamu satu-satunya wanita di dalam hatiku,'' ujar Alex.


''Akh gombal banget si Oppa,'' Sisil sedikit tersenyum.


Akhirnya mobil mereka sampai di depan kantor tempat Alex bekerja, keduanya tampak turun dari dalam mobil, Sisil terlihat memeluk tubuh Alex terlebih dahulu sebelum dirinya benar-benar meninggalkan sang kekasih.


Ia sengaja melakukan hal tersebut agar semua karyawan yang bekerja di sana melihat hal tersebut, dan tentu saja dapat mengetahui jika laki-laki tampan yang bernama Alex itu adalah kekasih hatinya.


''Hati-hati di jalan ya,''ucap Alex sesaat setelah melepaskan pelukan sang kekasih.


Sisil mengangguk Dan tersenyum.


Dia pun kembali masuk ke dalam mobil dan segara pergi dari sana dengan sebelumnya melambaikan tangannya terlebih dahulu kepada sang kekasih.


Alex pun menatap kepergian mobil merah milik sang kekasih, ia mulai berjalan ke dalam kantor saat mobil tersebut sudah tidak terlihat lagi.


Tak lama kemudian Rani sampai di depan kantor dengan naik taksi, dan segera memanggil Alex yang sedang berjalan memasuki kantor.


''Alex...'' Rani berteriak kencang memanggil, dan sontak saja Alex langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah suara yang memanggil namanya.


''Rani...'' jawab Alex.


''Tunggu aku...'' ujar Rani yang kini berlari ke arahnya.


Alex berdiri menatap gadis yang sedang terengah engah berlari ke arahnya dengan memakai sepatu high hill setinggi lima senti meter di kakinya.


Akhirnya Rani pun sampai di hadapannya, dengan napas yang masih terengah engah.


Ia mencoba mengatur nafas nya terlebih dahulu sebelum mulai berbicara kepada laki laki tampan yang kini tepat berada di hadapannya.


Setelah menarik napas panjang lalu kembali menghembuskannya secara perlahan, Rani pun mengeluarkan handphone Alex dari dalam miliknya.


''Ini handphone mu, kemarin aku menemukannya tergeletak di atas meja saat kita makan di dalam kantin,'' ucap Rani.


Alex tampak senang karena handphone yang ia sangka telah hilang, kini telah kembali ke tangannya.


''Terima kasih Ran, aku sudah mencari handphone ku ini kemanapun, untung kamu yang menemukannya, jika orang lain yang menemukannya mungkin tidak akan pernah kembali lagi ke tanganku,'' jawab Alex lalu meraih handphone tersebut dari tangan Rani dengan wajah senang dan senyum merekah di bibirnya.


Rani tampak terpesona melihat senyum manis dari wajah tampan Alex, dirinya seolah terhipnotis oleh bibir indah yang mengembang di kedua sisinya.


Dia pun semakin yakin jika dirinya telah jatuh cinta kepada laki laki tampan yang kini sedang berdiri di hadapannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2