
Satu kata yang bisa mewakili perasaan Rania saat ini, 'Kesal' dengan si Bos keras kepala ini.
Bagaimana tidak jengkel dengan kelakuan Arsha si Bos kulkas, semua mainan yang ditunjuk Andra hampir semuanya dibeli. Bahkan mainan yang menurut nya tidak perlu dan tidak penting sama sekali untuk menunjang tumbuh kembang Andra yang usianya hampir lima tahun juga dibeli oleh Bos nya.
"Om Arsha, Bunda nggak bolehin beli mainan banyak-banyak. ", bisik Andra yang melihat Bunda nya sedikit masam wajahnya.
"Kan Om sudah janji sama Andra. "
"Om Arsha kan janjinya cuma mau beliin lego dino buat Andra, kan udah beli tiga, gede-gede lagi. "
"Nggak papa, uang Om banyak, nanti kalo nggak buat beli mainan uang Om jamuran. "
"Apa itu jamuran, Om?", Arsha terdiam, bingung dengan pertanyaan Andra, memang harus hati-hati kalau bicara sama Andra.
"Jamur itu... emmm... "
"Jamur itu tumbuh nya ditempat yang lembab, tumbuhan yang bisa tumbuh sendiri karena terbawa angin dan menempel pada suatu benda. ", terang Rania pada Andra.
"Nah iya, uang Om kalo disimpan terus dilemari kan nanti jadi lembab, terus jamuran deh. "
"Oohhh... Bunda Andra mau liat mobil balap disana boleh?".
"Boleh sayang, tapi tidak boleh jauh-jauh dari Bunda yaa. "
Andra langsung berlari menuju rak yang berisi banyak mobil balap dengan berbagai jenis. Arsha membuntuti dan berhenti disebelah rak mainan tak jauh dari Andra, supaya bisa mengawasi Andra yang sedang sibuk mengamati mobil didepannya. Rania berjalan mendekati Arsha.
"Pak Arsha, maaf, saya mohon sudah cukup beli mainannya. ", Rania setengah berbisik dekat telinga Arsha saat Arsha sedang membungkuk meraih mobil balap remot didepannya. Arsha langsung menoleh, tepat didepan wajah Rania yang sedang berbisik didekatnya, spontan Rania langsung memundurkan wajahnya kaget.
"Aku tidak beli pakai uang kantor, ini uang pribadi ku.", ucapnya datar.
"Saya tau itu uang pribadi Pak Arsha. "
"Terus kenapa aku tidak boleh membelanjakan uang ku sendiri?".
"Maksud saya, sudah cukup beli mainannya untuk Andra. "
"Kenapa? Kamu tidak suka? Tapi Andra suka dengan mainannya. "
"Tapi Pak, saya tidak pernah mengajari Andra beli mainan sebanyak ini."
"Itu karena kamu terlalu pelit. "
Rania terdiam, menghela nafasnya yang tiba-tiba terasa panas dan berat, emosi sekali dikatakan pelit oleh Bos kulkas ini.
"Ini sama sekali tidak mendidik Andra, Pak!"
Arsha menatap Rania yang wajahnya sudah memerah karena emosi, lalu tersenyum geli seperti meledek. Rania semakin mengeraskan raut wajahnya nya yang sudah semakin merah karena emosi. 'Astaghfirullahalazim...', Rania memejamkan matanya, mencoba menahan emosi yang tiba-tiba sudah naik diatas ubun-ubun.
"Kenapa Bapak malah tertawa, Andra itu anak saya. Saya yang mendidiknya dari kecil, tolong jangan buat Andra jadi anak manja dengan banyak mainan. ", ucap Rania masih dengan suara pelan namun tegas.
__ADS_1
"Siapa yang mau buat Andra jadi anak manja? Andra masih kecil, biarkan masa kecilnya bahagia sebagai anak kecil yang punya banyak mainan. ".
"Itu namanya tidak mendidik, Pak. "
"Yang mendidik itu guru, kalau aku cuma bisa beliin Andra banyak hadiah mainan biar dia bahagia. "
"Selama ini Andra bahagia dengan mainan yang dia punya. "
"Mainannya terlalu sedikit, kamu terlalu pelit. "
"Pak... "
"Om Arsha, ini mobil balap kayak lego mobil Om Arsha. ", seru Andra yang langsung memutus perdebatan Rania dan Arsha.
"Waahhh iya, mirip sama lego mobil balap, Andra mau?".
Andra langsung melirik kearah Bunda nya yang terdiam dengan muka cemberut.
"Om, Bunda... "
"Biar saja, Bunda mu cemberut jadi nggak cantik, kalo kebanyakan cemberut nanti jadi cepet tua, kaya nenek-nenek yang giginya ompong. ", Andra terkekeh pelan sambil melirik bundanya taku-takut, dan Arsha semakin menjadi meledek Rania, melemparkan senyum miring pada Rania.
Rania semakin gondok mendengar bisikan Arsha pada Andra yang masih bisa didengar olehnya.
"Andra mau mobil balap ini?", tunjuk Arsha pada mobil yang sedang dipegang Andra.
"Nggak mau Om, mainannya udah banyak, iya kan Bunda?", tanya Andra pada Rania dengan suara takut-takut dan pelan supaya Bunda nya tidak marah.
"Ayo kita bayar mainannya, sebelum Bunda mu tambah cemberut. ", bisik Arsha lagi pada Andra.
Rania hanya terdiam menatap Arsha yang menggendong Andra melangkah meninggalkan nya menuju ke kasir. Ini tidak bisa dibiarkan, hanya beberapa hari saja Andra sudah semakin dekat dengan Arsha. Bos nya itu sudah mulai banyak mempengaruhi Andra dan memanjakannya dengan begitu banyak mainan.
Tapi bagaimana caranya membatasi Arsha untuk berhubungan dengan Andra? Sedangkan Andra sendiri begitu terlihat bahagia saat bersama dengan Arsha. Dan Rania seperti tidak punya kuasa untuk menolak Arsha setiap kali mau menemui Andra.
*
Setelah puas belanja mainan, dengan disertai drama perdebatan Rania dan Arsha soal mainan, Arsha mengajak Andra dan Rania untuk makan di restoran yang terkenal karena salah satu kokinya merupakan chef terkenal di Indonesia dan sering muncul di televisi. Sebenarnya Rania sudah menolak ajakan makan bersama Bos nya itu, rasanya sudah benar-benar kesal dengan kelakuan Arsha yang seenaknya sendiri.
"Andra mau makan apa?", tanya Arsha yang sudah duduk disamping Andra, sementara Rania duduk diseberang meja tepat didepan Andra.
"Bunda, Andra makan apa ya?", Andra melempar pertanyaannya pada bundanya.
Rania langsung membuka buku menu yang disodorkan oleh pelayan restoran didepannya.
"Andra mau Chicken steak apa pizza tuna?".
"Mau pizza!", seru Andra setengah berteriak.
"Pizza tuna, mas. Minumnya ice lemon tea. "
__ADS_1
Rania menutup lagi buku menunya, melirik jam ditangannya, ternyata sudah hampir jam lima sore.
"Kamu sendiri mau makan apa?", tanya Arsha pada Rania.
"Saya masih kenyang Pak, tidak usah saja. " sahutnya pendek, entah kenapa rasanya moodnya langsung anjlok seketika setelah tadi berdebat dengan Arsha saat di toko mainan.
"Andra, Bunda sholat ashar dulu ya, Andra mau ikut Bunda?", Andra menjawab dengan anggukan pelan.
"Ayo Om Arsha, kita sholat dulu. "
Arsha langsung terdiam, sementara Rania hanya melirik menunggu respon Arsha. Yang dia tau, Bos nya memang seorang muslim tapi selama ini sepertinya dia tidak pernah menjumpai Bos nya melaksanakan sholat.
"Emm, nanti Om Arsha susul ya, Om mau pesan makanan dulu. "
"Bunda, Andra nanti sholat nya sama om Arsha aja. ", Rania tersenyum senang, 'bagus!', siapa tau Andra lah yang jadi pembuka pintu hati Arsha Wiguna Bos dingin dan keras kepalanya itu untuk mendapatkan hidayah.
Arsha hanya diam, matanya masih sibuk dengan buku menu. Rania segera berlalu, menghampiri pelayan restoran yang sedang berdiri didepan kasir, menanyakan mushola restoran, dan Alhamdulillah restoran menyediakan mushola dipojok belakang restoran.
Saat Rania selesai sholat, Andra dan Arsha baru masuk ke dalam mushola, Rania tersenyum melihat Bos nya yang begitu patuh digandeng Andra. Rambut dan tangannya basah karena air wudhu, celana nya digulung sampai atas mata kakinya.
"Om Arsha jadi Imam nya Andra ya. ", ucap Andra dengan polos.
"Andra sholat sendiri saja ya. ", bisiknya pelan, sambil melirik Rania yang masih duduk dibelakang, seperti sedang mengamatinya.
"Kata Ustadz, lebih baik sholat berjamaah, nanti pahalanya ditambah 27 kali lipat.", cerocos Andra yang disambut anggukan patuh dari Arsha.
Akhirnya keduanya berdampingan sholat berjamaah, ada rasa sejuk dan tenang yang mengalir dalam diri Rania, semoga Allah selalu memberikan hidayah pada umatNya yang telah lalai pada kewajibannya.
Kini ketiga nya sudah duduk kembali dimeja makan restoran, berbarengan dengan dua orang pelayan yang datang membawa makanan yang tadi dipesan. Rania terpaku bingung saat disodori sepiring steak didepannya.
"Maaf mas, saya tidak pesan ini. ".
Pelayan itu melirik kearah Arsha.
"Aku yang pesan untuk mu, biar kamu tidak kekurangan gizi, kamu pasti pelit juga kalo soal makanan kan?!", Rania langsung mengeratkan giginya, geram sekali mendengar kata-kata Arsha barusan. Kenapa jadi suka sekali meledek dengan kata-kata pelit. Tadi sewaktu sholat ashar padahal sudah hampir hilang rasa kesalnya, sekarang seperti luka disiram cuka lagi rasanya, kesal!!!.
"Om Arsha, Bunda kalo dirumah sukanya makan sayur bening buatan bude Inah. ", Arsha langsung tersenyum miring menatap Rania yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Ayo kita makan, biar badan sehat dan kuat. ", ucap Arsha penuh kemenangan.
"Ayo Om!".
"Andra, berdoa dulu sebelum makan. ", Andra meletakkan kembali sendok diatas piringnya, lalu berdoa.
"Sudah Bunda. ", ucapnya cepat.
Rania menatap steak di piringnya, tampak menggoda sekali dengan lumeran saos diatas dagingnya yang sepertinya sangat juicy saat digigit.
"Kamu nggak akan kenyang kalo cuma menatap makanannya kaya gitu. ", ucap Arsha yang mulutnya sudah di penuhi steak.
__ADS_1
Rania kembali melirik Arsha sebal, menghela nafasnya pelan mencoba bersabar dengan Bos kepala batunya itu, benar-benar hancur moodnya hari ini. Kenapa Bos nya jadi cerewet sekali hari ini? Kemana perginya Bos dingin dan jaim nya selama ini? Apa memang benar orang ini punya dua kepribadian ganda?. Rania menggelengkan kepala mengusir pikiran yang mengganggu nya. Setelah berdoa, akhirnya dengan malas Rania memakan steak didepannya, karena sayang juga akan mubazir jika tidak dimakan. Matanya langsung melotot saat dia mulai menggigit daging di mulutnya, 'MasyaAllah... enak banget', daging nya sangat empuk dan benar-benar juicy saat digigit. Baru kali ini dia makan steak seenak ini, pantas saja restoran mewah ini ramai pengunjung meski harga makanannya fantastis.
'Alhamdulillah, terimakasih atas nikmat yang Kau berikan ya Allah...', batin Rania senang karena bisa makan makanan seenak ini, sepertinya steak ini jadi moodbooster nya saat ini.