Supir Pribadi Penjaga Hati

Supir Pribadi Penjaga Hati
Dilema hati Sisil


__ADS_3

Malam semakin larut, terdengar suara jangkrik saling bersautan di atas pohon rindang yang terdapat di halaman luas rumah besar milik Tuan Lionel.


Frisillia masih duduk termenung sepeninggal Alvin yang baru saja pergi dari rumahnya, mantan sahabatnya tersebut pergi begitu saja dengan meninggal kan sejuta rasa gundah di hatinya.


Dalam waktu satu Minggu orang tua Alvin akan datang ke rumah dirinya untuk membicarakan prihal perjodohan mereka.


Sisil tidak tahu harus berbuat apa, jika dirinya menerima perjodohan ini, lalu bagaimana nasib cintanya dengan Alex? sementara jika dia ingin menolak perjodohan maka dirinya harus segera mengenalkan kekasihnya kepada sang ayah.


Rasa nya kedua hal itu sangat tidak mungkin untuk di lakukan, kepada siapa dirinya harus mengadu atau sekedar mencurahkan rasa gundahnya tersebut.


Saat Sisil sedang larut dalam kegundahan nya, Daniel tiba tiba datang menghampiri nya dan duduk di berdampingan dengan dirinya.


''Kaka kenapa? sedang banyak fikiran ya?'' tanya Daniel.


''Ko ade tahu?''


''Dari wajah Kaka terlihat sangat jelas, jika Kaka sedang dalam keadaan bingung, Kaka sedang Dilema ya?''


Sisil di buat terperangah oleh ucapan adiknya.


''Kamu tahu dari mana kalau Kaka lagi bingung dan Dilema,'' Sisil mengerutkan kedua alisnya.


Lalu Daniel mengarah kan satu jarinya ke wajah sang Kaka.


''Ini... wajah cantik Kaka tidak bisa bohong,'' Daniel berucap dengan sangat polos.


''Iya dek, Kaka sedang bingung,'' Sisil menunduk.


''Kaka bingung kenapa? coba cerita sama aku, barangkali aku bisa bantu.''


''Ade tak akan mengerti, karena ini urusan orang dewasa.''


''Kalau aku lagi bingung menentukan dua pilihan, biasa nya aku tak akan memilih salah satu di antara keduanya, tapi aku akan memilih kaduanya atau mengambil keduanya,'' ucap Daniel.


''Ko begitu?'' Sisil mengerutkan keningnya.


''Kenapa harus memilih jika bisa memiliki keduanya, andai suatu saat nanti salah satu dari pilihan aku sudah tidak lagi aku ingin kan, baru aku akan membuang mereka.''


Daniel menjelaskan dengan tanpa beban sedikit pun, dan seolah dia tahu apa yang sedang di hadapi oleh kakaknya.


''Dasar kamu anak pintar,'' Sisil mengusap rambut adiknya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Angel datang menghampiri mereka, meminta Daniel untuk masuk ke dalam rumah,dan segera pergi tidur karena malam sudah semakin larut.


Daniel mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah. Kini tinggal Sisil yang masih duduk di atas kursi kayu dengan Angel berdiri di samping nya.


''Apa kamu sudah memikirkan matang matang tentang perjodohan mu dengan Alvin?'' Angel berucap dengan intonasi sedikit ketus.


''Bukan urusan Tante,'' Sisil menjawab dengan nada datar.


''Jika Tante boleh memberi saran, sebaiknya kamu menerima perjodohan ini, Tapi tentu saja kamu masih bisa berhubungan dengan sopir mu itu,'' ucap Angel.


Sisil terperangah mendengar ucapan ibu tirinya.


''Maksud tante apa?'' Sisil sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh ibu tirinya.


''Ya maksud tante kamu bisa menerima perjodohan ini, namun masih tetap bisa berhubungan dengan Alex.''


''Tante pikir saya perempuan apaan?''


Sisil terlihat sedikit menahan amarah.


''Ya sudah kalau begitu, kamu segera akhiri hubunganmu dengan Alex.''


Sisil hanya diam saja tanpa menjawab apapun.


Sisil berdiri lalu masuk ke dalam rumah, dia berjalan menuju kamarnya dengan mendahului Angel yang sudah berjalan di depan nya.


''Selamat berpusing-pusing ria ya anak tiriku sayang ha..ha..ha..'' Angel berucap dengan tertawa dan intonasi yang tinggi saat anak tirinya tersebut mendahului dirinya dengan wajah yang terlihat muram.


Angel merasa puas melihat anak tirinya dalam keadaan bingung, sudah lama sekali dirinya menahan diri untuk tidak mengganggu anak tirinya, hal itu karena Sisil mengancamnya akan melaporkan perbuatan dirinya kepada suami tercintanya.


Mulai saat ini dirinya tidak akan menggunakan kekerasan lagi untuk menjauhkan anak tirinya dari sang suami, dia akan bermain halus, Angel sudah membuat sebuah rencana bersama Alvin.


Angel akan mendesak suaminya untuk segera menikahkan Sisil dengan Alvin. Jika hal itu sudah terjadi maka Alvin bisa segera membawa Sisil bersamanya, maka perhatian dan kasih sayang suaminya hanya akan tertuju kepada dirinya serta putra tercinta nya.


Angel tersenyum memikirkan hal tersebut. Lalu dirinya membaringkan tubuhnya di atas kursi, memandang ke arah Televisi yang sedang menyala di depan nya.


***


Sementara itu Alex berbaring di atas pembaringan, dirinya sedang memandang potret Sisil yang sempat dia abadikan saat Sisil sedang mengenakan baju daster berwarna orange kepunyaan adik nya beberapa bulan yang lalu.


Wajahnya tampak tersenyum tipis, entah mengapa semakin hari rasa cintanya terhadap majikan tersebut semakin besar.

__ADS_1


Sudah hampir satu tahun dirinya menjalin hubungan dengan sang kekasih, rasanya sudah waktunya untuk dirinya memikirkan masa depan dari hubungannya tersebut.


Saat dirinya masih memandang lekat wajah sang kekasih, tiba tiba satu pesan masuk ke dalam handphonenya, dan tentu saja pesan itu dari kekasih tercintanya.


Sisil : ''Oppa salanghae''


Alex : "I love you to."


Hanya seperti isi pesan dari mereka berdua. Rasanya kata itu sudah cukup untuk menggambarkan perasaan mereka masing masing.


Alex meletakan handphone nya tak jauh dari tempat nya berbaring, dirinya memandang jauh langit langit kamar, pandangan matanya terlihat kosong, namun otak nya sedang memikirkan banyak hal.


Mulai saat ini dirinya akan mencoba memberanikan diri untuk meminta izin kepada majikannya, agar bisa menjadi calon pendamping untuk putrinya, meski sekarang pekerjaannya hanya sebagai seorang sopir tapi dirinya memiliki cinta yang tulus terhadap Sisil.


Setelah larut dalam lamunannya, akhirnya matanya mulai terpejam, dan tak lama kemudian dia pun terlelap.


***


Satu minggu kemudian.


Sisil memandang pantulan wajahnya di depan cermin, tubuhnya sesekali di putar kan untuk melihat apakah masih ada yang kurang dari penampilannya, lalu dia sedikit merapikan riasan tipis di wajahnya dengan lipstik berwarna merah mewarnai bibir mungilnya.


Sisil terlihat sangat cantik dengan gaun merah panjang membalut tubuhnya, tak lupa beberapa perhiasan pun ia kenakan, malam ini dirinya menjelma bak princess yang sedang menunggu pangeran pujaan hati.


Pada malam hari ini kedua orang tua Alvin akan datang ke rumahnya untuk membicarakan perihal perjodohan mereka.


Lalu kemudian.


Terdengar suara bel berbunyi di rumahnya, akhirnya tamu yang sedang di tunggu pun datang, dengan rasa percaya diri yang tinggi Sisil keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga.


Alvin tampak terkesima melihat kecantikan Sisil yang yang kini sedang berjalan menuruni tangga, dia tampak membelalakan mata dengan mulut yang sedikit menganga, baru kali ini dirinya melihat Sisil dengan gaun mewah serta hiasan tipis di wajahnya, membuat kecantikan Sisil terlihat paripurna seperti bidadari yang turun dari khayangan.


Sisil menghampiri kedua orangtua Alvin di ruang tamu yang di sana pun sudah terdapat kedua orang tuanya yang sedang menunggu kehadiran dirinya.


''Kamu cantik sekali Sisil,'' ucap Alvin.


Sisil hanya tersenyum tipis.


''Kedatangan kami ke sini untuk membicarakan perihal perjodohan anak kita, anak saya Alvin sangat mencintai Sisil, dan saya berharap saya bisa menjadikan Sisil sebagai menantu saya.''


Ayah dari Alvin memulai pembicaraan.

__ADS_1


*****


__ADS_2