
..."Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) Subuh. Sungguh, sholat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).(Qs.Al-Isra':78)...
Lantunan ayat suci Al-Quran terdengar lirih dari bibir Rania, menyibak lembar demi lembar kitab suci kecilnya yang selalu dibacanya setiap hari saat selesai sholat dirumah.
"Alhamdulillah... ", Rania beranjak dari atas sajadah nya yang membentang disamping bawah tempat tidurnya. Matahari sudah mulai memancarkan cahayanya, menerangi langit Jakarta, dan hari ini sepertinya akan cerah.
"Bunda... ", Rania menoleh, menatap Andra yang sedang mengerjapkan matanya.
"Assalamu'alaikum... ", sapa Rania pada putranya.
"Waalaikumsalam... ", sahut Andra dengan suara parau.
"Ayo baca doa bangun tidur dulu. ".
"Alluhummahilladzii ahyanaa ba'damaa amaatanaa wailaihinnusyuur. ", ucap Andra dan Rania berbarengan.
"Sekarang sholat Subuh dulu ya.., udah hampir siang, malu sama matahari yang sudah bangun dari tadi."
"Iya Bunda, Andra mau pipis dulu. "
"Sini Bunda bantu bangunnya yaa... "
Rania mengangkat punggung Andra, kemudian menggandeng tangan kanannya kekamar mandi kamarnya. Andra masih harus dibantu untuk melakukan aktivitas nya, karena tangan kirinya masih terpasang gips sampai sekitar dua bulan kedepan.
Setelah sholat Andra menemani Bunda nya yang sedang melakukan senam yoga didepan layar televisi, Andra duduk disofa memainkan lego dengan satu tangannya.
"Bunda, ada telepon!", seru Andra saat ponsel Rania berbunyi. Rania bergegas mengambil ponselnya yang dia letakan diatas meja kecil dekat sofa.
'Ibu? aduh gimana ini?', Rania tampak gelisah menatap layar ponselnya yang tertera nama Ibu.
"Siapa yang telpon, Bunda?".
"Yang Uti telpon, Bunda belum kasih kabar Andra habis kecelakaan kemarin. ", jawab Rania dengan raut wajah cemas. Dia memang sengaja belum memberitahu Bapak Ibu tentang kecelakaan yang Andra alami, karena takut akan membuat khawatir orang tuanya di Jogja.
Rania menarik nafasnya dalam-dalam, meredam rasa cemasnya. "Assalamu'alaikum, Ibu. "
Wajah Ibu langsung muncul saat Rania menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan video Ibunya.
"Waalaikumsalam... Gimana kabarmu Ra? Kamu sama Andra sehat kan? ".
"Alhamdulillah sehat semua, Bu. Ibu Bapak sehat juga kan?"
"Alhamdulillah, ibu sama Bapak juga sehat. Andra dimana? Belum bangun?".
"Udah Bu, Andra udah bangun. "
"Mana, Ra. Ibu kangen banget sama Andra. "
Rania langsung mendekati Andra yang duduk disofa, meyakinkan diri untuk bisa mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Ini Andra, Bu. "
"Assalamu'alaikum Yang Uti... ", sapa Andra begitu Rania menyodorkan ponselnya di depan wajahnya.
"Waalaikumsalam, Andra. Yang Uti kangen banget sama Andra. "
"Andra juga kangen Yang Uti sama Yang Kung. "
"Andra tambah besar, pinter, ganteng, sebentar lagi mau lima tahun yaa?".
"Iya... Yang Kung dimana, yang Uti?".
"Yang kung lagi di kamar mandi, sebentar yaa.."
Rania menggeser ponselnya lagi ke wajahnya.
"Ibu, maaf Rania mau mengabari sesuatu. Tapi ibu janji dulu jangan marah sama Rania.".
"Kabar apa, Ra?", tanya Ibu penasaran.
__ADS_1
"Emm... Maaf Bu, Andra empat hari yang lalu kecelakaan diserempet motor didepan sekolahnya. "
"Innalillahi... Ya Allah... Ra, terus gimana Andra?", terdengar suara Ibu sudah hampir menangis.
"Alhamdulillah, Andra sudah dioperasi, Bu. Tangannya digips sampai dua bulanan kedepan. " Rania memperlihatkan tangan kiri Andra yang sudah terbungkus gips putih pada Ibu nya.
"Ya Allah, Ra... Kenapa baru kasih tau Ibu?" , nah benarkan, Ibu pasti akan khawatir.
"Maaf Bu, Rania takut Bapak Ibu khawatir. "
"Ada apa, Bu?", tanya Bapak yang baru selesai dari kamar mandi, penasaran melihat istrinya menangis sambil menelepon.
"Ini lho Pak, Andra habis keserempet motor. Tangannya digips. "
"Innalillahi... Mana Andra, Ra?".
"Ini Andra, Pak. Maaf ya Pak, Rania baru kasih kabar sekarang. "
"Halo Yang Kung... ", sapa Andra pada Bapak.
"Andra, gimana tangannya?".
"Ini Yang, udah nggak sakit kok. ", Andra mengangkat tangan kirinya.
"Alhamdulillah... Tenang, Bu, Andra sudah nggak papa kok. Andra kan anak yang hebat, sehat kuat, kayak tentara pelindung Bunda. ", ujar Bapak mencoba menenangkan Ibu.
"Iya Yang Kung, Andra kan kuat. ", Andra mengepalkan tangan kanannya dan menunjukkannya pada Bapak.
"Rania, mbok yo kalo ada apa-apa Ibu sama Bapak dikasih tau. ", ucap Ibu yang masih menangis sesenggukan.
"Iya Bu, maafkan Rania. Rania mengaku salah. ".
"Syukur Alhamdulillah, Andra baik-baik saja. Ya udah dulu ya, Ra. Ini Ibu mu masih nangis, Bapak mau tenangin dulu yaa. "
"Iya Pak, sampaikan maaf buat Ibu ya Pak. "
"Iya iya... Udah kamu nggak usah khawatir, biar Bapak yang nangani Ibu mu. Assalamu'alaikum. "
"Yang Uti kenapa nangis, Bunda?".
"Yang Uti sedih tau Andra habis kecelakaan. "
"Tapi kan Andra nggak papa Bunda. "
"Iya sayang, alhamdulilah Andra sehat dan kuat. "
Rania memejamkan matanya, 'astaghfirullahaladzim...', batin Rania menyesal, memang seharusnya dia memberi kabar pada orang tuanya sejak awal. Hal inilah yang ditakutkan nya, kekhawatiran orang tuanya terutama Ibu yang sangat sensitif perasaannya.
Tidak lama, ponsel Rania yang masih dipegangnya kembali berdering tanda panggilan masuk. Tertera nama 'Siska' dilayar ponsel, Rania segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan Siska.
"Assalamu'alaikum, Siska... ".
"Waalaikumsalam, Rania sayaaang... I miss so much, Rania... !!"
Rania menjauhkan ponselnya dari telinga karena suara Siska yang begitu keras berteriak dari seberang sana.
"Kamu itu masih saja suka teriak kayak Tarzan. Apa kabar Siska?".
"Selalu baik dan bahagia dong... ehhh gimana kabar mu sama Andra? Sehat juga kan? Ya ampun Rania... aku kangen banget sama kamu... ".
"Alhamdulillah sehat semua, Sis."
"Terus gimana kerjaan mu dikantor? Bos mu masih dingin kayak kulkas sama kamu?".
Rania mendesah pelan, "Yah, mau gimana lagi. Itu emang sudah melekat jadi karakter khusus Bos kulkas. Kalau aku sekarang udah nggak mau lagi ambil pusing, Sis. Yang penting aku kerja yang bener nggak bikin masalah, udah gitu aja... Terserah mau suka atau tidak?".
"Iya juga sih yaa... ngapain juga malah dimasukin ke hati, nanti malah jadi kamunya yang pusing sendiri."
Rania tersenyum mendengar suara sahabatnya yang tidak ada lelahnya terus bicara. Siska selalu tidak lupa menelponnya hanya sekedar menanyakan kabarnya dan Andra, atau sekedar ingin curhat tentang semua hal yang dialaminya. Rania merasa sangat beruntung mempunyai sahabat seperti Siska yang selalu bisa menghiburnya disaat dia sedang merasa sedih atau pusing dengan masalah pekerjaannya.
__ADS_1
*
Selepas waktu sholat Dhuhur, tepatnya hampir jam dua siang, sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilat terparkir didepan rumah Rania. Sang pemilik mobil sudah turun dan kini berada tepat didepan pintu rumah Rania.
'Tok.. tok.. tok.. '
"Iya sebentar... ", sahut suara Rania dari dalam rumah.
Saat pintu terbuka, Rania terpaku melihat seseorang yang berdiri tepat didepan pintu rumahnya. Seorang laki-laki dewasa dengan postur tubuh yang tinggi menjulang, memakai kaos oversize warna biru langit dan celana jeans panjang sudah berdiri tepat didepannya. Mungkin orang lain tidak akan menyangka kalau pria ini sudah berumur 35 tahun lebih karena penampilan nya kali ini seperti anak kuliah berusia 20 tahunan.
"Pak Arsha?!", ucap Rania dengan suara pelan.
Sungguh penampilan yang berbeda dengan yang biasa Rania lihat dikantor, kali ini Bosnya terlihat lebih santai, friendly, tidak angkuh dan dingin seperti biasanya.
"Apa Andra sudah siap?", tanya Arsha menyadarkan Rania dari keterkejutan nya.
"Oh Andra, sebentar Pak, silahkan masuk dulu. "
Arsha mengikuti Rania masuk kedalam rumah, kemudian langsung duduk disofa ruang tamu tanpa menunggu dipersilahkan terlebih dahulu oleh Rania.
"Om Arsha... !", seru Andra yang langsung berlari menghampiri Arsha dari ruang tengah.
"Andra, jangan lari-lari dulu. ", Arsha langsung mendekap Andra begitu sampai didepannya.
"Hehehe... ", Andra hanya tertawa lucu melihat kekhawatiran Arsha.
"Andra sudah siap?".
"Udah Om. ".
"Kalo gitu ayo kita berangkat. "
"Ayok... !", seru Andra senang.
"Ayok Bunda. ", ajak Andra saat melihat Rania yang masih terdiam didepan meja tamu.
"Bunda nunggu Andra dirumah saja ya..", ucap Rania yang memang enggan untuk ikut pergi dengan Bos nya itu.
"Nggak mau, Bunda harus ikut juga... ", rengek Andra sudah hampir menangis.
"Kamu ikut saja, jangan bikin Andra sedih. ", Arsha menatap Rania dengan ekspresi wajah yang datar. Siapa juga yang mau anaknya sedih, tapi rasanya canggung sekali kalau harus pergi dengan Bos nya yang kaku itu.
"Ayok Bunda... ", Andra masih merengek meminta Rania untuk ikut.
"Iya baiklah, Bunda ambil tas dulu ya. "
Rania langsung bergegas masuk kedalam kamarnya, mengganti baju rumahnya dengan setelan blouse dan celana kulot lebar, dan dipadukan dengan pasmina panjang yang dikalungkan ke leher dan satu sisinya tetap menjuntai kebawah menutup bagian dadanya.
Setelah mengambil tas slempangnya dan tidak lupa berpamitan dengan bik Inah, Rania segera menyusul Andra dan Arsha yang sudah menunggu nya di depan rumah.
Arsha hanya melirik sekilas saat Rania sudah ada didekatnya, kemudian langsung membimbing Andra untuk duduk di samping kursi kemudinya. Hari ini Arsha mengendarai mobilnya sendiri, tanpa didampingi pak Joko yang biasa mengantarkannya ke kantor. Rania langsung masuk kedalam mobil dan duduk tepat dibelakang kursi yang diduduki Andra.
Arsha memasang sabuk pengaman kursi Andra, sebelum memakai sabuk pengaman di kursi nya sendiri.
"Kenapa harus pakai ini Om?", tanya Andra penasaran.
"Ini namanya safety belt gunanya untuk melindungi penumpang mobil dari bahaya saat naik mobil, biar kita semua aman dan selamat saat berkendara."
"Oohh... Bunda pakai juga, biar aman. ", nasehat Andra pada bunda nya.
"Iya sayang, Andra jangan lupa berdoa dulu sebelum berangkat. "
"Iya Bunda...", ucap Andra yang langsung menengadahkan tangan kanannya dengan mulut kecilnya yang bergerak lucu membaca doa dengan suara yang lirih.
Sedangkan Rania berdoa dalam hati, semoga nanti cepat dapat lego yang dicari dan langsung bisa pulang ke rumah tanpa harus berlama-lama dengan Bos nya itu.
"Andra siap?".
"Siap Om! ", sahut Andra semangat.
__ADS_1
"Oke, mari kita let's go!"
"Yeayy... Let's go!", seru Andra girang.