Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Obat Mujarab


__ADS_3

Rania mendesah pelan, masih dengan posisi duduk diam diatas sajadah setelah selesai menunaikan ibadah sholat shubuh nya. Tubuhnya kini terasa sangat lelah tak bertenaga seperti habis berlari mengelilingi lapangan bola berulang kali tanpa henti. Arsha benar-benar menepati ucapannya sendiri yang ingin menghabisi Rania malam ini. Berulang kali membuat Rania hanya bisa pasrah dan ikut terhanyut dengan permainan panasnya sepanjang malam.


" Sshhh... ", desis Rania menahan perih dan pegal pada pinggangnya yang rasanya hampir terlepas dari ruas sendinya. Ini jauh lebih menyakitkan daripada saat dengan Andre dulu. Dulu Andre yang minim pengalaman dan sama-sama lugunya dengan Rania sama sekali tidak memaksakan nafsunya saat melihat Rania sudah kesakitan saat malam pertama mereka. Sangat berbanding terbalik dengan Arsha yang sangat lihai memperdaya dirinya saat kembali menaikan gairah ditubuh yang sudah terkulai lemah.


Rania bangkit dari atas sajadah, menahan rasa perih dan pegal kemudian berjalan perlahan menuju sofa kecil diruang walk in closet itu. Dengan pelan mulai membaringkan tubuhnya yang lelah disofa itu. Tidur meringkuk seperti seekor kucing yang menemukan tempat tidurnya. Rasanya matanya masih sangat berat karena tidur malamnya yang sangat kurang. Daripada harus kembali tidur bersama suaminya diatas ranjang dan akan membangunkan macan tidur yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri, lebih baik dia melanjutkan tidur sejenak disini. Dalam hitungan detik Rania sudah benar-benar tidur nyenyak disofa yang cukup untuk menampung tubuh kecilnya itu.


*


" Rania... ", panggil Arsha dengan suara lembut. Ujung jari nya mengusap pelan pipi mulus Rania yang masih betah memejamkan matanya. Arsha tersenyum menatap wajah lelah Rania, 'apa aku sudah keterlaluan semalam? ', niat awal hanya ingin memberikan hukuman tapi malah membuatnya sangat kecanduan hingga hampir membuat Rania pingsan. Terbayang kejadian semalam yang begitu panas saat Rania tanpa sengaja terus mengeluarkan suara nakal yang semakin menyulut gairahnya. Rasanya hampir tak ada puasnya kalau saja dia tega membiarkan Rania benar-benar pingsan oleh ulahnya.


" Rania... ", panggil Arsha lagi, kali ini dengan bonus ciuman lembut diatas bibir Rania. Benar saja, Rania langsung terusik oleh ciuman itu, matanya mengerjap menatap Arsha yang sedang duduk disamping ranjangnya.


" Astaghfirullah... Jam berapa sekarang? ", ucapnya kaget setelah melihat Arsha sudah berpakaian rapi dengan jas hitam mahalnya. Kemudian melirik jendela yang sudah terbuka sedikit kain gordennya. " Maaf Pak, saya kesiangan... ".


Arsha tersenyum menatap wajah malu istrinya itu, " Aku ada janji akan menemui klien penting bersama Dani dikantor, kamu tunggu aku pulang disini sebentar. Nanti setelah selesai aku langsung pulang untuk menjemputmu. Mama mengundang Cantika dan suaminya untuk makan malam bersama dirumah. ".


" Rania, Besok-besok kalau kamu masih ngantuk, tidurlah ditempat tidur, jangan disofa kecil seperti itu, tubuh mu nanti tambah sakit kalau kamu memaksa tidur disofa seperti itu. ", sambung Arsha sambil mengetuk pelan dahi Rania.


Rania tertunduk malu, baru tersadar kalau sekarang dia sudah berpindah tempat ke tempat tidur. Pasti tadi Arsha yang memindahkannya kesini, entah bagaimana caranya. Yang jelas bagaimana mungkin dia sama sekali tidak merasakan saat dipindahkan oleh Arsha?.


" Sekarang kamu sarapan dulu, aku udah siapin sandwich disitu, terus jangan lupa diminum juga obatnya yang sudah aku siapkan. ", tunjuk Arsha pada meja kecil diruang santai dekat jendela besar.


" Apa boleh saya pulang kerumah mama sekarang? ", tanya Rania dengan muka memelas, rasanya bingung juga saat dia sendirian di apartement sepi ini nanti?.


" Apa kamu bisa menahan sakit mu Rania?. Wajahmu sekarang juga masih keliatan pucat seperti kelelahan. Cantika pasti akan meledek mu habis-habisan Rania. Sekarang lebih baik kamu sarapan dulu, lalu minum obat yang sudah aku siapkan, nanti siang rasa sakitnya pasti sudah berkurang. ".


Rania tertunduk lagi sambil menggigit bibir bawahnya, sakit juga karena ulahnya, kenapa dia bisa begitu paham tentang rasa sakit yang dirasakan wanita yang sudah diperdayai olehnya?. Sepertinya Arsha paham betul tentang masalah dewasa seperti itu, sampai-sampai sudah siap sedia dengan obatnya segala.


" Jangan pernah menggigit bibir seperti itu didepan laki-laki lain Rania, atau kamu memang sengaja ingin menggodaku lagi?. Kalau itu mau mu, aku akan dengan senang hati menemanimu sepanjang hari di sini. ", Rania bergidik ngeri melihat senyum smirk yang mengembang dibibir Arsha.


" I.iya... ".

__ADS_1


" Iya apa Rania? ", ledek Arsha sambil tersenyum geli melihat Rania yang langsung ketakutan mendengar ancamannya.


" Saya tidak akan menggigit bibir lagi. ".


" Istri yang pintar... ", ucap Arsha senang sambil membelai rambut Rania yang terlihat masih acak acakan. " Aku berangkat ke kantor dulu ya, telpon aku kalau kamu butuh sesuatu. Oke. ".


Rania hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja, menatap kepergian Arsha sampai benar-benar menghilang dibalik pintu kamar. Dengan perlahan Rania mulai beranjak dari ranjang menuju ruangan kecil itu, " Auww... ", pekiknya pelan. Ternyata Arsha ada benarnya juga menyuruhnya untuk menunggu disini dulu sampai nanti siang, untuk berjalan saja kini Rania harus menahan rasa sakitnya yang seperti orang habis melahirkan normal.


*


" Jangan terburu buru Rania, pelan aja jalannya. ", ucap Arsha geli saat melihat Rania langsung berjalan mendahuluinya begitu sampai dihalaman rumah mama Hanum.


Rania tetap melangkah masuk ke dalam rumah sambil menahan nyeri yang kembali datang karena ulah Arsha tadi siang. 'Dasar tidak berperi kewanitaan! ', sungut Rania dalam hati.


" Apa sudah nggak sakit lagi Rania? ", tanya Arsha yang kini sudah berhasil menyusul Rania dengan langkah lebarnya.


" Pak, tolong jangan bahas itu lagi disini. ", sahut Rania sebal. Bagaimana tidak kesal, tadi setelah minum obat yang sudah disiapkan Arsha untuknya, Rania kembali tertidur pulas selama hampir 3 jam lamanya. Dan saat bangun tidur rasanya tubuhnya sudah kembali fit seperti sebelumnya, rasa sakitnya juga sudah benar-benar berkurang. Niat hati Rania ingin mengucapkan terimakasih untuk suaminya atas obat mujarab yang diberikan untuknya, malah dia harus menerima kenyataan pahit lagi karena lukanya yang belum sembuh betul itu harus disiram lagi dengan air garam oleh sang suami yang tidak ada puasnya menyiksa nya. Tadi siang saat Rania sudah siap dengan pakaian rapi menunggu Arsha menjemputnya di apartement, kembali harus rela melayani Arsha yang malah tergoda melihat Rania saat membuka pintu apartement.


Rania terdiam, dia juga sudah memikirkan hal itu dari kemarin, tapi masih belum menemukan panggilan yang tepat untuk Arsha. Bagaimanapun panggilan pak sudah sangat melekat selama hampir 6 bulan dia mengenal Arsha.


" Terus harus panggil apa?. ", tanyanya pelan.


" Sayang... ", bisik Arsha pelan ditelinga Rania.


" Ehhemm!!! Iya tau pengantin baru, nggak usah bisik-bisik juga kali, lagian dari sini juga nggak bakalan kedengeran kalian lagi ngomongin apa. ", ledek Cantika sambil tersenyum geli yang sudah siap menyambut mereka berdua ditaman belakang.


Rania langsung menyikut pinggang Arsha supaya menjauh darinya. " Auww... Kamu sudah berani menyikut ku Rania?!. ", Arsha terkekeh pelan sambil terus mengekor dari belakang Rania.


" Bundaaa... !!! ", si tarzan cilik langsung menghambur berlari dari dalam rumah saat tau yang datang adalah Bunda nya.


" Assalamu'alaikum... Andra. ", ucap Rania langsung berjongkok siap-siap menangkap Andra yang sedang berlari.

__ADS_1


" Hap! Hai jagoan daddy... !! Mulai sekarang Andra nggak boleh minta gendong Bunda, Andra udah besar. Daddy aja yang gendong ya. ", Arsha langsung menyerobot mengangkat tubuh kecil Andra saat baru sampai didepan Rania.


" Andra kan cuma mau peluk Bunda, daddy... ", rengek Andra dengan muka cemberut.


" Sini daddy, biar Bunda aja yang gendong Andra.", Rania mencoba merebut Andra dipelukan Arsha.


" No!! Liat tubuh Bunda mu, udah pendek, kurus pucet lagi. Nanti kalo Andra minta gendong Bunda terus, Bunda jadi nggak tumbuh-tumbuh keatas. ", ucap Arsha sambil melirik pada Rania yang sudah terlihat cemberut sebal.


" Ka Rania, ati-ati lho ka, ka Arsha emang suka sekali merebut yang bukan miliknya. Siap-siap aja semuanya direbut sama dia. ".


Arsha langsung mendelik menatap tajam adiknya yang omongannya suka tanpa filter keluar begitu saja. " Diem kamu, dasar bawel! ".


" Tapi Andra mau peluk aja bolehkan daddy? ", tanya Andra memelas.


" Boleh dong, tapi nggak boleh minta gendong lagi ya. ", Andra langsung mengangguk patuh.


" Bunda harus banyak makan biar cepat besar seperti daddy. ", ucap Andra saat memeluk Rania dengan posisi masih dalam gendongan Arsha. Arsha yang mendengar nasehat Andra untuk Rania langsung tertawa lepas.


" Iya sayang, Bunda nanti makan yang banyak biar kuat gendong Andra lagi. ".


" Mas, tolong jangan bilang aku kurus lagi. ", Rania menoel sebal pinggang Arsha dan berbisik lirih ditelinganya.


" Apa kamu bilang? ", tanya Arsha yang kaget karena Rania sekarang sudah mengganti panggilan untuknya.


" Ayo Andra, kita cari gemma dulu. Bunda mau bantuin gemma masak di dapur. ", Rania langsung menurunkan Andra dari pelukan Arsha. Berusaha melarikan diri dari Arsha secepatnya, rasanya masih canggung dan malu saat panggilan itu terucap dari bibirnya.


" Rania, coba ulangi lagi, aku nggak dengar tadi Rania.".


" Nggak mau! ", sungut Rania dengan geram.


Arsha terkekeh, bahagia rasanya melihat Rania sudah tak lagi malu untuk mengekspresikan perasaannya, setidaknya sekarang sudah lebih baik daripada selalu melihat ekspresi ketakutan dan keraguan diwajah istrinya itu. Dengan langkah ringan Arsha mengekor dibelakang Rania dan Andra yang bergandengan tangan menghampiri Cantika ditaman, lalu masuk kedalam rumah mencari mama Hanum yang sedang sibuk memasak didapur. Ternyata begini rasanya punya keluarga, hatinya seperti dipenuhi dengan kehangatan yang seolah membuat dirinya disirami kebahagiaan.

__ADS_1


*


__ADS_2