
Alex memeluk erat tubuh kekasih nya, Sisil pun membenamkan kepala nya di dada bidan milik Alex, sudah lama sekali dia tidak merasakan dan mencium bau wangi tubuh sang kekasih.
Dia menarik napas dan menghembuskan perlahan, meresapi setiap hembusan nafas yang keluar dari dalam bibirnya.
Alex membelai rambut panjang kekasih yang sangat di cintai nya, dan Sisil melingkar kan tangan nya di pinggang sang kekasih, dengan kepala masih bersandar di dada milik Alex.
Sampai akhirnya suara bel di rumahnya berbunyi, yang sontak membuat mereka menyudahi kebersamaan mereka, dan melepaskan pelukan mereka masing masing.
Sisil berjalan menuju pintu depan, untuk melihat dan membukakan pintu.
Ckleek...
Terdengar suara kunci di putar dan pintu pun terbuka.
Alvin yang berdiri di balik pintu tersenyum senang melihat wajah Sisil keluar dari balik pintu.
''Hai...''
Alvin tersenyum melambaikan tangan nya.
''Ternyata kamu yang datang Vin, mari masuk.''
Sisil mempersilahkan Alvin masuk dan langsung membalikan badan berjalan dan duduk di kursi ruang tamu.
''Ada apa kemari?'' ucap Sisil.
''Kenapa? apa tak boleh aku mampir ke kemari? atau jangan jangan kamu masih marah karena ucapan aku waktu itu?''
Sisil hanya terdiam.
''Ya sudah aku benar benar minta maaf kalau ucapan ku waktu itu benar benar menyinggung perasaanmu.''
''Sudah aku maafkan ko..''
Jawab Sisil dengan wajah datar.
''Tapi memang menurut ku, supir biasa seperti Alex sama sekali tidak pantas bersanding dengan kamu, apa lagi kamu anak dari seorang pengusaha kaya.''
''Cukup Vin, jangan menghina kekasih ku seperti itu lagi, apapun profesinya, apapun pekerjaan nya aku tetap mencintainya.''
Sisil naik pitam.
''Sisil, kamu harus memikirkan masa depan kamu, lagi pula ayah mu pasti tidak akan pernah mengijinkan putri nya berpacaran dengan seorang supir.''
__ADS_1
''Apa kamu mau nanti nya kamu hidup susah, secara selama ini kamu selalu di manjakan oleh uang ayah mu.''
''Aku mengatakan ini karena aku sahabat kamu dari dulu, aku ingin yang terbaik untuk kamu.''
Sisil berdiri dari duduk nya.
''Cukup Vin, sekarang aku minta kamu pergi dari sini.''
''Tapi Frisillia....''
Alvin terkejut di usir oleh Sisil, sebenarnya dia mengatakan semua itu karena rasa tidak terimanya karena Sisil wanita yang sedari dulu dia sukai ternyata sudah memiliki tambatan hati.
Alvin sudah bertekad akan mengejar cinta nya kembali, dia sudah membulatkan diri akan merebut Sisil dari Alex yang pekerjaan nya hanya seorang supir biasa.
Dia mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, mengingat dirinya terlahir dari keluarga kaya, dan dirinya juga mempunyai pendidikan yang tinggi, karena sebentar lagi dia akan menyelesaikan nya studi S2 nya.
Jadi tidak ada alasan baginya untuk mundur, Alex kekasih Sisil sama sekali tidak ada apa apa nya di bandingkan dirinya.
''Aku pastikan kamu akan menyesal karena sudah berpacaran dengan supir kamu itu, dan harus kamu ingat, aku sahabat mu dari dulu, tidak pernah menganggap mu hanya sekedar sahabat.''
Setelah menyelesaikan ucapan nya, Alvin beranjak dari duduk nya dan pergi begitu saja.
Sementara Sisil hanya di buat melongo mendengar setiap ucapan sahabat nya tersebut.
Dia menatap punggung sahabatnya yang menjauh,berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman rumah nya.
Hingga akhir nya mobil Alvin pun berjalan meninggalkan halaman dan pergi menjauh.
Alex hanya termenung mendengar semua percakapan Sisil dengan Alvin, memang semua yang katakan sahabat dari kekasihnya itu adalah benar adanya.
Dirinya semakin tidak punya kepercayaan diri, apabila harus bersaing dengan laki laki seperti Alvin.
Alex melangkah pergi dari ruangan itu saat Sisil hendak menghampiri nya.
Dia akan berpura pura tidak mendengar percakapan mereka berdua.
***
Sore hari, Sisil mencari Alex ke dalam kamarnya,akan tetapi dirinya tidak mendapati kekasihnya tersebut berada di sana.
Diapun berjalan ke halaman belakang rumah, dan akhirnya mendapati Alex hanya sedang duduk termenung sendiri di atas kursi kayu.
Seperti nya Alex sedang memikirkan banyak hal. Memikirkan ucapan Alvin, dan memikirkan masa depan dari hubungan nya dengan kekasih cantiknya.
__ADS_1
Bagaimana pun caranya dia harus bisa merubah nasibnya, dia ingin menjadi orang sukses agar bisa memberi kebahagiaan kepada Sisil,terutama bisa dengan percaya diri meminta izin kepada Tuan Lionel untuk bisa menjadi calon pendamping yang layak untuk putrinya.
Saking larut dalam lamunan nya, Alex sampai tidak menyadari kehadiran Sisil yang sedari tadi berdiri di sampingnya, memandang wajah dirinya yang sedang larut dengan lamunannya.
''Lagi mikirin apa si sayang...''
Sisil berbisik di telinga Alex.
Alex terkejut dan menolehkan wajah tepat di hadapan wajah Sisil, hingga wajah mereka berada sangat dekat, dan satu kecupan pun mendarat di bibir masing masing.
''Serius amat... lagi mikirin aku.''
Ucap Sisil sesaat setelah melepaskan kan kecupan nya.
''Entah lah... Banyak yang sedang aku pikirkan.''
Ucap Alex yang sudah berdiri berhadapan dengan sang kekasih.
Alex meraih tubuh Sisil dan mendekapnya, memeluknya erat, seolah ingin sekedar mengobati kegalauan yang sedang dia rasakan.
Sisil melingkarkan tangan di punggung Alex, mengusap dengan lembut punggung lebar dari kekasihnya, seolah dia ingin menenangkan hati Alex, meskipun dirinya sendiri tidak tahu apa yang sedang ada di dalam pikiran sang kekasih.
Mereka melepaskan pelukan masing masing. Alex tampak memandang lekat wajah kekasih cantiknya. Merasakan rasa cinta yang mendalam terhadap Sisil, wanita yang saat ini berstatus sebagai kekasih sekaligus majikan nya.
''Rasanya sikap oppa sedikit aneh.''
Sisil balik memandang wajah tampan Alex.
Alex hanya tersenyum meraih kembali tubuh ramping kekasih nya ke dalam dekapan kembali, kali ini dengan sangat erat.
Sebenarnya mereka berdua saling memendam kegundahan, tidak ada satupun dari mereka berdua yang berani menceritakan tentang kegundahan hati nya masing masing.
Sisil dengan permasalahan nya dengan ibu tirinya, dan Alex permasalahan nya dengan rasa percaya dirinya.
Sore itu di temani oleh senja yang perlahan menunjukan warna kemerahan, dan mentari yang semakin menyembunyikan sinar nya, di gantikan dengan sinar rembulan yang bulat sempurna menerangi langit yang perlahan mulai tergantikan dengan gelap pekat nya malam.
Sepasang kekasih saling berpelukan, meluapkan rasa gundah di dalam hati mereka, tanpa sepatah katapun, dan tanpa bisa menceritakan isi hati mereka masing masing.
Hanya saling mendekap, memberikan dukungan lewat usapan tangan di punggung keduanya, tanpa mengetahui permasalahan yang sedang mereka hadapi masing masing.
Mungkin jika waktu nya tepat nanti, mereka akan mencoba menceritakan tenang apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi.
*****
__ADS_1