System Dewa Pemalas

System Dewa Pemalas
K.S 3 Masa Lalu Tasya


__ADS_3

Rumah pak Wartono .


Pak Wartono , Lian dan Tasya sedang menikmati makan malam bersama , Mereka makan sambil berbincang santai , cerita apa saja yang mau diceritakan , hanya Tasya yang diam seolah tidak perduli dengan obrolan pak Wartono dan Lian.


Sambil makan Lian sesekali melirik Tasya yang terlihat dingin , wajah Tasya memang cantik , kulitnya halus seperti batu giok , walaupun berpakaian sederhana , tetapi tidak menutupi kecantikannya . Tetapi dibalik wajahnya yang cantik, terlihat ada jejak kesedihan yang mendalam, ntah itu penyebabnya hanya Tasya yang tahu.


Lian terus memperhatikannya , ia sangat kagum akan kecantikan Tasya. Tidak dipungkiri lagi , Lian sedikit menaruh hati pada Tasya.


' Lian . apa benar kamu tadi sore tidak bunuh diri ?'. tanya pak Wartono penasaran, membangunkan lamunan Lian tentang Tasya.


' Benar paman , aku juga tidak tahu tiba-tiba aku tercebur di sungai Ciliwung , padahal waktu aku sedang tidur dirumah '. Jawab Lian jujur dan bingung.


' Aneh , apa jangan-jangan kamu di culik Genderuwo ?'. Wartono berspekulasi.


' Ah paman ada - ada saja '. jawab Lian tersenyum .


Obrolan dalam acara makan malam terus berlanjut , hanya Tasya yang selalu diam , ia tidak perduli dengan mereka , ia asik sendiri menikmati makan malamnya tanpa menghiraukan sekitarnya .


Kini makan malam telah selesai , walaupun makan seadanya , tetapi membuat Wartono sangat bahagia , pasalnya dari dulu ia sangat kesepian , semenjak putri semata wayangnya berubah menjadi pendiam , ia tidak pernah merasakan kehangatan dalam sebuah keluarga.


Tetapi semenjak kehadiran Lian , suasana hangat sebuah keluarga hadir kembali ,seolah- olah Wartono menemukan kehidupan baru lagi.


Pak Wartono semenjak kematian istrinya memang berjanji tidak akan mencari ibu baru lagi untuk Tasya , ia hanya ingin menepati janji sehidup semati kepada mendiang istrinya , walaupun main sabun solusinya.


Setelah makan malam obrolan pak Wartono dan Lian terus berlanjut , sedang Tasya pergi keluar duduk depan teras rumah , melamun sendiri menikmati semilir angin malam dan bulan yang memancarkan sinar kedamaian.

__ADS_1


' Lian , aku akan istirahat dulu , tubuh tua ini sudah tidak bisa berlama lama begadang lagi , jika kamu mau tidur , ya tidurlah , besok pagi-pagi kita akan mulai mencari barang bekas untuk dijual '. ucap pak Wartono .


' Baiklah , paman tidur saja dulu '. sahut Cow Lian tersenyum.


' Baik aku pergi tidur dulu '. sahut pak Wartono sembari bangkit dari duduknya kemudian berjalan kekamarnya.


Setelah melihat kepergian pak Wartono , kemudian Lian menoleh keluar rumah , melihat Tasya yang masih duduk melamun didepan teras rumah, Lian tergerak hatinya untuk menemani Tasya mengobrol, kemudian Lian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Tasya .


' Hay , apakah aku boleh duduk disini ?'. tanya Lian membangunkan lamunan Tasya.


Tasya menoleh kearah Lian , kemudian mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Lian .


Melihat anggukan Tasya , kemudian Lian duduk disebelah Tasya.


' Aku lihat kamu selalu murung ,ada masalah apa Tasya , ceritakanlah mungkin aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu '.


Tasya tidak menjawabnya , ia hanya menatap Lian sebentar , kemudian memandang rembulan yang bersinar dengan anggunnya.


' Kalau kamu tidak bisa menceritakan apa yang membebanimu itu tidak mengapa , tetapi sikapmu itu membuat ayahmu sangat sedih , aku bisa merasakan kesedihan paman , melihat putrinya yang selalu murung , tentu saja membuat orang tua manapun merasa sedih Tasya ?'. ucap Lian dengan senyum lembut, memberitahu.


' Apa perdulimu '. jawab Tasya datar.


' Jelas aku sangat perduli , paman itu orang baik , dia rela tidak menikah lagi , hanya karena ingin membuat kamu bahagia, paman ingin fokus membesarkanmu dan mengurusmu saja, apakah ini balasan untuk paman dari anak yang paman paling sayangi ?' ucap Lian tersenyum kecil.


Tasya terdiam , ia merenungi apa kata pemuda tampan disebelahnya , perkataan Lian memang ada benarnya, apa yang ia lakukan pada ayahnya memang salah , harusnya sebagai anak, ia lebih peka terhadap perasaan orang tuanya , ternyata apa yang ia lakukan selama ini tanpa sengaja membuat ayahnya bersedih.

__ADS_1


Tasya menoleh kearah Lian , sembari menghela nafas berat ia berkata' Terima kasih telah mengingatkanku '.


' Tidak mengapa , setidaknya mulai saat ini kamu harus berubah , kasian ayahmu ..pasti selama ini dia sangat tertekan'. jawab Lian tersenyum menatap paras cantik wanita disebelahnya.


' Jika kamu ada masalah , coba ceritakan padaku , walaupun aku tidak bisa membantu, tetapi mungkin bisa mengurangi bebanmu , tenang saja aku akan menjadi pendengar yang baik '. lanjut Lian menyarankan.


' Menurutmu , masihkah ada laki-laki yang mau menerima wanita yang sudah tidak perawan lagi ?. Tanya Tasya sembari melihat keatas langit , ada air yang menetes dari matanya yang indah .


Diam !


Lian mencerna pertanyaan Tasya.


Lian berfikir pertanyaan Tasya mungkin ada hubungannya dengan kemurungannya selama ini ? Apakah Tasya sudah tidak perawan lagi ? pikiran Lian menjadi berkecamuk , tetapi dia berusaha untuk tenang.


' Tasya , jodoh itu sudah ditakdirkan , jika memang kita sudah bertemu jodoh yang ditakdirkan untuk kita , pasti orang itu akan menerima semua kekurangan kita '. Lian memberitahu.


' Betulkah begitu ? bukanya setiap pria ingin menikah dengan yang masih perawan ?. Tasya menoleh kearah Lian , kemudian menatap langit kembali.


' Kata siapa , nyatanya banyak laki-laki single yang mau menikah dengan janda, itu tandanya pemikiranmu tidak semua benar'. ucap Lian tersenyum melihat Tasya .


' Apa pertanyaan ini ada hubungannya denganmu ?'. lanjut Lian memberanikan diri untuk bertanya .


' Iya , aku sudah tidak perawan '. Tasya langsung menangis sesenggukan.


' Itu semua karena kebodohanku , yang percaya dengan mulut laki-laki buaya yang bernama Alex mantan pacarku saat SMA dulu ' .Tasya mencurahkan isi hatinya , mencurahkan semua tentang masa lalunya , tanpa ia sadari Tasya menangis dan menyaandar kepalanya di bahu Lian.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2