
Sisil tersenyum senang, karena Alex akhirnya setuju untuk membeli peralatan rumah tangga untuk mengisi tempat tinggal baru menggunakan uang miliknya.
Meski dengan embel embel berhutang, namun sesungguhnya Sisil ikhlas jika memang harus menggunakan uangnya untuk membeli kebutuhan sang kekasih, toh suatu saat dia pun akan menjadi suaminya.
''Kita berangkat sekarang ya Oppa,'' ajak Sisil masih dengan senyum mengembang di bibir mungilnya.
''Apa sekarang tidak kemalaman?''
''Tidak kok baru juga pukul 7 malam, masih ada banyak waktu, beli yang penting nya saja dulu, sisanya bisa nyusul di beli besok.''
''Baiklah jika itu mau mu.''
Alek beranjak dari duduknya, ia sama sekali tidak bisa menolak setiap permintaan yang keluar dari mulut kekasihnya.
''Tapi tunggu Oppa, boleh tidak kita sekali-kali naik motor mu, aku ingin merasakan sensasi naik motor berdua, layaknya pasangan lain yang sering aku lihat?''
Alex terkejut, permintaan kekasihnya kali ini terasa sangat aneh, mana mungkin dia mau naik motor butut nya, Sisil yang biasa naik turun mobil mewah, sekarang mendadak ingin berkendara menggunakan sepeda motor miliknya.
''Kamu serius? naik motor dingin lho, apalagi malam malam seperti ini.''
''Aku serius... boleh ya Oppa,'' jawab Sisil dengan nada manja seperti biasanya.
''Tapi motorku kan ada di rumah mu, tadi kita kesini naik mobil.''
''Ya sudah kita kembali dulu ke rumah aku, sekalian simpan mobil aku di sana.''
''Sekali lagi aku tanya, apa kamu serius dengan permintaan mu ini?''
Sisil mengangguk lalu tersenyum.
''Baiklah, kita berangkat sekarang ya, tapi jangan pulang terlalu malam, aku takut om Lionel nanti mencari mu.''
''Baik Oppa...''
Mereka pun keluar dari dalam kamar dan langsung menuju ke rumah Sisil.
Setelah memarkir mobil di garasi, Alex dan Sisil pergi menggunakan sepeda motor kepunyaan Alex setelah sebelumnya mengambil tas milik Sisil terlebih dahulu dari dalam kamarnya.
Sisil menaiki sepeda motor kepunyaan sang kekasih, sepeda motor metik keluaran lama yang selalu di rawat dengan baik oleh Alex, sehingga penampakan dari motor nya sendiri selalu terlihat bersih meski jarang di gunakan.
Tak lupa Alex pun memakaikan, helm di kepala Sisil, agar ia selamat sampai tujuan.
__ADS_1
Motor pun mulai melaju keluar dari pekarangan rumah besar milik Tuan Lionel, dengan Sisil yang duduk di belakang punggung Alex sambil melingkarkan kedua tangannya dengan sangat erat di perut sang kekasih.
Sisil menikmati setiap hembusan angin menyapu wajah serta melambaikan rambut panjangnya, baru kali ini dirinya merasakan sensasi berkendara naik motor berdua dengan sang kekasih seperti layaknya pasangan kekasih biasa.
Motor yang kendarai Alex pun melaju memecah kegelapan malam kota Jakarta, dengan kecepatan tinggi dan dengan kekasih cantik duduk di belakangnya.
Belum juga sampai di tempat tujuan, tiba-tiba motor Alex pun berhenti karena kehabisan bahan bakar, sontak hal tersebut membuat Sisil terkejut dan langsung turun dari atas motor.
''Motornya kenapa? kok berhenti?'' tanya Sisil dengan wajah panik.
''Sebentar ya aku lihat dulu,'' Alex pun terlihat panik.
Ia pun tersadar, jika sudah beberapa hari motornya belum diisi bahan bakar sedikit pun, karena selama ini dia selalu menggunakan mobil milik Sisil kemana pun ia pergi.
''Duh... Maaf ya bensin nya habis,'' ujar Alex dengan perasaan menyesal.
''Ya ampun... terus kita bagaimana? mana di sini tak ada POM bensin, terus aku gimana? masa dorong motor si?'' Sisil sedikit cemberut.
''Ya sudah mau bagaimana lagi, sepertinya kita memang harus mendorong motor ini sampai kita menemukan POM bensin.''
''Gimana ya...?" Sisil tampak terdiam sebentar.
"Tak apa apa Oppa, aku akan membantumu melakukannya, lagipula salahku sendiri karena meminta mu untuk pergi mengunakan motor," jawab Sisil.
"Kamu serius?"
Sisil mengangguk.
Kemudian mereka berdua mendorong sepeda motor tersebut, entah mengapa Sisil merasa senang melakukan hal tersebut, mungkin karena ini pengalaman pertama baginya, berjalan mendorong sebuah sepeda motor di tengah malam bersama sang kekasih.
Hampir dua jam mereka berdua berjalan, menyusuri jalanan sunyi yang sepi dengan pengendara.
Sampai akhirnya terlihat dari kejauhan sebuah Tempat pengisian bahan bakar mini, Sisil dan Alex pun bersorak saking senangnya, karena sejujurnya kaki mereka sudah terasa sangat lelah karena sudah berjalan cukup jauh.
Setelah sampai, mereka pun segera mengisi sepeda motor dengan bahan bakar secara penuh. Agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
"Apa kamu lapar?" tanya Alex saat hendak kembali menyalakan motornya.
Sisil mengangguk.
Lalu Alex melihat sebuah gerobak nasi goreng tepat di sebelah POM tempatnya mengisi bahan bakar.
__ADS_1
"Kita makan di sana yu," Alex menunjuk gerobak Nasi Goreng yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Apa..? di sana? kamu serius?" Sisil terlihat sedikit risih dengan ajakan Alex.
"Memangnya kenapa?"
"Aku tak pernah makan di tempat seperti ini."
"Ya sudah, makanya cobain dulu, rasanya bakalan tak kalah enak dengan makan nan yang ada di Restoran ko," ujar Alex lalu menarik tangan Sisil untuk duduk di kursi kayu yang sudah tersedia di samping gerobak.
Akhirnya Sisil hanya pasrah dan duduk disamping kekasihnya tersebut.
''Bang Nasi Goreng nya dua ya,'' ucap Alex.
''Baik Mas.''
Sisil tampak melihat ke sekeliling, baru kali ini dia merasakan makan dari pedagang gerobak yang berada pinggir jalan, dari semenjak ia lahir dia tidak pernah merasakan hal seperti ini.
Wajahnya terlihat sedikit risih, namun ia sama sekali tidak bisa menolak ajakan sang kekasih, karena selama ini Alex lah yang selalu menuruti semua keinginannya, dan sekarang giliran dia yang menuruti keinginan kekasih nya tersebut.
Tak lama kemudian Abang penjual nasi goreng pun datang dengan membawa dua piring penuh nasi goreng dengan hiasan mentimun di atasnya.
''Silahkan di makan mas, mbak..'' ujar nya.
''Terima kasih bang.''
Alex tampak langsung melahap makanan yang sudah berada di hadapannya, lain hal nya dengan Sisil, dirinya hanya memandangi satu piring penuh nasgor tanpa menyentuhnya sedikit pun.
''Kenapa tidak di makan? enak lho, cobain deh,'' ucap Alex dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan.
Akhirnya dengan sedikit enggan, Sisil meraih sendok dan memasukan sedikit makanan ke dalam mulutnya, dia yang awalnya merasa enggan menyantap maupun menyentuh makanan yang berada di hadapannya, kini tampak makan dengan lahap setelah suapan pertama nya masuk ke dalam mulut kecilnya.
''Enak kan?''
Sisil mengangguk.
''Makanya cobain dulu, makanan di pinggir jalan seperti ini biasanya rasanya tak jauh beda dengan makanan yang ada di Restoran.''
Sisil tak menjawab, dia seperti nya sudah sibuk mengisi perutnya yang memang sudah terasa lapar dari sebelum mereka berangkat.
*****
__ADS_1