
Sisil memeluk tubuh Ibu nya yang sudah tidak bernyawa, bayangan bayangan masa lalu saat dia membentak ibu nya muncul secara bergantian di dalam otak nya.
Sisil sungguh menyesal karena telah menjadi anak yang tidak berbakti, dia telah menjalani separuh umur nya dengan membenci Nyonya Fransisca.
''Maafkan semua kesalahan aku Momm, aku sungguh minta maaf.'' Ucap Sisil di sela sela tangis sendu nya.
Tak berapa lama kemudian Tuan Lionel datang ke Rumah Sakit, dia di kabari oleh Alex tentang apa yang terjadi pada mantan istri nya.
Tuan Lionel menghampiri Sisil, dia meraih tubuh Sisil dan memeluknya, tangis nya pun ikut pecah, dia sangat shock mendengar kabar mantan istrinya sudah tiada.
Jauh dari lubuk hati yang paling dalam Tuan Lionel masih menyimpan perasaan cinta yang tulus kepada Mantan istrinya tersebut.
''Mommy sudah tidak ada Pih,''
ucap Sisil dalam dekapan Tuan Lionel,
''aku menyesali telah membenci Mommy.'' Tambahnya lagi.
''Ia sayang, Papih mengerti perasaan kamu, sekarang Mommy sudah tenang di alam sana, dia sudah tidak kesakitan lagi. Kamu harus ikhlas sayang.''
Ucap Tuan Lionel mencoba menenangkan Putri kesayangan nya.
Sisil mencurahkan semua kesedihan nya di dekapan ayah nya.
***
Setelah jenazah Nyonya Fransisca selesai di kebumikan, Sisil menghabiskan waktu nya seharian di dalam kamar, dia seperti mengurung diri, tidak ada seorang pun yang bisa masuk ke dalam kamar nya.
Alex mencoba mengetuk pintu kamar Sisil, tapi masih tidak ada jawaban dari dalam sana.
Alex memberi waktu kepada Sisil untuk sendiri, dia tidak ingin menggangu kesendirian nya, Alex pun pergi meninggalkan kamar Sisil.
Tengah malam pukul 23.00 terdengar suara ketukan di kamar Alex.
Tok tok tok
Alex terbangun dari tidur lelap nya.
''Alex, buka pintu Lex.'' Terdengar suara Tuan Lionel memanggil diri nya.
Alex membuka pintu kamarnya, dengan keadaan masih mengantuk.
''Ada apa tuan?'' Tanya Alex dengan sedikit menguap.
''Sisil tidak ada di kamar nya, apa dia bilang sama kamu mau pergi kemana?''
__ADS_1
''Tidak tuan, saya belum ketemu Sisil dari tadi pagi.''
''Bisa tolong cari dia? saya khawatir dia melakukan hal yang membahayakan keselamatan nya.''
''Baik tuan, saya akan segera mencari dia.''
Alex bergegas mengambil jaket jeans miliknya, berlari keluar untuk mencari keberadaan Sisil.
Alex pergi ke garasi mobil, dan dia sama sekali tidak menemukan mobil merah milik Sisil di sana.
'Kamu dimana sisil'
Ucap nya dalam hati, dia meraih handphone yang ada di dalam saku celana nya, mencoba mengubungi Sisil. Akan tetapi handphone Sisil dalam keadaan tidak aktif.
Alex pergi dengan mengendarai sepeda motor milik nya. Dia menyusuri jalanan ibu kota, mencari keberadaan Sisil, matanya sesekali melihat ke kiri dan ke kanan jalan.
Akhirnya Alex tiba di Club malam yang pernah dia singgahi bersama Sisil, dia masuk ke dalam Club dan mencari di antara banyaknya para pengunjung.
Akan tetapi Sisil sama sekali tidak ada di sana.
Alex duduk di atas jok motor nya, mencoba berfikir keras, mengingat setiap tempat yang mungkin akan di kunjungi Sisil dalam keadaan seperti ini.
Akhirnya Alex ingat suatu tempat, tempat yang pernah 2 kali dia kunjungi bersama Sisil, yaitu 'Pantai'.
Dia bergegas menuju ke sana, Alex melajukan sepeda motor miliknya dengan kecepatan tinggi, dia sudah tidak memikirkan keselamatan nya lagi, di dalam otak nya hanya teringat Sisil, dia takut Sisil akan melakukan perbuatan yang membahayakan keselamatan dirinya.
Mata Alex berkeliling mencari keberadaan Sisil, di tengah kegelapan malam, dan di tengah suara gemuruh ombak yang bergulung di tepi lautan.
''Frisillia...'' Suara Alex menggema di tepi pantai.
Dia terus memanggil nama Sisil.
Setelah lama mencari, akhirnya Alex melihat punggung seorang wanita, dia memakai kaos oblong berwarna merah dengan celana polos pendek selutut, rambut nya tampak bergoyang tersapu angin pantai, di jari nya terselip satu batang rokok, dengan mulut yang menghembuskan asap ke udara lepas.
Alex tidak menghampiri Sisil, dia duduk tak jauh dari tempat Sisil berada,memandangi punggung Sisil, memberi waktu kepada kekasih nya untuk menikmati kesendirian nya.
Hampir satu jam Alex terus berada di sana, mulutnya tampak menguap menahan kantuk. Dia melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, waktu sudah menunjukan pukul 01.15 dini hari.
Akhirnya Sisil berdiri, dia membalikan badan nya, diri nya sedikit terkejut saat melihat sosok Alex yang duduk tak jauh dari tempat nya berada.
Alex melambaikan tangan nya kepada Sisil, diri berdiri menghampiri Sisil yang kini sedang memandang dirinya.
Alex duduk di samping Sisil, dia meraih bungkus rokok, bibirnya sedikit tersenyum tipis saat mendapati bungkus rokok yang sudah terlihat kosong.
Alex meraih kepala Sisil dan menyandarkan ke bahu nya yang kokoh, dia tak mengatakan apapun, hanya tangan nya saja menggenggam erat jemari Sisil.
__ADS_1
''Sejak kapan kamu duduk di sana?'' Tanya Sisil memulai percakapan.
''Lumayan,'' Alex menjawab sembari menguap menahan kantuk, ''lumayanl lama sampai aku bisa ketiduran sambil duduk.'' Tambah nya lagi, tangan nya tampak mengusap kedua mata nya.
''Kenapa tidak nemenin aku di sini?'' Tanya Sisil dengan sedikit melirik wajah tampan kekasih nya.
''Aku tidak mau mengganggu kamu, aku pikir kamu butuh waktu untuk menikmati kesendirian kamu.''
''Makasih ya, sudah mau ngertiin aku.'' Ucap Sisil membenamkan wajah nya di dada bidang milik Alex.
Alex mengusap lembut kepala Sisil lalu mengecup nya.
''Gimana perasaan kamu sekarang?'' Tanya Alex.
''Hati aku sudah sedikit tenang, aku akan mencoba mengikhlaskan kepergian Mommy.''
''Janji ya, ini yang terakhir kalinya kamu merokok.''
Sisil tersenyum, menarik kepalanya dari dada Alex, dia mengulurkan jari kelingking nya. Alex meraih jari kelingking Sisil dan menautkan nya ke jari kelingking milik nya.
''Aku janji, ini yang terakhir kali nya.'' Ucap Sisil dengan sungguh sungguh.
''Janji ya...'' Jawab Alex.
Sisil menganggukan kepalanya dan tersenyum tipis.
Tiba tiba ponsel milik Alex berdering tanda sebuah panggilan masuk.
''Halo...'' Alex menjawab telpon.
''Gimana Lex, Sisil udah ketemu?" Terdengar suara Tuan Lionel dari balik telpon.
''Sudah tuan, dia sedang bersama saya sekarang.''
''Syukurlah, kamu jaga dia baik baik ya, saya akan menyuruh mang Yadi untuk mengambil motor kamu, biar kamu bisa pulang bersama Sisil.'' Jawab Tuan Lionel.
''Baik tuan, saya akan kirim alamat nya lewat whats up.'' Ucap Alex yang langsung menutup telpon. Alex pun segera mengirimkan alamat keberadaan mereka kepada Tuan Lionel.
''Papih pasti khawatir sama aku?'' Ucap Sisil dengan menundukkan kepalanya.
Alex hanya terdiam seolah meng iya kan perkataan Sisil.
Alex dan Sisil memandang lautan lepas, Alex membuka jaket jeans yang dia kenakan, lalu memakaikan nya di bahu sisil.
*****
__ADS_1
Jangan lupa klik like sama vote nya ya kawan kawan, di tunggu hadiah nya juga ya. terima kasih.