Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Kesedihan sang adik


__ADS_3

Sisil masuk ke dalam rumahnya, rupanya ayahnya, sudah menunggu dirinya di ruang tamu dengan wajah yang terlihat sangat terpukul karena kejadian yang menimpa istri tercintanya.


Sang ayah langsung memeluk putri kesayangan dengan berlinang air mata, menumpahkan seluruh kesedihan nya dengan menangis di pelukan Sisil putri semata wayangnya.


''Maafkan papi sayang, karena papi telah salah memilihkan ibu sambung buat mu,'' ucap sang ayah dengan lelehan air mata yang membasahi seluruh wajah keriput nya.


''Papi tidak salah, aku yang salah, karena tidak memberitahukan Papi dari awal siapa Tante Angel yang sebenarnya.''


''Aku sungguh minta maaf Pih, aku sungguh tidak bermaksud untuk membodohi Papi,'' Sisil menangis di pelukan sang ayah.


Mereka saling menumpahkan kesedihan, ayah dan anak itu seolah sedang mengeluarkan seluruh unek unek dan kesedihan di dalam hati mereka masing masing.


Dan tanpa mereka sadari jika Daniel sedang memperhatikan mereka, sedari tadi mendengar kan setiap ucapan yang sedang mereka bicarakan.


Ia tampak terluka mendengar setiap pembicaraan yang sedang ayah serta kakaknya bicarakan, ia pun pergi ke kamarnya dengan menangis sesenggukan.


''Ibu... hiks hiks hiks...'' Daniel terdengar menangis di dalam kamarnya, ia tertelungkup di atas tempat tidur dengan memanggil ibunya.


Sisil yang kebetulan melintas tepat di kamar adiknya, tak sengaja mendengar suara tangisan sang adik, ia pun segera masuk ke dalam kamar dan menghampiri adiknya tersebut.


''Kamu kenapa dek?'' sambil memeluk tubuh kecil Daniel.


''Kakak...'' Daniel memeluk Sisil dengan sangat erat.


''Apa yang membuat mu sedih sayang?''


''Apa benar ibu sebenarnya wanita yang jahat?''


''Kata siapa, sayang?''


''Aku tak sengaja mendengar pembicaraan Kaka dengan papi hiks hiks hiks...!"


Sisil hanya terdiam mendengar ucapan adiknya, ia tak bisa berkata apa apa lagi, meski ia menyangkal semua yang di katakan adiknya toh suatu saat nanti juga sang adik akan mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Tiba tiba saja Daniel bangkit lalu berlutut di hadapan kakaknya, membuat Sisil merasa terkejut melihatnya.


"Kak...! aku mohon tolong maafkan ibu, jika ibu menginap di penjara, maka nanti aku tidur dengan siapa, aku mohon kak, bawa ibu pulang..! hiks hiks hiks...!" Daniel menangis sesenggukan.


"Bangun dek, kamu lagi apa?"

__ADS_1


Sisil meraih tubuh adiknya dan membantu nya kembali berdiri.


"Iya sayang, Kaka janji akan membawa ibu kembali ke rumah ini, kamu jangan seperti ini, Kaka mohon, Kaka sungguh tak tega melihat mu bersedih," Sisil tak kuasa menahan kesedihannya.


"Janji ya kak, bawa ibu pulang, aku akan menasihati ibu supaya tidak berbuat jahat lagi sama Kaka, hiks hiks hiks...!"


"Iya sayang... sekarang kamu istirahat dulu ya, ayo Kaka temani kamu tidur."


Sisil membaringkan tubuh adik nya di tempat tidur juga menemaninya berbaring, ia tampak mengusap rambut adik kesayangannya, sampai Daniel benar benar tertidur.


Dan tanpa menunggu lama lagi Daniel pun langsung terlelap dengan di temani Sisil di samping nya.


Jujur saja, hati Sisil merasa teriris melihat adik kesayangannya seperti itu, andai saja ibu tirinya tidak berbuat jahat mungkin saja sekarang mereka sudah menjadi keluarga yang sangat bahagia.


Ia pun hanya bisa menatap dengan tatapan sendu ke arah adiknya yang kini sudah terlelap, sambil mencoba memikirkan kembali tentang ucapannya kepada adik nya tadi yang berjanji akan kembali membawa sang ibu tiri pulang ke rumahnya.


***


Ke esokan harinya.


Tuan Lionel sedang bersiap untuk pergi ke kantor polisi, dia berencana akan segera menuntaskan urusannya dengan istrinya, ia nampak sedang bercermin sambil merapikan dasi berwarna hitam yang sedang ia kenakan.


Sampai tiba tiba saja Daniel masuk ke dalam lalu duduk di atas lantai.


Sang ayah merasa sangat terkejut mendapati Daniel berbuat seperti itu, sehingga ia pun segera meraih tubuh Daniel lalu memangku nya dengan kedua tangannya.


''Daniel sayang, apa yang kamu lakukan,'' dengan suara yang bergetar.


''Papi, bawa ibu pulang, saya mohon, saya yakin ini hanya khilaf. hiks..hiks..!''


''Dari mana kamu tahu tentang kondisi ibu mu, sayang...?''


''Semalam saya mendengar semua yang papi bicarakan dengan kak Sisil,'' dengan dengan suara terisak.


''Papi tak tahu harus berbuat apa nak,'' memeluk tubuh sang putra.


''Bukan kah setiap manusia pernah berbuat salah, termasuk ibu, ibu juga hanya manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan dosa, kita sebagai sesama manusia seharusnya bisa memaafkan kesalahan ibu dan membimbingnya ke jalan yang benar, bukan malah menghukumnya,'' ucap Daniel dengan penuh percaya diri.


Tuan Lionel sungguh terkesima mendengar ucapan anak tirinya, dia merasa semua yang di katakan anak berumur 11 tahun itu benar adanya.

__ADS_1


Dirinya memang masih mencintai istrinya, namun apa yang telah di perbuat sang istri sungguh sudah sangat keterlaluan, sehingga sulit untuk nya memaafkan kesalahan yang telah di perbuat nya.


''Papi...'' Daniel membuyarkan lamunan sang ayah.


''Iya sayang...!? maafkan Papih karena belum bisa memenuhi harapanmu, papi akan berusaha memaafkan kesalahan ibu mu, meski butuh waktu untuk benar benar melakukannya, kamu tak usah bersedih lagi ya..?'' ujar Tuan Lionel.


Daniel pun menganggukan kepalanya.


''Bukankah hari ini kamu harus sekolah? mari papi antar kamu ke Sekolah.''


''Benarkah?''


Tuan Lionel mengangguk.


''Tunggu papi di bawah ya, nanti papi ke sana, kita sarapan bersama dulu, setelah itu papi akan mengantar mu ke sekolah,'' dengan tersenyum.


''Baik Pi...! saya tunggu di meja makan ya.''


''Iya sayang...''


Daniel pun keluar dari dalam kamar dengan perasaan lega, ia sungguh berharap ayah serta kakaknya bisa memaafkan ibu serta kembali membawanya pulang ke rumah.


Di meja makan.


''Makan yang banyak sayang,'' ucap Sisil sambil memberikan satu piring berisi kan nasi goreng lengkap dengan telor dadar di atasnya.


''Terima kasih kak.''


Wajah Daniel terlihat kuyu, meski dia mencoba untuk tersenyum namun kesedihan itu sama sekali tak bisa di sembunyikannya, karena sudah dua hari tidak dapat bertemu dengan sang ibu.


''Mau Kaka antar sekolah tidak?''


''Tak usah kak, tadi papi bilang beliau akan mengantar ku ke sekolah,'' jawab Daniel dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


''O ya...? baiklah kalau begitu,'' mengusap rambut sang adik.


Tak lama kemudian ayah mereka pun ikut duduk di meja makan.


''Hari ini kamu mau ikut papi ke Kantor Polisi?'' ucap Tuan Lionel, yang langsung di jawab dengan kedipan mata oleh Sisil.

__ADS_1


Sisil ingin untuk saat ini mereka tidak membahas Kantor Polisi terlebih dahulu, karena dirinya ingin menjaga perasaan adik kesayangannya yang saat ini sedang makan.


*****


__ADS_2