
Alvin merapikan rambut panjang Sisil yang menutupi wajah cantiknya. Ia pun tersenyum licik saat melihat wanita yang di sukai nya meringkuk dengan kaki dan tangan di ikat dengan se untas tali.
''Maaf karena aku harus melakukan hal ini, semuanya salahmu karena lebih memilih Supir itu di bandingkan aku,'' Alvin membuka ikatan di tangan gadis itu dengan pelan.
Sisil pun perlahan membuka mata, ia sangat terkejut melihat Alvin sedang membuka tali di pergelangan tangannya, dan semua yang di ucapkan oleh laki laki itu telah di dengar oleh Sisil, meski hanya samar samar, namun sudah cukup untuk Sisil mengerti apa yang di maksud dengan ucapannya mantan sahabatnya tersebut.
''Apa yang kamu lakukan padaku?'' Sisil mencoba bertanya meski kepalanya masih terasa pusing.
''Kamu sudah bangun?''
''Minggir... aku mau keluar dari sini,'' mencoba berdiri namun gagal karena sekujur tubuhnya masih terasa lemas.
''Kamu mau kemana?''
''Apa yang kamu lakukan padaku? kamu sahabat terbaik yang aku miliki, mengapa kamu jadi seperti ini,'' Sisil mulai berkaca-kaca.
''Aku mohon lepaskan aku, aku ingin pulang Vin.''
''Iya sayang, kamu pasti akan pulang, tapi tidak sekarang. Kamu temani aku dulu di sini ya,'' Alvin meraih tubuh Sisil yang masih mencoba untuk berdiri.
Kedua tangan Alvin tampak memegang pergelangan tangan Sisil dengan sangat kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan. Lalu Alvin menjatuhkan tubuh Sisil ke atas tempat tidur, membuat gadis itu berteriak meminta tolong. Namun usahanya sia sia karena rumah tersebut berada di tempat terpencil, tanpa tetangga satu pun, jadi meskipun ia berteriak sekuat tenaga, tak akan ada yang menolong dirinya.
''Aku mohon Vin, jangan lakukan ini padaku. Apa kamu lupa, aku sahabat mu, kita sudah berteman lebih dari sepuluh tahun,hiks..hiks..!'' air mata Sisil membanjiri pipi mulusnya.
*
Alex mengeluarkan sepeda motornya, ia hendak pergi ke rumah sang kekasih karena sudah selama Setu jam menunggu Sisil yang kabar terakhir yang ia terima sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya sampai saat ini masih belum juga tiba.
Tidak seperti biasanya, kali ini Alex merasakan sesuatu yang aneh, entah mengapa hatinya sangat cemas memikirkan gadis pujaan hatinya.
Ia menjalankan motor, berjalan meninggalkan kontrakan dengan rasa cemas dan gundah di hatinya.
Sesampainya di jalan Raya tak jauh dari tempat tinggalnya, tiba tiba Alex melihat mobil merah terparkir begitu saja di pinggir jalan, dan seperti nya ia sangat mengenali mobil itu.
__ADS_1
Dan benar saja, saat Alex mulai mendekati mobil tersebut dia di buat sangat terkejut karena mobil itu memang mobil yang sangat ia kenal.
Ia pun menghentikan laju motor nya, dan menghampiri mobil yang terparkir begitu saja hampir di tengah jalan. Ternyata mobil tersebut dalam keadaan kosong, dengan pintu mobil yang sedikit terbuka.
''Sisil....'' Alex memanggil kekasihnya, namun ia tak menemukan gadis di manapun.
Tas kecil dan bahkan handphone nya pun masih tergeletak begitu saja di dalam jok mobil.
Akhirnya ia memutuskan untuk membawa mobil itu ke rumah calon mertuanya, dan berharap menemukan kekasihnya itu di sana.
Perlahan mobil yang di kendarai Alex memasuki halaman rumah besar calon mertuanya, Alex segera berlari keluar setelah memarkir mobil begitu saja tanpa di bawa ke garasi mobil dimana mobil itu biasanya di simpan.
Trok trok trok..
Alex mengetuk pintu dengan kasar.
''Sisil... kamu di dalam kan?'' Alex berteriak.
Berharap yang keluar adalah kekasihnya, namun harapannya pupus, karena yang membuka pintu adalah ibu tiri jahat yang bernama Angel.
''Maaf Tante, saya tidak bermaksud mengganggu waktu istirahat tante. Saya sedang mencari Sisil, tadi saya menemukan mobilnya terparkir begitu saja di pinggir jalan.''
''Apa maksud kamu? siapa tahu Sisil sedang ke toko terlebih dahulu, itu sebabnya di memarkir mobilnya di pinggir jalan," Angel mencoba menenangkan Alex yang sudah terlihat sangat khawatir, padahal sudah di pastikan Angel tahu dimana Sisil berada.
"Ada apa Alex?" tuan Lio El tiba tiba muncul dari balik pintu, membuat Angel terkejut.
"Tidak apa apa mas, Alex cuma salah paham saja ko," Angel mencoba mengalihkan perhatian suaminya.
"Maaf om, bolehkan saya berbicara sebentar dengan om," pinta Alex.
"Boleh Lex, mari kita ke ruang kerja saya."
Mereka berdua langsung berjalan ke ruang kerja Tuan Lionel yang berada di lantai dua, meninggalkan Angel sendiri dalam keadaan was was, karena merasa takut jika rencananya bersama Alvin akan di ketahui oleh suaminya.
__ADS_1
Duh dasar si Alvin bodoh, mengapa mobilnya gak sekalian di bawa, jadi ribet kan(Angel)
Dia meraih handphone dan mencoba menelpon Alvin.
Alvin yang baru saja akan melancarkan aksinya kepada Sisil menghentikan gerakannya seketika, lalu meraih handphone dan mengangkat telepon.
''Ada apa Tante? aku baru saja akan memulai aksiku, ngeganggu aja si,'' Alvin mengangkat telpon dengan perasaan kesal.
Sepertinya Sisil dapat mengenali suara dari handphone Alvin, meski suara nya terdengar samar samar namun dia dapat dengan yakin jika yang sedang berbicara dengan Alvin adalah ibu tirinya.
Saat Laki laki di hadapannya sedang berbicara di telpon Sisil memanfaatkan kelengahan tersebut untuk mengendap endap ke arah pintu.
Dengan sangat hati hati, Sisil mencoba membuka pintu, berjalan keluar dengan berjinjit, hingga tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Ia pun berjalan ke arah pintu utama, namun ternyata di luar sudah ada tiga laki laki bertubuh besar yang sedang berjaga tepat di depan pintu, ia pun mengurungkan niatnya dan memutar tubuhnya nya untuk mencari jalan keluar lain yang bisa dia gunakan agar bisa keluar dari rumah itu.
Belum sempat dirinya menemukan pintu belakang, Alvin keluar dari dalam kamar sambil memanggil namanya, dengan suara yang begitu keras dan wajah yang terlihat kesal namun juga tersenyum nakal.
''Sisil dimana kamu?'' sambil berkeliling mencari keberadaan Sisil di dalam rumah tersebut.
''Kamu tidak akan pernah bisa keluar dari rumah ini sayang,'' dengan
Yang di panggil ternyata tepat bersembunyi di bawah meja besar, ia sebisa mungkin menutup mulutnya agar suara nafasnya tidak terdengar oleh laki laki yang berdiri tepat di samping meja tersebut.
Ketiga preman yang sedang berjaga di depan pintu akhirnya masuk ke dalam rumah karena mendengar teriakan dari bos mereka.
''Ada apa bos?'' tanya salah satu dari mereka.
''Sisil hilang, cepat kalian cari dia sekarang juga, sebelum dia bertambah jauh,'' pinta Alvin dengan suara yang menggema.
''Baik bos.''
Ketiga nya berkeliling di dalam rumah untuk mencari keberadaan Sisil, hal tersebut pun di manfaat kan oleh Sisil untuk bisa keluar dari dalam rumah itu, karena melihat pintu yang tidak dalam.keadaan tertutup.
__ADS_1
Ia pun segera lari sekencang mungkin saat kakinya mulai menapaki di teras rumah yang terlihat sangat kotor, kepergiannya pun tak di sadari sama sekali ke empat orang yang sedang mencari diri nya di dalam rumah.
*****