Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Ujian Akhir Kuliah


__ADS_3

Alex memijat kepala Sisil dengan sangat lembut, dirinya pernah melakukan hal seperti itu kepada adiknya saat adiknya dalam keadaan sakit.


''Tidak di sangka ternyata kamu punya kemampuan khusus seperti ini,'' ujar Sisil sambil sedikit memejamkan mata menikmati setiap pijatan lembut dari tangan kekasihnya.


''Bisa saja kamu,'' jawab Alex mencubit kecil pipi Sisil.


''Apa aku perempuan pertama yang merasakan pijatan seperti ini dari tanganmu?''


''Tidak,'' ujar Alex singkat.


Sisil terkejut lalu membuka matanya dengan sangat lebar.


''Perempuan mana lagi yang pernah diperlakukan seperti ini selain aku?'' sedikit cemberut.


''Widya Adikku...'' ujar Alex, yang sudah menyadari jika kekasihnya sedang cemburu.


Lalu sisil kembali memejamkan matanya dengan perasaan lega dan sedikit merasa malu.


''Oh ternyata dia perempuan beruntung itu, aku kira perempuan lain?'' ucap Sisil.


''Tidak ada perempuan lain yang pernah aku perlakukan seperti ini, hanya kamu seorang yang merasakan kan pijatan spesial dari aku,'' ucap Alex


Lalu dirinya mulai membersihkan kembali rambut panjang sisil dengan air mengalir sampai benar-benar terlihat bersih dan tercium bau wangi dari rambutnya.


Setelah itu Alex membungkus rambut sisil dengan handuk kecil berwarna putih.


''Nah sudah selesai, mana lagi yang mau aku bantu untuk di cuciin?'' ucap Alex bercanda.


Sisil mencubit pinggang Alex.


''Apaan sih?'' jawab Sisil dengan tersenyum manja.


''Ya sudah aku bantu masuk ke dalam ya,'' ucap Alex, dirinya lantas menggendong Sisil dan membantunya duduk di depan cermin.


''Bantu keringkan rambut aku ya, pakai itu,'' Sisil menunjuk hair dryer yang berada di meja riasnya.


Alex meraih benda tersebut dan mulai mengeringkan rambut sisil.


''Terima kasih ya oppa,'' ucap Sisil, sesaat setelah Alex selesai mengeringkan rambut.


''Sama sama sayang,'' jawab Alex.

__ADS_1


''Jika sudah selesai aku permisi dulu ya, aku sedang menyiapkan surat lamaran yang diminta oleh Papih kamu.''


''Kamu serius mau bekerja di kantor Papi?''


Alex mengangguk.


''Ya sudah... aku akan mendukung apapun keputusan oppa, mudah-mudahan papih benar-benar merestui kita dan segera menikahkan kita berdua,'' ucap Sisil secara tiba-tiba.


Alex terkejut.


''Memangnya kamu sudah siap untuk menikah? perjalanan kita masih panjang loh, aku baru siap menikahimu jika keadaanku sudah benar benar mapan,'' jawab Alex.


''Ko Oppa bilang begitu? aku siap kapan pun Oppa menikahi aku, tak usah menunggu oppa mapan, aku sudah siap hidup susah denganmu,'' Sisil sedikit cemberut.


Alex tersenyum.


''Aku hanya tidak ingin tinggal terpisah darimu Oppa, jika Oppa sudah pindah dari rumah ini, aku akan sangat merasa kesepian, itu sebabnya Aku ingin segera menikah denganmu agar kita bisa terus bersama,'' Sisil terlihat sedih.


''Meskipun kita tinggal terpisah, namun setiap hari kita akan selalu bertemu, aku akan tetap menjadi supir pribadi mu, meskipun aku harus bekerja di kantor, lagi pula ada Daniel yang akan menemanimu,'' ujar Alex.


Sisil mengerucutkan bibirnya lalu melingkarkan tangan nya di pinggang Alex yang dalam keadaan berdiri, menyandarkan kepala nya di perut sang kekasih.


''Kamu tidak usah sedih begitu, aku janji meskipun kita terpisah, aku tidak akan mengurangi perhatianku kepadamu,'' ucap Alex yang tampak sudah berjongkok di hadapan sang kekasih.


''Iya aku janji,'' ucap Alex.


Mereka pun berpelukan.


Dan akhirnya Alex berpamitan lalu meninggalkan Sisil dengan sebelumnya melambaikan tangan terlebih dahulu kepadanya.


***


Satu Minggu kemudian.


Hari ini adalah hari ujian akhir semester kuliah Sisil. Dirinya terpaksa harus tetap ke kampus meskipun kaki nya belum pulih sepenuhnya dan masih harus berjalan dengan menggunakan tongkat.


Jam 8 pagi Sisil sudah bersiap untuk berangkat kuliah, dirinya sedang menunggu Alex di teras rumah nya. Ia sedang duduk sambil memainkan handphone di tangannya.


Tak lama kemudian Alex datang setelah mengantarkan Daniel ke sekolahnya. Kemudian Alex menghampiri sisil lalu memapah dirinya masuk ke dalam mobil.


Di dalam Mobil Sisil sibuk membaca materi untuk bekal ujiannya, sudah lebih dari satu minggu dirinya tidak ikut berkuliah, sehingga tentu saja banyak materi yang tidak sempat dia pelajari.

__ADS_1


Alex pun tidak terlalu banyak bicara, dirinya tidak ingin mengganggu konsentrasi Sisil dalam belajar. dirinya hanya sesekali melirik ke arah Sisil, melihat jika kekasihnya sedang serius membaca.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di kampus, Alex membukakan pintu dan langsung berpamitan kepada Sisil, karena hari ini dirinya sudah mulai bekerja di kantor tuan Lionel.


Sisil mengangguk lalu dirinya berjalan masuk ke dalam kampus, Alex hanya bisa memandang punggung Sisil yang berjalan tertatih dengan dibantu oleh satu buah tongkat di tangan nya, andai saja dia tidak bekerja di kantor, mungkin dirinya bisa menemani dan menjaga kekasihnya saat berkuliah.


Saat punggung Sisil sudah benar-benar tidak terlihat lagi, Alex segera masuk kembali ke dalam mobil dan menjalan kan mobilnya menuju kantor.


Di dalam kampus.


Sisil tampak berjalan pelan, dirinya masih belum bisa berjalan cepat apalagi berlari.


Sisil berhenti sebentar untuk beristirahat, menyandarkan punggungnya di tembok berwarna putih di depan kelasnya. Tak lama kemudian tiba tiba Alvin menyapa dirinya dari jauh lalu menghampiri nya.


''Kakimu kenapa?'' tanya Alvin sambil memandang kaki Sisil yang masih terbalut perban.


''Bukan urusan mu,'' Sisil hendak berjalan kembali.


''Apa kamu puas sudah menyakiti aku?'' ucap Alvin dengan sedikit mengeraskan suaranya.


Sisil menghentikan langkahnya lalu membalikan badan. Menatap ke arah Alvin dengan tatapan tajam.


''Aku tidak pernah merasa menyakiti kamu, kamu sendiri yang memaksa aku untuk melakukan nya, aku berulang kali menolak mu, namun kamu bersikeras dan membawa orang tuamu ke rumah untuk melamar ku,'' ucap Sisil.


''Kamu pasti menyesal, karena lebih memilih supir pribadi itu daripada aku.''


''Kamu orang kedua yang mengatakan itu, dan aku akan pastikan jika ucapan kalian berdua salah, aku tidak akan menyesali pilihan ku, camkan itu,'' ucap Sisil dengan intonasi tegas dan penuh penekanan.


Lalu Sisil berbalik dan berjalan kembali.


Alvin tampak kesal mendengar ucapan Sisil yang sangat menohok hatinya, dia berjalan ke arahnya lalu menendang tongkat yang digunakan Sisil untuk membantunya berjalan, sehingga membuat sisil jatuh tersungkur di atas lantai.


Sontak Sisil sangat terkejut, dirinya tidak menyangka jika Alvin akan melakukan hal tersebut.


''Mungkin kakimu seperti ini adalah balasan karena telah menyakiti aku dan kedua orang tua ku,'' Alvin meninggalkan Sisil dalam keadaan duduk di atas lantai, berjalan menjauhinya dengan tersenyum sinis ke arahnya.


Dalam keadaan masih terduduk Sisil mencoba meraih kembali tongkat yang tergeletak tak jauh dari tempatnya jatuh.


Dasar laki laki jahat, untung aku tidak menerimamu menjadi calon pendamping hidup ku.


Batin Sisil berucap, sambil mencoba bangkit dan berdiri kembali.

__ADS_1


*****


__ADS_2