Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Tinggal terpisah


__ADS_3

Setelah keluar dari dalam kamar sang kekasih, Sisil berjalan menuju kamarnya masih dengan tongkat yang membantunya untuk melangkah.


Meski dengan tertatih tatih akhirnya ia pun sampai di lantai dua dimana kamarnya berada.


Sisil pun berbaring di atas tempat tidurnya, memikirkan kembali ucapan Alex yang akan segera pindah dari rumahnya.


Rasanya dirinya masih belum siap jika harus tinggal di rumah besar ini tanpa sang kekasih berada di sampingnya.


Apakah dia harus meminta ayahnya untu segera menikahkan dirinya dengan sang kekasih? ujarnya dalam hati.


Lalu dia pun bangkit dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri.


Selesai membersihkan diri, Sisil pun keluar dari kamar mandi, dan saat dirinya kembali memasuki kamar ternyata Angel sudah duduk di sebuah kursi.


''Ada apa Tante ke sini?'' tangan Sisil lalu berjalan tertatih dan duduk di samping tempat tidurnya.


''Tadi ibu nya Alvin menelpon Tante, apa yang kamu lakukan pada dia, mengapa dia bisa ada di kantor polisi?'' tanya Angel.


''Seharusnya tante bertanya apa yang dia lakukan sama saya bukan sebaliknya.''


''Apapun masalah yang kalian hadapi, mengapa harus sampai membuat laporan ke polisi, bukankah itu hanya perkelahian antar lelaki, perkelahian seperti itu memang biasa terjadi di saat dua laki-laki memperebutkan satu wanita, sepertinya kamu terlalu membesar-besarkan masalah ini.''


''Ini bukan perkelahian biasa, tapi Alvin yang dengan membabi buta memukuli Alex, tanpa di balas oleh nya sedikitpun, banyak saksinya di sana.''


''Sudahlah Tante tidak ingin mendengar penjelasan kamu, Tante minta kamu segera mencabut laporan tersebut, sebelum masalahnya semakin rumit.''


Lalu Angel meninggalkan kamar Sisil begitu saja.


''Dasar nenek sihir,'' ucap Sisil pelan.


***


Karena desakan dari Alex dan ibu tirinya, serta ayah nya yang menyerahkan semua keputusan kepada dirinya, akhirnya nya Sisil terpaksa mencabut kembali laporannya di kantor polisi.


Namun dengan catatan bahwa Alvin tidak boleh mengganggunya, jika hal itu sampai terjadi kembali maka Sisil beserta ayahnya tidak akan segan-segan melaporkannya ke kantor polisi.


Orang tua berserta pengacara Alvin menyetujui persyaratan tersebut, hanya saja Alvin seperti nya masih menyimpan dendam kepada Sisil juga kekasihnya.


Dirinya sama sekali tidak merasa menyesal dengan apa yang ia lakukan, Alvin bahkan bertekad akan membalas semua yang Sisil lakukan kepadanya, karena telah membuatnya mendekam di balik jeruji selama beberapa hari.


Mereka semua berkumpul di kantor polisi, termasuk Sisil dan juga Alex, Alvin pun tampak duduk dengan wajah masam yang temani pula oleh kedua orang tua serta pengacara nya.

__ADS_1


''Alex dan juga Sisil, saya meminta maaf atas kelakuan anak saya, saya sebagai orang tua merasa malu mengetahui Alvin melakukan hal tersebut,'' ucap ayah Alvin dengan sedikit menunduk.


''Saya maafkan om, tapi jika hal seperti ini sampai terjadi lagi, saya tidak akan segan segan melaporkan kan Alvin kembali,'' jawab Sisil.


''Saya pastikan kejadian ini tidak akan pernah terjadi lagi,'' masih dengan ayahnya yang berbicara.


Sementara Alvin hanya diam menunduk dengan perasaan dendam yang kini telah memenuhi seluruh isi hatinya.


Setelah semua masalah selesai, semua berjabatan tangan dan menandatangani surat perjanjian serta surat pencabutan laporan, mereka semua pun keluar dari dalam kantor polisi.


Alex tampak membantu Sisil untuk berjalan menuju mobil, sementara Alvin serta kedua orang tuanya memasuki mobil yang terparkir tepat di sebelah mobil merah milik Sisil.


Saat hendak memasuk ke dalam mobil Alvin tampak melayangkan tatapan sinis ke arah Alex dengan mengancungkan jari tengahnya ke arah wajah Alex, dan Alex hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis sambil masuk ke dalam mobilnya.


***


Tiga hari kemudian.


Akhirnya waktu itu pun tiba, hari dimana Alex benar-benar pindah dari rumah Sisil, untungnya keadaan kaki Sisil sudah mulai membaik ia sudah bisa berjalan sendiri tanpa menggunakan tongkat.


Alex tampak sedang membereskan pakaiannya lalu memasukkannya ke dalam tas besar, yang di bantu dengan sang kekasih di sampingnya.


Sisil terlihat menunduk melihat satu bersatu pakaian Alex dimasukkan ke dalam tas, matanya sudah sedikit berkaca-kaca.


''Jangan terlalu bersedih, kamu boleh mengunjungiku kapan saja kamu mau,'' ucap Alex menatap wajah sang kekasih yang terlihat muram.


Sisil hanya mengangguk.


Melihat wajah Sisil yang begitu muram, Alex meraih tubuh sang kekasih lalu mendekap nya, ia pun mengusap rambut panjang Sisil yang terlihat panjang mengurai memenuhi sebagian punggungnya.


''Aku pasti akan merindukan aroma tubuh mu Oppa.''


Alex hanya tersenyum.


Setelah perasaan Sisil sudah benar benar tenang, ia pun melepaskan pelukannya, lalu menatap lekat wajah sang kekasih.


''Apa luka mu masih terasa sakit?'' tanya Sisil, tangannya mengusap satu persatu luka di wajah Alex yang terlihat sudah mengering.


Alex menggelengkan kepalanya.


''Kita harus bergegas sayang, karena hari sudah semakin sore, aku juga harus segera membereskan tempat baru yang akan aku tinggali nanti.''

__ADS_1


Ucap Alex yang meraih kembali tumpukan pakaian lalu memasukan ke dalam tas besar miliknya.


Sisil mengangguk lalu membantu sang kekasih membereskan semua pakaiannya.


Setelah semuanya selesai Sisil terlihat mengantar Alex menuju tempat tinggal barunya.


Sebuah kontrakan kecil yang hanya menyediakan satu kamar satu ruangan, dapur serta kamar mandi kecil.


Ceklek...


Alex memutar kunci lalu membuka pintu kontrakan, Sisil tampak masuk ke tempat itu dengan wajah yang sedikit masam.


''Tempatnya kecil sekali,'' ucap Sisil.


''Biarpun tempatnya kecil tapi sudah cukup untuk tempatku berteduh,'' jawab Alex lalu meletakan tas besar di atas lantai.


''Tapi Oppa, tempatmu ini masih kosong, di mana kamu akan tidur? makan, minum mu juga bagaimana? di sini tidak apa apa,'' Sisil terlihat khawatir.


Alex tersenyum mendengar ucapan sang kekasih, lalu ia pun duduk di lantai yang tidak beralaskan apapun, sementara Sisil masih berdiri mematung melihat seisi tempat yang akan di tinggali oleh kekasihnya tersebut.


''Nanti jika aku gaji an aku akan segera membeli semua perlengkapan yang aku butuhkan, kamu tidak usah khawatir,'' ujar Alex.


''Mengapa harus menunggu gajian? sekarang saja kita beli semua nya, gajian masih lama Oppa.''


''Sekarang aku belum ada uang, uang gaji bulan kemarin sudah aku kirimkan ke ibuku untuk biaya sekolah kedua adikku.''


''Ya sudah oppa pakai uangku saja dulu, nanti jika oppa gajian oppa bisa bisa menggantinya, mau ya please...''


Sisil memohon dengan tatapan manja.


Alex menggelengkan kepala.


''Kenapa...?''


''Aku tak mau menyusahkanmu,''


jawab Alex.


''Aku tidak memberikannya secara cuma-cuma, aku hanya meminjamkan mu uang Oppa, jika kau sudah menerima uang gaji dari papi, aku akan segera menagih nya padamu, anggap saja kamu berhutang padaku,'' Sisil tersenyum genit.


Alex terlihat berfikir sejenak lalu akhirnya ia pun menganggukan kepala tanda setuju.

__ADS_1


*****


__ADS_2