
Rani terlihat sedikit malu saat mengetahui Alex ternyata sudah memiliki kekasih, wajahnya tampak memerah dengan mata yang tampak sedikit berair.
''Maaf karena baru sempat memberi tahu mbak Rani sekarang,'' ujar Alex yang melihat perubahan dari ekspresi wajah wanita tersebut.
''Tidak apa apa, memang salahku yang tidak bertanya padamu dulu dari awal, sehingga membuat aku dengan percaya dirinya mendekati kamu yang ternyata sudah mempunyai tambatan Hati,'' jawab Rani menunduk.
''Kita Masih bisa berteman ko.''
Rani menggeleng kan kepalanya.
''Tidak Lex, aku tak mau berteman dengan mu, karena jika aku melakukannya, rasa suka dalam hatiku terhadapmu akan semakin bertumbuh hingga mungkin akan membuat rasa sakit yang lebih besar lagi,'' Rani masih menunduk.
Alex terdiam mendengar penolakan Rani, ia mengerti betul bagaimana perasaan wanita itu.
''Aku permisi dulu, maaf karena telah menganggu waktu istirahat mu,'' Rani berdiri lalu pergi begitu saja.
Alex hanya bisa menarik nafas panjang, ia terpaksa mengatakan semuanya, sebelum perasaan yang ada di dalam hati Rani bertambah besar terhadapnya, karena walau bagaimanapun ia tidak akan pernah bisa menerima perasaan Rani terhadapnya, karena sudah ada gadis cantik yang bernama Frisillia Agatha yang menjadi satu satu nya wanita yang mengisi hatinya.
Ia pun kembali menutup pintu setelah wanita yang baru saja mengunjunginya sudah tak terlihat lagi. Kembali memasuki kamar dan meneruskan tidur lelapnya yang sempat terganggu oleh kedatangan tamu yang tak di undang itu.
***
Angel sedang duduk di ruang Televisi, dirinya tampak memikirkan rencana yang telah ia susun bersama Alvin agar bisa menggagalkan Pernikahan antara anak tirinya dengan laki laki yang bernama Alex.
Bibirnya tampak tersenyum licik saat mengingat semua rencana yang akan segera di jalankan nya, sampai lamunan nya pun buyar seketika tatkala Sisil melintas tepat di hadapannya.
''Tantea sedang mikirin apa?'' duduk kursi tepat di samping kursi yang di duduki Angel.
''Bukan urusanmu anak sialan,'' jawab Angel ketus.
''Kenapa Tante terlihat kesal? apa karena kartu merah yang Tante punya sudah tidak ada artinya lagi?'' tak kalah ketusnya.
__ADS_1
''Apa maksudmu? kartu ini masih sangat berguna.''
''O ya...? jika memang begitu, aku tantang Tante untuk memperlihatkan video itu kepada Papih, aku yakin jika Papih tahu, hal itu hanya akan membuat papih mempercepat pernikahan aku dengan Alex, dan aku akan sangat berterima kasih sekali kepada Tante, karena tidak perlu menunggu tahun depan untuk benar benar bisa menikah,'' jawab Sisil dengan tersenyum lebar.
''Kurang ajar kamu,'' Angel berdiri dan hendak menampar pipi Sisil, namun dengan segera Sisil meraih pergelangan tangan ibu tirinya tersebut dan melepaskannya secara kasar.
''Tante tidak akan bisa lagi menyiksa saya, dan saya juga tidak merasa takut sama sekali sama Tante atau pun ancaman tante,'' Sisil pergi meninggalkan Angel yang berdiri mematung, karena lagi lagi usaha nya untuk membuat anak tiri nya itu takut kepadanya kembali gagal.
''Dasar anak kurang ajar,'' Angel mengepalkan tangannya sambil mengumpat sendiri.
Kemudian ia pun meraih handphone dari dalam sakunya dan menelepon Alvin, memberitahukan kepada nya untuk segera menjalankan rencana yang telah mereka susun sekarang juga.
Setelah Alvin bersedia menjalankan rencananya, ia pun segera menutup telepon dan kembali duduk dengan senyum sinis yang mengembang dari kedua sisi bibirnya.
''Lihat saja anak kurang ajar, setelah ini apakah kau masih bisa tersenyum lebar seperti itu?'' ujar nya berbicara sendiri.
***
Namun saat mobil yang di kendarainya sedikit lagi sampai di jalan menuju kontrakan Alex, tiba tiba saja ada mobil jeep hitam yang menghalang mobil dirinya, hingga membuat gadis itu menginjak rem secara mendadak dan hampir saja mobilnya menghantam mobil Jeep yang berhenti mendadak tepat di depan mobilnya.
Tiga orang berpakaian serba hitam keluar dari dalam mobil Jeep, dan memaksa Sisil untuk keluar dari dalam mobil merahnya, awalnya ia tak mau keluar, namun karena ketiga orang itu terus menggedor kaca mobil hingga menimbulkan kebisingan Sisil terpaksa keluar dari dalam mobil.
Tanpa di sangka ketiga orang dengan bertubuh besar itu membawa Sisil dengan paksa untuk masuk ke dalam Jeep mereka, Sisil mencoba berontak dan meminta pertolongan, namun usahanya sia sia, karena salah satu dari mereka menutup mulutnya sehingga ia pun tidak dapat berteriak.
Sisil masih mencoba berontak di dalam mobil dengan menendang, mencakar bahkan berteriak sekencang mungkin, namun mulutnya berhenti berteriak seketika saat mulutnya di sumpal dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius.
Ia pun terkulai lemas dan tak sadarkan diri, dan ketiga laki laki itu tersenyum hingga tertawa melihat gadis yang di bawanya sudah dalam keadaan tak berdaya.
Laki laki yang memiliki tubuh paling kekar tampak menerima telpon dari seseorang, yang seperti orang tersebut adalah dalang di balik penculikan Sisil saat ini.
''Halo bos... gadis nya sudah aman bersama saya bos...''
__ADS_1
''.............''
''Baik bos saya akan segera membawa dia ke sana.''
Sepertinya mereka akan membawa Sisil ke suatu tempat yang sudah di perintahkan oleh si dalang.
Dan benar saja, mobil mereka tampak berhenti di sebuah rumah kosong yang seperti nya sudah di tinggalkan begitu lama oleh si pemilik rumah, karena jika di lihat dari luar, rumah tersebut seperti sudah tidak terawat sama sekali.
Sisil di pangku oleh laki laki bertubuh kekar, dengan tato kepala singa tampak menghiasi lengan kanannya, wajahnya pun terlihat sangat sangar layaknya preman jalanan.
Di dalam rumah, rupanya si dalang dari semua ini sudah menunggu dengan duduk di sebuah kursi sambil mengangkat kedua kakinya di atas meja.
''Dua mau di simpan di mana bos?''
''Bawa dia masuk ke dalam kamar, lalu ikat kaki dan kedua tangannya,'' jawab Alvin dengan tersenyum menyebalkan.
''Baik Bos,'' kemudian membawa gadis yang sudah tidak berdaya itu ke dalam kamar, dan tak lupa mengikat kaki serta kedua tangannya pula.
''Kalian berjaga di luar,'' pinta Alvin kepada ketiga anak buahnya tersebut.
Ketiganya langsung beranjak keluar rumah untuk berjaga.
Alvin tampak menenggak satu botol alkohol yang memang sudah dia siapkan untuk membangun keberaniannya dalam melancarkan aksi bejatnya ini, sebelum ia memasuki kamar, ia tampak menghabiskan satu botol sekaligus dengan hanya sekali tegukan.
Ceklek...
Alvin membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar. Ia melihat wanita yang cintai nya meringkuk dengan tangan serta kaki yang di ikat dengan se untas tambang.
Ia merapikan rambut Sisil yang terlihat menutupi seluruh permukaan wajah cantiknya.
*****
__ADS_1