
''Siapa yang berada di sana? usir mereka dari sini.''
Sisil berteriak dan menunjuk tangan nya ke dalam kamar yang berada tepat di hadapan matanya.
Alex pun segera membuka lebar pintu kamar, dan tidak mendapati siapapun berada di sana.
Hal itu pun membuat nya kaget, dia berjongkok memeluk tubuh Sisil yang gemetar sembari menutup kedua telinganya.
Bibir Sisil masih bergetar, sekujur tubuhnya tampak terasa menggigil.
''Sisil kamu kenapa?'' Alex mendekap erat tubuh kekasihnya.
''Aku melihat mereka di sana, suruh mereka keluar, aku jijik melihat mereka.'' Jawabnya dengan mulut bergetar.
Alex meraih wajah Sisil, mendekatkan nya tepat di hadapan wajahnya.
''Sayang, tenang... di sana tidak ada siapapun.'' Jawab Alex pelan.
Sisil memalingkan wajah nya ke dalam kamar yang kini sudah dalam keadaan terbuka, tangis nya pun pecah, kali ini dengan lebih tersedu, hingga suara tangisnya terdengar sangat pilu di telinga Alex.
Alex mendekap nya kembali, dengan sangat erat, membiarkan sang kekasih meluapkan kesedihan di dalam dekapan nya.
Kemudian Alex memapah Sisil ke dalam kamarnya, meski napasnya masih sedikit terisak,tapi sekarang dirinya sudah merasa tenang karena ada Alex yang kini menemani nya.
Sisil berbaring di atas ranjang, sementara Alex duduk di samping nya dengan menggenggam erat jemari Sisil yang masih sedikit gemetar.
''Sayang kamu sebenarnya kenapa? mengapa kamu seperti ini?'' Ucap Alex dengan mengelus kepala Sisil.
Sisil tidak menjawab, dia membalikan badan nya memunggungi Alex, dirinya masih mencoba menata perasaan yang kini telah berangsur tenang.
Dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, mengapa dia bersikap seperti itu tadi? dan mengapa dia melihat dua orang sedang berada di kamar lamanya? melakukan hal yang sama persis yang pernah dia lihat di masa lalu.
Semua pertanyaan itu menari nari di dalam otak nya, apakah mungkin semuanya itu hanya khayalan nya saja? pikirnya lagi.
Alex menutupi badan Sisil dengan selimut tebal yang melipat di ujung ranjang.
''Kamu istirahat ya, tenangkan fikiran kamu, kalau kamu sudah siap, kamu bisa cerita semuanya sama aku, tentang apa yang membuatmu bersikap seperti ini.''
Sisil mengangguk dengan masih dalam keadaan memunggungi kekasihnya.
Alex berjalan keluar dari kamar Sisil, sebenarnya dia merasa heran dengan apa yang baru saja di lihat.
Bukan kah selama ini keadaan emosi Sisil sudah stabil? bahkan Sisil sudah mengurangi kebiasaan buruk nya yang selalu mencari ketenangan dengan cara menghisap sebatang rokok.
__ADS_1
Alex menutup kamar kekasihnya dengan sangat pelan, berjalan meraih kembali koper yang tadi di bawanya.
***
Alex mendapatkan tugas dari Tuan Lionel, untuk membersihkan kamar yang dulu sempat di tempati oleh Sisil, sudah lebih dari 6 tahun kamar itu di biarkan kosong tanpa penghuni, bahkan Sisil melarang siapa pun membuka atau memasuki kamar itu.
Rupanya Tuan Lionel berencana untuk memberikan kamar itu untuk anak tiri nya yang bernama Daniel, selain kamarnya yang memang memiliki ukuran yang luas, kamar itu juga sudah terlalu lama di biarkan kosong.
Alex membuka gorden berwarna coklat yang menutupi jendela, agar sinar matahari bisa dengan leluasa menyinari tempat itu.
Seisi kamar masih di penuhi barang barang milik Sisil sewaktu dirinya masih remaja.
Alex melihat bingkai Poto yang terpajang di meja belajar, lalu dia meniup debu yang menutupi seluruh permukaan bingkai Poto tersebut.
Setelah seluruh debu tersapu bersih, nampak potret Sisil yang sedang bersanding dengan ibu nya. Dalam potret tersebut Sisil terlihat tersenyum bahagia, tak ada sedikitpun raut kekhawatiran atau kesedihan dari wajah nya, jauh berbeda dengan Sisil yang sekarang dia kenal.
Lalu Alex membuka bingkai Poto tersebut, mengambil potret yang baru saja dia lihat dan memasukan nya ke dalam saku celana yang di pakainya.
Tak lama kemudian Bi Surti serta mang Yadi, masuk ke dalam kamar untuk membantu dirinya membersihkan kamar.
Setelah memakan waktu hampir 3 jam,mereka bertiga akhirnya selesai membersihkan kamar tersebut, seluruh barang milik Sisil sudah di kemas rapih di dalam kardus yang sudah dari awal mereka sediakan.
Alex merentangkan tangan kokoh nya, mencoba melenturkan otot otot di tangan nya yang terasa begitu pegal.
''Sudah selesai semua?'' Tanya Angel dengan melangkahkan kaki nya untuk melihat seisi kamar.
''Sudah Nyonya...''
''Terima kasih ya, selain kamu tampan ternyata kamu juga sangat bisa di andalkan, tak heran suami saya mempercayakan Putrinya untuk di jaga sama kamu.''
Alex hanya tersenyum.
''Kalau begitu saya permisi Nyonya.''
Alex hendak melangkah.
''Tunggu,'' Angel menghentikan Alex.
''Tadi saya mendengar sedikit keributan, ada kejadian apa? seperti nya saya mendengar seseorang menangis.''
Alex sedikit bingung mendengar pertanyaan Angel, rasanya tidak mungkin untuk dia mengatakan hal yang sesungguhnya.
''Anu Nyonya,tidak ada kejadian apa apa, mungkin itu hanya suara Televisi yang berasal dari kamar Non Sisil, sepertinya dia lupa untuk mengecilkan volume suaranya.''
__ADS_1
Alex sedikit tergagap dalam menjelaskan, dia tau persis kalau dirinya tidak pandai dalam berbohong, tapi untungnya nya Angel tidak terlalu peduli dan hanya mengangguk mendengar penjelasan Alex.
''Saya permisi Nyonya.''
Kemudian Alex meninggalkan ruangan tersebut.
***
Sisil masih berbaring di atas pembaringan nya, dia melirik jam dinding yang terpajang di dinding kamarnya, sudah pukul 2 siang.
Sudah sekitar 4 jam dia terus berbaring, entah mengapa badan nya terasa sangat lemas.
Hingga akhirnya seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dengan sangat lembut.
Rupanya Daniel adik tiri nya berkunjung ke kamar nya, dia belum melihat Kaka tirinya tersebut semenjak dia menginjakan kakinya di rumah itu.
Daniel menghampiri Sisil yang masih dalam keadaan berbaring dengan selimut yang menutupi separuh tubuhnya.
''Kak Sisil sakit?'' Tanya Daniel yang sudah berdiri di samping ranjang Sisil.
''Ada apa kamu kemari.?''
Tanya Sisil sembari duduk bersandar bantal di belakang punggung nya.
''Saya hanya ingin menyapa Kaka, saya belum melihat Kaka dari pagi.''
''Saya sedikit tidak enak badan, maaf karena belum sempat menyapa mu dan Tante Angel.''
''Saya harap kita bisa akur, saya sungguh senang akhirnya bisa mempunyai keluarga utuh, di tambah seorang Kaka yang cantik dan baik seperti kak Sisil.''
''Dari mana kamu bisa tahu kalau saya baik?''
Sisil mengerutkan kening nya.
''Meskipun kita baru bertemu satu kali, tapi saya yakin Kaka adalah orang yang baik, dan saya berharap kita bisa akur selayak nya saudara kandung.''
Sisil tercengang mendengar ucapan adik tiri nya, umur nya baru beranjak 11 tahun, tapi sudah mempunyai pemikiran yang sangat dewasa.
Berbanding terbalik dengan diri nya, yang masih merasa ke anak Kanakan di umur nya yang sudah menginjak 21 tahun.
__ADS_1
*****