
Dengan pandangan yang seolah merasa mengenali wanita yang sedang berjalan di hadapannya, Sisil terus memperhatikan dengan seksama, dari mulai tatanan rambut sampai bentuk tubuh dari wanita tersebut Sisil seperti sedang menerka-nerka siapa wanita tersebut.
''Mbak Rani...'' Sisil memberanikan diri menyebut nama itu, setelah merasa yakin jika wanita yang berjalan di hadapannya tersebut adalah sekretaris dari ayahnya.
Rani menghentikan langkahnya lalu berbalik ke arah sumber suara yang di dengarnya.
''Ya ampun, Sisil...?'' jawab Rani dengan tersenyum.
Lalu Sisil berjalan dengan cepat agar bisa beriringan dengan Rani.
''Sedang apa kamu berada ditempat seperti ini?'' tanya Rani merasa heran.
''Hmmm...'' Sisil terdiam sejenak sambil bergumam.
''Kebetulan pacar ku tempat tinggalnya di sekitar sini, aku berencana untuk mengunjungi nya karena ada sesuatu yang penting yang harus aku bicarakan dengan dia,'' Sisil berbicara jujur.
Rani mengangguk sambil tersenyum.
''Mbak Rani sendiri sedang apa malam-malam begini ditempat seperti ini?''
''Eu... anu tadi saya kebetulan lewat sini saja ko,'' jawab Rani dengan sedikit tersenyum kikuk.
Sepertinya malam ini ia harus mengurungkan niatnya untuk mengunjungi laki-laki pujaan hatinya, karena jika sampai Sisil melihat dirinya sengaja mendatangi tempat tinggal laki laki yang bukan siapa siapa baginya, tentu saja ia akan merasa malu karena takut di anggap sebagai perempuan tidak baik.
''Tapi seperti nya aku harus segera kembali pulang, karena perutku mendadak sakit,'' tambahnya lagi membuat alasan klise.
Sisil mengangguk tanda mengerti.
Sebenarnya dirinya sih merasa heran karena tiba-tiba saja Rani berbalik arah, dan seperti sudah merubah tujuan langkah kakinya, yang semula melangkah lurus ke depan kini memutar tubuhnya menjadi ke arah yang sebaliknya.
''Hati hati yang Mbak Rani,'' Sisil berucap sambil melambaikan tangan kepada Rani yang sudah berjalan menjauh dari dirinya.
Sementara Rani hanya terus melangkah tanpa menjawab ucapan dari putri bosnya tersebut.
Duh jadi gagal deh datang ke tempat Alex (batin Rani)
Dirinya terus berjalan sambil bergumam sendiri, merasa jengkel karena harus bertemu dengan Sisil di sini. Tanpa ia ketahui bahwa Sisil sebenarnya adalah kekasih dari laki-laki yang sedang dikejar nya.
Lalu ia menghentikan taksi yang melintas di jalan raya, kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu.
Sementara itu, Alex tampak sedang berbaring di atas pembaringan, lalu ia melirik Arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, pukul 20.00.
Malam belum begitu larut, namun entah mengapa matanya sudah terasa sangat mengantuk, mungkin karena ia merasa lelah setelah menunggu kekasih tercintanya selama berjam jam tadi sore di halte bus.
__ADS_1
Akhirnya ia pun memutuskan untuk tidur lebih cepat, karena rasa kantuk di matanya sudah tidak dapat di tahannya.
Perlahan Alex mulai memejamkan mata, dan tak lama kemudian ia pun sudah terlelap.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu.
Sisil beberapa kali mengetuk namun tak ada jawaban dari dalam sana, untung saja ia membawa kunci cadangan yang sengaja di berikan oleh sang kekasih agar dirinya bisa dengan leluasa keluar masuk tempat tinggalnya.
Ceklek..
Kunci di putar lalu pintu pun di buka dengan pelan.
''Oppa...'' Sisil memanggil sambil melangkah kan kaki masuk ke dalam.
Keadaan ruangan depan terlihat sangat rapi meski hanya ada karpet merah yang membentang memenuhi seisi ruangan.
Kemudian Sisil pun berjalan ke dalam kamar ,dan akhirnya mendapati sang kekasih sedang tertidur lelap di dengan melingkarkan kedua tangannya pada satu buah bantal.
''Oppa...'' Sisil berbisik di telinga kekasihnya tersebut sambil berjongkok di samping tempat tidurnya.
Lalu ia memandangi tiap lekuk bentuk wajah Alex yang terlihat sangat tampan meski dalam keadaan terpejam.
Sisil menyentuh satu persatu dengan jari telunjuk nya, dari mulai alis, mata, hidung, sampai ke bibirnya, bibirnya tampak tersenyum tipis sambil memperhatikan gerakan dari jarinya sendiri.
Lalu tak lama kemudian tiba tiba saja tangan Alex meraih pergelangan tangan Sisil yang sedang menyentuh bibir indah nya.
Dan tangan Alex yang satu nya lagi meraih pinggang Sisil dan menariknya ke atas tempat tidur, Sisil pun terkejut hingga membulatkan bola mata indahnya.
Dia sama sekali tidak tahu jika kekasihnya tersebut sudah tidak dalam keadaan tertidur, apakah mungkin sentuhan tangannya membangunkan tidur lelap sang kekasih? batinnya berucap.
Kini posisi mereka dalam keadaan berbaring saling berhadapan, dengan satu buah bantal di tengah menjadi pembatas keduanya, jadi meski keadaan mereka seperti itu bagian inti mereka masih aman tanpa bersentuhan.
''Kamu sudah bangun?'' tanya Sisil.
Alex mengangguk sambil terpejam.
''Maaf karena telah membangunkan mu,'' ujarnya lagi.
Alex sedikit membuka matanya, ia tidak berkata apapun, hanya tangannya saja yang tampak memeluk dengan erat tubuh sang kekasih lalu kembali terpejam.
''Kamu mau apa?'' Sisil bertanya karena takut mereka berdua melewati batas lagi.
__ADS_1
''Hanya seperti ini saja, sebentar...! aku sungguh lelah, karena tadi menunggu mu begitu lama,'' suara Alex akhirnya terdengar, begitu pelan karena dirinya berbicara sambil menahan kantuk yang sudah tidak dapat di tahan.
''O ya...?''
Alex hanya mengangguk.
''Berapa lama Oppa menunggu ku?''
Alex hanya mengangkat tiga jarinya, masih dalam keadaan terpejam.
''Tiga jam?'' Sisil terkejut, ''aku minta maaf, aku sungguh melupakan janjiku,'' ucap Sisil dengan perasaan menyesal.
Alex masih tak menjawab hanya mengecup pelan kening kekasih tercintanya tersebut.
''Oppa kita menikah saja yu, setelah menikah aku rela tinggal di tempat sempit dan sederhana seperti ini,'' ucap Sisil tiba tiba.
Alex membuka bola matanya dengan sangat lebar, rasa kantuk yang tadi dia rasa di kedua matanya seolah menghilang seketika.
''Mengapan terkejut?'' tanya Sisil yang dapat merasakan perubahan suasana hati Alex.
''Apa kamu tidak berniat menikahi ku?'' tanya nya lagi sambil mengangkat sedikit kepalanya lalu memandang ke arah wajah sang kekasih.
''Bukan seperti itu sayang..'' Alex kembali menatap bola mata indah milik kekasihnya tersebut.
Lalu ia kembali mengingat percakapan dirinya dengan ayah dari kekasihnya, waktu ia mengunjungi beliau di ruangan nya di kantor.
Flash back.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu.
Alex mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan kantor Tuan Lionel.
''Om memanggil saya?''
''Iya Lex, silahkan duduk.''
Alex duduk di sebuah kursi yang berada di depan meja dan tepat berhadapan dengan calon ayah mertuanya.
''Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan mu,'' ujar Tuan Lionel dengan tatapan mata tajam dan wajah yang serius, membuat Alex sedikit menitikkan keringat karena merasa penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh Tuan Lionel kepada dirinya.
*****
__ADS_1