
Alex memandang handphone yang kini berada di genggaman nya, menatap layar handphone yang masih dalam keadaan menyala.
Dirinya merasa heran mengapa Sisil tidak mengangkat telpon darinya. Alex menekan layar handphone nya kembali, mencoba untuk menelpon kekasihnya, namun kali ini handphone sang kekasih tidak dalam keadaan aktif.
Setelah termenung sejenak, akhirnya Alex memutuskan untuk untuk mendatangi kamar Sisil, dia hanya ingin memastikan bahwa wanita yang di cintai nya dalam keadaan baik baik saja.
Sementara itu Sisil mengusap kedua pipinya yang terasa sakit, memandang wajah nya yang kini berwarna merah dari pantulan cermin yang berada di kamar mandi, kedua sisi wajahnya tampak bengkak dengan terdapat sedikit lebam berwana kehijauan.
Tok tok tok
Sisil mendengar pintu di ketuk, dirinya segera berlari menuju pintu kamarnya, dia hanya ingin memastikan jika pintu sudah dalam keadaan terkunci.
Setelah memastikan pintu terkunci, Sisil duduk di balik pintu sambil menutup mulut dengan kedua tangan nya.
''Sisil... kamu di dalam kan? ini aku Alex.''
Terdengar suara sang kekasih memanggil namanya.
Sisil masih tetap terdiam, dia dengan sekuat tenaga menahan suara tangis dengan menutup mulut nya.
Tok tok tok
''Sisil... kamu baik baik saja kan?''
Sisil masih terdiam.
Alex yang sedari tadi berdiri di luar kamar mencoba membuka pintu paksa, tapi pintu dalam keadaan terkunci.
Dirinya masih terus mengetuk, berharap akan mendapat jawaban dari dalam sana, tapi usaha nya ternyata sia sia.
Alex berencana akan mendobrak pintu kamar, kakinya mundur dua langkah dan hendak mendorong pintu yang saat ini dalam keadaan tertutup rapat.
Saat hendak melakukan hal tersebut.
''Alex... sedang apa kamu di sini?''
Suara Angel menggelegar, dirinya keluar kamar setelah mendengar keributan yang di sebabkan oleh Alex.
''Anu, Nyonya... Sisil tidak menjawab telpon saya, pintu kamarnya juga di kunci, saya takut terjadi sesuatu dengan dia, karena baru kali ini dia mengabaikan telpon dari saya,'' ucap Alex.
Angel yang menyadari akan perbuatan nya kepada Sisil mengetahui persis bahwa anak tirinya pasti saat ini sedang menahan sakit di kedua pipinya, karena tamparan yang di layangkan oleh dirinya.
Dan dapat di pastikan bahwa anak tirinya pasti ingin menyembunyikan hal tersebut dari Alex yang merupakan kekasihnya.
''Kamu sungguh tidak sopan ya, membuat keributan di siang bolong, apa kamu tidak tahu jika Daniel sedang istirahat, kamu mau saya pecat?'' Angel menatap tajam wajah Alex.
''Saya minta maaf Nyonya, saya tidak bermaksud membuat kegaduhan.'' Alex menunduk.
__ADS_1
"Sekarang cepat kembali ke belakang, jika kamu masih ingin tetap bekerja dengan majikan mu ini, kamu harus memperhatikan tingkah laku mu di rumah ini.''
''Baik Nyonya, sekali lagi saya mohon maaf, saya permisi.''
Alex sedikit membungkukkan badan nya, berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Saat kakinya hendak melangkah, wajahnya kembali menolah ke depan pintu kamar yang sedari tadi dalam keadaan tertutup.
Dia sangat yakin jika Sisil berada di dalam, dan jika dalam keadaan tertidur dirinya pasti akan terbangun karena keributan yang di sebabkan oleh nya.
Hati nya sungguh di liputi banyak pertanyaan. Mengapa kekasih nya tidak menjawab telpon darinya? Mengapa pula pintu kamarnya terkunci? Sisil bahkan tidak sekedar menjawab saat dirinya mengetuk dan memanggil namanya.
Alex menarik nafas panjang, dia pun kembali melangkah kan kakinya meninggalkan tempat itu dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
Sementara itu, Sisil mendengar semua yang di ucapkan Angel dari balik pintu, dirinya mengusap air mata yang masih sedikit tersisa di pelupuk matanya, dengan duduk bersandar ke pintu yang sedari tadi sudah terkunci.
***
Keesokan harinya.
Jam 9 pagi, seperti biasa Alex sudah bersiap untuk mengantarkan Sisil ke kampus.
Dirinya duduk di kursi kayu menunggu Sisil keluar dari dalam rumahnya.
Setelah Minggu 30 menit akhirnya dia melihat Sisil membuka pintu dan keluar dari dalam kamar dan berjalan ke arahnya.
Meski wajahnya masih terlihat cantik dengan mengenakan pakaian putih polos, serta sepatu kets dengan warna senada dengan baju yang yang dia kenakan.
Alex berdiri, dirinya menyambut kedatangan Sisil dengan wajah khawatir.
''Sisil... kamu kemanana saja? aku mencari kamu dari kemarin,'' ucap Alex dengan meraih jemari Sisil.
''Maaf Oppa,kemarin aku sedikit tidak enak badan, jadi aku menghabiskan waktu seharian untuk berbaring di dalam kamar,'' Sisil menunduk.
Dirinya tidak ingin sang kekasih melihat wajahnya dan menyadari bahwa kedua pipinya dalam keadaan masih sedikit membengkak.
''Kita berangkat sekarang ya,'' ucapnya lagi.
Alex mengangguk dan segera berjalan untuk membuka pintu mobil.
Di perjalanan Sisil hanya terdiam, kepalanya bersandar ke sandaran kursi mobil, matanya terlihat kosong memandang keluar jendela yang berada di samping nya.
Alex melirik ke arah Sisil, dirinya hendak mengelus rambut Sisil, tapi dengan cepat sisil meraih tangan Alex.
''Kamu baik baik saja kan? Sikap mu terlihat sangat aneh pagi ini,'' ucap Alex.
Lalu Alex menepikan mobil nya di tepi jalan.
__ADS_1
''Kenapa berhenti?''
Sisil terlihat terkejut.
Alex meraih wajah kekasihnya.
Mencoba merapikan rambut kekasihnya yang sedari menutupi kedua sisi pipinya.
Alex tampak terkejut, dia melihat ada sesuatu yang berbeda dari wajah sang kekasih.
Kemudian Alex mengusap kedua pipi Sisil.
''Kenapa wajah mu bengkak seperti ini?''
Alex terlihat sangat khawatir dirinya masih mengelus kedua pipi Sisil yang terlihat masih bengkak, dengan sedikit lebam.
Sisil akhirnya hanya pasrah membiarkan sang kekasih mengetahui kondisi wajahnya.
''Kemarin aku terjatuh di kamar mandi.''
Sisil berbohong sambil meraih kedua tangan Alex dan menggenggam nya.
''Tidak... kamu berbohong, ini tidak terlihat seperti lebam sehabis terjatuh. Ini sepertinya lebam bekas tamparan yang sangat keras.''
Alex kembali mengelus kedua sisi pipi kekasihnya dengan kedua tangannya.
Raut wajahnya terlihat sangat serius.
''Siapa yang melakukan ini padamu? katakan... ! Jangan menyembunyikan semuanya dari aku lagi.''
Alex sedikit meninggikan suaranya.
Mata Alex sedikit berkaca kaca, dirinya merasa sangat terluka melihat keadaan wanita yang dicintainya dalam keadaan seperti ini.
Tiba tiba, Sisil memeluk badan sang kekasih, menangis tersedu sedu di dalam pelukan Alex, seolah menumpahkan semua kesedihan yang sedari kemarin dia hadapi sendiri.
Alex mendekap erat tubuh Sisil,membenamkan wajah sang kekasih di dada nya, tidak peduli jika bajunya terlihat basah karena air mata yang terus menerus tumpah dari pelupuk mata Sisil.
''Oppa... aku hari ini tidak ingin ke kampus, bawa aku kemana saja. Biarkan aku bolos kuliah sehari saja,'' ucap Sisil sesaat setelah melepaskan pelukannya.
''Tidak sebelum kamu mau menceritakan semua nya padaku. Siapa yang melakukan telah menampar wajah cantik mu ini.''
Air mata Alex terlihat mengalir membasahi pipinya.
'' Apa jangan jangan... ini perbuatan Nyonya Angel?''
*****
__ADS_1