
Rania menatap sedih rumah yang sudah ditinggalkannya sejak menikah dengan Arsha. Semua perabotan dan barang-barang lainnya memang masih berada di tempatnya masing-masing, hanya saja sekarang sudah diselimuti debu tipis yang mengganggu pemandangan seisi rumah sederhana itu. Rania mulai mengelap debu yang menempel disetiap perabotan itu, kemudian membersihkan semua sudut rumah yang tiba-tiba sangat dirindukan nya disaat dia ingin menemukan ketenangan didalam rumah ini.
Setelah selesai membersihkan rumah dari debu, Rania beranjak ke dapur dan mulai sibuk membuka kantong kresek belanjanya yang dia beli diwarung langganan nya disekitar perumahan. Entah kenapa, hari ini dia sangat ingin makan sayur bening kencur seperti kebiasaannya dulu dirumah ini. Ada perasaan bahagia saat tangannya mulai sibuk memotong sayuran dan mengolahnya menjadi masakan kesukaannya. Sedikit pelipur lara hati dengan menyibukkan diri sendiri melakukan hal yang sudah lama dia tinggalkan.
" Alhamdulillah... ", ucap syukur Rania setelah menghabiskan satu mangkok sayur bening dan beberapa potong tempe goreng kesukaannya ditambah sambal tomat. Puas rasanya sudah bisa memenuhi keinginannya.
Selepas sholat dhuhur Rania membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur kamarnya. Sungguh terasa sekali perbedaannya saat dia tidur dikamar Arsha yang luasnya hampir sama dengan luas bangunan rumah ini. Rania melirik nakas dimana biasanya terpajang foto almarhum suaminya di sana. Kini foto itu juga sudah berpindah ke kamar Andra dan dipajang disebelah tempat tidurnya dirumah mama Hanum. Arsha sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, karena memang Andra sudah lama terbiasa dengan foto ayahnya yang ada disisinya setiap dia tidur.
Rania tersenyum samar, terbayang wajah almarhum Andre seperti yang ada didalam foto itu. Muncul sedikit kerinduan dengan sosok yang pernah mengisi hari-harinya walaupun hanya sebentar saja. " Astaghfirullah... ", ucapnya lirih. Rania mencoba menghilangkan bayangan Andre dari pikirannya. Tidak seharusnya membayangkan sesuatu yang bukan lagi miliknya saat ini. Andre pasti sudah bahagia dengan para bidadari surga di sekeliling nya. Memikirkan hal itu malah membuat Rania sedikit merasa cemburu.
Rania meraih ponsel nya dan mulai memainkannya untuk menghilangkan kerinduannya pada almarhum suaminya. Membaca pesan yang dikirimkan oleh Siska berisi curhatan tentang dua orang yang sudah membuat Siska emosi jiwa pagi ini. Rania terkekeh kecil, pasti seru melihat Siska bisa meladeni dua orang yang seperti Tom and Jerry itu. Sampai akhirnya tertidur lelap sesaat setelah lelah memainkan ponsel nya.
*
Setelah mendengar sindiran dari Siska, Arsha menjadi semakin merasa bersalah karena sudah membuat Rania sedih dengan kejadian kemarin. Siang ini dia berniat mengajak Rania makan siang di tempat spesial yang sudah di pesannya tadi. Dia akan membebaskan waktunya sampai besok pagi hanya untuk bersama berdua dengan Rania, sebagai tebusan rasa bersalah karena sudah mengacuhkan Rania disaat membutuhkan pertolongan dari suaminya sendiri.
Sesampainya dirumah, Arsha harus menelan kekecewaan karena ternyata Rania sudah pergi sejak mengantarkan Andra sekolah dan belum pulang sampai siang ini. Memang tadi dia berniat memberikan kejutan untuk Rania, dan sengaja tidak memberi kabar kalau hari ini dia akan menjemputnya dan mengajaknya makan diluar.
" Kemana Rania mom?. ", tanya Arsha kecewa.
" Mama juga nggak tau, mama pikir dia berangkat ke kantor Sha. ", sahut mama Hanum ikut khawatir.
" Rania udah pamitan dari kantor mom, dia udah resmi resign kemarin. ", Arsha mengeluarkan ponselnya mencoba melakukan panggilan pada Rania, lalu berdecak kesal karena panggilannya belum juga diterima oleh Rania setelah mencoba dua kali panggilan.
" Gimana Sha?. ", tanya mama Hanum semakin khawatir melihat wajah kecewa Arsha.
" Nggak diangkat mom... Kemana lagi Rania...?. ", ucapnya lemas oleh rasa khawatir.
" Coba tanya pak Joko yang tadi nganterin Rania sama Andra ke sekolah. ", mama Hanum langsung bergegas menuju dapur basah di rumah belakang diikuti Arsha yang sudah tak sabar.
Mereka langsung menghampiri pak Joko yang sedang ikut membersihkan halaman rumah belakang. Keduanya tersenyum lega setelah pak Joko mengatakan kalau saat ini Rania sedang dirumah nya, tadi pak Joko sendiri yang mengantarkan Rania ke sana karena katanya Rania kangen sama rumahnya.
" Susul Rania Sha, mama takut dia pingsan lagi seperti kemarin. ", ucap mama Hanum khawatir.
" Iya mom, aku ke sana sekarang. ".
Arsha langsung pergi mengendarai mobilnya menuju ke rumah Rania, ketakutan nya semakin besar saat Rania belum juga mengangkat panggilannya. Dengan tak sabar mulai menaikan kecepatan laju mobilnya, berharap segera sampai dan bertemu dengan Rania.
Begitu sampai, Arsha langsung menggedor pintu depan rumah Rania dengan keras.
" Rania...!! Rania...!! ", teriak Arsha panik saat Rania belum juga menyahut panggilannya. Dengan tak sabar mencoba menelpon lagi berharap mendapatkan respon baik kali ini.
" Halo mas Arsha, assalamu'alaikum... ", sahut suara serak di HP nya.
Arsha menghembuskan nafas lega, "Waalaikumsalam... Ya Allah... Rania... ", ucapnya lega.
" Ada apa mas Arsha?. ".
" Tolong buka dulu pintunya Rania, aku didepan sekarang. ".
" Maksudnya Mas Arsha didepan mana?. ", sahut Rania tak mengerti sambil berjalan menuju pintu depan rumah.
" Aku didepan rumah mu Rania... ".
" Kok bisa ke sini?. Mas Arsha tau dari mana aku disini?. ".
" Udah Rania... Sekarang buka pintu nya dulu, nanti baru aku ceritain. ", gemas Arsha yang sudah tak sabar.
" Mas Arsha...?. Ngapain mas Arsha kesini?. ", tanya Rania masih keheranan menatap Arsha yang sedang berdiri didepan pintu rumahnya dan masih lengkap dengan setelan jasnya.
" Coba kamu cek HP mu, sudah berapa kali aku telpon kamu Rania?!. ".
__ADS_1
Rania langsung melihat notifikasi di layar HP nya, ternyata sudah sepuluh kali lebih panggilan tak terjawab yang masuk di HP nya. " Maaf mas, aku ketiduran tadi. HP nya aku silent, tadi bangun juga karena kaget denger suara pintu digedor keras. ", Rania tersenyum malu menatap Arsha.
" Rania... Lain kali kalau mau pergi kemana aja please kabarin aku dulu. Aku benar-benar khawatir Rania... ", Arsha menghela nafas yang dari tadi terasa memburu karena khawatir.
" Maaf mas... ", ucap Rania lirih, " Terus kenapa mas Arsha kesini?. Bukankah ini masih jam kerja?. ", Rania mengecek jam di HP nya, sekarang masih jam satu siang.
" Aku tadinya mau kasih kamu surprise Rania, aku sengaja pulang lebih awal ke rumah tadi, tapi kamu malah nggak ada dirumah. Dan malah aku yang jadi kena kejutan kamu menghilang lagi. ".
Rania tersenyum haru, " Maaf mas... Aku nggak menghilang kok. Ayo masuk mas. ".
Arsha berjalan masuk sambil mengamati rumah yang jadi saksi bisu peristiwa perjodohannya dengan Rania. " Bersih banget, kamu sendiri yang beres-beres?. ".
" Hu umm, aku kangen sama rumah ini, makanya tadi minta tolong pak Joko suruh anter ke sini. ".
" Kamu udah makan?. ", tanya Arsha kemudian.
" Udah mas, aku masak sayur bening. Mas Arsha udah makan?. ", Rania balik bertanya.
Arsha menggeleng pelan, " Belum lah, aku tadinya mau ajak kamu ke restoran, bahkan udah reservasi tempat buat kita berdua, rencananya mau makan siang romantis gitu. Tapi kamu malah disini, ya udah aku batalin aja. ".
" Hehehe... Iya mas maaf... Mas Arsha mau nyobain makan pake sayur bening?. Mas Arsha pasti belum pernah kan makan sayur bening?. ".
" Emang seenak apa sih sayur bening itu?. Kamu kok suka banget sama sayur itu. ".
" Makanya mas Arsha sekarang cobain deh, pasti jadi ketagihan. ".
Rania menarik tangan Arsha menuju ke ruang makan, lalu mendudukkan Arsha di kursi makan. Semangkok kecil nasi putih hangat, dan beberapa potong tempe goreng, sambal tomat dan tak lupa sayur bening sebagai menu utama siang ini sudah siap didepan Arsha.
" Ini yang namanya sayur bening Ra?. ", tunjuk Arsha pada semangkok sayur berkuah berisi daun bayam, potongan jagung dan beberapa sayuran lainnya yang dia tidak tahu apa namanya.
" Iya mas, ini namanya sayur bening yang kata mas Arsha sayurnya orang pelit. Walaupun keliatan sederhana tapi kaya manfaat dan bergizi tinggi, apalagi untuk anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. ".
Rania menyendok sayuran dan disiramkan ke nasi yang masih hangat dipiring, lalu memberi sedikit sambal dan tempe goreng kedalamnya.
" Ini sambal pedas ya?. ".
" Nggak terlalu pedas kok mas. ".
Dengan pelan Arsha menyendok makanan yang sudah disajikan oleh Rania, dahinya langsung berkerut saat mulai mengunyah makanan di mulutnya.
" Gimana mas?. Enak kan?. ".
" Enak sih Ra, tapi rasanya aneh dimulut ku. ", jawab Arsha sambil terus memakan masakan Rania yang terasa asing tapi enak dan segar saat sudah mulai menikmati nya.
" Itu karena mas Arsha terlalu sering makan daging-dagingan, jadi lidahnya udah nggak sensitif lagi sama masakan orang pribumi. " .
" Tapi lidahku masih sensitif kalo sama kamu Ra... ", Arsha tersenyum genit menatap Rania penuh makna.
Rania langsung mengerti dan bermaksud melarikan diri dari hadapan Arsha yang sedang kelaparan menatapnya. " Hei... Mau kemana lagi kamu?. ". Arsha langsung memeluk pinggang Rania dan mendudukan nya dipangkuan.
" Mas, aku mau ambil tas dulu dikamar. ".
" Ayo ambil bareng tas nya. Kita juga belum pernah tidur bareng dirumah ini kan Ra?. ", ucap Arsha sambil tersenyum smirk.
" Mas... Aku... ".
" Sstt... Sekarang giliran ku melayani istri yang udah capek masak buat suaminya. ", dengan ringan Arsha membopong tubuh Rania dan bergegas masuk kedalam kamar. Rania hanya bisa menunduk pasrah mengikuti kemauan suaminya.
*
Senja telah berganti malam, menutup sepanjang hari siang yang terasa indah untuk Rania. Arsha benar-benar memenuhi janjinya untuk bersama dengan nya sejak tadi siang. Hingga akhirnya kini mereka berdua menikmati kebersamaan didalam kamar Arsha dengan menghabiskan waktu sambil bercengkrama dan mengobrol ringan yang sangat menyenangkan bagi Rania.
__ADS_1
" Rania, boleh aku tanya sesuatu?. Tapi janji kamu tidak marah dengan pertanyaan ku ini. ".
" Apa dulu pertanyaan nya dong mas. ".
" Apa kamu masih suka kangen sama ayahnya Andra?. ", tanya Arsha takut-takut.
Rania tersenyum, " Kalo aku bilang kadang-kadang masih kangen mas Arsha marah nggak?. ".
Arsha menggeleng pelan walaupun dalam hatinya sedikit ada rasa cemburu karena Rania ternyata masih menyimpan perasaan untuk mantan suaminya itu. Tapi masa iya dia harus cemburu dengan orang yang sudah meninggal.
" Mas... Rindu dengan seseorang yang pernah berarti dalam hidup kita itu wajar kan?. Yang tidak wajar kalau kita masih ada keinginan untuk terus bersama dengan orang yang sudah tidak mungkin lagi bersama kita. Bagiku masa lalu hanyalah masa lalu, dan tidak ada yang bisa merubah masa lalu. ".
Arsha tersenyum haru, " Apa kamu juga tidak keberatan dengan masa lalu ku Rania?. ".
Rania tersenyum, " Aku kan nggak tau masa lalu mas Arsha seperti apa.. ".
" Masa lalu ku sangat kelam, Rania... ", Arsha mendesah pelan, " Mungkin kamu akan jijik setelah tau semua masa lalu ku. Aku takut kamu akan lari dariku Rania... ".
" Dan itu cuma masa lalu kan mas?. ".
" Iya Rania, semua itu sudah jadi masa lalu ku. ".
" Kalo gitu sekarang semua tergantung sama mas Arsha. ".
" Kok tergantung aku Ra?. ", tanya Arsha tak mengerti.
" Masa lalu ku dan masa lalu mas Arsha adalah dua hal yang sangat berbeda. Kalau mas Arsha saat ini masih sangat mungkin terpengaruh dengan masa lalu, makanya semua nya tergantung bagaimana mas Arsha akan menghadapi dan mengatasinya. ".
" Percayalah Rania, aku tidak akan goyah lagi dengan masa lalu ku itu. Jadi aku mohon bersabarlah sebentar, aku pasti akan segera menyelesaikan semuanya. ".
Rania tersenyum bahagia, " Kalo gitu buktikan sampai aku benar-benar bisa percaya dengan semua kata-kata mas Arsha barusan. ".
" Kamu mau bukti sekarang hhmm... ", senyum Arsha berubah nakal saat melihat wajah penuh kebahagiaan istrinya itu.
Senyum bahagia Rania langsung menghilang seketika, " Mas, aku ngantuk, mau tidur dulu ya...", ucapnya sambil membaringkan tubuhnya miring membelakangi Arsha.
" Eeiits... Mana boleh tidur dulu sebelum aku membuktikan nya padamu. ", Arsha mengurung Rania dikedua lengannya dan mulai bergerilya mencium wajah Rania yang pura-pura tidur.
Drrrttt...
" Mas... Ada telpon. ", cegah Rania saat Arsha ingin mencium bibirnya.
" Biarkan saja Rania, palingan juga telpon nggak penting. Lebih penting bermain dengan istri mungil ku ini. ", Arsha kembali menyerang Rania yang masih mematung.
" Tapi mas, stop dulu please... Sepertinya itu telpon penting. Dari tadi nggak berhenti memanggil. Mas Arsha sebaiknya terima dulu, siapa tau memang benar-benar sangat penting. ", bujuk Rania mendengar bunyi panggilan yang terus menerus bergetar.
" Ckk.... Mengganggu saja, siapa sih...?. ", ucap Arsha kesal sambil beranjak mengambil HP diatas nakas.
' Bobby? ', Arsha terdiam sejenak, mau apa malam-malam begini telpon.
Rania melirik nama dilayar ponsel suaminya, siapa Bobby?. " Udah mas, diterima dulu sebentar.", bujuk Rania lagi.
" Sebentar ya... ", Arsha langsung beranjak dari tempat tidur menuju ke balkon, walaupun agak jauh dari tempat tidur tapi Rania masih bisa mendengar pembicaraan Arsha yang sedang menerima panggilan dari seseorang yang bernama Bobby.
" Ada apalagi Bob?. ".
" Kenapa lagi sih Bob, Panggil dokter jaga aja dan minta obat penenang lagi untuknya. ".
" Aku nggak bisa ke situ sekarang... ", ucap Arsha dengan malas dan seperti putus asa.
" Oke oke... Suruh dia tunggu sebentar, jaga dia jangan sampai melakukan hal-hal yang membahayakan. Bilang padanya aku akan segera kesitu sekarang. ", Arsha berjalan mendekati Rania yang pura-pura sudah tertidur.
__ADS_1
Dengan pelan membelai rambut Rania, " Maafkan aku Rania, aku harus pergi dulu sebentar. ", ucapnya lirih kemudian mengecup pucuk kepala Rania lembut.
Arsha dengan cepat langsung berganti pakaian dan bergegas keluar dari kamar meninggalkan Rania yang kini terisak pelan dan lirih dalam tangisnya, " Nyatanya kamu masih tetap memilih berhubungan terus dengan masa lalumu mas... ", ucapnya kecewa.