Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Perjodohan


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Sisil sedang berbaring di atas pembaringan, entah mengapa badan nya terasa sangat lelah, akhir akhir ini dirinya sedang di sibukkan dengan pembuatan skripsi untuk penilaian akhir semester kuliahnya.


Sisil meraih handphone yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berbaring.


Dia melihat ada satu pesan masuk yang belum sempat dia baca.


Ternyata pesan tersebut dari mantan sahabatnya Alvin.


Sisil meletakan kembali handphone nya, dia sangat enggan untuk membaca pesan tersebut karena merasa itu sama sekali tidak penting untuk nya.


Sisil melirik jam dinding, dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 19.00.


Dia pun bangkit dari pembaringannya, lalu melangkah menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri.


Setelah selesai mandi dia pun keluar dari kamar mandi, dan melihat ayahnya sedang duduk di atas tempat tidurnya yang sudah sedari tadi menunggu dirinya.


''Papi ada apa? kok tumben ada di kamar aku?''


Sisil berjalan menghampiri sang ayah.


''Sini sayang duduk di sebelah papih.''


Sisil pun duduk di sebelah sang ayah, tangan nya terlihat menggenggam sebuah handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut panjang nya yang masih basah.


''Sayang... orang tua Alvin temanmu kemarin menelepon papih, katanya mereka ingin menjodohkan dirimu dengan Alvin,'' ucap ayah.


Sisil pun terkejut.


''Maksud Papih apa? aku masih belum ingin menikah, lagi pula kuliahku belum selesai.''


''Mereka ingin menjodohkanmu dengan anaknya, tapi bukan berarti pernikahannya akan diselenggarakan dalam waktu dekat.''


''Aku nggak mau Pih.''


''Apa kamu sudah punya kekasih? kalau memang ada, mari sini kenalin sama papi, agar Papih bisa menolak secara halus permintaan mereka, dengan alasan bahwa kamu sudah memiliki calon suami.''


Sisil hanya terdiam tanpa menjawab.


''Mereka dari keluarga terpandang, dan Alvin juga anaknya sangat baik, jadi papih tidak keberatan jika kamu menerima perjodohan ini,'' ucap sang ayah dengan mengelus punggung putrinya.


Sisil masih terdiam tanpa satu kata pun.

__ADS_1


Dia tidak ingin menerima perjodohan ini, tapi dirinya juga belum siap untuk memberitahu sang ayah bahwa kekasihnya yang sesungguhnya adalah supir pribadinya sendiri.


''Kamu pikirkan baik-baik ya, Papih tunggu jawaban kamu secepatnya.''


Lalu Ayah pun pergi meninggalkan kamar Sisil, sementara sisil masih duduk termenung di atas tempat tidurnya, memikirkan apa yang akan dia lakukan agar bisa menolak perjodohan ini.


Sisil meraih handphone yang berada di atas tempat tidur, dirinya melihat pesan yang tadi belum sempat dia baca dari Alvin.


''*A*ku akan memenuhi janjiku, untuk membawa orang tua ku ke rumahmu, dengan tujuan melamar dirimu"


Begitulah isi pesan dari Alvin.


Sisil teringat ucapan Alvin tiga bulan yang lalu,


'Jadi ini maksud dari ucapannya tiga bulan yang lalu'


Batin sisil berucap.


Sisil meletakkan kembali handphonenya di atas tempat tidur.


Lalu dirinya melangkah keluar dari dalam kamar, dirinya berencana hendak menemui Alex di kamarnya, namun saat Sisil sedang berjalan menuruni tangga, dirinya tidak menyangka ternyata Alvin sudah duduk di ruang tamu, menunggu dirinya dan sedang berbincang bersama ayah serta ibu tirinya.


Ingin rasanya dia lari dari tempat itu, karena dia sama sekali tidak ingin menemui Alvin, tapi apalah daya, tatapan sang ayah membuatnya luluh, akhirnya dengan rasa enggan Sisil pun menghampiri mereka dan duduk di kursi sebelah Alvin.


''Kita ngobrol di luar yuk,'' ucap Sisil.


Alvin mengangguk dan mengikuti Sisil dari belakang menuju teras rumah.


''Maksud kamu apa vin melakukan ini sama aku? kamu tahu sendiri aku sudah memiliki kekasih,'' ucap Sisil dengan nada sedikit terlihat marah.


''Apa Papi kamu masih belum tahu kamu berpacaran dengan sopir mu.''


Sisil terdiam, seolah memberi isyarat jika dirinya masih belum memberitahukan sang ayah perihal hubungannya dengan Alex.


''Aku yakin kedua orang tuamu masih belum tahu kan? apa kamu mau aku memberitahukan mereka tentang semua itu sekarang,'' ucap Alvin dengan tatapan sedikit sinis.


''Jangan vin aku mohon, aku masih belum siap,'' jawab Sisil.


''Sampai kapan pun hubungan mu dengan dia tidak akan pernah berhasil, karena aku yakin kedua orang tuamu pasti tidak akan menyetujui hubungan kalian.''


''Jadi aku minta padamu, segera akhiri hubunganmu dengan Alex dan menerima lamaranku, sebelum kamu semakin jauh mencintainya dan akan semakin sakit hati jika kalian benar benar berpisah nanti.''


Alvin berucap dengan sangat percaya diri.

__ADS_1


''Tidak vin, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengakhiri hubungan ku dengan dia, karena aku sangat mencintainya,'' Sisil pun menjawab dengan penuh percaya diri.


''Aku pun tidak akan pernah mundur untuk bisa mendapatkanmu,'' Alvin terlihat sedikit menahan amarah.


''Satu minggu lagi kedua orang tuaku akan datang kemari untuk membicarakan soal perjodohan kita kepada orang tuamu''


''Dan aku tidak peduli meskipun kamu memiliki kekasih, karena aku yakin jodoh terbaik untukmu adalah aku bukan dia.''


Lagi lagi Alvin berbicara dengan sangat percaya diri


''Aku harus bagaimana supaya kamu berhenti mengejar aku? bukankah selama ini hubungan kita baik-baik saja sebagai seorang sahabat?''


Sisil berucap dengan penuh kesedihan di matanya.


''Mungkin kamu hanya menganggapnya seperti itu, tapi sedikit pun aku tidak pernah menganggapmu sebagai sahabat semata''


''Karena sedari dulu aku sudah sangat menyukaimu tapi dirimu sama sekali tidak pernah peka terhadap perasaan ku.''


Alvin memandang lekat wajah wanita yang sangat di cintai nya, lalu meraih jemari Sisil dan menggenggamnya.


''Aku mohon padamu tolong terima aku sebagai calon suamimu.''


Akan tetapi Sisil melepaskan jemarinya dari genggaman tangan Alvin.


''Maaf vin aku tidak bisa,'' Sisil menatap lekat wajah Alvin.


''Jadi kamu sungguh memilih dia daripada aku, apa kamu tidak memikirkan masa depan mu nantinya?'' Alvin sedikit menaikkan suaranya.


''Aku tidak peduli dengan masa depanku,'' jawab Sisil


''Aku juga tidak akan pernah menyerah, mau tidak mau atau suka tidak suka kamu akan tetap harus memilih aku.''


Setelah mengatakan hal itu Alvin pergi berlalu meninggalkan Sisil tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya.


Sisil pun hanya duduk termenung di atas kursi kayu, memandang punggung Alvin yang berjalan menjauh dari dirinya menuju mobil, dan akhirnya mobil pun berjalan perlahan meninggalkan halaman rumahnya.


Sisil tidak tahu apa yang harus dilakukannya, dirinya ingin menolak perjodohan ini, tapi sang ayah meminta dirinya untuk membawa kekasihnya jika memang dia tidak mau dijodohkan dengan Alvin.


Sementara dia belum siap untuk memberitahukan ayahnya bahwa selama ini dia berpacaran dengan Alex.


Sisil sungguh di hadapkan pada dua pilihan yang sulit, dia belum siap jika sang ayah mengetahui prihal hubungan nya dengan sang kekasih, hati nya sungguh takut jika ayah nya akan menentang hubungan mereka berdua.


Rasanya Sisil sama sekali belum siap untuk kehilangan orang yang saat ini di cintai nya, dirinya tidak tahu lagi apa yang akan terjadi jika dia harus hidup tanpa sosok Alex, orang yang selama ini selalu menemani nya dan memberikan nya kekuatan di kala dirinya sedang benar benar terpuruk.

__ADS_1


*****


__ADS_2