Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Bos Kulkas


__ADS_3

Dahi Siska berkerut menatap kedua orang yang sedang duduk bersebelahan didepannya secara bergantian.


" Sis, perkenalkan, ini mas Arsha suami ku. ", ucap Rania dengan hati-hati.


" Kamu serius sudah nikah lagi Ra?. ".


" Ya serius dong Sis. ".


" Terus kenapa nggak ngundang aku?. ", Siska langsung manyun sebal.


" Maaf Sis, acaranya mendadak jadi nggak sempat ngabarin kamu. Lagian kasian kamu kalo harus jauh-jauh datang ke Jakarta. ".


" Kenapa nikah mendadak?!. Kamu hamil duluan Ra??. ".


" Astaghfirullah... Ya nggak lah Sis... ".


" Kok mendadak banget nikahnya. ".


" Karena itu kemauan saya biar cepet nikah sama Rania. ", potong Arsha yang mulai tidak sabar mendengar Siska terus menanyakan pernikahannya.


" Hai... Mas Arsha, aku Siska teman sekaligus sahabat Rania. ", Siska tersenyum manis sambil mengulurkan tangan mengajak berjabatan tangan dengan Arsha.


" Arsha, suami Rania. ", sambut Arsha singkat, membalas dengan senyuman terpaksa.


" Rania, kamu pinter juga nyari suami yah, suami mu ganteng banget mirip oppa Korea campur bule. ", bisik Siska ditelinga Rania. " Ehhemm... Mas Arsha apa kamu masih satu kantor dengan Rania?. Maksud ku apa kalian kerja diperusahaan yang sama?. ".


" Iya, saya satu kantor dengan Rania. ".


" Ooh jadi masih satu kantor ya... O iya, apa kamu kenal sama Bos nya Rania?. ".


" Siska... ".


" Sstt... Diam dulu Ra, aku lagi ngobrol sama suami mu. ", potong Siska cepat.


" Iya, sangat kenal. Kenapa? ", tanya Arsha penasaran.


" Ahh... Kebetulan sekali kalo gitu. Tolong kamu jaga istri kamu dari Bos kulkas dan kepala batu itu. Dia sudah sering menindas Rania sampai badannya kurus kering begini. Coba kalo aku juga kerja disana, udah pasti aku akan melabrak langsung didepannya, iya kan Ra?. ", cerocos Siska penuh emosi.


Rania hanya bisa menggeleng pelan menatap takut pada suaminya yang kini tengah mendengus kesal padanya. " Bos kulkas dan kepala batu??. ", geram Arsha menatap Rania yang sudah pucat pasi disampingnya.


" Nah pasti kamu sebagai suami Rania nggak terima juga pastinya kalo istri mu sendiri ditindas sama Bos kulkas itu. ".


" Sis, stop dulu please... ", ucap Rania berusaha mencegah Siska supaya tidak bicara yang lebih lagi.


" Kamu kenapa malah jadi pucet gitu Ra?. Jangan bilang kamu habis ditindas lagi sama Bos mu itu!. Benar-benar keterlaluan memang... ".


" Dalam hal apa dia menindasmu Rania?. ", tanya Arsha penasaran kenapa Rania sampai memberikan julukan itu padanya. Pasti selama ini dia sudah banyak bercerita tentang dirinya pada sahabatnya itu.


" Banyak banget, iya kan Ra?. Contohnya... ".


" Sis, udah pleaseee... ".

__ADS_1


" Banyak??. ", Arsha mencoba memancing Siska untuk kembali bicara.


" Iya banyak, kata Rania Bos nya itu kaya kulkas tujuh pintu, dingin nggak ada anget angetnya. Kalo aku si nggak bakalan betah kerja sama orang kayak gitu, masa iya kerja sama orang yang kayak patung diam aja nggak mau ngobrol sama sekretaris nya sendiri, aku yang cuma dengar ceritanya aja udah sebel. ".


" Oohhh... Jadi kayak patung juga... ", Arsha terus mengintimidasi Rania yang sudah terdiam membisu disebelahnya dengan tatapan tajam menghujam.


' Siska bisa diam saja nggak sih... ', rutuk Rania dalam hati. " Mas, bukan gitu maksudnya. ", Rania berusaha menenangkan Arsha yang sudah naik darah.


" Aku tunggu penjelasan mu nanti Rania... ", bisik Arsha dengan suara menggeram.


" Eh Ra, kamu bisa kenalan sama mas Arsha dimana?. ".


" Ya dikantor lah Sis, masa di pasar. ", jawab Rania asal, kesal juga lama-lama mendengar Siska nyerocos tanpa saringan.


" Mas Arsha kerja dibagian apa emang?. ", tanya Siska lagi.


" Dia... ".


" Saya security dikantor Rania. ", sahut Arsha memotong kalimat Rania. Rania langsung melongo menatap suaminya yang masih keliatan masam mukanya.


" Oohh... Pantas aja badannya bagus gitu ya Ra, pasti seneng olahraga, liat aja otot-otot nya, bikin gemesh... ", bisik Siska. " Apa dikantor kalian semua security kayak gini modelannya, kalo kayak gini aku juga mau dong dikenalin satu. ", Siska cekikikan disamping telinga Rania.


" Sis, udah dulu ya tanya nya, kita makan aja dulu. Aku udah laper nih... ", Rania berusaha untuk membuat Siska berhenti bertanya tentang Arsha, kalo diteruskan lagi pasti sebentar lagi bom yang disimpan suaminya meledak di tempat.


" Oiyaa... Sampai lupa mau tanya Andra. Dimana Andra Ra?. Kok nggak diajak kesini. ".


" Tadi Andra minta pulang setelah berkunjung ke makam ayahnya, katanya udah janjian sama Eyang kung mau bikin mobil pemadam kebakaran pake kardus bekas. ", jawab Rania lega.


" Iya maaf, besok lagi aku ajak Andra ketemu kamu. ".


" Ra, dikantor mu ada lowongan lagi nggak?. ".


" Emang kenapa Sis?. "


" Aku bosen sama si Gun itu, pengen cepet pindah dari sana. Tiap hari ganggu aku terus, nggak ada capeknya deketin terus. ".


" Kalo nggak mau diganggu terus ya diterima aja cinta nya, pasti nggak bakalan ngejar kamu lagi. ".


" Ishh kamu itu Ra, mending aku jadi jomblo terus daripada sama si botak nyebelin itu. ", sungut Siska kesal.


" Ehh mas Arsha, Kira-kira ada lowongan nggak dikantor kalian?. ".


" Buat siapa?. ", tanya Arsha singkat.


" Buat aku, security biasanya malah lebih tau kalo ada info lowongan kerja dikantor, iya kan. ".


" Sis, sementara belum ada lowongan dikantorku.".


" Sepertinya perusahaan besar tidak cocok untuk orang yang terlalu banyak bicara. ", sahut Arsha dengan nada datar.


" Hahaha... Suamimu lucu juga orang nya ya Ra. Mungkin kebiasaan bersikap tegas jadi gitu cara ngomong nya... ", Siska terbahak mendengar jawaban datar suami Rania, pikirnya mungkin memang security biasa bicara tegas jadi ya wajar saja, padahal Arsha terlihat seperti benar-benar sudah gondok dengan omongannya.

__ADS_1


" Saya sedang bicara jujur. ".


" Mas Arsha... ", Rania menggenggam tangan Arsha dengan lembut.


" Kenapa?. Aku kan sedang ngasih tau temenmu biar dia nggak kecewa. Daripada nanti dikantor dia malah ketemu si kulkas itu, bisa terjadi keributan besar nantinya. ".


" Ah iya, suami mu ada benarnya juga Ra, pasti perang nanti kalo aku ketemu si kulkas itu. ", Siska manggut-manggut seolah mengerti.


Obrolan dengan tema kesalahpahaman itu terus berlanjut sampai makanan dimeja mereka datang. Sebenarnya Rania sudah ingin mengakhiri pertemuan dengan Siska, tapi rasa rindu pada sahabatnya mengalahkan rasa takutnya pada Arsha. Resiko dapat omelan nanti saja dipikirkannya, yang terpenting sekarang dia bisa bertemu dengan teman yang dulu selalu setia berada dengannya saat suka dan duka. Rania tidak akan pernah lupa bagaimana Siska selalu menemaninya disaat dia benar-benar jatuh terpuruk saat kejadian lima tahun yang lalu.


*


" Bos kulkas, kepala batu dan seperti patung... Waahhh... Bagus sekali julukannya Rania. ".


Rania tersenyum takut menatap suaminya yang sedang duduk disebelahnya saat sedang pulang ke rumah Bapak naik ojek mobil online. " Maaf, itu kan dulu, sekarang aku nggak pernah ngomong kaya gitu lagi kok. ".


" Oohhh... Berarti benar julukan itu untuk ku?. ".


Rania hanya mengangguk takut menatap Arsha yang sedang menginterogasinya.


" Aku hanya ikut-ikutan saja kok mas. ".


" Dani pasti kan?!. ".


Rania hanya terdiam, mau menjawab iya takut nanti Dani diamuk oleh Bos nya ini.


" Emang aku sedingin apa sampai kamu menyebutku seperti kulkas tujuh pintu?. ".


" Yaaa... Dulu kan emang mas Arsha dingin nggak mau ngomong sama aku. Terus kalo lagi kerja juga selalu diam kaya patung. ".


Arsha terdiam, sebenarnya dia menyadari kenapa julukan itu bisa terucap oleh Rania, kurang lebih memang seperti itulah dia saat menghindari Rania karena alasan mimpi yang membuatnya gelisah. " Terus sekarang julukan apa yang kamu berikan padaku?. ".


" Nggak ada. ".


" Benar nggak ada?. ".


" Iya nggak ada. Udah ya marah-marah nya. Lagian kan itu dulu, sekarang kan udah jadi suami yang baik dan nggak dingin lagi. ".


" Aku tunggu pernyataan resmi permintaan maaf yang baik dan benar darimu Rania. ".


" Haahhh... Pernyataan resmi gimana maksudnya mas, aku kan dari tadi udah berkali-kali minta maaf. ".


" Minta maaf dengan cara yang baik dan benar, bukan kayak anak kecil yang ketahuan makan permen terus nangis minta maaf sama mamanya.".


" Caranya?? ".


" Pikirkan sendiri caranya bagaimana, aku orangnya tidak gampang memberikan maaf begitu saja tanpa usaha. ".


Rania langsung terdiam bingung memikirkan cara meminta maaf pada suaminya. Wah... ternyata susah juga kalau sudah berhadapan dengan orang besar seperti Arsha, meminta maaf saja harus melalui prosedur yang baik dan benar.


*

__ADS_1


__ADS_2