
Tangan Alex tampak sedikit berkeringat, jantung nya berdetak dengan sangat kencang, dia merasa gugup karena tatapan dari calon mertua nya yang terus menatap dirinya dengan pandangan yang sangat serius.
''A..apa yang ingin om bicarakan kepada sa..saya?'' tanya Alex dengan suara yang sedikit bergetar.
''Begini Alex...! saya minta sama kamu agar segera menikahi putri saya."
Alex terperangah.
Namun dia sedikit merasa lega, jantung nya yang semula berdetak sangat kencang berangsur kembali normal, namun apa yang diucapkan oleh calon mertuanya tersebut sungguh sangat membuatnya terkejut.
''Saya memang berniat untuk menikahi Putri Om, karena saya memang bersungguh-sungguh dalam mencintai dia.''
''Jadi kapan kamu akan membawa kedua orang tuamu untuk melamar Sisil?''
''Maksud om? eu.. maksud saya melamar Sisil dalam waktu dekat, begitu?'' Alex sedikit mengerutkan keningnya.
''Ya seperti itulah...! om hanya tidak ingin kalian berpacaran terlalu lama, mengingat di zaman sekarang, kebanyakan muda-mudi dalam berpacaran an banyak yang kejadian hamil di luar nikah, atau semacamnya lah,'' Tuan Lionel menjelaskan.
"Saya tidak pernah melakukan perbuatan yang diluar batas bersama Sisil, om... ! meskipun kami pernah tinggal di satu atap yang sama, tapi kami selalu menjaga norma-norma agama dan memilik batas tertentu dalam berpacaran," Alex sedikit menekankan.
"lya saya percaya sama kamu Alex, sungguh... saya sangat mempercayai mu, kamu itu seperti laki-laki sempurna yang tanpa cela sedikit pun, dan tentu saja sebagai orang tua saya sangat menginginkan kamu untuk menjadi menantu saya, itu sebabnya saya ingin meminta kamu segera menikahi Sisil."
"Saya berjanji dengan sepenuh hati saya om, saya akan menikahi sisil, namun beri waktu saya selama satu tahun, agar saya bisa mengumpulkan bekal untuk membeli mas kawin, dan seserahan lainnya, saya tidak ingin menikahi Sisil dengan hanya bermodalkan cinta saja," jawab Alex dengan bersungguh-sungguh.
"Hhmmm..." Tuan Lionel bergumam dan tampak berfikir.
Dia bisa melihat kesungguhan hati Alex meski hanya dengan melihat tatapan matanya saja.
"Baiklah jika begitu, saya akan memberi waktu kepada mu selama satu tahun, sambil menunggu Sisil benar-benar lulus kuliah," Tuan Lionel mengangguk.
"Terima kasih Om, atas semua kepercayaan om kepada saya, saya berjanji tidak akan pernah berpaling dari Putri Om, karena saya sangat mencintainya."
Tuan Lionel mengangguk lalu tersenyum.
"Apabila tidak ada lagi yang harus dibicarakan, saya permisi Om, masih banyak pekerjaan lain yang harus dikerjakan."
"Baiklah silakan kamu kembali ke tempat kerjamu," ujar Tuan Lionel.
Alex pun beranjak dari tempat duduknya, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
Flash back End.
*
__ADS_1
Sisil sedikit menggoyangkan tubuh Alex, karena melihat kekasihnya tersebut seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu sedang mikirin apa?"
"Haah... Apa...?" Alex sedikit tergagap.
"Aku bilang, bagaimana jika kita menikah saja? dan setelah menikah aku tidak keberatan jika harus tinggal bersamamu di tempat sempit seperti ini," Sisil menatap wajah sang kekasih yang saat ini memandang wajah dirinya.
"Menikah...?" ujar Alex.
"Mengapa terkejut? apa kamu tidak berniat untuk menikahiku?" Sisil mengerutkan keningnya.
"Bukan seperti itu sayang, aku telah meminta waktu selama satu tahun kepada ayahmu, agar aku bisa mengumpulkan bekal untuk biaya kita menikah kita nanti."
"Satu tahun terlalu lama Oppa, Bagaimana jika dalam waktu satu tahun itu kamu tergoda oleh wanita lain yang lebih cantik dari aku?" Sisil terlihat cemberut.
Alex tertawa kecil.
Tangannya tampak mendekap erat tubuh sang kekasih, menenggelamkan kepalanya di dada bidang nan wangi nya tersebut.
"Kamu itu lucu ah, mana mungkin aku tergoda oleh wanita lain?"
"Bisa saja kan...? secara kan di kantor Papih banyak wanita-wanita cantik yang lebih seksi dari aku," Sisil di dalam dekapan sang kekasih.
"Sudah...! nanti kita bahas lagi masalah ini besok, sekarang Aku benar-benar mengantuk dan lelah ingin segera tidur," Alex memejamkan matanya.
"Terus aku gimana? masa aku tidur di sini?" Sisil mencoba keluar dari dekapan Alex.
"Malam ini menginap lah di sini semalam saja, aku berjanji tak akan melakukan apapun kepadaMu. Hanya tetap seperti ini saja sampai pagi," semakin mengeratkan pelukannya.
"Serius aku boleh bermalam di sini?"
Alex mengangguk sambil terpejam.
"Tapi Oppa janji ya jangan ngelakuin hal yang macam-macam sama aku?"
Alex kembali mengangguk.
Dan akhirnya mereka sama-sama terpejam dengan posisi satu buah bantal yang mengapit di tengah-tengah mereka.
Sisil merasa sangat senang, karena dia tidak perlu kembali ke rumah besarnya dan bertemu dengan ibu tirinya yang jahat itu.
Jika besok pagi ibu tirinya tersebut pun marah kepada dirinya, dia tidak akan peduli, yang penting sekarang dia ingin tidur dengan tenang di samping laki-laki yang sangat dicintainya.
__ADS_1
***
Pagi pun menjelang, suara Kokok ayam jantan mengawali pagi dengan sinar matahari yang perlahan naik ke permukaan.
Sisil membuka matanya dengan pelan, mengedipkan pelupuk matanya dengan perlahan menyesuaikan sinar matahari yang masuk ke dalam kamar melalui celah gorden yang sudah sedikit terbuka.
Ia tampak mencari keberadaan Alex yang sudah tidak berada di sampingnya.
Ia pun bangkit lalu turun dari tempat tidur, berjalan keluar kamar sambil memanggil kekasihnya tersebut.
"Oppa..."
Sisil berjalan ke ruangan depan, dia mencium bau wangi masakan dari arah dapur. Sisil berbalik, yang semula hendak berjalan ke depan menjadi ke belakang menuju dapur kecil yang terletak di depan kamar mandi.
"Kamu lagi apa oppa?'' tanya Sisil yang sudah mendapati Alex sedang memasak sesuatu di dalam dapur.
''Aku sudah memasukkan nasi goreng, buat sarapan kita.''
''Memang nya kamu bisa masak?'' Sisil sedikit tersenyum lalu melingkarkan kedua tangannya ke perut sang kekasih dari arah belakang.
''Bisa dong,'' Alex tersenyum lalu mengecup rambut Sisil.
Akhirnya tanpa menunggu lama nasi goreng yang dibuat oleh Alex pun sudah siap.
''Cobain deh rasanya, ada yang kurang tidak?''
Alex menyuapkan sendok berisi nasi goreng ke mulut sang kekasih namun sebelumnya dia meniupnya terlebih dahulu.
Sisil melepaskan lingkaran tangannya, lalu berdiri di samping sang kekasih dan membuka mulutnya.
''Aaaaa...'' mulut Alex ikut terbuka, saat sendok yang di pegang nya masuk ke dalam mulut mungil kekasihnya tersebut.
''Gimana rasanya?'' tanya Alex penasaran.
Sisil tampak mengunyah dan merasakan setiap buliran nasi goreng di dalam mulutnya.
''Hmmm... Enak Oppa,'' jawab Sisil sambil mengangkat jempolnya.
''Kamu tunggu di depan ya, aku siapin dulu ke atas piring.''
Sisil mengangguk lalu berjalan ke ruangan depan.
Dan Tak lama kemudian Alex pun datang dengan membawa dua piring nasi goreng, yang tampak sudah di lengkapi dengan potongan tomat, mentimun dan juga kerupuk.
__ADS_1
*****