Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Wahai ibu tiri


__ADS_3

Sisil tercengang mendengar ucapan adik tirinya, umur baru beranjak 11 tahun, tapi dirinya sudah memiliki pemikiran yang dewasa.


Sungguh berbanding terbalik dengan dirinya yang masih merasa ke anak Kanakan,di usianya yang sudah mencapai 21 tahun.


''Terima kasih ya, kamu sudah menyempatkan berkunjung ke kamar Kaka.''


Sisil mulai menyebut dirinya dengan sebutan kaka, yang semula hanya memanggil saya saat berbicara dengan Daniel.


Hal tersebut membuat Daniel senang, dia akan berusaha lebih keras untuk bisa lebih mengakrabkan diri dengan Kaka tirinya.


''Kaka cepat sembuh ya, nanti kalau sudah sembuh bisa ajarin aku belajar.''


Sisil hanya mengangguk.


''Kamar aku ada di ujung lorong, kalau Kaka ada waktu boleh ko main ke kamar aku.'' Daniel tersenyum.


''Hah... kamar ujung lorong?, bukan nya itu kamar lama aku"


Batin Sisil berucap.


Daniel akhirnya pamit, dia keluar dari kamar Sisil dengan tersenyum senang.


Daniel memang anak yang pintar, dia sudah di paksa dewasa oleh keadaan Karena kedua orang tuanya telah berpisah sedari dirinya berumur 2 tahun. Tak heran jika gaya bicara nya sudah seperti orang dewasa.


Dia juga selalu mendapat juara di kelas nya, meski pun dia tumbuh tanpa kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua nya, tapi itu sama sekali tidak menjadi penghalangan baginya untuk tidak terus belajar, dan menjadi anak yang baik.


Sisil masih tertegun, dia tidak menyangka kalau kamar lamanya akan di tempati oleh adik tirinya, mengapa ayah nya tidak meminta izin padanya terlebih dahulu? lalu dimana semua barang yang dahulu dia tinggalkan di tempat itu?


Hatinya berkecamuk, perasaan yang semula sudah tenang kini kembali gundah.


Sisil turun dari pembaringan,kaki nya melangkah keluar dari dalam kamar, dirinya berjalan menuju kamar lama yang kini telah di tempati oleh adik tirinya.


Dengan perasaan sedikit takut akhirnya dia sampai di kamar itu, memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar yang di dalam sudah ada Daniel yang sedang beristirahat.


Tok tok tok


Sisil mengetuk pintu.


Tak lama kemudian Daniel keluar dari balik pintu.


Bibir nya tampak tersenyum senang mendapati Kaka tiri nya berdiri di luar kamar nya.


''Kak Sisil,'' ucap Daniel masih dengan tersenyum.


''Mari masuk kak.''


Sisil masih ragu untuk memasuki kamar itu, dia takut kalau rasa traumanya tiba tiba muncul saat dia sedang berada di dalam sana.


Dia hanya sedikit menengok dari balik pintu yang terbuka, sudah lama sekali dia tidak pernah menginjakan kaki di kamar lama nya tersebut.


Mata nya sedikit berkeliling melihat area kamar dengan posisi masih berdiri di luar pintu, suasana kamar sudah terlihat jauh berbeda dari keadaan semula sewaktu masih menjadi kamar pribadi nya.

__ADS_1


Akhirnya nya dia memberanikan diri untuk memasuki kamar itu, Mata Sisil terus berkeliling melihat seisi kamar.


Dari mulai posisi ranjang, lemari, meja belajar bahkan gorden pun sudah terlihat dalam keadaan sangat berbeda.


Kamar itu sudah di dekor ulang dengan nuansa anak laki laki.


Sisil tersenyum tipis, dia merasa lega karena akhirnya dirinya bisa benar benar berdamai dengan masa lalu, seharusnya sudah sedari dulu kamar itu di dekor ulang, mungkin kalau jika hal itu di lakukan dirinya tidak akan terus di bayang bayangi oleh kejadian masa lalu yang membuat nya trauma.


Akan tetapi masih ada satu hal yang menjadi tanda tanya di dalam hatinya. Dimana barang miliknya yang semula ada di kamar itu?


Dia teringat dengan bingkai Poto yang semula ada di meja belajar nya.


''Kamu istirahat ya, Kaka harap kamu bisa betah di kamar ini, kamar ini mula nya adalah milik Kaka.'' Ucap Sisil tersenyum kepada Daniel.


''Baik kak, saya pasti akan merawat kamar ini dengan baik.''


''Kaka permisi dulu ya.''


Sisil pamit, kembali melangkah keluar dari kamar itu.


Sisil menutup pintu kamar, saat hendak berjalan, dirinya melihat sang ibu tiri sedang berjalan ke arah nya.


''Aduh ini anak perawan, jam segini baru keluar kamar, memang nya kamu tidak tahu kalau hari ini saya sudah mulai pindah ke rumah ini?'' Tanya Angel dengan sedikit sinis.


''Saya sedang kurang enak badan Tante, itu sebabnya saya terus berbaring di dalam kamar.''


Angel menempelkan punggung tangan nya di kening Sisil.


Sisil hanya tersenyum tipis melihat tatapan tajam ibu tirinya.


''Saya permisi Tante.'' Sisil hendak melangkah.


''Tunggu,'' Angel menahan.


Sisil pun menghentikan langkah nya dan kembali membalikan badan nya.


''Ada apa lagi Tante?''


''Saya harap mulai sekarang kamu bisa manggil saya dengan sebutan ibu, karena saya sudah resmi menjadi istri dari ayah mu.''


''Saya akan memanggil Tante ibu kalau saya sudah merasa siap memanggil Tante dengan sebutan ibu.''


''Jadi sebenarnya kamu belum siap untuk menerima saya sebagai ibu tiri kamu.?''


''Bukan seperti itu maksud saya tante."


Sisil terdiam sejenak, dia sungguh heran dengan sikap yang di perlihatkan oleh ibu tirinya, pandangan nya terlihat sinis, dan ucapan nya terasa tajam.


Sangat jauh berbeda dengan sikap yang di perlihatkan nya sewaktu masih belum menjadi istri sah dari ayah nya.


Apakah benar kalau yang nama nya ibu tiri itu hanya cinta kepada ayah nya saja, seperti yang terdapat pada lirik lagu jaman dahulu, batin nya berbisik.

__ADS_1


''Saya permisi Tante,'' Sisil pamit dengan sedikit membungkukkan badan nya.


Sementara Angel hanya mengangguk dengan tatapan sinis. Harus di apakan anak tiri yang hanya terpaut umur yang tidak terlalu jauh dari nya ini, batin Angel berbisik.


Seperti nya dia harus mencari cara agar Sisil bisa tunduk dan menurut pada dirinya,gumamnya lagi.


***


Sisil berjalan menuju kamar Alex, dia ingin menanyakan prihal barang miliknya yang semula berada di kamarnya.


''Opaa...''


Sisil memanggil Alex sembari mengetuk pintu kamar.


''Ada apa sayang.''


Alex membuka pintu.


''Oppa tahu tidak barang barang aku yang berasal dari kamar lamaku di ke mana kan?''


''Aku simpan di gudang.''


''Antar aku ke sana, ada satu barang yang ingin aku ambil.''


Alex mengangguk dan berjalan beriringan.


''Bagaimana keadaan kamu?''


Masih dalam keadaan berjalan.


''Aku sudah baik baik saja Oppa.''


''Syukurlah, aku senang mendengar nya. Apakah kamu tahu, aku sangat cemas melihat kamu seperti itu tadi pagi.''


Mereka berdua berhenti melangkah,dan berdiri berhadapan.


''Maafkan aku Oppa, sudah membuatmu khawatir.''


Lalu Alex meraih tangan Sisil dan di genggam nya.


''Mulai saat ini jangan pernah memendam kesedihan sendiri, ingat... ada aku yang akan selalu siap untuk menjadi tumpuan kesedihan mu.''


Alex kemudian mengecup kening Sisil.


Tanpa di sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi telah memperhatikan mereka berdua, dengan wajah terkejut dan senyum sinis.


Tatapan itu berasal dari mata Angel yang berdiri di balik tembok.


''Akhirnya aku menemukan kartu merah kamu wahai anak tiriku."


*****

__ADS_1


__ADS_2