
Musim telah berganti, angin berhembus kencang seolah mengusir awan putih dan bergelung menjadi mendung kelabu.
Hujan hampir setiap hari mengguyur seluruh wilayah ibukota, beberapa wilayah bahkan sudah tergenang luapan air yang sudah tak bisa lagi masuk kedalam celah kecil menuju tanah.
Rania beruntung rumahnya bisa selamat dari genangan air hujan yang terus menerus turun dari langit. Andra juga masih bisa melanjutkan kegiatan sekolahnya yang hanya berjarak beberepa puluh meter saja dari rumah. Sebelum pindah ke Jakarta, Rania sudah terlebih dahulu mencari sekolah untuk Andra, dan kebetulan ada sekolah Islam Terpadu didekat rumahnya, yah walaupun biayanya jauh lebih mahal daripada sekolah negeri biasa, akan tetapi bagi Rania hal terpenting adalah dasar Agama sedari dini yang harus jadi prioritas utama.
Rania melongok keluar jendela rumahnya, jam sudah terus melaju mendekati jam tujuh, tapi hujan tak kunjung mereda.
Rania akhirnya memutuskan untuk memesan mobil taksi online yang bisa mengantarnya ke kantor. Biasanya Rania mengendarai motor nya untuk berangkat ke kantor. Rania sudah membeli motor matic baru sejak satu bulan yang lalu, tepat seperti janjinya pada bapak.
"Andra, Bunda berangkat dulu ya sayang.".
"Hujannya masih deras, Bunda. Nanti Bunda sakit, Bunda nggak usah masuk kerja aja.".
Rania tersenyum mendengar nasehat dari Andra, "Bunda sudah pesan mobil taksi, jadi Bunda tidak kehujanan nantinya. Bunda berangkat sekarang ya.. "
Andra langsung meraih tangan kanan Bunda nya dan menciumnya.
"Hati-hati dijalan Bunda..".
"Iya sayang, Andra yang pintar sekolahnya ya, yang nurut sama ustadzah ya.".
"Iya Bunda cantikkk... ".
Rania meremas pipi gembul anaknya dengan gemas. "Uuhhh anak Bunda paling pintar..." ucap Rania gemas pada Andra.
"Bude Inah, aku berangkat dulu ya... ", Rania berteriak keras melawan suara derasnya hujan, supaya bik Inah yang sedang sibuk mencuci piring didapur mendengarnya pamit.
"Iya mbak... hati-hati dijalan mbak... ", suara bik Inah tak kalah keras dari Rania.
"Iihh... Bunda sama Bude Inah kayak tarzan... ", Rania tertawa mendengar protes Andra karena tadi berteriak keras.
'Tin tiiinn... '
"Taksi Bunda sudah datang, Bunda berangkat ya sayang... ", Andra mengangguk patuh.
"Assalamu'alaikum... ".
"Wa'alaikumussalam, ati-ati Bunda... ".
Rania bergegas menuju Taksi online yang sudah menunggunya didepan rumah.
*
Jalanan ibukota tampak kacau, beberapa ruas jalan ada yang ditutup karena banjir. Terpaksa harus mencari alternatif jalan yang lain, dan yang pasti jaraknya lebih jauh dari jalan yang biasa Rania tempuh.
Rania mendesah pelan, hari ini dia akan terlambat masuk kantor. Dia juga tidak bisa memaksa supir taksi yang sedang dinaiki nya untuk ngebut, karena memang situasi dan cuaca yang tidak mendukung hari ini.
__ADS_1
"Rania!!", Rania langsung terhenti ditempat mencari arah suara yang tadi memanggilnya.
"Bu Sarah, selamat pagi Bu".
"Tunggu sebentar", Sarah terlihat berjalan menyusul Rania yang hampir sampai ke pintu lift.
"Kenapa buru-buru?".
"Saya sudah terlambat, Bu".
"Ah ngga papa, lagian cuaca seperti ini pasti dimaklumi kalo terlambat masuk. Kamu ikut mampir ke kantor ku sebentar ya.", Rania mengangguk patuh, akankah pagi ini dia akan mendengarkan cerita panjang kali lebar seperti biasanya?. Rania mendesah pasrah, kembali ke pasal satu ayat satu, karyawan harus selalu patuh pada pejabat tinggi perusahaan.
Lift sudah mulai naik membawa Rania dan Sarah ke lantai yang dituju.
"Emm... maaf Bu Sarah, tapi nanti sebentar saja ya Bu, saya belum menyiapkan agenda pak Arsha hari ini.", ucapnya dengan hati-hati.
"Udah, tenang aja. Arsha nggak bakalan marah sama kamu. Aku tuh sebenarnya heran sama kamu, Rania. Dulu Arsha suka sekali marah sama sekretaris nya, tapi kalo sama kamu kenapa Arsha jadi kalem gitu ya?".
'Masa si..?' Rania tersenyum tak mengerti, "Saya juga tidak tahu Bu, pak Arsha selama ini hanya bicara seperlunya saja dengan saya Bu. Itupun hanya masalah pekerjaan saja.".
"Dari dulu juga Arsha selalu irit bicara sama sekretaris nya. Tapi sekali sekretaris nya membuat kesalahan, dia pasti akan habis dimarahin sama Arsha. Dan kamu tau, Rania... Sekretaris Arsha dulu itu kebanyakan suka sekali menggoda Arsha.".
"Masa si Bu?".
"Sekretaris yang sebelum kamu pernah aku pergokin sendiri sedang pelukan dengan Arsha di kantornya!!", sungut Sarah dengan kesal.
"Hah.. !! Astaghfirullah...", Rania spontan langsung kaget dengan ucapan Sarah barusan.
"Terus Pak Arsha... ?", kalimat Rania terpotong karena lift sudah sampai dilantai tujuh.
"ayok Rania.", Sarah menarik lengan Sarah menuju ke kantornya.
"Ini buat kamu", Rania terpaku menatap papperbag diatas meja kerja Sarah yang disodorkan kedepannya.
"Apa ini Bu Sarah?".
"Buka aja, itu hadiah untuk kamu. Di buka aja.", Sarah menarik paksa tangan Rania untuk mengambil paperbag itu.
Rania membukanya dengan pelan, ternyata didalamnya masih ada dus besar bertuliskan branded ternama dan yang pasti sangat terkenal mahal harganya. Rania menatap Sarah yang sedang tersenyum menatap nya.
"Ayok, dibuka dong...", Rania membuka dus besar itu.
"MashaAllah... apa ini Bu Sarah?".
"Itu hadiah buat kamu.".
Rania menatap tak percaya, "Hadiah.. ?", Sarah menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Hadiah apa Bu? Saya tidak sedang ulang tahun hari ini.".
"Emang hadiah cuma buat ulang tahun aja?! Itu hadiah buat kamu, karena kamu sudah mau jadi teman curhat ku.".
"Tapi Bu... ".
"eits... pantang menolak pemberian orang, Rania. Aku benar-benar ingin memberikan ini padamu. Dan kamu harus menerimanya, Rania. HARUS!!"
Rania terdiam tak mengerti kenapa Sarah memberikan hadiah yang begitu mahal untuknya. Tas cantik berwarna krem, masih tergeletak manis didalam box besar itu.
"Terimakasih Bu Sarah, tapi saya masih tidak mengerti, kenapa Bu Sarah memberi saya hadiah semahal ini?".
"Karena kamu orang yang baik dan tulus padaku, itu saja.", Sarah tiba-tiba langsung menutup dus besar itu dan memasukkan kembali kedalam paperbag.
"Udah, sekarang bawa ini. Kamu pasti sudah ditunggu sama Arsha diatas.".
Rania masih terdiam saat Sarah menyodorkan paperbag itu kedepan dadanya. Rania spontan mendekapnya, "Terimakasih Bu Sarah", ucapnya pelan.
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu Rania", Rania menatap Sarah masih tak mengerti.
*
Sudah hampir dua jam lebih tapi rapat belum juga ada tanda-tanda akan selesai, masing-masing utusan dari berbagai divisi masih sibuk merevisi laporan yang terbaca salah oleh Arsha.
Arsha memang sangat perfeksionis dalam hal laporan, semua detail, angka dan susunan kata harus benar-benar menyatu satu sama lain.
"Mas Dani, pak Bos kenapa hari ini?", bisik Rania penasaran, karena sepertinya Bos nya sedang tidak mood hari ini.
"PMS kali?!", jawab Dani asal sambil melirik Arsha yang masih sibuk melihat laporan dengan muka yang sangat serius.
"Hah!!... ".
"Biasa, kalo cowo yang kepalanya dipenuhi es batu ya kaya gitu, jadi dingin. Nggak ada anget-angetnya sama sekali. Beda dengan aku, aku ini pria yang penuh kehangatan. Selalu bisa membuat orang nyaman saat bersama ku.", tunjuk Dani pada dirinya sendiri dengan bangga nya, Rania tergelak tertawa tapi langsung bisa ditahannya. Lirikan maut langsung menyapa dari seberang meja. Rania langsung menciut, menatap takut pada Arsha.
'Duh seremnya... ', Rania tertunduk, kemudian melirik Dani yang malah asyik bermain game online diponsel nya.
"Mas Dani, pak Bos lagi ngliatin kesini, mas Dani malah asik ngegame, nanti pak Bos marah loh...".
"Biarin aja, dia itu emang lagi cari mangsa buat makan malam. Habis ini kamu siap-siap aja lembur sampai malam.".
"Emang kenapa harus cari mangsa?".
"Si Bos lagi lapar, butuh asupan yang banyak. Maklum lagi masa pertumbuhan menuju kematangan. Soalnya otaknya masih setengah mateng, jadi kadang suka seenaknya sendiri.", Rania menatap Dani semakin tak mengerti.
"Silahkan semua kembali ke kantor masing-masing, saya tunggu laporannya sampai jam empat sore ini!".
Semua langsung mendongakkan kepala saat Arsha tiba-tiba saja bersuara. Dan Arsha langsung beranjak pergi meninggalkan ruang rapat dengan langkah lebarnya.
__ADS_1
"Kamu sebaiknya pamit dulu sama suami dan anakmu, hari ini dipastikan kamu akan pulang malam.", Rania terduduk lemas di kursinya, malam ini dia sudah berjanji akan menemani Andra menyusun lego robot barunya. Dia harus segera menelpon anaknya untuk minta maaf karena akan pulang malam.
'Maafkan Bunda... ', batin Rania lesu, terbayang wajah anaknya yang kecewa dimatanya.