
''Tapi hari ini hari pertamaku masuk kerja, apa aku harus bolos bekerja di saat aku baru saja mulai bekerja,'' jawab Alex kepada kekasihnya.
''Tetap saja aku tak bisa mengijinkan mu bekerja dalam keadaan seperti ini,'' Sisil terlihat tidak mau mengalah sama sekali.
''Baiklah aku menyerah, aku tak akan ke kantor, biar nanti aku telpon Papi mu.''
''Tunggu...! biar aku saja yang menelpon papi, sekarang Oppa turun dulu dari mobil, cepat masuk ke kamarmu dan istirahat di sana, aku yakin tubuhmu pasti sakit semua."
Lalu Sisil meraih handphone dari dalam tasnya dan menelepon sang ayah, dia menceritakan semua kejadian yang menimpa Alex kepada ayahnya.
Dia juga bicara pada sang ayah, jika kejadian hari ini harus segera diproses secara hukum, karena tindakan Alvin sungguh sangat keterlaluan dan tidak dapat lagi dimaafkan.
Ayahnya mengerti dan akan segera menyuruh sekretarisnya untuk mengurus semua nya.
Akhirnya percakapan Sisil dengan sang ayah sudah selesai, Sisil terlihat memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas yang melingkar di tangan kanannya.
Sisil hendak berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumahnya, namun dia mendapati Alex masih berdiri di belakangnya dengan wajah tersenyum karena mendengarkan semua percakapan dirinya dengan sang ayah.
''Kamu serius mau melaporkan Alvin ke polisi?'' tanya Alex.
sisil hanya mengangguk.
''Apa sebaiknya kita memaafkan dia saja, mungkin dia melakukan hal tersebut karena dia terbakar api cemburu setelah melihat kita berdua bersama,'' ujar nya lagi.
''Tidak Oppa, keputusan aku sudah bulat Aku sudah lelah diganggu terus oleh dia,'' jawab Sisil.
''Tapi apakah kamu baik baik saja, walau bagaimanapun kamu sudah bersahabat dengan dia lebih dari 10 tahun?''
Sisil tidak menjawab pertanyaan kekasihnya, jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya ia merasa kasihan dengan Alvin, waktu yang telah mereka habiskan bersama sebagai seorang sahabat ternyata harus berakhir seperti ini.
''Sebaiknya kamu pikirkan dulu dengan matang-matang keputusanmu ini,'' ujar Alex yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Sisil.
''Ya sudah sekarang Oppa istirahat dulu, aku akan mengantarmu ke kamar,'' ucap Sisil lalu berjalan bersama Alex.
''Apakah kakimu masih terasa sakit?'' tanya Alex di sela-sela langkahnya.
''Tidak Oppa, kakiku sudah baik-baik saja.''
''Kamu yakin? soalnya tadi kamu mengendarai mobil sendiri ke rumah sakit.''
__ADS_1
''Iya Oppa..'' Sisil melingkarkan tangan kanannya di tangan sang kekasih sambil tersenyum.
Sesampainya di kamar, Alex langsung berbaring ranjangnya, tak disangka ternyata seluruh tubuhnya terasa remuk, hamtaman yang betubi tubi dari tangan Alvin dan membuatnya terjatuh tadi sungguh membuat seluruh tubuhnya kesakitan.
''Kamu baik baik saja? apakah perlu kembali ke rumah sakit untuk memeriksakan tubuhmu?'' tanya Sisil yang melihat wajah kekasihnya yang terlihat meringis kesakitan.
Alex menggelengkan kepalanya.
''Tak usah aku hanya butuh istirahat sebentar, hanya sedikit sakit karena terjatuh tadi,'' ucap Alex.
Lalu Sisil terlihat meraba wajah Alex dengan tangannya, mengusap luka dan memar yang membuat wajah kekasihnya tersebut terlihat sedikit berbeda.
''Wajah tampan mu jadi tecoreng gara gara Alvin, dasar pria jahat, berani berani nya melukai wajah tampan kesayangan ku ini,'' ujar Sisil dengan nada manja.
Lalu dirinya mengecup satu persatu luka yang terdapat di wajah kekasihnya tersebut dengan lembut, membuat Alex tersenyum geli karena bibir lembut Sisil menyentuh tiap luka di wajahnya yang sebenarnya masih terasa perih.
Dan kecupan terakhir pun mendarat di bibirnya dengan sangat lembut, yang langsung disambut oleh bibir Alex, mereka pun saling membenamkan bibir mereka masing masing dan menikmati setiap sesapan yang membuat mereka melupakan sejenak masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.
''Semoga kecupan ini bisa membuat luka mu cepat sembuh,'' ucap Sisil sesaat setelah melepaskan bibirnya.
Alex tersenyum senang dan memeluk erat sang kekasih di dalam dekapannya meski dia dalam keadaan berbaring.
''Tunggu...'' Alex menahan.
''Ada apa lagi? apa obat yang aku berikan masih kurang?'' jawab Sisil dengan tersenyum nakal, lalu dia kembali duduk di samping Alex.
Alex tampak mengangkat tubuhnya lalu duduk bersandar bantal di belakangnya.
''Sepertinya aku akan segera pindah dari rumah ini, karena aku telah menemukan sebuah kontrakan kecil yang terletak tak jauh dari sini,'' ujar Alex dengan memegang kedua tangan Sisil.
''Benarkah...?'' Sisil terlihat sangat terkejut.
Alex hanya mengangguk.
''Mengapa harus secepat ini? Oppa dalam keadaan terluka, kaki ku juga belum pulih benar,'' tambah nya lagi, raut wajahnya terlihat sangat sedih.
''Tidak sekarang juga. Sekitar dua sampai tiga harian lagi aku baru pindah, mudah mudahan dalam waktu dua atau tiga harian lagi luka di wajahku sudah sedikit sembuh, dan kakimu segera pulih,'' ujar Alex.
''Tapi tetap saja, aku belum siap berpisah dengan mu.''
__ADS_1
''Kita tidak berpisah sungguhan, hanya tinggal terpisah saja, lagi pula kita akan selalu bertemu tiap hari.''
Sisil hanya terdiam sambil menunduk, wajahnya terlihat muram dan bibirnya tampak cemberut.
''Ya sudah, tapi Oppa janji, jika kita sudah tinggal terpisah, kamu jangan pernah macam macam dengan wanita lain.''
''Iya sayang... Aku janji. Tak akan ada yang bisa menggantikan gadis cantik, lucu dan manja seperti kamu di hati aku ini.'' jawab Alex sambil mencubit kedua pipi sang kekasih.
''Akh... gombal,'' jawab Sisil dengan tersenyum.
''Kamu istirahat gih, kasian kamu juga pasti lelah.''
''Baiklah, aku pamit dulu ya,'' jawab Sisil, lalu dirinya berdiri dan berjalan keluar dari dalam kamar.
Saat pintu kamar baru saja di tutup nya, Sisil kembali membuka pintu dan memasukan sedikit kepalnya dari balik pintu.
''Oppa Salanghae,'' ucap Sisil.
Alex tersenyum geli melihat kelakuan kekasih cantiknya, lalu ia pun membalas ucapan sang kekasih.
''I love you to Sisil...''
Sisil tertawa kecil lalu dirinya benar benar keluar dari dalam kamar Alex.
***
Di kantor polisi Alvin tampak sudah berada di balik jeruji besi, raut wajahnya terlihat sangat murung namun tidak ada rasa penyesalan sama sekali di dalam hatinya karena telah memukuli Alex.
Tak lama kemudian, kedua orangnya datang ke kantor polisi bersama seorang pengacara.
''Alvin apa yang telah kamu lakukan sampai dirimu ada di kantor polisi, ya ampun anak ibu yang malang,'' ucap ibu dengan memegang wajah putra kesayangannya dari balik jeruji.
''Ini perkelahian antara pria Bu, entah mengapa Sisil membesar besarkan masalah ini dan menyeret ku ke sini, padahal perkelahian seperti ini biasa terjadi dalam memperebutkan satu wanita,'' ucap Alvin tanpa penyesalan.
''Apa benar kamu memukuli kekasih dari Sisil?'' tanya Ayah Alvin.
Sementara orang yang di tanya hanya diam saja tanpa menjawab apapun, seolah membenarkan ucapan ayahnya.
''Seharusnya sebagai seorang laki laki sejati kamu bisa menerima kekalahan, Sisil menolak perjodohan itu karena dia sudah mempunyai kekasih, seharusnya kamu bisa lebih lapang dada menerima semua ini, bukan malah memukuli pacarnya dan berakhir di sini, sebagai orang tua ayah benar benar kecewa sama kamu Vin, kamu sungguh laki laki pengecut,'' ucap sang ayah yang membuat Alvin tak berkutik lagi.
__ADS_1
*****