Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Box Pink


__ADS_3

Remuk redam rasanya seluruh tubuh Rania saat ini. Ternyata quality time yang dimaksud oleh Arsha adalah waktu semalaman penuh bersama dengan suaminya dan memenuhi semua permintaan nakal nya yang membuat Rania kehabisan tenaga. Benar-benar tidak ada ampun untuk sekedar istirahat barang sebentar saja. Rania berjalan perlahan menuju ruang walk in closet setelah selesai menyelesaikan mandi wajibnya dan akan segera menunaikan ibadah sholat subuh. Sementara Arsha sudah kembali tertidur pulas setelah membangunkan Rania untuk sholat.


Yah, sudah menjadi kebiasaan Arsha setelah tahu akan kewajiban sholat dan ibadah lainnya, sekarang dia yang lebih sering bangun lebih awal dari Rania. Selalu berusaha sholat tepat waktu dan menyempatkan belajar membaca alquran setelah sholat. Tapi pagi ini sepertinya dia sangat kelelahan, hingga memilih untuk meneruskan tidurnya setelah semalaman bergerilya. Sebenarnya Rania merasa malu sendiri dengan kesungguhan Arsha yang malah lebih mendalami ilmu agama. Arsha benar-benar terlihat sangat semangat belajar lagi tentang ilmu agama yang telah lama dia tinggalkan.


Rania beranjak bangun setelah menyelesaikan sholat nya, kemudian melirik lingerie yang tinggal tersisa satu saja berwarna merah terang yang tergeletak diatas meja. Sudah dua lingerie yang berhasil dirusak oleh Arsha saat kalap melihat Rania mengenakan pakaian nakal itu. Terbayang betapa brutalnya Arsha saat itu membuat Rania langsung bergidik ngeri, sepertinya lingerie yang satu ini harus segera diselamatkan agar dia juga bisa terselamatkan dari keganasan suaminya sendiri. Rania dengan cepat mengambil lingerie itu, kemudian berjalan menuju lemari besar disebelah kanan yang dibiarkan kosong. Mencari tempat yang aman untuk menyimpan baju nakal itu supaya tidak terlihat oleh Arsha.


Rania akhirnya memilih laci dibagian paling bawah lemari itu, dengan pelan membuka laci dan segera memasukkan lingerie merah didalamnya.


Srekk!!


Rania mencoba menutup kembali laci itu dengan susah payah, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal yang membuat lacinya tidak bisa ditutup lagi. Tangan Rania merogoh kedalam laci mencari penyebab lacinya terganjal, sepertinya memang ada box kertas yang mengganjal dibagian belakang laci. Rania mencoba meraih box itu dan akhirnya bisa mengeluarkannya dengan satu tangannya.


' Apa ini?. ', tanya Rania dalam hati, penasaran dengan box kertas berwarna pink beukuran sedang ditangannya. Sepertinya box ini bukan milik Arsha, kalau dilihat dari warna box nya mungkin box ini milik Cantika atau milik mama Hanum yang sengaja menyimpannya di laci ini. Tanpa berani melihat isinya, Rania kembali memasukan box itu ke dalam laci dan menutup kembali laci itu dengan satu sentakan.


Tutup box itu langsung terpental keluar begitu Rania berhasil menutup lacinya. Rania dengan cepat langsung mengambilnya dan bermaksud menutup boxnya kembali. Mata Rania seketika terpaku menatap isi box kertas itu karena sudah terbuka tutupnya, dengan tangan bergetar kembali mengeluarkan box itu dari dalam laci kemudian mengambil selembar foto yang paling atas dari dalam box pink itu.

__ADS_1


Mata Rania tiba-tiba terasa panas dan detak jantung nya mulai berdetak tak beraturan. Rania mencoba memperjelas penglihatannya dengan mengangkat foto itu tepat didepan wajahnya. Rania tidak tahu siapa wanita dalam foto itu, tapi dia sangat tahu betul siapa laki-laki yang sedang memeluk mesra wanita itu diranjang besar berwarna abu tua. Laki-laki itu adalah suaminya sendiri, Arsha Wiguna yang sedang tersenyum bahagia dengan seorang wanita berparas blesteran yang sangat cantik. Sungguh pasangan yang sangat serasi dan sepadan untuk seorang Bos besar seperti Arsha.


Pandangan Rania beralih lagi ke box itu, sepertinya ada banyak lembaran foto yang tersimpan di dalam box itu. Dengan tangan bergetar Rania mulai mengambil satu persatu foto yang sangat mesra dan terlihat intim dari kedua orang didalam foto itu. Berbagai pose dari berbagai sudut tempat menampilkan betapa bahagianya sepasang kekasih dalam foto itu. Hampir semua tempat sepertinya digunakan di foto itu, kamar utama, ranjang utama, sofa keluarga, dapur bahkan kamar mandi pun ada difoto mereka. Dan Rania hafal betul semua sudut tempat mereka berfoto, yah... foto itu diambil ditempat dia berada sekarang, tepatnya di apartement Arsha.


Rania terus membuka lembaran demi lembaran foto didalam box, hingga akhirnya tangannya terhenti saat melihat foto yang tampak berbeda dari yang lainnya. Rania sangat tahu itu, karena dia juga masih memiliki foto yang sama persis seperti yang dilihatnya saat ini. Sebuah foto USG yang memperlihatkan seorang janin tunggal berumur sekitar empat belas mingguan.


Rania terduduk lemas diatas lantai, mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dalam dan memejamkan matanya erat. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa sakit mengetahui Arsha ternyata menyimpan begitu banyak rahasia besar darinya. Buliran airmata terus berjatuhan seiring isak tangis yang tertahan, Rania terus menepuk dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. ' Ya Allah... Cobaan apa lagi ini? ', jeritnya dalam hati.


*


" Mas, lepasin dulu... Aku sedang masak. ", Rania menggeliat risih saat Arsha terus menciumi tengkuk dan lehernya.


" Heyy... Kenapa lagi kamu hhmm...?. Masih marah gara-gara masalah sekretaris?. ", Arsha menatap Rania yang seolah sedang mengacuhkannya.


" Nggak mas, aku ingin segera menyelesaikan masakan ini, habis itu kita sarapan, terus langsung pulang kerumah mama. Aku kangen sama Andra mas... ", ucap Rania dengan nada kesal dan seperti putus ada.

__ADS_1


" Rania... Kamu kenapa sayang?. Apa ada yang sedang kamu pikirkan saat ini?. ".


Rania hanya menggeleng pelan, airmatanya kembali berlomba untuk keluar tanpa ijin terlebih dulu dari nya. Dengan kasar Rania mengusap airmata yang sudah membasahi kedua pipinya.


" Heyy... Ada apa sayang?. Kenapa menangis?. Apa aku sudah menyakiti mu?. "


Rania tergugu dengan bahu terguncang karena menangis, rasanya masih sama sesak nya saat dia melihat foto-foto tadi.


Arsha langsung memeluk Rania dengan erat, mengusap punggung Rania dan mencoba menenangkannya. " Maaf kalau aku sudah menyakiti mu Rania. Aku benar-benar tidak tau kalau kamu sampai sesakit ini. Kalau kamu memang tetap ingin bekerja, aku akan tunda dulu perekrutan sekretaris barunya. ", pikirnya bingung dengan kesedihan Rania.


Rania langsung mendorong dada Arsha supaya bisa terlepas dari pelukan suaminya. " Enggak mas, aku akan berhenti kerja saja. Aku tidak mau menjadi sekretaris mu lagi nanti. Setelah dapat sekretaris baru aku akan segera keluar dari kantor. ".


" Rania... ".


" Keputusan ku sudah bulat mas. ", potong Rania cepat. " Aku akan resign secepatnya. ".

__ADS_1


Arsha langsung terdiam menatap Rania yang kembali menyibukkan diri menyelesaikan masakannya dengan wajah sedihnya. Dengan berat menghela nafas panjang sambil mengusar acak rambutnya sendiri karena frustasi tidak tahu dengan masalah yang sedang dipikirkan oleh Rania saat ini.


__ADS_2