
Entah sudah berapa lama Rania terduduk di atas closet dikamar mandi itu, tubuhnya saat ini benar-benar terasa lemas tak bertenaga. Keringat dingin terus mengalir diseluruh tubuhnya dan wajahnya sudah terlihat putih memucat. Airmata nya kembali mengalir disela mata yang masih terpejam, bingung harus bagaimana dan apa yang harus dia lakukan dengan situasi seperti ini.
Rania menarik nafasnya dalam-dalam dan mencoba untuk berpikir jernih demi keselamatan bayi yang ada di perutnya, dengan pelan merogoh saku rok nya dan mengeluarkan HP nya, kemudian mengirimkan chat pesan pada Siska yang kini tengah berada diruang rapat bersama Arsha.
Rania : ' Siska, tolong aku Sis... '
Siska : ' Kamu dimana Ra?. Kami dicariin dari tadi sama suami mu. ".
Rania : ' Aku dikamar mandi, tolong kesini sekarang Sis, aku lemes banget. '.
Siska : ' Oke sebentar, aku masih diruang rapat sama pak Dani. Aku bilang dulu sama suami mu, dia udah keluar dari tadi, sepertinya sekarang udah ada diruangan nya. '.
Rania : ' Jangan Sis, jangan bilang ke mas Arsha. Tolong kamu aja yang kesini sekarang. '.
Siska : ' Kamu kenapa sih Ra?. Jangan bikin aku takut deh Ra. '.
Rania tidak membalas chat Siska karena kepalanya seperti berputar saat menatap layar HP nya.
Siska : ' Oke bentar Ra, aku pamit dulu sama pak Dani. '.
Sesaat kemudian Siska dan Dani sudah ada didepan pintu kamar mandi dimana Rania berada dengan panik dan cemas.
" Rania, kamu masih didalam kan Ra?. ", Siska menggedor pintu kamar mandi yang tertutup rapat itu.
Pintu terbuka dengan pelan, " Sis, tolong bawa aku keluar dari sini. ", ucap Rania lirih sambil bersandar di daun pintu.
" Ya Ampun Ra, kamu kok pucet banget mukanya. Kamu kenapa Ra? ", Siska segera memapah Rania dan mengeluarkannya dari kamar mandi.
" Rania, kamu kenapa? ", Dani ikut kaget melihat wajah Rania yang sudah pucat pasi. Ingin membantu memapah Rania tapi takut membuat Rania kurang nyaman.
Rania seperti tak mampu menjawab, hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemah sambil terus bersandar di tubuh Siska yang sedang memapahnya menuju ke ruang kerjanya.
" Pak Dani, tolong bilang ke pak Bos... ".
__ADS_1
" Jangan... ", potong Rania cepat, Dani dan Siska sama-sama terkejut mendengar penolakan dari Rania, " Tolong jangan bilang padanya. Dia sedang ada tamu sekarang. Sekarang antar aku ke rumah sakit terdekat aja ya Sis. ", pinta Rania lirih.
" Pak Dani bisa minta tolong panggilkan taksi?. ", Dani langsung menghubungi seseorang di HP nya, sepertinya pak Joko yang dimintai tolong oleh Dani untuk bersiap di lobby bawah. Siska kemudian mendudukkan Rania dikursi kerja dan memijat tangannya yang sudah terasa dingin.
" Ra, kamu kenapa sih?. ", tanya Siska khawatir. Rania hanya bisa menggelengkan kepalanya dan terus meneteskan airmata disela matanya yang terpejam. Rasanya benar-benar sudah tak mampu lagi bersuara.
" Ayo kita kebawah sekarang, pak Joko sudah siap dibawah. ", ucap Dani setelah mengakhiri panggilan telponnya.
" Celine...!!! ", tiba-tiba terdengar suara teriakan Arsha yang sangat keras dari dalam ruangan nya. Spontan ketiganya tersentak kaget dan langsung menatap pintu ruangan Arsha yang masih tertutup rapat.
Dani dengan cepat berlari dan membuka pintu itu, kemudian terdiam kaku diambang pintu menatap apa yang sedang terjadi didalam ruangan itu.
Rania berdiri dengan lemah, " Ra, kamu duduk aja yah... ", bujuk Siska khawatir sambil terus menopang tubuh Rania. Entah apa yang sedang terjadi, tapi dia lebih khawatir dengan sahabatnya yang sekarang sudah sangat lemah di pelukannya.
" Dan, siapkan mobil sekarang!!. Cepat Dan!!! ", teriak Arsha kemudian dengan kepanikan. Siska dan Rania hanya terdiam ditempat tak mengerti dengan kejadian yang membuat Arsha sampai berteriak keras seperti itu.
Dani langsung berlari menuju lift dan menahan pintu lift supaya tetap terbuka, disusul Arsha yang berjalan tergesa-gesa dan tengah menggendong seorang wanita yang sudah tak sadarkan diri dengan tangan terjuntai ke bawah dan bersimbah darah segar yang terus menetes deras diatas lantai walau sudah diikat dengan dasi milik Arsha. Sepintas Arsha melirik kearah Rania yang sedang berdiri terpaku menatap kejadian itu dengan wajah yang sangat pucat.
Rania hanya berdiri terpaku menatap nanar peristiwa yang begitu cepat terjadi didepan matanya. Pikirannya tiba-tiba kosong seperti ruangan gelap yang sama sekali tidak ada cahaya didalamnya.
" Rania...!!!. ", Siska langsung memeluk tubuh Rania yang sudah luruh di pelukannya. Rania hilang kesadaran...
*
" Rania... ", panggil Siska saat melihat Rania sudah mulai mengerjapkan matanya.
" Siska... ", Rania menatap sekeliling ruangan yang sedang ditempatinya, " Bisa minta tolong panggilkan dokter Sis?. ".
" Tadi kamu udah diperiksa dokter Ra, kamu juga langsung di infus karena katanya tubuhmu sampai dehidrasi berat. ".
" Sis, aku pengen ketemu dokternya sekarang. Ada yang mau aku tanyakan. ", pinta Rania.
" Sebentar aku panggilkan ya Ra. ", Siska langsung berlalu ke ruang jaga IGD untuk memanggil dokter jaga.
__ADS_1
Kemudian kembali lagi dengan seorang pria berjas putih disampingnya, " Ini dokter jaga nya Ra. ".
" Maaf dok, saya sekarang sedang hamil. Apa boleh saya minta tolong diperiksa kandungan saya dok?. ".
" Baik, nanti saya usulkan untuk konsultasi dengan dokter Obsgyn dulu ya bu. Mohon ditunggu sebentar. ", dokter itupun langsung berlalu meninggalkan Siska dan Rania.
" Rania, kamu hamil lagi Ra?. Ya Allah... Ra, kejadian ini seperti dulu ya Ra... ", Siska langsung menghambur memeluk Rania karena sangat bahagia mendengar berita kehamilan sahabatnya itu. Kemudian terkejut saat mendengar isak tangis lirih dari sahabatnya yang masih terbaring lemah ditempat tidur pasien.
" Rania... Sebenarnya apa yang terjadi Ra?. ", Rania hanya terdiam sambil terus menangis di pelukannya. Mungkin saat ini Rania hanya butuh sandaran untuk menopang masalah yang sedang dihadapinya. Sebaiknya tidak menanyakan apapun sampai dia benar-benar siap mengatakan apa yang sedang terjadi.
" Sabar ya Ra, aku nggak tau yang sedang kamu hadapi sekarang ini, tapi semua pasti akan berlalu. Aku yakin kamu pasti kuat Ra... Kalo kamu butuh tempat, kamu harus selalu ingat, selalu ada aku didekatmu Ra. ", Siska mengusap punggung Rania mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya, pasti ada sesuatu yang membuat sahabatnya menangis seperti ini.
Rania semakin terisak dalam tangisannya. Selama ini Siska lah yang selalu menemaninya disaat dia sama sekali tidak tau kemana lagi harus mengadu. Siska yang selalu ada disaat dia menerima kenyataan yang pahit sekaligus manis.
" Makasih Sis... Makasih udah selalu menemani ku disaat seperti ini. ", isaknya haru pada sahabatnya itu.
Setelah menunggu sekitar satu jam lebih, Rania akhirnya bisa memeriksakan kehamilannya. Ada kekhawatiran kalau keadaan tubuhnya yang lemah akan mempengaruhi bayi yang ada di perutnya seperti dulu.
" Waahh, selamat ya bu Rania, sepertinya akan ada si kembar yang akan lahir nanti. ", ucap dokter Obsgyn yang sedang memeriksa dengan alat USG di perut Rania.
Rania dan Siska saling bertatapan dengan mata yang sama-sama membulat sempurna. Kemudian kembali menatap layar besar didepan mereka yang tampak ada dua bulatan kecil-kecil didalamnya.
" Apa dok?!. Kembar??. ", ucap Rania dengan suara bergetar.
Siska langsung menggenggam tangan Rania sambil terus tersenyum bahagia, " Rania... Hebat banget kamu Ra... Bayinya kembar Ra... ", ucap Siska kegirangan.
" Iya kembar, ini ada dua kantong calon janin yang sudah terlihat jelas. Tapi saya minta satu minggu lagi bu Rania periksa kembali kehamilannya, untuk melihat lagi perkembangannya. Kalau dihitung dari HPHT nya, sekarang usia kehamilannya sudah masuk minggu ke empat, sudah sesuai dengan perkembangan janinnya. ".
Dokter Obsgyn itu terus menjelaskan beberapa hal yang harus dilakukan oleh Rania untuk menjaga kehamilannya dan kemudian memberikan beberapa vitamin yang bisa mendukung kesehatan dirinya dan calon bayi-bayinya.
Rania tersenyum bahagia, " Alhamdulillah... Terimakasih dok. ".
Kini sudah saatnya memfokuskan dirinya sendiri disaat badai yang tiba-tiba datang melanda pernikahannya. Entah apa yang akan terjadi pada rumah tangga nya nanti, yang terpenting sekarang adalah kesehatan dirinya dan juga calon bayi-bayinya yang sekarang sudah tumbuh didalam perutnya. Tidak ada yang perlu disesali karena semua yang terjadi padanya adalah ketetapan dari Allah SWT. Kini dia harus berdamai dengan rasa sedih dan bahagia yang datang secara bersamaan.
__ADS_1