
Keduanya turun dari dalam mobil, karena hari sudah larut malam, seperti nya ibu serta adik nya sudah tertidur.
Trok trok trok
''Asalamualaikum...''
Alex mengetuk dan dan mengucap salam.
''Ibu ini aku Alex...''
Tak lama kemudian pintu pun di buka, ibu keluar dengan mata yang terlihat masih mengantuk.
''Alex...'' sapa sang ibu.
''Iya Bu, maaf aku mengganggu waktu istirahat ibu,'' meraih tangan ibu lalu mencium nya.
''Tidak apa-apa ibu senang kamu pulang.''
Sisil pun menghampiri ibu dan mencium kedua tangannya.
''Mari masuk nak.''
''Iya Bu...''
Keduanya pun masuk ke dalam rumah, lalu duduk di atas kursi.
''Kamu pasti lelah nak, istirahat lah di dalam kamar,'' ucap sang ibu.
''Iya terima kasih Bu,'' jawab Sisil.
Ibu pun beranjak ke dalam dapur, dan tak lama kemudian Ia pun kembali dengan membawa dua cangkir teh hangat untuk anak serta calon menantunya.
''Di minum nak, kalian pasti capek.''
''Terima kasih Bu,'' Sisil meraih lalu menyeruput dengan perlahan cangkir teh.
''Ibu lanjut kan saja tidurnya, kami akan beristirahat di sini.''
Alex berucap dengan membaringkan tubuhnya di atas kursi.
''Nak Sisil bisa beristirahat di kamar Alex, kebetulan tadi siang Ibu baru saja membereskannya,'' ujar sang ibu.
''Baik Bu,'' Sisil menjawab dengan tersenyum.
Lalu Sisil beranjak dan segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sementara Alex tertidur di atas kursi dan dia pun langsung terlelap seketika.
Keesokan Harinya
''Aa...'' Amel langsung berteriak saat ia keluar dari dalam kamar, ia terkejut karena sang Kaka sudah terlihat tertidur di ruang Televisi.
''Aa kapan pulang,'' menggoyangkan tubuh Alex yang sedang tertidur.
''Amel...''
Alex bangun dan merentangkan kedua tangannya sambil menguap.
__ADS_1
''Aa pulang tadi malam,'' masih dengan menguap.
''Teteh ikut nggak?''
''Ia dia ikut.''
''Dia dimana?''
''Di kamar Aa, jangan di ganggu dulu, teteh masih istirahat, kasian capek,'' ujar Alex menghentikan langkah Amel yang semula akan masuk ke dalam kamar.
Amel pun menghentikan langkahnya lalu duduk di samping sang Kaka.
''Aa, tumben pulang, pasti ada kabar penting?''
''Ia Mel... Aa pulang membawa kabar gembira untuk ibu dan kalian berdua,'' Alex tersenyum.
''O ya...! Apa itu? apa Aa akan segera menikahi teteh?'' Widya keluar dari dalam kamar.
Alex menganggukan kepalanya.
''Haah...! Aa serius?'' keduanya kompak bertanya.
''Iya Amel, Widya, Aa berencana akan menikahi teteh dalam waktu dekat ini.''
''Yeeeeyyy... itu berarti kita berdua bisa ikut ke Jakarta bersama AA kan?''
''Iya sayang, nanti jika proses lamaran di gelar, kalian tentu saja boleh ikut,'' jawab Alex.
''Asiiikk...'' keduanya bersorak.
Ternyata suara ramai yang berasal dari kedua adik Alex, membangunkan Sisil yang masih tertidur dengan lelap.
''Teteh...'' Amel menyapa Sisil lalu bersalaman.
Begitupun dengan Widya yang melakukan hal yang sama.
''Selamat ya teteh, sebentar lagi akan segera di nikahi sama.''
Sisil tersipu malu.
''Ayo teh duduk di sini.''
Sisil pun duduk berdampingan dengan kedua adik Alex yang terlihat sangat bahagia melihat Sisil berada di tengah tengah mereka.
Sang ibu pun datang dengan membawa camilan khas dari kota Kuningan, yaitu ketupat dengan gorengan.
''Wah, bukankah ini ketupat ya,'' Sisil meraih satu ketupat.
''Ia teh, memang di Jakarta tidak ada makanan seperti ini?'' Amel bertanya.
''Ada kok, tapi jarang di temukan, ini cara memakannya gimana?''
''Sebentar teh, saya buka dulu memakai pisau.''
Alex lagi lagi di buat tersenyum melihat wajah polos kekasihnya, betapa dia merasa sudah sangat tidak sabar untuk menjadikan Sisil sebagai istrinya.
__ADS_1
''Sayang, di makannya bareng sama gorengan, seperti ini,'' memakan satu gigitan ketupat lalu di tambah dengan satu gigitan gorengan, dan di kunyah berbarengan.
Sisil memperhatikan lalu mempraktekan nya, dia pun memakan ketupat serta gorengan secara bersamaan sehingga mulutnya terlihat penuh dengan makanan.
''Gimana teh? enak kan?'' tanya Widya.
Sisil mengangguk.
Ibu tersenyum melihat tingkah Sisil, yang nampak seperti anak kecil yang baru menemukan makan enak.
''Pelan-pelan nak Sisil nanti kamu bisa tersedak,'' ibu menyodorkan teh hangat ke arah Sisil.
''Makasih Bu.''
Sisil menerima cangkir itu lalu meminumnya secara perlahan.
''Tadi ibu dengar kalian membicarakan soal pernikahan apakah itu betul?''
Sisil tersedak seketika, ia hampir saja menelan makanan yang terdapat di dalam mulutnya yang masih dalam keadaan utuh.
Alex sontak menepuk pundak Sisil, lalu segera memberinya minuman.
''Iya Bu, Aa pulang bersama Sisil untuk meminta izin, Aa akan segera menikahi Sisil,Bu. Aa juga telah mendapatkan restu dari kedua orang tua Sisil.''
''Benarkah..?'' ibu merasa senang.
Sisil dan Alex mengangguk.
''Syukurlah, ibu sangat senang mendengarnya, dan tentu saja ibu akan memberi restu kepada kalian berdua, kapan rencananya pernikahan itu akan di gelar? apakah akan di adakan pertunangan terlebih dahulu?'' ujar sang ibu dengan suara lemah lembut nya.
''Masih dalam perencanaan Bu, mudah mudahan tidak ada halangan, tahun ini juga Bu,'' Alex menjelaskan.
''Apa nak Sisil sudah siap untuk menjadi istri Aa?'' ibu menatap calon menantu nya.
''Iya Bu, saya sudah siap lahir dan batin, saya minta doa nya kepada ibu agar rencana kami berdua bisa di lancarkan tanpa halangan,'' Sisil merasa terharu mengucapkan hal tersebut.
''Iya sayang, ibu selalu mendoakan kalian agar kalian bahagia dan di lancarkan seluruh proses yang akan kalian hadapi,'' ibu memeluk Sisil,dan sontak saja hal itu membuatnya menitikkan air mata karena merasa sangat terharu, sejenak ia mengingat mendiang ibunya yang telah tiada, andai saja sang ibu masih ada, mungkin beliau akan merasa sangat senang mendengar putri satu satunya akan segera menikah.
Ibu mengusap punggung calon menantunya nya yang terlihat menangis di pelukan dirinya, mengusap dengan sangat pelan sehingga perlahan Sisil pun merasa tenang, dan mengakhiri suara tangisannya.
''Kalian jangan lupa nyekar ke makam bapak ya, minta restu dan berdoa agar beliau pun merestui rencana pernikahan kalian,'' ujar sang ibu.
''Baik Bu, nanti setelah mandi, kita kan ke sana,'' jawab Alex.
''Saya mandi duluan ya,'' Sisil bangkit lalu berjalan ke kamar mandi.
Alex nampak memperhatikan sang kekasih berjalan, ia seperti dapat merasakan jika kekasihnya tersebut sedang merasakan kesedihan karena sedang mengingat mendiang ibu nya.
''Aa... kami berdua ikut ya, sudah lama kita tidak mengunjungi makam bapak,'' ucap Widya.
''Iya Aa, Amel juga ingin ikut.''
''Iya sayang, kalian juga boleh ikut, ibu juga akan ikut bersama kalian, ibu sangat merindukan bapak,'' ujar sang ibu.
Mereka pun bersiap untuk mengunjungi makam almarhum bapak mereka yang sudah tiada karena kecelakaan tiga tahun yang lalu.
__ADS_1
*****
'