
Sisil segera kembali ke rumah nya, setelah ia mengantarkan sang kekasih ke kantor tempatnya bekerja, ia pun berjalan menuju ke dalam rumah nya segera setelah memarkir mobilnya di dalam garasi.
Sisil tampak berjalan santai dengan senyum yang mengembang dari bibir mungilnya, sampai akhirnya dia menghentikan langkah kakinya karena Angel sang ibu tiri menghadangnya dan berdiri tepat dihadapannya.
''Ada apa?'' tanya Sisil dengan wajah sinis.
''Coba kamu tengok handphone mu, saya telah mengirimkan sesuatu yang pasti akan membuatku terkejut saat melihatnya,'' ujar Angel dengan tersenyum licik.
Kemudian Sisil meraih handphone nya dari dalam tas kecil berwarna hitam yang menggantung di lengan kananya.
Ia pun melihat ada sebuah pesan video yang di kirimkan oleh wanita yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Wajah Sisil yang semula terlihat sinis kini berubah muram, matanya tampak melotot dan tampak mengigit jari telunjuk nya, Sisil sungguh terkejut tatkala ia melihat sebuah video yang menunjukan diri nya sedang bercumbu mesra dengan sang kekasih.
''Apa maksud dari semua ini?'' tanya Sisil dengan perasaan geram.
''Tak usah bertanya, kamu pasti tahu maksud dari video yang saya kirimkan itu,'' wajah Angel terlihat tersenyum.
Lalu Angel berjalan pelan memutari tubuh Sisil yang terlihat sudah sedikit gemetar, sambil menunjuk satu jarinya tepat di kepala anak tirinya tersebut seraya menekannya dengan sedikit keras.
''Jika saya menyebarkan video ini ke internet, apa yang akan terjadi dengan perusahaan ayahmu? terutama dengan Alex kekasihmu itu, ayah mu pasti akan sangat marah padanya, citranya sebagai laki laki baik, akan luntur seketika jika ayahmu tahu kelakuan kalian berdua,'' sungut sang ibu tiri sambil terus menekan kepala Sisil dengan satu jarinya.
Sisil mengepalkan kedua tangannya, kali ini ancaman sang ibu tiri benar benar membuat dirinya tak berkutik.
''Apa yang Tante inginkan dari saya?''
''Mau saya...? apa ya...'' Angel menghentikan langkah kakinya, meraih dagu runcing anak tirinya tersebut dengan tangannya dan menengadahkan wajah Sisil ke atas.
''Saya ingin kamu segera menyingkir dari rumah ini,'' ujar Angel dengan melepaskan dagu anak tirinya dengan sangat kasar.
''Mengapa seperti itu? ini rumah saya, mengapa saya harus keluar dari rumah ini?'' Sisil menaikan suaranya.
Angel tersulut amarah lalu menarik rambut panjang sang anak tiri hingga kepalanya kembali menengadah ke atas.
Arghhh...
Sisil tampak meringis kesakitan, cengkraman tangan Angel sungguh membuat kepalanya terasa sangat sakit dan pandangannya sedikit ber kunang kunang.
__ADS_1
''Lepaskan kan tangan Tante dari rambut saya,'' Sisil berontak.
Berharap dengan berteriak bisa membuat sang ibu tiri segera melepaskan tangannya, namun harapan nya sirna karena cengkraman tangan itu hanya semakin kuat menarik rambut panjang nya.
''Berani kamu melawan saya?''
''Tidak Tante, saya minta maaf, tolong lepaskan tangan Tante, kepala saya sakit,'' pekik nya, bola mata bundarnya tampak sudah sedikit basah dengan lelehan air mata.
Sang ibu tiri akhirnya melepaskan cengkraman tangan nya dengan sangat kasar, membuat tubuh langsing Sisil jatuh tersungkur ke atas kursi yang berada tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
Kini lelehan air mata terlihat semakin deras membasahi seluruh pipi mulus gadis yang bernama lengkap Frisillia Agatha itu, dirinya tidak bisa berbuat apa apa, karena sang ibu tiri menyimpan rahasia besar dirinya bersama sang kekasih.
''Saya akan segera memikirkan cara agar kamu bisa segera angkat kaki dari rumah ini, saya benar benar sudah muak dan jengah melihat mu di rumah ini,'' ujar Angel dengan nada suara yang penuh penekanan.
Kemudian ia pun melangkah pergi meninggalkan sang anak tiri yang masih dalam keadaan tertelungkup di atas kursi.
Sisil mencoba bangkit untuk berdiri, tangan nya tampak merapikan rambut yang menutupi seluruh wajah cantik nya, ia pun terlihat mengusap kepala yang terasa sakit akibat cengkraman kuat dari tangan jahat sang ibu tiri.
Sebenarnya dirinya sudah sedikit merasa tenang karena selama beberapa bulan ini Angel sudah tidak pernah lagi mengganggu nya, namun entah mengapa sekarang ketenangannya tersebut benar benar terusik dengan ulah ibu tiri yang bahkan terasa lebih kejam dan menyakitkan dari sebelumnya.
Sementara itu Angel tampak kembali ke dalam kamarnya, ia tertawa dengan sangat keras dan merasa sangat puas karena telah membuat anak tirinya tidak dapat berkutik dengan apa yang baru saja ia lakukan.
***
Sisil berjalan menuju kamarnya dengan perasaan gundah, ia tampak terus memegang kepalanya yang masih terasa sakit dan sedikit pusing.
Sesampainya di dalam kamar iapun langsung berbaring di atas tempat tidurnya, mencoba berfikir dan mencari cara agar sang ibu tiri tidak lagi mengganggu atau mengancam dirinya.
Tapi bagaimana caranya? batin Sisil seolah berucap. Apakah ia harus menceritakan semua yang di alaminya kepada kekasihnya tercintanya?
Hmmm...
Sisil mendengus kesal. Ia pun mencoba memejamkan mata sambil terus berfikir menggunakan otak kecilnya.
***
Di kantor tempat Alex bekerja, Rani nampak terlihat cari cari perhatian kepada Alex, dia dengan sengaja memakai baju ketat sehingga memperlihatkan setiap lekuk tubuh indahnya dengan belahan dada yang sedikit terbuka agar bisa menarik perhatian Laki laki idamannya.
__ADS_1
Bos nya sendiri yaitu Tuan Lionel, hanya memandang dengan tatapan aneh kepada sekertaris nya tersebut.
''Rani...!" sapa Tuan Lionel kepada sekertaris nya yang kini berada di hadapannya sedang memberikan berkas penting yang akan di tanda tangani oleh dirinya.
"Ada apa bos," jawab Rani polos.
"Hmmm.... apa pakaian kamu tidak terlalu ****? kamu terlihat seperti sengaja memperlihatkan lekuk tubuhku agar bisa di lihat oleh kaum laki laki?"
Rani tampak gugup, ia sedikit merapikan pakaian nya.
"Hmmm... masa sih bos?" dengan sedikit tersenyum malu.
Bos Lionel hanya menggelengkan kepalanya, dia sudah dapat menebak jika sekertaris nya tersebut sedang menarik hati seorang pria yang tentunya berada di perusahaannya.
Setelah selesai memberikan berkas yang berada di tangannya, kemudian Rani segera pamit keluar dari ruangan bosnya tersebut, dengan wajah merah merona karena merasa malu.
Saat dirinya menutup pintu Ruangan, ia melihat Alex yang sedang berjalan ke arahnya, dan seperti nya sedang menuju ruangan tersebut.
''Hai Alex...'' sapa nya dengan tersenyum manis.
Alex melewati Rani begitu saja dengan hanya tersenyum kecil, dan tampak tidak menjawab sapaan wanita tersebut.
Entah apa yang sedang di bicarakan oleh mereka berdua di dalam ruangan, Rani yang sedang duduk menunggu Alex keluar dari dalam ruangan tersebut tampak bercermin sambil merapikan riasannya, tak lupa pula ia mewarnai bibir mungilnya dengan lipstik berwarna merah darah sehingga tampak bibirnya tersenut terlihat sensual dan menggoda.
Tak la kemudian Alex pun keluar, Rani langsung menghampiri Alex yang akan hendak berjalan.
''Tunggi Alex,'' pinta gadis tersebut.
''Ada apa?'' jawabnya sambil menghentikan langkah kaki panjangnya.
''Boleh saya meminta alamat mu?''
''Untuk apa?''
''Siapa tahu jika suatu saat nanti saya lewat di depan kediaman mu saya bisa mampir untuk sekedar meminum kopi,'' ujar Rani.
Alex tampak berfikir sejenak, lalu ia pun menulis alamat kontrakan barunya di secarik kertas, dan memberikan nya kepada wanita yang sedang berdiri dengan terus memandangi wajahnya tersebut.
__ADS_1
*****