
Tanpa terasa sudah hampir tiga minggu lebih Rania mengarungi bahtera rumah tangganya bersama Arsha. Kini dia sudah benar-benar berdamai dengan status barunya sebagai istri seorang Bos besar ditempat kerjanya sendiri. Alhamdulillah, semua bisa dilaluinya dengan rasa bahagia karena kehangatan mama Hanum dan Cantika yang sudah menganggap Rania sebagai bagian penting dari keluarga mereka.
Perlahan namun pasti, kehadiran Rania dan Andra juga sangat berpengaruh besar dengan kebiasaan keluarga Arsha dalam hal beribadah. Sekarang mama Hanum dan juga Arsha sudah mengikuti kebiasaannya yang selalu menunaikan sholat tepat waktu. Bahkan sesekali Arsha juga terpaksa menuruti kemauan Andra yang menginginkan daddy nya menjadi imam saat sholat berjamaah. Arsha bukannya tidak mau menjadi imam, dia beberapa kali mengadu pada Rania kalau sebenarnya dia belum siap menjadi imam karena merasa malu dengan Andra yang lebih pintar dan fasih hafalan suratannya. Dan Rania tau betul bagaimana Arsha berusaha dengan keras kembali belajar tentang tata cara sholat dan bacaan yang benar sesuai dengan cara Rasulullah.
" Bunda...!! ", teriak Andra dari luar kamar.
" Boleh Andra masuk kekamar Bunda?. ".
Rania segera membuka pintu kamar dan mendapati Andra yang sudah berdiri tepat didepan pintu dan sudah lengkap dengan seragam sekolahnya. " Iya sayang, Andra boleh masuk kekamar. ", Rania langsung menggandeng tangan Andra.
" Daddy dimana Bunda?. Andra mau bicara sama daddy. ".
" Daddy masih mandi, Andra memang mau bicara apa sama daddy?. ", tanya Rania penasaran.
" Kemarin daddy janji mau ajak Andra ke rumah Eyang di jogja. Andra boleh ikut kan Bunda?. ".
Rania terdiam, kenapa Arsha tidak pernah bilang kalau akan ke rumah Bapak Ibu di Jogja padanya?.
" Bunda... Bolehkan Andra ikut?. Andra kangen sama Yang uti sama yang kung. "
" Boleh dong sayang... ", jawab Rania sambil mengusap rambut Andra. Sebenarnya dia juga sudah kangen pulang ke Jogja. Selama pindah ke Jakarta, Rania belum pernah pulang ke Jogja.
" Yeeyyy... Makasih Bunda. ".
" Hai jagoan, sudah siap mau berangkat ke sekolah?. ", sapa Arsha sambil memakai baju hem nya.
" Udah daddy. Daddy jadikan ajak Andra ke rumah Eyang di Jogja?. ", Andra langsung menghampiri Arsha dan memeluk kakinya erat.
" Jadi dong. ", jawab Arsha sambil melirik Rania yang sudah mulai cemberut dengan rencana dadakannya dengan Andra kemarin malam tanpa memberitahu Rania sebelumnya.
" Yeeyyy... Makasih Daddy. Andra sekarang mau pamitan berangkat sekolah dulu. Assalamu'alaikum, Bunda Daddy... ".
" Waalaikumsalam... Andra yang nurut sama pakde Joko ya, ingat nggak boleh nganggu pakde lagi nyetir. ", Andra bergantian mencium tangan Arsha dan Rania.
" Iya Bunda. ", sahut Andra sambil berlari keluar dari kamar. Andra setelah pindah kerumah mama Hanum memang harus lebih gasik berangkat ke sekolah, karena sekarang jaraknya lebih jauh dan memakan waktu hampir setengah jam perjalanan, itupun kalau jalanan sedang lancar.
" Kenapa nggak bilang dulu kalau mau ke Jogja?.".
Arsha langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " Maaf, aku benar-benar lupa Rania, kamu juga sudah tidur saat aku masuk kekamar. Aku sama Andra baru merencanakan nya kemarin malam, karena Andra bilang kalo dia kangen sama Eyang nya di Jogja. Aku juga belum pernah main kerumah Bapak Ibu di Jogja kan, jadi aku pikir sekalian aja aku silahturahmi ke rumah mertua. ".
Benar juga, Arsha belum pernah kerumah Bapak Ibu di Jogja karena memang kesibukannya mengurusi beberapa proyek yang sedang berjalan saat ini. " Memangnya mau berangkat ke Jogja kapan?. ", tanya Rania kemudian.
" Nanti sore. Kamu hari ini nggak usah berangkat ke kantor, siapkan baju kita bertiga yang mau dibawa ke Jogja. Aku janji sama Andra hari akan menjemputnya ke sekolah. Jadi kita bisa langsung berangkat sore nanti, kita naik kereta saja biar lebih cepet dan efesien waktunya. Aku sudah bilang Dani untuk memesankan tiket nanti sore dan minggu siang. ".
" Jadi kita langsung berangkat nanti sore mas?. ".
Arsha tersenyum menatap binar bahagia dimata Rania, " Iya sayang... Kita berangkat nanti sore. Kamu senang kan?. ".
Rania mengangguk senang, " Makasih mas... ", Rania dengan cepat mencium pipi Arsha.
" Eitss... mau kemana kamu?. Sudah berani mencuri ciuman dariku sekarang kamu ya... ", Arsha langsung mencekal tangan Rania yang mau berlalu dari hadapannya.
Rania langsung menyeringai malu, " Maaf... ".
__ADS_1
" Coba ulangi lagi. ".
" Apanya?. ", tanya Rania bingung.
" Tadi yang kamu curi. ".
Rania tampak ragu untuk mencium Arsha yang sudah bersiap memasang pipinya tepat didepan wajahnya.
Cup, Rania terbelalak kaget saat Arsha menoleh padanya dan membuat ciumannya meleset ke bibir Arsha. Arsha tersenyum nakal, lalu dengan posesif langsung memeluk erat pinggang Rania,
" Ternyata kamu sekarang sudah pintar menggoda ku ya Rania... ".
" Mas, aku mau kebawah dulu. Mau menyiapkan sarapan sama mama. ", Rania menggeliat mencoba melepaskan pelukan Arsha.
" Sudah ada mama sama bibik didapur, mereka nggak butuh kamu disana, sekarang aku yang butuh kamu disini. Apa sudah selesai Rania? ".
Rania langsung paham dengan pertanyaan Arsha, dengan pelan Rania menggelengkan kepalanya yang langsung membuat Arsha tertunduk lesu di bahunya.
" Kenapa lama sekali Rania?. Apa nggak ada obat yang bisa mempercepat bulanan mu itu?. ".
" Ini baru hari ke tiga mas, biasanya lima hari baru selesai. Sabar yaa... ", ucap Rania sambil mengusap punggung Arsha.
" Dua hari lagi itu lama Rania, aku pegal harus menahannya terus. ", Rania terkekeh mendengar rengekan Arsha yang seperti anak kecil meminta permen. Ternyata dia tidak sesangar seperti dikantor, bahkan perilakunya lebih seperti anak kecil kalau sudah dirumah.
" Makasih ya mas... ", ucap Rania sambil mencium kepala Arsha yang masih bersandar di bahunya.
Arsha langsung mendongak menatap Rania yang kini sedang tersenyum tulus padanya, " Makasih untuk apa? ", tanyanya bingung.
Arsha langsung menarik Rania kedalam pelukannya, " Aku yang seharusnya berterimakasih padamu Rania. Karena kamulah sekarang aku jadi bisa kembali lagi ke keluargaku sendiri, dan kembali menjadi diriku sendiri yang seharusnya. Dan aku merasa sangat beruntung karena kamu mau jadi istri ku. ".
Arsha mencium puncak kepala Rania dengan lembut, " Maaf kalau aku belum bisa menjadi suami dan daddy yang baik untuk kamu dan Andra. Tapi aku akan terus belajar supaya kamu bisa dengan bangga menyebutku sebagai suami dihadapan semua orang. Aku mohon bersabarlah disamping ku Rania, dan jangan pernah berpikiran untuk meninggalkan ku saat kamu merasa lelah dengan usahaku. ".
Rania mengangguk haru, ternyata mencoba menerima kenyataan tidak sesulit seperti yang dibayangkan. Semua akan tergantung dari diri kita masing-masing bagaimana akan menghadapi masalah demi masalah yang akan menghadang. Sudah saatnya membuka lembaran demi lembaran catatan kehidupan yang indah di masa depan, karena masa lalu hanya akan menjadi bahan pembelajaran bagi kita untuk menjadi lebih dewasa.
*
Suasana rumah sederhana milik orang tua Rania kini tampak lebih ramai dibandingkan dari hari biasanya. Kedatangan anak semata wayangnya dan juga cucu tersayang, serta menantu barunya yang belum genap tiga minggu resmi menikahi putrinya membawa kebahagiaan diwajah kedua orang tua Rania.
" Eyang, Andra sekarang udah punya kamar sendiri dan Andra sekarang udah berani tidur sendiri. ".
" Hebat Andra ya, udah berani tidur sendiri sekarang. ", Ibu langsung memeluk Andra gemas.
" Tapi sayang, kalau mandi masih minta dimandiin Bundanya... ", ledek Arsha mulai kumat jailnya.
" Kan tangan Andra masih sakit, iya kan Bunda. ", rengek Andra tak Terima, sambil mengacungkan tangannya yang masih tertutup gips.
" Iya sayang, tangan Andra belum bisa buat mandi sendiri. Besok kalau udah dilepas baru bisa mandi sendiri. ".
" Emang kapan gipsnya boleh dibuka Ra? ", tanya Bapak pada Rania.
" Kata dokter dua minggu lagi boleh dilepas Pak, kemarin pas kontrol dokternya bilang katanya tulang Andra udah nyambung cuma masih belum cukup kuat, jadi harus nunggu dua minggu lagi. ".
" Alhamdulillah, sebentar lagi Andra bisa main sepeda lagi ya... ", Ibu mengapit pipi Andra dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
" Bunda, Andra ngantuk. ", rengek Andra sambil mengucek matanya dan bibirnya menguap lebar.
" Andra bobo sama Yang Uti aja ya, kamar Bunda tempat tidur nya sempit, nggak cukup buat tidur bertiga. ".
" Nggak papa Bu, nanti Arsha bisa tidur dibawah saja. ".
" Eehhh, nak Arsha nggak boleh tidur dibawah, nanti malah masuk angin. Udah nggak papa, Andra tidur sama Eyang saja, Eyang punya cerita bagus buat Andra. ", rayu Bapak pada Andra.
" Oya, cerita apa Yang?. ".
" Cerita tentang Tentara Langit, Andra belum pernah dengarkan?. ".
" Iya Yang Kung, Andra mau denger ceritanya. Ayo Eyang, masuk kekamar sekarang. ", Andra langsung menarik tangan Bapak dengan semangat.
" Rania, ajak suamimu tidur. Sepertinya nak Arsha juga udah capek. Ibu kekamar dulu ya nak Arsha.".
" Iya Bu. ", Arsha melirik Rania yang masih duduk disampingnya. " Rania, ayo masuk kamar. ", ajaknya karena memang dia juga sudah mengantuk.
" Aku tidur dikamar sebelah aja ya mas, tempat tidur dikamarku sempit. ".
" Enak aja mau pisah kamar, apa kata Bapak Ibu kalo tau anaknya pisah ranjang. Dikira nanti lagi kenapa-napa. ", tolak Arsha langsung.
" Ya udah ayo, kalo nggak kuat silahkan pindah sendiri kekamar sebelah. Soalnya aku kalo udah tidur susah mau pindah lagi. ", Rania langsung berlalu meninggalkan Arsha menuju ke kamarnya.
" Kata siapa susah mindahin kamu, udah berapa kali kamu nggak kerasa digendong pas tidur. ".
" Sstt... Jangan keras-keras mas, rumah ini nggak seluas rumah mama Hanum. Orang lain masih bisa dengar suaramu. ".
Arsha langsung tersenyum jail melihat Rania mulai kesal padanya, " Aakkhh...!! Mas, turunin aku...! ", pekik Rania kaget, spontan tangannya langsung memukul dada Arsha.
" Ssttt... Jangan keras-keras Rania, nanti Bapak Ibu bisa dengar teriakan mu. Dikira lagi diapain sama aku. ", ledek Arsha sambil menggendong Rania masuk kedalam kamar.
Rania langsung mencubit pinggang Arsha dengan keras, " Aakhh...!! ".
" Mas, ngapain teriak gitu sih... ".
" Lha kamu sendiri ngapain nyubit gitu... ".
Arsha menurunkan Rania tepat dibawah lukisan pre wedding Rania dan Andre yang masih terpasang didinding kamar. Lalu menatap lekat lukisan yang menampakkan sosok Andre yang begitu jelas karena posisinya lebih menonjol didepan dan Rania seperti sedang berjalan mengikutinya dari belakangnya.
" Maaf, Bapak mungkin lupa belum menurunkannya. Biar sini aku turunkan dulu lukisannya. ", ujar Rania saat melihat Arsha sedang terpaku menatap sosok Andre di lukisan itu.
" Biarkan saja, nggak usah diturunkan. Biar saja disini seterusnya. Andra pasti akan senang bisa selalu menatap wajah ayahnya saat dikamar ini. ".
" Ini salah satu cara supaya Andra bisa mengenali sosok ayah kandungnya sendiri. ", Rania tertunduk sedih, mengingat penyesalan terbesarnya saat belum sempat memberikan kabar bahagia kehamilannya pada Andre.
" Dia pasti sudah bahagia melihat kamu dan Andra juga bahagia disini. ".
Rania mengangguk sambil tersenyum menatap lukisan suaminya itu, " Besok aku ingin mengajak Andra ke makam ayahnya. Bolehkan kan mas?. ".
" Aku juga akan ikut ke makam suami mu. Kamu nggak keberatan kan aku ikut ke sana?. ", Rania menggeleng pelan sambil tersenyum menatap Arsha. Bahagia karena Arsha sama sekali tidak keberatan dengan masa lalunya.
*
__ADS_1