
Kegelapan langit semakin pekat, seiring matahari yang terus tenggelam, bercampur dengan pekatnya awan mendung.
Hujan gerimis masih mengiringi dinginnya suasana ruangan Arsha yang kini tengah di isi oleh tiga orang dengan kesibukannya masing-masing. Dani dan Rania duduk di sofa dengan hamparan kertas laporan yang tadi sore terkumpul dari berbagai divisi. Rania memangku laptopnya dipaha nya, tangannya masih sibuk mengetik. Sedangkan Dani berada di sampingnya, membacakan hasil revisi laporan yang sedang diketik Rania.
Arsha duduk di kursi kebesarannya, memeriksa laporan sebelum diserahkan ke Rania untuk dimasukkan ke dalam file data.
"Rania, kamu laper nggak?", bisik Dani supaya tidak mengganggu Bos nya yang sedang serius membaca laporan.
"Sedikit, tapi masih bisa ditahan, mas.", jawab Rania dengan berbisik juga.
"Dih... kalo laper ya laper aja, kok pake sedikit lapernya. Aku pesankan makanan ya, kamu suka Sushi nggak?".
Arsha melirik Dani dan Rania yang sedikit mengusik nya dengan suara bisikan di depannya.
"Suka mas, tapi jangan yang salmon mentah, aku nggak suka, bau amis.", Rania mengerutkan hidungnya seolah mencium bau amis di hidungnya
"Mau isian apa aja?".
"Tuna sama beef aja mas, yang spicy.".
Arsha semakin terusik dengan suara berbisik di seberang mejanya. Dua orang didepannya kenapa seperti menganggap nya angin lalu, sibuk berbisik berdua tanpa mengindahkan nya sama sekali.
"Ehhemm... !!", Suara deheman yang terdengar disengaja, membuat dua orang yang sedang duduk disofa langsung berpaling menatap Arsha.
"Bos, Rania katanya lapar. Dia minta beli Sushi untuk makan malam. Bos mau juga?".
Rania melotot menatap Dani, 'Kenapa selalu aku yang dijadikan alasan sih.. ?' Rania cemberut menatap Dani disebelah nya.
"Mas, aku kan nggak ngomong gitu tadi.. ", protes Rania masih dengan suara berbisik.
"Kamu beli saja sana, beli seperti biasa, tiga paket lengkap.", perintah Arsha pada Dani.
"Oke siap, Bos!", Dani langsung meletakkan laporan diatas laptop Rania, "Rania aku beli sushi nya dulu ya, kamu baik-baik disini, hati-hati sama si Bos yang lagi lapar.", bisik Dani sambil menyeringai meledek Rania. Rania semakin cemberut mendengar ledekan Dani padanya, kemudian melanjutkan mengetik laporan yang tadi terhenti.
Sepeninggal Dani, Arsha berjalan menghampiri Rania yang masih sibuk dengan laptopnya.
'Waduh pak Bos, kenapa kesini. Silahkan duduk manis saja dikursi kebesaran anda pak Bos, tolong jangan kesini..', batin Rania mulai panik, kemudian menggeser duduk nya lebih ke pinggir sofa, dan melihat bayangan Arsha semakin mendekat kearahnya.
"Sudah sampai mana?", Arsha duduk tepat didepan Rania.
"Hampir selesai laporan dari divisi keuangan, Pak.", jawab Rania tanpa menoleh kearah Arsha.
Rasa canggung diantara mereka sangat terasa kini, Arsha menatap Rania yang masih menunduk menatap laptop yang berada di pangkuannya.
'Kenapa dia tidak mau menatapku? Apa aku terlihat menyeramkan? Kenapa kalau sama Dani bisa begitu akrab?', batin Arsha agak kesal dalam hati.
"Suamimu kerja dimana?".
Rania menoleh ke kanan dan ke kiri, barusan Bos nya bertanya padanya atau siapa?. Lalu menatap Bos nya bingung, apa itu pertanyaan buat dia.
"Aku bertanya padamu, Rania, cuma ada kamu dan aku diruangan ini.", ucap Arsha agak kesal karena Rania seperti tidak menanggapi nya.
Rania menatap Arsha terkejut, ini adalah pertanyaan pertama diluar semua hal tentang masalah pekerjaan. Apakah ini harus dicatat di batu prasasti sebagai sebuah prestasi kerjanya selama dua bulan ini yang tidak pernah diajak bicara diluar masalah pekerjaan.
"Su..suami saya, Pak?".
"Lupakan!", Arsha merasa gengsi bercampur dongkol, mengacuhkan Rania yang sekarang gantian menatapnya.
__ADS_1
"Maaf Pak..., suami saya dulu kerja di perusahaan Elektronik.".
Arsha kembali menatap Rania yang akhirnya mau menjawab pertanyaan nya. "Dimana?".
'Obrolan macam apa ini, Ini seperti sedang di interogasi tim penyelidikan kasus pencurian... ', batin Rania gelisah.
"Dulu di Kalimantan.".
"Dulu??".
"Iya Pak, dulu.".
"Sekarang?".
'Ya ampun.... obrolan macam apa ini... ?' Rania meremas tangannya yang sudah mulai dingin.
"Sekarang di Salatiga, Pak.".
"Kerja juga disana?".
Rania mengalihkan pandangannya ke meja didepannya. "Tidak, Pak", jawabnya dengan suara pelan.
Arsha memajukan tubuhnya, siku tangannya menumpu pada kedua lututnya. "Nggak kerja?!!", ucap Arsha kaget.
Rania hanya diam, tapi kepalanya mengangguk pelan, sambil tersenyum paksa.
"Jadi kamu yang kerja, sementara suamimu di Salatiga dan nggak kerja?!".
"I..iya, Pak".
"Lalu anakmu?".
"Anak ikut saya di Jakarta, Pak.".
Arsha menyenderkan punggungnya lagi dikursi.
"Kamu sudah cerai sama suamimu?".
Rania menatap Arsha kaget, kenapa jadi ada kata cerai?, "Tidak, Pak. Saya tidak bercerai dengan suami saya.", bantah Rania dengan cepat.
"Lalu kenapa suamimu tidak ikut kamu ke Jakarta saja? Suamimu pengangguran, harusnya dia membantu mu menjaga anakmu disini.".
"Suami saya bukan pengangguran, Pak.".
"Tadi kamu bilang suamimu tidak kerja. Terus apa namanya kalau bukan pengangguran? Kenapa juga dia tidak ikut ke Jakarta?".
Rania terdiam sejenak, "Karena.... ", Rania kebingungan mau menjawab apa, kenapa juga pak Bos detail sekali pertanyaannya.
"Karena??", tanya Arsha semakin penasaran.
"Karena suami saya sedang istirahat di Salatiga, Pak", jawab Rania asal.
"Hahh.. !!", Arsha menatap Rania tak percaya.
"Tapi suami saya orang yang sangat baik, Pak. Pak Arsha jangan salah paham dulu, dia suami yang sangat bertanggung jawab pada saya dan anaknya.".
"Dimana letak tanggungjawabnya? Seharusnya suami mu yang bekerja dan kamu yang urus anak dirumah, bukan malah lepas tanggungjawab membiarkan istrinya sendiri kerja sekaligus mengurus anak. Sementara dia sendiri, apa tadi kamu bilang? Istirahat...?!", Arsha tergelak tak percaya ikut merasa geram mendengar suami Rania seorang pengangguran.
__ADS_1
Rania menunduk dalam, tiba-tiba saja ingin menangis saat ini juga. Bagaimana harus menjelaskannya, rasanya tidak rela ada orang yang tidak percaya kalau Andre benar-benar orang yang sangat baik.
Arsha menatap Rania yang menunduk dalam, 'Apa aku terlalu kasar bicaranya? Kenapa Rania jadi sedih begitu? ', batin Arsha agak menyesal.
Suasana kembali terasa kaku dengan diamnya Rania dan rasa bersalah Arsha.
"Makanan datang...!!", Pintu kantor Arsha terbuka lebar, dan Dani muncul dengan bungkusan box makanan dikedua tangannya.
"Mas Dani.. ", spontan Rania langsung berdiri menghampiri Dani yang baru saja masuk ke kantor Arsha.
'Alhamdulillah, harus dikasih medali penyelamatan kayanya mas Dani, pas banget datangnya. Makasih mas Dani', batin Rania senang melihat Dani yang sangat pas kedatangannya.
'Mas Dani... ?', Arsha menatap dua orang yang kini sedang sibuk dengan makanan yang masih ada ditangan Dani. 'Wah...', ternyata selama ini banyak hal yang tidak Arsha ketahui tentang asisten dan sekretaris nya itu.
"Sini mas, biar aku saja yang menyiapkan, Mas.".
"Udah kamu duduk aja, ini kan sudah di kemas per box, jadi kita tinggal makan aja.".
"Oh iya ya... ", Rania tersenyum malu kemudian mengikuti Dani berjalan ke arah sofa, melirik kearah Arsha yang sedang menatap nya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dani meletakkan box makanan diatas meja, "Bos, sebaiknya kita makan dulu. Kasihan Rania belum makan, tadi dia bilang tugas ini sangat menguras tenaga dan pikirannya. Jadi sebelum Rania pingsan, sebaiknya kita istirahat dulu sebentar.".
'Plak.. !!'
"Auww... Bos, kepalaku ini cuma ada satu-satunya didunia. Gimana kalo sampai trauma karena terlalu sering di pukul pake map.".
"Siapa bilang kepalamu cuma satu?! Kamu itu manusia bermuka dua, jangan pura-pura baik didepan Rania!", rasanya puas juga melampiaskan rasa kesal yang tiba-tiba muncul dan tidak tau alasannya apa, tapi entah kenapa Arsha sangat ingin sekali menghajar asistennya itu.
Rania hanya bisa terdiam melihat kelakuan Bos dan asistennya yang selalu tidak akur seperti kucing dalam karung.
"Ayo Rania, kita makan diluar saja. Kalo makan disini, aku takut kamu juga habis ikut dimakan sama orang yang lagi lapar.".
Dani membawa dua box makanan yang tadi sudah diletakkan diatas meja, lalu pergi keluar ruangan, meninggalkan Rania yang masih berdiri ditempatnya kebingungan.
"Pak Arsha, saya... ".
"Pergilah... !", ucap Arsha cepat, karena tau Rania pasti tidak akan nyaman berada di rungan yang sama dengannya.
"Baik, Pak. Permisi.", Rania langsung berjalan keluar menyusul Dani.
*
Dan akhirnya setelah menghabiskan waktu beberapa jam, semua data dan laporan sudah selesai dikerjakan. Rania bergegas merapikan semua laporan dan menyimpannya didalam lemari kantor.
Hampir jam delapan malam, Rania harus segera pulang kerumah sebelum Andra tertidur. Dia ingin meminta maaf karena sudah melanggar janjinya pada Andra, walaupun tadi sore sudah meminta maaf lewat video call, tapi rasanya belum puas kalau belum bertemu secara langsung.
Dani dan Arsha sudah siap di depan meja kerja Rania, menunggu Rania supaya bisa turun ke lantai satu bersama-sama. Rania setengah berlari menyusul Dani dan Arsha yang sudah masuk kedalam lift.
"Kamu tau, Rania. Sebenarnya kalo malam di lift ini sering muncul sosok laki-laki tinggi bermuka bengis dari belakangmu.".
Rania spontan langsung memutar kepalanya menghadap kebelakang, lalu beringsut mendekati sisi belakang Arsha. Tangannya mendekap erat tas kerja yang dibawanya.
"Nah pas diposisi mu itu, sosok itu berpindah ke depan mu. Lalu... ".
'Bugh... ', sikutan maut dari Arsha langsung mendarat di perut Dani.
"Auuwww... ", pekik Dani kesakitan sambil memegang perutnya.
__ADS_1
"Kamu mau aku turunkan lewat jendela, Dan?!", Dani langsung terdiam seribu bahasa mendengar ancaman dari Bos nya. Rania tersenyum melihat dua orang yang benar-benar seperti Tom and Jerry.