Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Cinta atau Ambisi?


__ADS_3

Alvin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, raut wajah nya terlihat geram, dia tidak menyangka akan di usir seperti itu oleh Sisil.


Dia merasa tidak ada yang salah dengan ucapan nya kepada sahabatnya tersebut.


Alex kekasih Sisil memang tidak pantas bersanding dengan nya, latar belakang nya sangat jauh berbeda dengan dirinya.


Dia tidak habis pikir mengapa Sisil bersikeras mempertahankan hubungan nya dengan laki laki yang hanya berprofesi sebagai supir.


Kaki nya menginjak pedal gas, membuat mobilnya melaju dengan kecepatan lebih tinggi.


Akhirnya dia sampai di kediaman nya, rumah besar dengan pagar tinggi berwarna coklat, dan satu pos satpam di depan nya.


Pak satpam terlihat membuka kan pagar untuk majikan nya. Mobil Alvin pun melaju masuk ke dalam halaman menuju garasi rumah nya.


Setelah memarkir mobilnya di garasi, dia bergegas masuk ke dalam rumah, dengan keadaan yang masih agak kesal.


Alvin mengambil satu gelas air di dapur rumah nya, meminum satu gelas air dengan hanya satu tegukan.


''Kamu sudah pulang Vin?''


Ibunya sudah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.


Alvin hanya mengangguk.


''Kamu kenapa?''


Tanya ibu Alvin, yang bernama Ibu Tania.


Ibu Tania tampak heran melihat putra kesayangan nya pulang dalam keadaan marah, wajah Alvin tampak masih menyimpan rasa kesal yang dia dapatkan saat di rumah Sisil.


Dia memandang kembali gelas kosong yang ada di genggamannya, dan mengisinya kembali dengan air minum, lalu meneguk nya kembali sampai gelas itu terlihat kosong.


Ibu Tania meraih gelas dari tangan putranya, menyimpan nya di atas meja makan yang terletak tepat di samping nya.


''Hei...!!! anak ibu yang tampan, kamu kenapa? Mengapa wajahmu terlihat sangat kesal?''


''Mah... Aku menyukai Sisil, sahabat aku sendiri.''


Ibu Tania tampak tidak kaget sama sekali dengan ucapan putranya, tentunya karena dirinya sudah mengetahui hal itu sedari dulu, semua itu terlihat dari sikap Alvin yang selalu di tunjukan tatkala sedang bersama Sisil.


''Mamah tahu.''


Jawab Ibu singkat.


''Tapi cintaku seperti nya hanya bertepuk sebelah tangan.''


Jawab Alvin menunduk.


''Mamah tidak mengerti, mengapa Sisil bisa menolak laki laki tampan seperti kamu?''

__ADS_1


''Itu karena dia sudah punya seorang kekasih.''


''Apa?''


Ibu Tania terlihat kaget.


''Tapi aku bisa pastikan kalau kekasih dari Sisil tidak pantas sama sekali bersanding dengan dirinya, dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan hati Sisil.''


Alvin terlihat mengepalkan tangan nya.


Ibu Tania menatap lekat wajah Alvin, terlihat raut kekecewaan dari wajah putranya tersebut, dia pun merasa sedih melihat putranya seperti itu.


Dan Ibu Tania bertekad akan membantu putranya untuk meraih cintanya, karena Alvin adalah satu satunya putra yang dia miliki, dirinya akan melakukan apapun untuk membuat putranya bahagia.


''Mamah akan bantu kamu nak, membantumu mendapatkan Sisil, jika dia wanita yang dapat membuatmu bahagia, Mamah janji akan menemukan cara agar Sisil bisa menjadi milikmu seutuhnya.''


Ucap Ibu Tania dengan nada meyakinkan.


Wajah Alvin tampak terlihat tersenyum tipis, mendengar ucapan Ibunya.


Lalu ibu Tania mendekat dan memeluk tubuh tinggi putra kesayangan nya.


''Tapi nak, tadi kamu bilang Sisil sudah mempunyai kekasih, siapa laki laki itu, yang kamu sebut sebagai laki laki yang tidak pantas bersanding dengan Sisil?''


Ucap ibu Tania sesaat setelah melepaskan pelukan nya.


''Ada mah, aku juga kenal orang nya.''


''Mohon maaf mah, tapi seperti nya aku belum bisa memberi tahu tentang siapa laki laki itu.''


Alvin menunduk, kalau sampai dia memberi tahu Ibunya tentang Alex, sudah pasti Sisil akan sangat marah pada dirinya, karena dapat di pastikan kalau Ibunya pasti akan memberi tahu hal tersebut kepada Tuan Lionel.


Yang tentu saja akan membuat Sisil semakin membenci dirinya.


''Ya sudah, tidak apa apa, kamu jangan sedih lagi ya, tidak ada satu hal pun di dunia ini yang tidak dapat kamu miliki, kamu tahu sendiri sedari dulu Mamah selalu bisa mewujudkan keinginan mu.''


Alvin mengangguk sembari tersenyum kepada ibunya.


Dia semakin percaya diri, Karena Ibu sendiri akan membantu nya untuk memperoleh cinta dari wanita yang telah lebih dari 10 tahun menjadi sahabat nya.


***


Satu Minggu kemudian.


Malam hari seperti biasa nya Daniel tidur di kamar Sisil, sudah semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk berbulan madu Daniel selalu melakukan hal tersebut.


Sisil pun sudah terbiasa dengan kehadiran Daniel yang tertidur di sebelah nya.


Daniel berbaring di sebelah kakaknya, waktu sudah menunjukan pukul 23.30 tapi dirinya masih belum bisa terpejam.

__ADS_1


Dia melihat ke arah kakaknya yang sudah tertidur lelap. Daniel kembali menutup tubuhnya dengan selimut tebal yang juga membalut tubuh kakaknya.


''Kamu kenapa belum tidur?''


Ucap Sisil membuka sedikit matanya.


''Aku tak bisa tidur kak.''


Lalu Sisil, melihat ke arah Daniel sambil sedikit mengangkat tubuhnya sendiri.


''Apa kamu tidak enak badan?'' Tanya Sisil.


Sisil menempelkan punggung tangan nya di kening Daniel.


''Ya ampun dek, badan kamu panas. Kamu demam.''


Sisil terlihat panik. Dia lantas duduk dan meraba seluruh badan adiknya, yang memang terasa panas.


Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hal yang pertama yang dia ingat adalah Alex, dia akan meminta bantuan kepada nya, mengingat Alex sendiri pernah menjaga nya sewaktu dirinya terserang demam waktu itu.


Sisil meraih handphone yang dia letakan di meja kecil di samping tempat tidurnya.


Mencoba menelpon Alex beberapa kali, tapi tidak ada jawaban, mungkin karena malam yang sudah sangat larut, sehingga dapat di pastikan kalau Alex sudah dalam keadaan tertidur lelap.


Sisil tidak menyerah, dia kembali menelpon kekasihnya. Hingga akhirnya usahanya tidak sia sia, Alex mengangkat telpon dari Sisil meski dalam keadaan mengantuk.


Setelah menceritakan keadaan Daniel, Sisil segera menutup telpon dan tak lama kemudian Alex masuk ke dalam kamar Sisil.


''Daniel kenapa?''


Tanya Alex.


''Badan nya panas sekali, aku tak tahu harus bagaimana.''


Alex menempelkan punggung tangan nya di kening dan meraba seluruh badan Daniel. Badan Daniel terasa sangat panas, tapi dia mencoba untuk setenang mungkin, dirinya tidak mau membuat kekasihnya menjadi semakin khawatir.


''Kamu tunggu di sini, aku mau ambil air hangat serta kain untuk mengompres.''


Sisil hanya mengangguk.


Tak lama kemudian Alex datang dengan membawa air hangat.


Alex segera mengompres kening Daniel.


''Jika selama 2 jam panas nya tidak turun, kita harus segera membawa Adikmu ke rumah sakit,'' ucap Alex.


Sisil mengangguk, dia menatap sedih wajah adiknya yang kini terbaring lemah, sesekali wajahnya tampak meringis seperti sedang merasakan kesakitan.


Dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi jika ibu tirinya sampai tahu kalau anak kesayangan nya sedang dalam keadaan sakit.

__ADS_1


Sudah pasti dirinya akan di salahkan karena di anggap tidak becus dalam menjaga adik tirinya.


*****


__ADS_2