Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Duo broken heart


__ADS_3

Arsha tampak sibuk dengan lembaran-lembaran laporan yang harus diselesaikannya hari ini juga sebelum jam 12 siang nanti. Dia sudah di ultimatum oleh mama Hanum yang tadi sempat melarangnya berangkat kerja tapi di bantah nya karena banyak sekali dokumen yang harus segera ditanda tangani olehnya hari ini.


Sementara Dani masih sibuk dengan urusan persyaratan di KUA untuk mengurus syarat pernikahannya dengan Rania. Jadi sama sekali tidak ada yang membantunya kali ini, karena Rania juga tidak masuk kerja untuk persiapan pernikahan dadakan yang akan diadakan sore nanti dirumah mama Hanum.


Pintu ruangan Arsha terbuka dengan dorongan yang sedikit kasar, suara hentakan hak tinggi sepatu Sarah menggema diseluruh ruangan Arsha.


"Arsha! Dimana Rania?!", tanya Sarah dengan suara yang terdengar menahan amarah.


Arsha langsung menoleh menatap Sarah yang sedang berjalan menghampirinya. Raut wajahnya memerah karena amarah.


"Dia tidak masuk kerja", sahut Arsha cepat.


'Brak... ', Sarah melempar undangan pernikahan yang baru saja dicetak kemarin sore oleh mama Hanum, Undangan pernikahan dirinya dan Rania


"Apa maksudnya ini, Sha?".


Arsha menatap undangan yang tergeletak diatas tumpukan dokumen di mejanya. Undangan terbatas untuk kerabat dekat keluarga wiguna yang sengaja disebar untuk ikut menyaksikan prosesi akad nikah yang akan dilakukan dirumah mama Hanum. Hanya sekitar 50 orang saja yang diundang, tentu saja tidak tertinggal Om Tomi yang merupakan sahabat Papa Wiguna.


"Itu undangan pernikahan ku. ", ucapnya dengan santai.


"Dengan Rania??".


Arsha mengangguk beberapa kali. Sarah sudah terlihat berkaca-kaca, bibirnya bergetar dan kedua tangannya mengepal disamping tubuhnya.


"Dimana rumah Rania?!!", tanya Sarah dengan nafas yang memburu.


"Mau apa kamu kerumah Rania?".


"Itu bukan urusan mu!! Dimana rumahnya?!!"


"Dia sedang tidak dirumah. "


"Kenapa? Kamu takut aku akan membunuh Rania??!"


"Sarah!!", bentak Arsha dengan keras.


Sarah langsung duduk bersimpuh sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tangisannya pecah seketika, menggema di ruangan Arsha.


"Kenapa...?? Kenapa harus Rania??", ucap Sarah terisak.


Arsha berjalan mendekati Sarah, kemudian berjongkok didepan Sarah. Menatap wanita yang sudah dianggapnya seperti Cantika, adiknya sendiri.


"Kenapa harus dia, Sha?? Kamu bahkan baru mengenalnya selama lima bulan ini... Tapi aku... aku sudah lebih dari dua puluh tahun mengenalmu, Sha!! Apa kamu tidak bisa melihat ku sedikitpun?? Kenapa kamu malah menikah dengan orang yang baru kamu kenal?!".

__ADS_1


Sarah menangis tersedu-sedu, Arsha mengelus lengan atas tangan Sarah dengan lembut, bagaimanapun juga dia tau perasaan Sarah sekarang, dia bukan laki-laki yang tanpa perasaan, dia juga tau Sarah sudah mencintai nya dari dulu, hanya saja dia sendiri tidak tau kenapa tidak bisa membalas cinta Sarah padanya.


"Semua ini bukan salah Rania, akulah yang salah padamu. "


Sarah mendongak menatap Arsha dengan mata sembab dan penuh dengan air mata.


"Aku tanya, kenapa harus Rania?? Kenapa harus orang seperti Rania yang kamu pilih??"


"Karena... ", Arsha menghentikan ucapannya, mencari alasan yang tepat dan bisa diterima oleh Sarah supaya Sarah berhenti berharap padanya dan tidak memusuhi Rania nantinya.


"Karena apa??"


"Karena aku menyukai Rania. ", jawab Arsha singkat.


Sarah langsung membulatkan matanya, lalu tertawa terbahak-bahak.


"Menyukai Rania?? Jawaban macam apa itu Sha??", Sarah tergelak lagi dengan tawa yang keras.


"Mana mungkin kamu menyukai wanita seperti Rania?? Aku tau selera mu selama ini seperti apa, Sha. Tidak mungkin Rania kan??"


"Siapa bilang tidak mungkin? Bukti nya nanti sore aku akan menikahinya. "


Sarah langsung terdiam seperti tertampar kenyataan mendengar kata pernikahan dari mulut Arsha. Kemudian menatap Arsha dengan tatapan yang sedih.


"Sarah, tolong berhentilah berharap lagi, kamu pasti akan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku. ", Arsha menatap Sarah dengan lekat, mencoba menyadarkan Sarah untuk tidak berharap terus padanya, dia tidak ingin Sarah mendapatkan laki-laki yang brengsek seperti dirinya, yang mempunyai masa lalu yang kelam, dan masih dibayangi trauma setiap malam.


"Aku harus bagaimana sekarang, Sha?"


"Maafkan aku, Sarah.", Arsha menarik Sarah untuk masuk kedalam pelukannya. Sarah kembali menangis tergugu sambil memukul dada Arsha dengan keras, melampiaskan rasa kecewa, sakit hati dan juga marah pada laki-laki yang sudah dicintainya sejak dulu dan akan menikah nanti sore dengan seorang wanita yang sudah dianggap nya seperti sahabat sendiri.


*


'Brak!' Arsha mendongakkan kepalanya menatap Dani yang sedang berdiri dihadapannya dengan wajah penuh emosi dan amarah. Lalu beralih menatap map yang tadi dilemparkan Dani keatas meja kerjanya dengan keras.


"Apa ini?", tanya Arsha tanpa membuka map nya.


"Itu surat pengunduran diri ku!", ucap Dani dengan nafas yang memburu.


Arsha menghela nafas, lalu bersandar disandaran kursi kerjanya sambil menatap Dani didepannya.


"Mengundurkan diri? Kamu yakin?"


"Ya!! Aku sangat yakin!"

__ADS_1


"Oke, aku simpan surat pengunduran diri mu, sebagai bukti kalau kamu pernah mengajukannya pada ku. "


Dani menatap Arsha dengan sinis, sudah habis kesabarannya menghadapi Bos kepala batu yang sudah merebut Rania darinya.


"Ingat, setelah pergi jangan lupa laporan pertanggungjawaban proyek apartement yang sedang dibangun masih atas namamu."


Arsha tersenyum miring, mengejek Dani yang tampak kaget dengan ucapannya. Kemudian teringat pembicaraan tiga bulan yang lalu saat Arsha meminta nya untuk mengambil alih proyek pembangunan apartement menjadi atas namanya. 'Ahh... kenapa bisa lupa hal itu?', memang cemburu buta membuat orang jadi lupa segalanya, ini sama saja ingin lepas tapi jantungnya masih tertinggal ditangan Arsha.


"Aku juga akan mengundurkan diri dari proyek itu!!"


"Oke! Silahkan cari pengacara mulai dari sekarang. Ingat Dani, biaya pengacara untuk melawan ku pasti akan sangat mahal, kamu harus banyak-banyak menabung mulai sekarang. "


Dani mendengus kesal, bagaimana mungkin dia bisa membayar seorang pengacara untuk melawan Arsha? Tim pengacara dibelakang Arsha jauh lebih banyak dan sudah sangat solid dalam mengatasi setiap masalah yang selama ini Arsha hadapi jika ada yang mau menjatuhkannya.


"Kamu sedang mengancam ku kan?!"


"Siapa yang mengancammu?", sahut Arsha dengan santai.


"Bos!!... "


"Aku akan simpan surat ini sebagai kenang-kenangan dari mu. Memang orang kalau sedang cemburu suka lupa dengan apapun, iya kan Dan?!"


"Biar aku saja yang menyimpannya!!", Dani berusaha merebut map yang sedang dipegang Arsha, tapi Arsha dengan cepat menepis tangan Dani.


"Kenapa? Nggak jadi mengundurkan diri?!", ledek Arsha pada Dani.


Mana mungkin mengundurkan diri sekarang, nilai proyek apartement yang sedang dipegangnya sangat besar, sampai matipun sepertinya Dani tidak akan mampu mengembalikannya pada Arsha.


"Makanya, Dan. Punya otak itu ditaruh dikepala, jangan di hati yang mudah baperan. "


"Kamu yang sudah menggeser otak ku ke hati, Bos!"


"Pantas saja kamu jadi bodoh!", ledek Arsha lagi, lucu juga melihat orang yang sedang buta karena cinta.


"Bos!! Sekali lagi aku katakan! Jangan sekali-kali menyakiti Rania!!", ancam Dani pada Arsha.


"Kamu mau mengancam ku sekarang?!"


"Ya!! Kalau sampai Rania sedih karena mu, aku tidak akan segan-segan dengan mu, Bos! Kalau perlu aku juga akan membawa Rania pergi darimu nantinya!"


"Wow... Ini sudah termasuk kejahatan berencana.", Arsha bertepuk tangan mendengar ancaman Dani.


"Aku tidak takut dengan hukuman kalau menyangkut soal Rania!! Ingat itu, Bos!!", ancam Dani sebelum melangkah keluar dari ruangan Arsha. Mungkin hanya itu yang bisa dilakukan Dani sekarang, mengancam dengan ucapan saja tanpa bisa melawan, karena dia tau kemampuannya sendiri hanya sampai disitu saja.

__ADS_1


"Hey... jangan lupa nanti sore datang ke rumah, kamu harus jadi saksi pernikahan ku dengan Rania, aku sudah menyiapkan baju khusus untuk mu, Dan. "


Dani tetap melangkah mengacuhkan Arsha yang masih meledeknya, 'dasar Bos gedeg'. Bagaimanapun juga memang dia akan kalah kalau melawan Arsha si Kepala batu itu, Arsha selalu banyak pertimbangan dalam melakukan segala hal, dan akan bermain cantik untuk membuat lawannya takluk padanya.


__ADS_2