
Sisil kemudian menunduk, dirinya tidak tahu harus berkata apa, pikirannya diliputi rasa gundah.
Apakah dia akan menceritakan semua yang menimpa nya kepada sang kekasih?
Dia Memandang lekat wajah alex yang menunggu jawaban darinya.
''Jujur sama aku, apakah Nyonya Angel menampar mu?''
Sisil mengangguk lalu menunduk.
Alex terlihat geram, dia mengepalkan kedua tangan nya.
''Tapi mengapa dia melakukan ini padamu?''
Sisil terus menunduk, air matanya terus mengalir deras membasahi pipi lebamnya.
''Oppa, aku mohon, bawa aku pergi dari sini, aku berjanji akan mengatakan semuanya padamu, tapi sebelum nya bawa aku ke suatu tempat yang tenang. Beberapa hari saja, kemanapun terserah Oppa.''
Sisil memohon.
''Tapi bagaimana dengan Tuan Lionel kalau kita pergi bersama beberapa hari, beliau pasti akan curiga?''
''Biar nanti aku yang menelpon Papih, aku akan membuat alasan yang tepat dan minta izin padanya agar bisa pergi bersama mu.''
''Lalu bagaiman dengan Nyonya Angel?'' ucap Alex.
Sisil terdiam, dia membayangkan sosok ibu tiri yang kemarin menarik rambut lalu menampar keras kedua pipinya.
Jantung nya seperti berhenti berdetak saat mengingat hal tersebut, dia yang sedari kecil selalu di hujan ni dengan kasih sayang oleh kedua orang tuanya, kini harus merasakan sakit nya siksaan secara lahir ataupun batin oleh ibu tirinya.
Dan dirinya pun hanya bisa pasrah menerima perlakuan tersebut, tanpa bisa melawan ataupun mengadu kepada ayahnya. Demi melindungi hubungan nya dengan laki laki yang kini berada di sampingnya.
Sisil menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan, dirinya mencoba menyingkirkan bayangan wajah ibu tirinya yang terus menari nari di dalam otaknya.
''Nanti biar Papih saja yang mengatakan pada Ibu, aku malas jika harus berbicara langsung pada nya,'' ucap Sisil.
Alex terdiam sejenak, dia sedang memikirkan tempat yang akan di singgahi nya bersama sang kekasih.
Lalu dia teringat kedua orang tua dan juga adik adiknya, sudah hampir selama 6 bulan dirinya tidak pernah mengunjungi mereka.
''Bagaimana kalau kita ke kampung halaman ku saja? sudah lama semenjak aku bekerja dengan mu belum pernah pulang ke kampung halamanku. Kita bisa menginap beberapa hari di sana.''
''Aku mau Oppa, mari kita pergi ke sana, aku juga ingin berkenalan dengan kedua orang mu.'' Sisil tampak tersenyum senang.
''Tapi perjalanan nya lumayan jauh, memakan waktu kira kira 5 jam.''
__ADS_1
''Tak apa apa Oppa, perjalan ku akan selalu menyenangkan jika bersama Oppa.'' Sisil tersenyum senang.
''Ya sudah kita ke sana, tapi kamu harus berjanji sesampainya di sana kamu akan menceritakan semua masalah yang sedang kamu hadapi.''
Sisil mengangguk lalu tersenyum.
Meski di hatinya masih ada keraguan yang mendalam, apakah dirinya akan benar benar memberitahu Alex prihal masalahnya dengan ibunya, mengingat permasalahan sebenarnya adalah tentang hubungan mereka berdua.
Perjalanan panjang pun di mulai, Alex menyalakan mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.
Di dalam perjalanan, Sisil tampak tertidur, badannya sungguh terasa sangat lelah karena dirinya telah terjaga semalaman.
Alex sesekali melihat wajah Sisil, hatinya sungguh serasa bagai teriris pisau, mengingat kekasihnya telah mengalami kejadian yang sangat menyakitkan.
Alex merasa dirinya tidak berguna, karena tidak berada di sisi kekasih tercintanya saat dia sedang dalam keadaan tersakiti, oleh entah siapa yang dia sendiri belum mengetahui nya dengan pasti.
Setelah menempuh perjalanan panjang selama hampir lima jam, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah kota kecil di pinggiran kota.
Kabupaten Kuningan Jawa barat adalah tempat kelahiran Alex, kota kecil dengan pesona keindahan area pesawahan yang membentang saat pertama memasuki area perbatasan kota.
Dengan Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa barat menjulang tinggi seolah menjadi benteng bagi penduduk yang tinggal di kota tersebut.
Alex sedikit membuka kaca mobil nya, memandang ke arah luar sambil terus menjalankan mobilnya.
Senyumnya semakin mengembang saat mobilnya mulai memasuki Gapura besar dengan dua patung kuda putih bertengger di sampingnya, itu artinya dirinya sudah semakin dekat dengan Rumah kedua orang tuanya.
Alex tampak menggoyangkan tubuh Sisil yang masih terlelap, andai saja ini di rumah majikan nya dirinya pasti sudah menggendong dan membawanya ke dalam kamar.
Mobil Alex sudah terparkir depan rumah, dengan halaman luas, satu pohon mangga besar dengan buah nya yang terlihat lebat memenuhi pohon tersebut, membuat suasana halaman terlihat asri dan segar.
''Sisil... bangun kita sudah sampai.''
Alex menggoyangkan badan kekasihnya.
Sisil membuka mata lalu menguap, dirinya membentangkan kedua tangan nya untuk melenturkan otot otot nya yang terasa kaku, karena terus tertidur dalam keadaan duduk selama kurang lebih Lima jam lamanya.
Sisil melihat ke luar jendela mobil nya, menatap ke sekeliling, melihat rumah besar dengan cat berwarna putih.
''Kita sudah sampai?''
Alex mengangguk.
Lalu mereka berdua keluar dari dalam mobil, berjalan menuju teras rumah lalu mengetuk pintu.
''Assalamualaikum.'' Alex mengucapkan salam sambil terus mengetuk pintu.
__ADS_1
Lalu Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintu, wajahnya terlihat senang saat melihat putra kesayangannya telah berdiri di depan pintu.
Wanita paruh baya tersebut adalah ibunda Alex, dirinya memakai gamis berwarna biru serta kerudung berwarna senada dengan gamis yang ia kenakan.
''Ya ampun nak Kamu kapan datang?''
Alex menyalami ibu lalu memeluknya. Dirinya sungguh sangat merindukan ibu yang sudah lebih dari 6 bulan tidak dia temui.
''Dia siapa nak?'' tanya ibu memandang kearah Sisil.
Sisil yang sedari tadi berdiri di belakang Alex menyaksikan pertemuan kekasihnya dengan sang ibu, dirinya merasa terharu, andai saja mendiang ibunya masih ada, mungkin dirinya tidak akan menderita seperti ini.
''Kenalin Bu ini Sisil, pacar aku,'' ucap Alex dengan sedikit malu-malu.
Lalu sisil menghampiri ibunda Alex dan menyalaminya, tak lupa dirinya pun memperkenalkan diri dengan menyebutkan namanya.
Ibu tampak tersenyum senang mendapati anaknya ternyata sudah memiliki kekasih.
''Silakan masuk nak.'' ibu mempersilahkan sisil serta putra nya untuk masuk ke dalam rumah.
Sisil dan Alex memasuki rumah, suasana rumah terlihat rapih meski tidak terlalu banyak perabotan ataupun barang mewah lainya.
Sisil duduk di kursi ruang tamu, sementara ibu masuk kedalam dapur untuk membuatkan teh hangat.
Alex duduk kursi sebelah Sisil.
''Kamu pasti cape?'' ucap Alex.
Sisil mengangguk.
''Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku akan menyiapkan kamar agar kamu bisa beristirahat.'' Alex berdiri dan melangkah ke dalam kamar yang terletak tak jauh dari ruang tamu.
Tak lama kemudian ibu datang dengan membawakan segelas teh hangat.
''Di minum nak Sisil, maaf ibu hanya bisa menyediakan teh hangat, kamu pasti capek setelah perjalanan jauh.''
Ucap ibu dengan ramah dan sedikit tersenyum.
Wajahnya sudah sedikit keriput, namun raut wajahnya terlihat teduh, dengan kerudung yang membungkus kepalanya, menggambarkan sosok seorang ibu yang sangat menyayangi anak anaknya.
Sisil meraih cangkir dan menyeruput teh hangat, entah mengapa rasanya sangat manis di mulutnya, membuatnya terus meminumnya sampai gelas itu terlihat kosong.
Ibu sengaja menyediakan minuman yang tidak terlalu panas, agar pacar dari putranya tersebut bisa langsung meminumnya tanpa menunggu lama.
*****
__ADS_1