Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Cinta tulus seorang istri


__ADS_3

Angel menatap wajah suaminya yang kini sudah dalam keadaan duduk di sampingnya.


Wajahnya sudah tampak sedikit keriput, namun tidak mengurangi ketampanan yang masih melekat di wajah sang suami.


Kumis kecil sedikit menghias di atas bibirnya, di umur nya yang sudah menginjak 51 tahun, suaminya masih terlihat gagah dengan perut yang sedikit mengembang.


Perbedaan umur yang terpaut cukup jauh tidak menghalangi rasa cintanya kepada sang suami, meski awalnya dirinya menikahi Tuan Lionel karena ambisinya yang ingin memiliki suami pengusaha kaya, yang dapat menjamin kehidupan dirinya bersama sang anak.


Namun kini, ambisi nya sudah berubah menjadi perasaan cinta yang teramat mendalam, seiring banyaknya waktu yang telah mereka habiskan bersama sebagai pasangan suami istri.


Akan tetapi, Angel tidak ingin membagi rasa cinta sang suami dengan putri kandung nya, dia hanya menginginkan kasih sayang, cinta dan seluruh perhatian suaminya hanya tertuju pada dirinya serta Daniel anak kandung dari pernikahan nya terdahulu.


''Sayang... kamu pasti lelah. Apa tidak sebaiknya pulang dulu untuk beristirahat?''


Ucap Angel sembari meraih lengan suaminya lalu mengusap jemari nya dengan lembut.


''Aku ingin menemani mu di sini, tak apa lelah sedikit, hanya dengan melihat wajah cantik istri tercinta saja sudah cukup untuk menghilangkan lelah di tubuhku.''


Ucap Sang suami dengan mencubit kecil pipi putih Angel.


Angel tersenyum mendengar ucapan suaminya, hatinya terasa melayang hanya dengan di puji seperti itu oleh sang suami.


''Ya sudah, aku keluar sebentar untuk membeli makanan, dan beberapa camilan.''


Tuan Lionel mengangguk.


Angel beranjak keluar, tak lupa dia membawa serta tas kecil keluaran merek ternama dengan harga yang lumayan fantastis.


Semenjak menjadi Istri pengusaha kaya, dirinya memang gemar mengkoleksi barang barang mewah, seperti tas atau pun sepatu.


Sepeninggal istrinya keluar untuk membeli makanan, Tuan Lionel beranjak dari kursi dan berdiri di samping tempat tidur Daniel.


Daniel tampak sudah sedikit membuka matanya.


''Papih...'' Daniel menatap wajah ayah.


''Ia sayang, Papih di sini, bagaimana perasaan kamu? Apa masih ada yang sakit?''


''Tidak pih, aku sudah baik baik saja, kak Sisil kemana?'' Daniel memutar bola matanya ke sekeliling kamar mencari kakak nya.


''Kakakmu sudah pulang, dia sudah semalaman menjaga mu di sini, jadi Papih dan Ibu menyuruhnya untuk beristirahat.''


Daniel mengangguk.


''Cepat sembuh ya sayang, Papih sungguh khawatir melihat mu seperti ini.''

__ADS_1


''Iya pih, aku minta maaf telah membuat Papih dan ibu khawatir.''


Tuan Lionel mengusap punggung lengan Daniel, dirinya sungguh sudah menganggap Daniel sebagai anak kandungnya sendiri, terlebih lagi selama ini dirinya memang sangat menginginkan seorang anak laki laki.


Tak lama kemudian Angel datang dengan membawa dua kotak makan serta satu kantong penuh yang berisi camilan.


Daniel tersenyum melihat ibunya, berada di sana.


''Ibu...'' Daniel menyapa ibu.


''Sayang... kamu sudah bangun? Bagaimana perasaan kamu?''


Ucap Angel sembari meletakan barang bawaan nya di atas meja.


''Aku sudah baik baik saja Bu, kak Sisil merawat aku dengan sangat baik selama ibu dan Papih tidak ada, aku bahkan selalu tidur di kamarnya setiap malam.''


Angel hanya terdiam mendengar ucapan putranya.


Beda hal dengan sang suami yang terlihat sangat senang mendengar putra sambungnya mengatakan hal tersebut.


Akhirnya Sisil dan Daniel bisa akur dan saling menyayangi selayaknya saudara kandung sendiri.


''Kak Sisil sangat baik sama aku Bu.'' Daniel menambahkan ucapannya.


Apa yang baru saja di ucapkan putranya sama sekali tidak mengurangi kebencian nya kepada Sisil anak tirinya.


***


Keesokan harinya, Sisil sudah siap untuk berkuliah, dirinya terlihat cantik dengan memakai dress pendek polos berwarna biru serta sepatu Sport datar dengan warna senada.


Alex, kekasih nya sudah bersiap di halaman rumah, dia terlihat sangat tampan hanya dengan mengenakan kaos polos berwarna merah serta celana Jeans pendek.


Wajah nya terlihat tersenyum melihat Sisil kekasih hatinya berjalan menghampiri dirinya.


''Kita berangkat sekarang ya, aku mau mampir sebentar ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Daniel.''


Alex mengangguk dan membukakan pintu mobil untuk nya.


Di perjalan Sisil sibuk mainkan handphone nya sementara Alex masih Fokus mengemudikan mobilnya, sambil sesekali melirik ke arah Sisil.


''I love you.''


Ucap Alex pelan.


''I love you to.''

__ADS_1


Sisil terlihat menyudahi kesibukan nya memainkan handphone yang sedari dia genggam, dia memasukan handphone tersebut ke dalam tas miliknya.


''Pulang kuliah kita jalan dulu ya, sudah lama kita tidak menghirup udara segar,'' ucap Alex.


''Mau jalan kemana? Sebenarnya aku juga merasa bosan di rumah, bagaimana kalau kita ke pantai, sudah lama sekali sejak terakhir kali pergi ke sana.''


Alex mengangguk lalu mengusap rambut panjang kekasihnya dengan penuh kasih sayang.


Akhirnya mereka sampai di kampus, setelah sebelum nya mampir terlebih dahulu ke Rumah sakit dahulu untuk melihat keadaan Daniel.


***


Setelah menunggu selama hampir 5 jam. Sisil keluar dari dalam kampus nya, mereka pergi ke tempat yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.


Yaitu Pantai, tempat yang selalu menjadi favorit Sisil dikala dirinya sedang membutuhkan ketenangan.


Sepasang kekasih itu duduk di atas bebatuan, menatap jauh ke arah lautan luas, yang di hiasi deburan ombak dengan di temani semilir angin pantai yang menggoyangkan rambut Sisil yang terurai panjang tanpa di ikat.


Alex menggenggam jemari Sisil.


''Sayang, aku tahu akhir akhir ini dirimu tidak dalam keadaan baik baik saja. Seperti nya banyak yang kamu sembunyikan dari aku. Ada apa sebenarnya?''


Alex memulai percakapan, dia ingin menanyakan semua hal yang selama ini ada di dalam hatinya.


Sisil terdiam sejenak, dia tidak tahu apakah akan mengatakan yang sejujurnya atau tidak kepada kekasihnya.


''Oppa kenapa bertanya seperti itu? aku tidak apa apa, aku baik baik saja.'' Ucap Sisil berbohong.


Alex meraih wajah Sisil dengan kedua tangannya, mendekatkan nya tepat di hadapan wajahnya, dia menatap lekat wajah cantik sang kekasih.


Hanya dengan melihat sorot matanya, Alex sudah bisa menebak kalau Kekasihnya sedang berbohong pada dirinya.


''Bohong...''


Jawab Alex singkat.


Sisil segera memalingkan wajahnya, menatap langit biru yang hanya di hiasi sedikit awan putih, mencoba menahan kesedihan nya, dan mencoba mengontrol emosinya.


''Beneran Oppa, aku tidak apa apa.''


Jawab Sisil dengan mencoba tersenyum namun terlihat kalau senyumnya itu sangat di paksakan, hanya untuk menyembunyikan kegundahan hatinya.


Alex meraih tubuh Sisil memeluknya erat. Dirinya tidak tahu persis mengapa kekasih yang sangat di cintai nya ini tidak mau menceritakan apapun kepada dirinya.


Dia tidak memaksa Sisil untuk bercerita, dirinya hanya mendekap erat tubuh sang kekasih, sembari mengecup pelan pucuk kepala Sisil dengan lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2