
Sisil keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan daster rumahan berwarna oren milik adik dari kekasihnya,dengan rambut panjang nya di ikat kebelakang.
Dia sering melihat pembantu rumah tangganya memakai daster seperti itu, dia sendiri tidak menyangka jika dirinya akan memakai baju yang sama seperti yang sering di kenakan oleh Bi Surti.
Baru pertama kali dirinya mengenakan pakaian seperti itu, dan ternyata rasanya sangat nyaman di tubuhnya.
Lalu dirinya menghampiri Alex yang sudah duduk di ruang Televisi.
Alex terkesima melihat penampilan kekasihnya, dia yang biasa melihat Sisil selalu mengenakan pakaian mewah dari merk ternama serta harga yang fantastis.
Tapi kini wanita yang berdiri di hadapannya terlihat sangat berbeda, dengan hanya mengenakan daster berwarna oranye, serta rambut panjang nya di ikat ke belakang.
Meski hanya mengenakan pakaian seperti itu tapi Sisil terlihat sangat cantik di matanya, bahkan kecantikannya terasa bertambah dua kali lipat karena kekasihnya tersebut terlihat lebih sederhana dan natural.
Sisil menghampiri Alex dan duduk disampingnya.
''Kamu cantik sekali mengenakan pakaian itu.'' ucap Alex.
''Ini pertama kalinya lho aku memakai pakaian seperti ini, dan aku tidak menyangka ternyata rasanya sangat nyaman dipakai.''
''Kamu senang?'' tanya Alex.
Sisil mengangguk lalu tersenyum.
''Adik-adikmu di mana?'' tanya Sisil.
''Mereka ada di kamarnya.''
''Aku merasa iri padamu, karena memiliki Ibu yang baik serta adik-adik yang cantik dan perhatian.''
''Andai saja aku memiliki keluarga sepertimu.'' tambahnya lagi.
''Mereka juga akan segera menjadi keluargamu.'' Ucap Alex.
Sisil tersenyum senang mendengar ucapan kekasihnya. Rasanya dirinya sudah tidak sabar ingin segera menjadi bagian dari keluarga Alex.
"Oh iya, ayah kamu dimana? Semenjak sampai kemari aku belum melihat beliau?"
"Ayahku sudah meninggal 2 tahun yang lalu." Ucap Alex.
Kemudian dirinya menunduk sedih, mengingat sang ayah yang wafat Karen kecelakaan dua tahun yang lalu.
"Maaf aku benar-benar tidak tahu."
"Beliau meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan, dan rasanya kejadian itu baru terjadi kemarin, dan setiap kali aku mengingat nya rasanya hatiku masih terasa sakit."
Sisil mengusap punggung Alex, dan kembali meminta maaf, Alex pun menggelengkan kepala berkata bahwa tidak ada yang salah dengan pertanyaan kekasihnya tersebut.
__ADS_1
Alex kembali menatap wajah sang kekasih yang berbalut kan daster berwarna oranye, dengan rambut yang biasa di gerai kini di ikat ke belakang. Lalu dirinya mengambil handphone dari dalam sakunya kemudian memotret Sisil.
Rasanya ini adalah pemandangan langka yang harus di abadikan, lagi pula semenjak mereka berpacaran Alex sama sekali tidak pernah menyimpan Poto sang kekasih di dalam handphone nya.
***
Malam hari, Sisil sedang berada di kamar, dirinya baru saja selesai menelpon sang ayah memberitahukan bahwa dirinya sedang pergi karya wisata yang di adakan oleh kampus nya bersama Alex.
Lalu tiba tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya, Amel masuk ke dalam kamar.
''Teh... teteh di panggil ibu ke ruang makan, kita makan malam bersama,'' ucap Amel.
''Oh iya Mel, saya segera ke sana.''
Sisil berjalan di belakang Amel menuju meja makan.
Di sana sudah ada Alex, Widya serta sang ibu yang sudah menunggunya.
''Ayo teh makan dulu, ibu masakin banyak lauk buat teteh calon mantu.''
Ucap Widya dengan tersenyum.
Lalu Sisil mengangguk dan duduk di kursi samping alex.
Di atas meja sudah terdapat beberapa lauk yang merupakan masakan khas Sunda, seperti sayur asem, tempe tahu goreng, ikan asin, ayam gorengan serta sambal terasi.
Tapi saat sendok pertama masuk ke dalam mulutnya, dia langsung membelalakan mata, ternyata rasanya sangat enak, dan tanpa dia sadari dirinya makan dengan sangat lahap hingga piring di depan nya sudah terlihat kosong.
Ibu dan ketiga anaknya hanya bengong melihat kelakuan Sisil.
''Di kota tidak ada makanan seperti ini ya teh?'' ucap Widya.
''Bu, saya boleh nambah satu piring lagi tidak?.'' Pinta Sisil.
''Iya boleh nak Sisil,'' ibu tersenyum.
Alex tersenyum geli melihat kelakuan Sang kekasih, lalu dirinya mengisi kembali piring Sisil dengan nasi serta lauk pauknya.
''Terima kasih,'' ucap Sisil sesaat setelah Alex meletakan piring nya.
Lalu dirinya segera menyantap makanan yang telah terisi penuh, tanpa menghiraukan kalau Alex, Ibu serta kedua adiknya sedang memperhatikan dirinya dengan perasaan heran.
Setelah piring kembali kosong, tanpa sadar dirinya bersendawa, yang membuat semua yang berada di meja makan tertawa.
Sisil juga tampak ikut tertawa dengan kedua tangan nya menutup mulutnya, dan wajahnya terlihat merah karena malu.
Setelah selesai makan malam, Alex duduk di teras rumah nya, dia sedang memperhatikan kedua adiknya, yang sedang asyik melihat-lihat mobil merah kepunyaan Sisil.
__ADS_1
Lalu Sisil keluar dan menghampiri Alex.
''Besok kita ajak adik adik mu jalan jalan ya,'' ucap Sisil yang sudah dalam keadaan duduk di samping Alex.
''Iya boleh... lagi pula mereka sudah lama tidak di ajak jalan jalan,'' jawab Alex.
''Aa... Teteh... boleh tidak kami berdua di ajak jalan pakai mobil ini?'' ucap Widya dengan sedikit berteriak.
''Amel juga mau teh...''
''Iya besok kita jalan jalan ya,'' jawab Sisil.
''Beneran teh?''
Amel dan Widya menghampiri Sisil yang sedang duduk di sebelah sang Kaka.
''Iya besok kita jalan jalan, tapi setelah kalian pulang sekolah ya,'' jawab Alex.
Kedua adiknya mengangguk senang.
Sisil tak henti henti nya tersenyum, melihat kedua adik dari kekasihnya, membuatnya sedikit merindukan Daniel.
''Maafin Kaka ya dek, Kaka pergi tanpa pamit"
Ucap Sisil dalam hatinya saat mengingat sosok adik tirinya yang masih dalam kondisi pemulihan setelah di rawat beberapa hari di Rumah sakit.
Sementara itu di waktu yang sama tapi di tempat yang berbeda.
Angel tampak sedang menelepon suaminya.
Angel : " Mas, Sisil tidak pulang ke ke rumah?''
Tuan Lionel : ''Iya mas tahu, tadi dia sudah menelpon mas, meminta izin kalau dia pergi karya wisata kampus, Alex juga ikut.''
Angel : ''Dia telpon mas? kenapa dia tidak memberi kabar sama aku? apa dia tidak tahu jika aku khawatir dan menunggu kepulangan nya sampai saat ini.?''
Tuan Lionel : " Mungkin dia tidak sempat.''
Angel : ''Apa mas tidak curiga mereka berdua pergi bersama.''
Tuan Lionel : ''Maksud kamu apa?"
Angel : "Ya barangkali saja mereka berbohong, bilang sama kamu pergi karya wisata, tapi sebenarnya mereka sengaja pergi berdua untuk bersenang senang.''
Angel tidak mendengar jawaban apapun dari suaminya, Tuan Lionel tampak terdiam sedang memikirkan sesuatu.
Angel : ''Mas... Hallo... kamu dengar aku tidak?''
__ADS_1
*****