Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
I miss you


__ADS_3

...Aku tidak mampu mengubah masa lalu dan aku sekarang tidak mampu untuk mengetahui apa yang bakal terjadi pada masa mendatang. Untuk itu, mengapa aku harus menyesali masa lalu atau merasa cemas dengan masa mendatang?. (Rania)...


Siska terisak menangis sedih mendengar semua cerita Rania, berulang kali memeluk Rania seperti ingin membagi beban kesedihan dengan dirinya sendiri.


" Ra... Hikhik... Kok kamu nggak pernah sih ngomong sama aku?. Setidaknya... Hikhik... Aku kan bisa jadi pendengar mu yang setia saat kamu sedih, hikhik... ", ucap Siska ditengah isak tangisannya. Rania tersenyum haru menatap Siska yang begitu tulus padanya.


" Siska, ini sudah jadi jalan hidup ku, Allah pasti sudah mengukur kemampuan ku saat menerima semua cobaan ini. Aku pasti bisa melewati semua ini. ", Rania berusaha tetap kuat dan tegar didepan Siska.


Siska mengusap airmata nya yang terus mengalir di pipinya, " Terus kamu mau gimana sekarang Ra?. ", tanya Siska kemudian sambil menggenggam erat kedua tangan Rania.


" Entahlah Sis, aku sama sekali belum bisa berpikir apa-apa sekarang. Tapi yang pasti aku harus bisa menjaga anak-anak ini. ", Rania mengusap lembut perutnya yang masih rata.


" Aku tidak mau seperti dulu lagi Sis, aku ingin benar-benar menjaga kesehatan ku sendiri sekarang, aku harus kuat demi anak-anak ini dan juga Andra tentunya. ", sambung Rania.


" Ra, kamu pasti kuat, aku yakin itu. Aku akan selalu ada buat kamu Ra. Aku pasti selalu bersamamu. ", Siska memeluk Rania dengan erat, merasakan betapa rumitnya perasaan Rania saat ini.


" Sis, tolong jangan bilang pada siapapun tentang kehamilan ku ini ya. ", pinta Rania pada Siska.


" Kenapa Ra?. Apa suami mu juga belum tau kalo kamu hamil?. ", Rania mengangguk lemah sambil tersenyum hambar.


" Kamu harus bilang sama suami mu dong Ra, dia harus tau kalo istri nya lagi hamil anaknya biar dia bisa fokus menjaga mu. ".


" Siska, aku akan memberitahu nya sendiri padanya nanti saat dia udah bisa mengatasi masalahnya sendiri. ". Rania mendesah pelan sebelum melanjutkan bicaranya, " Aku hanya ingin tau sekuat apa mas Arsha akan mempertahankan rumah tangga ini tanpa rasa beban karena kehamilan ku ini. Aku akan sedikit memberikan dia waktu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa campur tangan orang lain lagi. Karena hanya dia yang bisa memutuskan tentang masa lalu nya itu. Kamu mengerti kan Sis?. ".


Siska terdiam, Rania memang benar, masalah ini akan selesai dengan keputusan besar dari Arsha sendiri, karena bagaimanapun juga Arsha harus bisa memilih mana yang terbaik untuk dirinya sendiri dan juga Rania.


Setelah menghabiskan dua botol infus yang berisi vitamin untuk mengatasi dehidrasi, Rania memutuskan untuk pulang rawat jalan dirumah karena hari sudah menjelang sore. Walaupun sebenarnya dokter menganjurkan untuk tetap dirawat di rumah sakit karena kondisi tubuh Rania yang masih lemah dalam kehamilan yang masih sangat muda. Tapi Rania tetap memaksa untuk pulang dengan alasan sudah bisa mengatasi rasa mualnya dan akan berusaha untuk makan dan minum sesuai anjuran dari dokter yang tadi merawatnya.


Setelah sampai dirumah, Siska melongo menatap rumah dengan pintu gerbang raksasa didepannya. " Ra, ini beneran rumah mertuamu??.", ucapnya takjub dengan rumah mewah yang hanya dilihatnya saat nonton sinetron di TV.


" Iya, Siska. Udah ah jangan gitu ekspresi nya. ", Rania mencubit gemas pipi Siska yang masih saja menatap sekeliling halaman rumah yang sangat luas itu.


" Ya ampun Ra, kamu beneran nikah sama anaknya Sultan ya Ra... Kok mirip cerita di sinetron sih Ra?!. ".


" Iya mirip banget Sis, tinggal nunggu endingnya aja, mau happy ending apa sad ending?. ", ucap Rania berusaha menghibur diri sendiri.


" Ishh kamu Ra, berdo'a aja semoga happy ending kayak di drakor gitu... ".


" Udah ah Sis, Yuk masuk kedalam, nanti aku kenalin sama mama mertua ku yang super duper baik dan cantik itu. ".


Siska mengangguk senang, kapan lagi bisa masuk ke rumah mewah seperti ini, dari lahir sampai besar begini baru pernah mengambah bangunan dan halaman rumah yang seperti istana.


*


Sementara itu dirumah sakit Arsha terlihat sedang sibuk menelpon seseorang yang dari tadi tidak mau menerima panggilannya.


" Dan, kamu udah bisa nelpon Rania apa Siska?. ", tanya Arsha putus asa sambil mengusar rambutnya dengan kasar.


" Belum. ", jawab Dani singkat. Dia juga tak kalah cemas dan merasa bersalah karena tega begitu saja meninggalkan Rania dengan kondisi tubuh yang lemah seperti itu.


" Gimana sih Dan?!. Kan aku udah nyuruh kamu dari tadi!. ", hardik Arsha frustasi karena sudah beberapa kali mencoba menghubungi Rania tapi belum juga diterima.


" Aku tadi udah ke kantor lagi Bos. Kata security tadi Rania sama Siska pergi naik taksi online setelah Rania di tolong sama security karena pingsan. ".

__ADS_1


" Apa!!. Rania pingsan?!. Kenapa baru bilang sekarang!!. ", Arsha menggeram marah menatap Dani yang masih sibuk mencoba menelpon Siska.


" Dari tadi Bos juga sibuk menenangkan nona Celine, gimana aku mau bilang kalo Rania pingsan. Aku sendiri juga baru tau setelah tadi balik lagi ke kantor. ".


" Kenapa dia bisa pingsan Dan?. Apa dia shock dengan kejadian tadi?. ".


" Kondisi tubuh nya sudah lemah sebelum kejadian itu. Makanya aku menyuruh pak Joko untuk siap-siap di bawah karena mau mengantarkan Rania ke rumah sakit. ".


" Kenapa nggak bilang pada ku, dasar durhaka kamu Dan!!. ".


" Rania yang melarangnya Bos, dia bilang Bos lagi ada tamu. ".


" Jadi Rania udah ketemu sama Celine sebelumnya Dan?. ".


" Mungkin saja. ".


Arsha menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, " Tapi dia nggak tau soal Celine kan Dan?. Terus kenapa dia sampai shock begitu?. Apa dia takut darah?. ".


Dani hanya diam saja, tidak ada gunanya menjelaskan tentang foto yang sudah ditemukan Rania di apartement Arsha. Karena pasti hanya kemarahan yang akan keluar dari mulut Arsha padanya.


" Dimana kamu Rania...?. ", ucapnya cemas.


Arsha menjambak rambutnya sendiri dengan keras, tadi dia juga sudah menelpon orang rumah tanpa sepengetahuan mama Hanum untuk menanyakan keberadaan Rania, dan ternyata Rania juga belum pulang ke rumah siang ini.


Sudah hampir dua jam Arsha berada dirumah sakit tempat Celine ditangani. Dia tadi sempat ingin pergi setelah Celine mendapatkan penanganan luka di tangannya tapi tiba-tiba Celine histeris dan mencoba menyakiti dirinya lagi dengan mencabut selang infus dan melempar semua barang yang ada di dekatnya. Arsha diminta tetap tinggal oleh dokter sebelum keluarga Celine datang ke rumah sakit ini karena takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada pasien maka rumah sakit tidak akan bertanggungjawab. Akhirnya Arsha terpaksa menunggu sampai si Bobby mantan asisten Celine datang setelah tadi bisa dihubungi langsung oleh Dani. Sementara itu Celine kini tengah tertidur karena pengaruh obat tidur yang diberikan oleh dokter untuk menenangkannya.


" Arsha. ", Arsha mendongak menatap Edo yang sudah ada didepannya.


" Dia sementara masih tenang karena obat tidurnya masih bekerja. Sebenarnya apa yang terjadi Sha?. Kenapa Celine sampai nekat melakukan hal itu?.".


Arsha terdiam, terbayang lagi kejadian tadi yang begitu cepat terjadi didalam ruangannya.


Flashback on


Arsha melangkah keluar dari ruang rapat dan langsung mencari keberadaan Rania di ruangan nya, tapi ternyata nihil. Ruangan Rania kosong dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya sendiri.


Hap!. Sepasang tangan halus langsung menutupi kedua matanya begitu masuk kedalam ruangan.


" Surprise...! ", Arsha tercekat mendengar suara bisikan didekat telinganya, ini jelas bukan suara Rania, tapi ini suara wanita yang sangat dia kenal dulu.


Dengan kasar Arsha langsung meremas tangan itu dan menjauhkan nya dari wajahnya.


" Hai Arsha, miss you so much... ", Celine langsung menghambur memeluk Arsha yang masih berdiri kaku menatap perempuan yang sudah lima tahun ini dilupakan nya.


Arsha langsung mendorong tubuh Celine hingga hampir terjatuh.


" Arsha... ", Celine berusaha meraih tangan Arsha namun bisa ditepis dengan cepat oleh Arsha.


" Mau apa lagi kamu Celine?. ", hardik Arsha keras.


" Aku sangat merindukanmu Sha... ".


" Dari dulu kita sudah selesai Celine!. ".

__ADS_1


" Tapi aku masih sangat mencintaimu Sha... Aku nggak mau pisah sama kamu. ", tolak Celine.


" Tapi aku tidak!. Aku sangat ingin kita selesai dari dulu!. ".


" Sha, aku menyesal Sha... Maafin aku Sha... ", Celine menangis terisak.


" Aku sudah memaafkan mu dan aku sudah melupakan mu! ".


" Sha, aku mohon beri aku kesempatan lagi. Kita bisa menjalani cinta kita lagi dan membangun keluarga yang kita impikan. Kita bisa punya anak sebanyak yang kamu inginkan dan kita... ".


" Cukup!. Semua sudah selesai Celine, pergilah!. Aku tidak akan merubah keputusan ku dari dulu. "


" Sha, aku benar-benar nggak bisa hidup tanpamu. Aku cuma cinta sama kamu Sha, aku tidak bisa mencintai orang lain selain kamu Sha.".


Arsha menatap marah pada Celine yang masih bertahan dengan pendiriannya, " Celine, sekarang dengarkan aku baik-baik!. Aku sudah menikah, aku sudah memiliki keluarga impian ku sendiri, dan aku sangat mencintai wanita yang menjadi istri ku sekarang. ".


" Apa!!. ", Celine melotot tak percaya, " Enggak...!! Nggak mungkin Sha!! Kamu nggak mungkin menikahi wanita lain selain aku!. Kamu cuma milikku Sha!. Dan kamu cuma cinta sama aku!. ".


" Maaf Celine, tapi itulah kenyataan nya. Aku sudah menikah dengan orang yang sangat aku cintai. ".


Celine tiba-tiba terkekeh dalam tangisannya, "Hahaha... Kamu bohong kan Sha?!. Kamu masih marah sama aku, terus kamu ingin menguji ku lebih lama lagi kan?. ", seringai Celine tak percaya.


" No Celine, aku sama sekali tidak sedang berbohong padamu. ", bantah Arsha tegas.


" Arsha, apa kamu sama sekali tidak tau kalo aku sungguh menderita lima tahun ini?. Apa belum cukup lima tahun untuk melupakan hal itu?. Apa masih belum puas menghukum ku Sha?. Harus berapa lama lagi aku menunggu Sha?. ", Celine terisak keras menuntut Arsha untuk memahami nya.


" Celine, aku tidak pernah meminta mu untuk kembali lagi dan aku tidak pernah meminta mu untuk menunggu, karena kita berdua benar-benar sudah selesai dari dulu. ".


Celine tertunduk gelisah dengan sendu tangisnya yang masih mengguncang bahunya. Dengan cepat meraih cutter diatas meja kerja Arsha dan langsung mengarahkan di pergelangan tangan kirinya.


" Celine stop!. Jangan pernah melakukan hal bodoh seperti itu. ".


" Hahaha... Hal bodoh katamu!. Aku bahkan sudah melakukan hal yang lebih bodoh lagi dari ini Sha!. Kamu ingin tau kan sebodoh apa diriku yang sudah tersiksa karena kemarahan mu?!. ", Celine kembali terkekeh sambil beruraian airmata.


" Celine, please... Tenanglah... Kita bicara baik-baik Oke... ", bujuk Arsha sambil berjalan pelan mendekati Celine.


" Aku akan tenang kalo kita bisa kembali lagi seperti dulu. Katakan kalo semua yang tadi kamu katakan itu bohong Sha!!. ".


" Celine, aku mohon tenanglah... Berikan cutter itu padaku. ".


" Kenapa Sha?!. Bukankah kamu ingin melihat kebodohan ku sekarang?. ", tantang Celine terus menghindari Arsha yang berjalan mendekatinya.


" Kamu belum menikah kan Sha??. Kamu hanya bisa menikah dengan ku, iya kan Sha?. ".


Arsha langsung berhenti dan terdiam menatap Celine didepannya, " Kamu diam Sha?. Apa itu artinya iya?. Hahaha... Aku sungguh tak percaya sudah berakhir seperti ini. ", Celine tersenyum pahit membalas tatapan Arsha.


" Celine... Kumohon tenanglah, ayo kita bicara Celine... ", bujuk Arsha panik melihat tatapan Celine yang seperti putus asa.


" Oke Sha, aku akan membuat mu menyesal karena sudah membuat ku jadi bodoh seperti ini!.".


" Celine!!!. ".


Darah segar langsung bercucuran keluar dari lengan kiri Celine yang baru saja teriris cutter besar miliknya. Dalam hitungan detik Celine langsung tak sadarkan diri saat Arsha mencoba menahan derasnya aliran darah yang terus menerus keluar. Dengan cepat melepaskan dasinya untuk mengikat lengan Celine yang terluka, berharap darah akan segera berhenti.

__ADS_1


__ADS_2