Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Tersenyum bersama mu


__ADS_3

''Pak,sepeda nya bisa di sewakan tidak?'' Tanya Sisil kepada pelayan toko.


''Bisa mbak, satu jam nya 25.000''


''Oppa, kita jalan jalan naik sepeda ya.''


''Memangnya kamu bisa naik sepeda?''


''Sembarangan...'' Jawab Sisil ketus, ''nyetir mobil saja aku jago,apa lagi cuma sepeda seperti itu, kecil tau.''


''Pak,saya mau dong sewa sepeda nya, dua buah ya...'' Ucap Sisil kepada pelayan.


''Baik mbak.''


Kemudian menyiapkan sepeda yang akan di pakai oleh Sisil dan Alex.


Sisil menaiki sepeda bersama Alex, mereka berkeliling kebun teh, melintasi jalan setapak. Sisil terlihat tidak berhenti tersenyum, terlihat raut bahagia dari wajah cantiknya.


Mereka saling kejar kejaran menggunakan sepeda, bercanda dan tertawa bersama layak nya sepasang kekasih.


Tidak di sangka hujan pun turun, mereka berdua terpaksa berteduh di bawah pohon besar yang berada tidak jauh dari tempat mereka mengayuh sepeda.


Sisil sedikit mengibaskan baju nya yang terkena air hujan, begitupun dengan Alex.


Mereka duduk di bawah pohon besar, Sisil mengulurkan tangan nya,meraih satu persatu air hujan yang turun ke atas tangan nya. Dia bergidik kedinginan dan kemudian mengibaskan tangan nya kembali.


Lalu Sisil mengeluarkan sebungkus Rokok dari dalam tas nya.


Saat ia hendak menyalakan sebatang rokok, Alex meraih tangan Sisil dan membuang rokok dari tangan Sisil.


''Jangan ngerokok ya, please... tidak baik untuk kesehatan kamu.''


Sisil yang biasa nya selalu membantah apa yang di katakan Alex, entah mengapa kali ini dia menurut dan memasukan kembali sebungkus rokok ke dalam tas nya.


''Sejak kapan kamu merokok?'' Tanya Alex.


''Tidak tau, lupa lagi, mungkin sejak aku membutuhkan teman untuk di ajak bicara, tapi aku tidak punya teman,'' jawabnya santai, '' dan semenjak aku merasa kesepian tinggal di rumah besar Papih, dan tidak ada seorang pun yang bisa aku ajak bicara.'' Tambah nya lagi.


Alex memegang tangan Sisil.


''Mulai sekarang ada aku dekat kamu, kamu bisa cerita apa pun sama aku, ada aku juga tinggal di rumah besar ayah kamu, aku bisa kamu ajak bicara kapan pun kamu mau.'' Ucap Alex.


''Kapan pun?'' Tanya Sisil.


''Ya... Kapan pun,''


jawab Alex Menatap wajah cantik Sisil,

__ADS_1


''jadi aku mohon, mulai sekarang kurangi kebiasaan merokok kamu ya.''


Sisil tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Lalu tiba tiba.


Hatciiih...


Sisil bersin, hidung nya tiba tiba merasa berat.


''Kamu kedinginan ya?'' Tanya Alex.


Lalu dia membuka jaket jeans yang dia kenakan, memakaikan nya di bahu Sisil.


''Sebentar lagi hujan nya berhenti ko, kamu sabar dulu ya, nanti kita pulang.'' Ucap Alex.


Dia meraih kedua tangan Sisil dan di genggam erat oleh nya, sambil sesekali meniup kepalan tangan Sisil agar selalu terasa hangat.


Tidak lama kemudian hujan pun berhenti, Alex memapah Sisil menuju mobil yang berada di resto.


Akhirnya mereka pulang ke Jakarta, menempuh perjalanan selama 2 jam lamanya.


Sesampainya di rumah, Alex menggendong Sisil menuju kamar nya, karena ternyata dia sudah tertidur pulas di dalam mobil. Alex membaringkan tubuh Sisil di tempat tidur, lalu ia menyelimuti tubuh Sisil dengan selimut tebal.


Saat dia hendak meninggalkan Sisil, tangan nya meraba kening Sisil.


''Apa kamu masuk angin gara gara kehujanan tadi?''


Tanya Alex lagi pada Sisil yang sudah mulai membuka sedikit mata nya.


''Sebentar ya, aku ambil air hangat untuk mengompres badan kamu.''


Ucap Alex dengan nada panik, yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Sisil.


10 menit kemudian Alex datang dengan seember air hangat.


''Sisil kamu harus ganti pakaian, tadi pakaian kamu kehujanan.''


''Badan aku lemes banget Lex, bisa minta tolong bantu gantiin tidak?''


Jawab Sisil dengan nada lemas dan mata setengah terpejam.


''Aduh gimana ya...?'' Jawab Alex dengan nada yang sedikit ragu.


Dia mondar mandir di depan tempat tidur Sisil, berfikir sejenak,apakah dia akan membantu mengganti pakaian Sisil atau tidak? hingga akhirnya Sisil ter batuk dan bersin, membuat Alex berhenti berfikir dan akhirnya membantu Sisil mengganti pakaian nya.


Dia mengambil pakaian tidur dari dalam lemari Sisil, dia sengaja mengambil pakaian yang gampang untuk di kenakan, yaitu baju tidur yang hanya dengan satu tali kecil.

__ADS_1


Akhir nya Alex berhasil mengganti pakaian Sisil, meski dengan tangan gemetar dan jantungnya yang berdebar karena harus bersentuhan langsung dengan tubuh indah Sisil.


Alex mengompres kening Sisil,badan nya masih terasa panas, dengan telaten dia menjaga dan terus mengontrol suhu tubuh Sisil dengan Termometer.


Sesekali Sisil berbicara dalam tidur nya, dia memanggil ''Mommy...'' Berulang kali. Ternyata orang yang paling dia benci adalah orang yang paling dia rindukan, dalam hati kecil nya dia sangat merindukan Ibunya, tapi dia terlanjur teramat kecewa kepada Ibunya hingga membuat nya membenci Ibu nya secara berlebihan.


Sisil menggenggam erat tangan Alex, mulutnya terus memanggil ibu nya. Alex pun tidak melepaskan tangan sisil sedikit pun,dia terus menggenggam erat tangannya, sembari tidak berhenti mengompres kening Sisil dengan kain hangat.


Tengah malam keadaan Sisil sudah sedikit membaik, akhirnya dia bisa membuka mata nya. Saat akan terbangun dia baru sadar, kalau tangan nya masih menggenggam erat tangan Alex, yang saat ini sudah tertidur dengan menyandarkan kepala nya di samping tempat tidur Sisil.


''Alex bangun...'' Sisil menggoyangkan badan Alex.


''Kamu sudah bangun?'' Tanya Alex yang langsung mengecek suhu tubuh Sisil, ''kamu sudah baikan kan? ada yang sakit tidak?'' Tanya nya lagi sembari terus memegang kening Sisil.


''Aku sudah tidak apa apa ko, terima kasih ya kamu sudah jagain aku semalaman.''


''Aku lega kamu sudah baikan.''


''Kamu bisa istirahat di kamar kamu sekarang, aku sudah tidak apa apa.''


''Beneran...?'' Tanya Alex, yang kemudian di jawab dengan anggukan kepala Sisil.


''Ya sudah aku ke kamar aku dulu ya.''


''Alex...'' Sisil memanggil Alex yang sudah berada di depan pintu,


''sekali lagi terima kasih ya.''


Ucapnya dengan senyum mengembang di bibir merah nya.


Alex tersenyum dan pergi meninggalkan Sisil sendiri di kamar nya.


Sisil kembali tertidur dengan selimut tebal menutupi seluruh badan nya, wajah nya berseri seri, entah mengapa ada perasaan aneh yang menyusup kedalam hati kecil nya.


Dia memegang dadanya yang terasa berdebar kencang.


Sisil membelalakan matanya saat dia meraba dada nya, yang ternyata sudah tidak memakai Br**.


'Ya Ampun... kenapa aku tidak memakai Br**?'


Mulut nya bergumam sendiri, dia melihat ke dalam selimut, ternyata dia sudah tidak memakai baju yang sama dengan yang dia kenakan tadi siang.


'Alex ngegantiin baju aku?'


Ucap nya dengan menutup mulutnya dengan kedua tangan nya.


***

__ADS_1


Jangan lupa tekan like,vote sama kasih hadiah ya. Terima kasih.


__ADS_2