
...Terkadang manusia hanya bisa berencana, tapi kembali hanya Allah lah yang Maha Tahu mana yang terbaik untuk umatNya. Kita hanya bisa berdoa, semoga bisa menjalankannya dengan ikhlas atas semua garis yang sudah ditakdirkan oleh Allah pada setiap umatNya....
Rania berjalan pelan menuju lift yang sudah terbuka dan tampak kosong, yang akan mengantarkannya ke lantai 11. Hari ini, Rania memaksa untuk tetap berangkat kerja setelah tadi pagi berdebat panjang dengan Bapak Ibu dan juga mama Hanum tentunya, yang melarangnya untuk berangkat kerja dengan alasan untuk mempersiapkan pernikahan dadakannya.
Hari senin terakhir dengan status jandanya, karena mulai besok dia sudah menjadi nyonya Arsha Wiguna sang pemilik perusahaan properti nomor satu saat ini. Rania menggelengkan kepalanya keras, berusaha menepis bayangan esok hari saat dia harus bersanding dengan Bos nya itu. 'Astaghfirullahalazim... ', tidak pernah terbesit sedikit pun dalam benak Rania kalau suatu saat dia akan menjadi istri dari Bosnya sendiri, Bos yang sangat kaku dan dingin padanya selama lima bulan dia bekerja disini.
'Ting... ' pintu lift terbuka pelan saat sudah sampai dilantai 11 tempat Rania bekerja.
"Astaghfirullahalazim... ", ucapnya kaget, spontan memegang dadanya menahan jantungnya yang berdetak kencang.
"Mas Dani, kenapa berdiri didepan pintu lift, mas?".
"Aku menunggu mu, Rania.", sahut Dani dengan suara tak bersemangat. Tatapan matanya terlihat sedih dan layu, karena semalaman kurang tidur memikirkan pernikahan Rania dan Bos nya.
Rania menundukkan kepalanya, kemudian berjalan melewati Dani yang masih berdiri didepan pintu lift, menuju meja kerjanya.
"Rania, apa kamu benar-benar mau menikah dengan si Bos kepala batu itu?", tanya Dani yang mengikuti Rania dari belakang. Rania terdiam, sambil pura-pura menyibukkan diri merapikan meja kerjanya.
"Rania, kalau kamu nggak mau atau terpaksa, kamu harus menolak pernikahan ini!".
Rania mendongak menatap Dani dengan mata berkaca-kaca.
"Rania... ", Dani tercekat menatap Rania yang hampir menjatuhkan air matanya. Baru kali ini dia melihat Rania menangis.
"Maaf, mas. Aku mau kerja dulu. ", ucap Rania pelan, kemudian meneruskan merapikan meja yang sebenarnya sudah rapi.
"Dasar Bos Brengsek!!".
"Astaghfirullah... Mas Dani nggak boleh ngomong begitu."
"Kenapa emang? Memang dia itu Bos brengsek kepala batu! Bisa-bisanya memaksa kamu menikah dengannya?!"
"Bukan dia yang memaksa, mas. "
"Terus, siapa yang memaksa mu, Ra?"
Rania terdiam, mengingat kesalahpahaman kemarin pagi saat Bapak Ibu baru saja tiba dari Jogja.
"Bapak yang meminta pak Arsha menikah denganku. "
"Apa?! Tapi..., tapi kenapa meminta si Bos menikahimu?", tanya Dani bingung, dia sampai sekarang memang belum tau alasan apa yang membuat Rania dan Bos nya harus mendadak menikah hari selasa besok.
Rania menggelengkan kepalanya, tidak mungkin mengatakan kejadian kemarin pada Dani.
__ADS_1
"Kenapa bukan aku saja yang diminta menikahi kamu, Rania? Seharusnya aku saja yang bertemu dengan orang tuamu. ", ucapnya sedih menatap Rania yang masih tertunduk dalam.
'Ting... ', pintu lift kembali terbuka, Rania dan Dani sama-sama menoleh kearah pintu lift, menatap Arsha yang muncul dari balik pintu lift.
'Tumben sepagi ini sudah berangkat ke kantor?', batin Dani dalam hati, menatap sinis kedatangan Bos nya.
Rania langsung menundukkan kepalanya, menatap ujung sepatunya sendiri untuk menghindari bertatapan langsung dengan Arsha.
Arsha berjalan mendekati meja kerja Rania, mengacuhkan Dani yang dari tadi menatap sinis padanya.
"Rania, nanti siang Mama mau menjemput mu. ",
Rania hanya menganggukkan kepalanya tanpa menatap Arsha. Tadi pagi mama Hanum memang sudah menelponnya dan mengatakan kalau siang ini akan ke butik baju pengantin muslimah untuk membeli gaun pengantin untuk Rania dan Arsha. Arsha melirik kearah Dani yang masih terdiam di sampingnya.
"Aku menggaji mu bukan untuk berdiri saja seperti ini, Dan! Mana laporan mu kemarin?".
Dani mendengus kesal, 'dasar Bos Gedeg!', tidak tau apa, kalau hatinya masih hancur dengan rencana pernikahan Rania dan si Bos kepala batu ini, masih saja seenaknya meminta laporan!. Dani langsung berlalu menuju kekantor nya tanpa menjawab pertanyaan Arsha.
"Maaf, Pak. Saya ingin bicara dengan Bapak. ", ucap Rania pelan, membuat Arsha kembali menoleh kepadanya. Masih sama seperti tadi, menunduk tanpa menatap Arsha didepannya.
"Kita bicara di ruangan ku. ", Rania mengangguk patuh.
*
"Apa yang mau kamu katakan?", tanya Arsha yang sudah tak sabar melihat Rania yang masih diam membisu.
"Kenapa pak Arsha tidak menolak pernikahan ini?", Rania balik bertanya dengan suara yang pelan.
Arsha menghela nafasnya pelan, 'kenapa?', ya kenapa dia tidak mampu menolak nya saat Bapaknya Rania mengancamnya untuk tidak lagi menemui Andra jika tidak mau menikah dengan Rania. Itulah alasannya yang sebenarnya, tapi mana mungkin mengatakannya alasan itu pada Rania.
"Kenapa kamu sendiri juga tidak menolaknya?", Arsha balik bertanya pada Rania.
Rania mendongakkan kepalanya menatap Arsha.
"Karena saya seorang anak perempuan yang harus patuh pada perkataan orang tuanya. "
Arsha kaget menatap mata Rania yang sangat sembab, 'Sepertinya habis menangis semalaman', tatapannya sedih dan sama sekali tidak ada semangat yang terpancar yang biasa terlihat setiap harinya.
"Kalau tidak setuju, harusnya kemarin pak Arsha menolak permintaan Bapak. "
Arsha terdiam, bingung harus bicara apa alasannya dia tidak bisa menolak permintaan Bapak kemarin pagi.
"Terus kamu mau bagaimana sekarang?", Arsha berusaha mengalihkan pertanyaan Rania yang terus menanyakan alasannya tidak menolak pernikahan ini.
__ADS_1
Rania tertunduk lagi, air matanya sudah tidak bisa lagi terbendung, jatuh satu persatu kepangkuan nya sendiri. 'Yah, mau bagaimana lagi sekarang?', semua sudah terlanjur disepakati oleh dua keluarga, bukan hanya dirinya dan Arsha, tapi ini menyangkut Bapak Ibu dan mana Hanum. Akan ada banyak hati yang terluka jika rencana minggu pagi kemarin dibatalkan.
Arsha mengambil tisu diatas meja kerja nya, lalu memberikannya pada Rania yang sudah menangis sesenggukan. Rania langsung menerimanya dan mengambil tiga helai tisu untuk membersihkan air matanya yang sudah membasahi pipinya. Kemudian menarik nafas dalam supaya bisa berbicara.
"Kita sepakati saja dari sekarang, mungkin satu tahun cukup untuk bisa mengatakan alasan yang kuat dan tepat pada orang tua kita masing-masing. "
"Satu tahun? Alasan tepat apa maksudnya?", tanya Arsha yang tidak mengerti dengan ucapan Rania.
Rania menatap Arsha dengan tatapan ragu-ragu.
"M-maksudnya... kita bisa berpisah setelah satu tahun pernikahan. "
Arsha kaget mendengar ucapan Rania barusan, mulutnya menganga dan alisnya terangkat keatas, 'Seorang Rania bisa mengatakan perpisahan bahkan sebelum pernikahan terjadi?'.
"Kenapa harus satu tahun?!", tanya Arsha penasaran dengan alasan Rania.
"Karena kalau hanya enam bulan, saya kira itu terlalu cepat, Pak. Orang tua kita pasti akan curiga. "
Arsha mendengus kesal, rasanya jengkel sekali mendengar Rania yang seperti sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Sebegitu tidak suka kah dia, sampai meminta berpisah setelah menikah selama satu tahun saja. Yah, memang mungkin dirinya sangat jauh dari kriteria suami idaman bagi orang seperti Rania.
"Terserah maumu saja. ", ucap Arsha dengan sedikit kecewa. Semalam dia terus memikirkan tentang pernikahan dengan Rania yang diharapkan bisa berjalan seperti pernikahan pada umumnya, mungkin saja seiring waktu bisa menumbuhkan perasaan cinta pada dirinya dan Rania. Disamping itu Arsha juga sempat berpikir kalau mungkin inilah jawaban dari mimpi nya selama ini, mimpi yang terus membuat nya gelisah karena tiba-tiba saja Rania terus hadir disetiap mimpinya. Tapi sekarang sepertinya dia harus mengubur dalam-dalam impiannya, karena Rania sendiri seperti tak menginginkannya sedikitpun.
"Satu hal lagi, Pak. Setelah menikah, saya... saya dan Andra apa boleh tetap tinggal dirumah saya Pak?".
Arsha menatap lekat pada Rania, membuat Rania sedikit ketakutan karena tatapan matanya seperti sedang memendam amarah.
"Kalau itu aku yang akan mengaturnya. ", ucapnya tegas, kali ini dia tidak mau mengalah pada Rania. Apa maksudnya menikah tapi pisah rumah?.
"Tapi Pak.. ".
"Tidak ada bantahan, kamu pasti tau kan, seorang istri harus patuh pada suaminya. ", ancam Arsha.
Rania langsung terdiam, ingin menolak tapi memang itulah aturan Agama Islam, harus patuh apapun perkataan suami.
"I-itu..., saya... apa boleh minta satu hal lagi?", ucap Rania melirik takut pada wajah Arsha yang berubah kesal.
"Apa?".
"Nanti... apa boleh... saya dan Andra tetap tidur satu kamar? Maksudnya kita... kita kan tidak menikah sungguhan, jadi... ", Rania seperti tercekat tidak bisa melanjutkan kata-kata nya.
Arsha tersenyum miring mengerti apa maksud perkataan Rania yang terputus-putus karena takut mengatakannya. 'Tidak menikah sungguhan?', apa maksudnya? Sepertinya ini yang ditakutkan Rania, menikah dan takut untuk tidur bersama dengannya nanti.
"Kita lihat saja nanti. ", ucapnya dengan senyuman misterius, sekarang dia tau apa yang harus dilakukan nya nanti, sudah terbersit banyak rencana besar didalam benaknya. 'Tunggu saja Rania', mana mungkin seorang Arsha Wiguna akan menyerah begitu saja dengan semua keinginan Rania. Sepertinya pernikahan dengan Rania akan menjadi hal yang sangat menarik nantinya.
__ADS_1