
Wartono membimbing Cow Li atau Lian untuk mengikuti kerumahnya , setelah beberapa saat kemudian mereka sampai didepan sebuah rumah yang sangat sederhana , yang berada tidak jauh dari sungai Ciliwung , rumah Wartono berada dikampung kumuh ,yang padat penduduknya .
' Yah beginilah nak rumahku , sangat sederhana sekali , walaupun seperti ini juga aku sangat bersukur , hidup di kota jika tidak punya jabatan atau pekerjaan tetap , maka bersiap-siaplah untuk menjadi orang yang tak berguna'. ucap Wartono sembari mempersilahkan masuk.
' Tidak mengapa pak , hidupku juga susah , orang tuaku juga miskin , hanya mengandalkan jualan barang bekas atau rongsok''. jawab Lian tersenyum .
' Orang tuamu penjual rongsok , ya sama berarti denganku '. Wartono menoleh kearah Lian , tersenyum tipis.
' Yah memang kita harus mensyukuri apa yang sudah menjadi takdir kita , meskipun begitu kita harus tetap berusaha , siapa tahu hidup akan berubah '. lanjut Wartono menghela nafas ringan.
' Eh maaf lupa , kamu mau mandi kan? , itu kamar mandinya , jangan main sabun..! sabun sedang mahal '. imbuh Wartono menunjuk Lian kearah kamar mandi.
Lian hanya menggelengkan kepala , tidak menjawab perkataan Wartono , ia bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
' Bukanya dikamar mandi ini ada tempat BAB , kenapa pak Wartono malah memilih BAB di pinggir sungai ?'. gumam Lian dalam hati , kemudian ia segera membersihkan diri.
' Lian Ini bajunya ! ' teriak Wartono dari luar kamar mandi .
' Iya pak terima kasih'. Lian mengulurkan tangannya dibalik pintu kamar mandi untuk mengambil pakaian dari Wartono.
Beberapa saat kemudian Lian sudah selesai mandi .
Kreet..!
Suara pintu kamar mandi , munculah sosok pria tampan dibalik pintu kemudian berjalan menuju dimana pak Wartono sedang duduk sembari minum kopi dingin yang ada dimeja.
' Kesinilah nak , duduk temani paman '. ucap Wartono menoleh kearah Lian yang keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
' Baik paman '. Lian tersenyum , kemudian duduk kursi yang berada didepan meja Pak Wartono.
' Apa rencanamu sekarang , apa mau balik ke jogja ?'. tanya pak Wartono sembari menyeruput kopinya.
' Sepertinya aku ingin mengadu nasib dikota jakarta ini saja paman '. jawab Cow Li .
' Apakah paman bisa mencarikan pekerjaan untukku ?'. imbuhnya
' Cari pekerjaan di jakarta itu sangat susah Lian , apalagi orang yang tidak berpendidikan seperti kita , yang hanya mengandalkan otot saja '. Wartono menghela nafas berat menatap langit langit rumah , kemudina menatap Lian lagi.
' Jika kamu mau , kamu bisa kerja bareng paman , mencari rongsok atau barang bekas untuk dijual ke penyetok '. imbuh Wartono .
' Aku mau paman , asal itu halal tidak mengapa '. jawab Lian serius , ia juga tidak ingin menjadi manusia pemalas lagi.
' Baiklah , besok kamu ikut aku mencari rongsok , untuk tidur , kamu tidur ditempat paman saja , kebetulan paman kesepian dirumah '. ucap Wartono tersenyum .
' Istri paman sudah lama meninggal , sekarang paman hidup berdua dengan putri paman '. jawab Wartono menjelaskan.
' Tetapi semenjak putriku lulus SMA , ia berubah menjadi pemurung dan pendiam , dan sukanya berada dikamar terus jarang keluar '. imbuh Wartono menghela nafas ringan.
Lian hanya mengangguk mendengarkan perkataan pak Wartono , ia tidak menanggapinya , karena bingung juga mau menanggapi apa, ia hanya menjadi pendengar yang baik saja.
Ceklek !
Kreet..!
Tidak berapa lama mereka berbincang , tiba-tiba pintu kamar depan terbuka , muncul sosok seorang wanita cantik , berkulit putih , badannya tinggi , rambut hitam lurus, panjang sebahu ,bentuk payudara yang sedang sedang saja, membuat menjadi semakin enak dipandang mata. Siapa saja pria yang melihatnya sudah pasti akan terpesona.
__ADS_1
' Tasya ! sini duduk sebentar , aku akan kenalkan kamu dengan tamu ayah '. Wartono melambaikan tangannya memanggil Tasya , nama anaknya itu.
Tasya hanya diam saja , kemudian ia duduk disebelah pak Wartono .
' Ini nak Lian tamu ayah ,'. Wartono memperkenalkan Lian pada Tasya putrinya.
' Aku Co Lian , panggil saja Lian '. Lian tersenyum mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
' Aku Tasya '. jawab Tasya datar sembari menyalami Lian.
' Lian akan tinggal disini , kalian harusnya saling mengenal satu sama lain , anggap saja Lian teman baru kamu , jangan dikamar terus, apa kamu tidak bosan '. ucap Wartono menyarankan kepada putrinya.
' Aku mau mandi dulu ayah ' Tasya tidak menjawab ucapan ayahnya , ia langsung pergi pamit mandi.
Wartono yang melihat anaknya pergi , hanya menggelengkan kepalanya , lalu berucap ' itulah keadaan anaku , dulu anaknya periang , tetapi semenjak ia lulus SMA , menjadi seperti itu '. Wartono menjelaskan , ada jejak kesedihan dimatanya .
' Paman yang sabar ya , mungkin Tasya hanya ingin menyendiri saja'. sahut Lian menegarkan hati Wartono .
Wartono mengangguk lalu berkata'. kalau kamu tidak keberatan , tolong temani Tasya dan hibur dia, aku ingin Tasya kembali seperti dulu lagi'. Wartono menatap Lian memohon , walaupun Lian orang yang baru ia kenal , tetapi entah kenapa ,ketika melihat Lian ada perasaan percaya kepadanya, bahwa Lian adalah pemuda yang baik.
' Aku akan berusaha paman , karena aku sudah menganggap kalian adalah keluarga '. Sahut Lian tersenyum .
' Baiklah kalau begitu paman akan pergi dulu ke pasar , paman akan belanja dulu '. ucap Wartono kemudian pergi untuk membeli sayuran di pasar.
' Kamu kalau ingin istirahat , di kamar tamu itu , walaupun kecil ya lumayan buat tempat istitahat'. imbuh Wartono menunjuk kamar tamu , kemudian ia melangkah pergi.
' Baik paman , terima kasih'.
__ADS_1
Bersambung.....