Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Titipan Bapak


__ADS_3

Arsha membuka pintu apartement dan langsung mendapati Dani yang sedang bersandar disebelah pintu.


" Kenapa nggak langsung masuk aja sii..! Ngrepotin banget minta dibukain segala! Kamu kan udah hapal betul pasword nya. ", ucap Arsha sebal.


" Mana mungkin saya langsung masuk kedalam, sedangkan didalam ada Rania. Saya orang yang tau sopan santun dan tau mana yang baik dan benar, bukannya orang yang bisa masuk kemana saja dan langsung merampas yang bukan miliknya. ".


" Heiii!! Apa maksud perkataanmu?! Kamu sedang menyindir ku?! ", Arsha membalas tatapan Dani yang menantang kearahnya.


" Siapa yang menyindir?? Kalo Bos tersinggung berarti memang Bos pelakunya. "


Pletak!!


" Auwww... Bos! Kenapa memukul ku?".


" Kamu itu asisten durhaka! Jadi harus dihajar baru bisa bertobat! ", ucap Arsha sarkas.


Dani mengusap dahinya yang barusan terkena tabokan keras telapak tangan Arsha. Sambil meringis sebal Dani berlalu melewati Arsha yang masih berdiri didepan pintu dan langsung masuk kedalam apartement tanpa permisi. Kemudian pandangannya memutar mencari seseorang didalam apartement, tapi nihil, Rania sama sekali tidak terlihat dimana-mana, mungkin dia...


" Kenapa?? Kamu nyari Rania? ", tanya Arsha yang sudah ada dibelakangnya. Dani langsung melengos sebal melihat senyum smirk dibibir Bos gedegnya itu.


" Dia masih dikamar, masih tertidur pulas karena semalaman dia kurang tidur, sepertinya dia sangat kelelahan. Kamu tau sendiri kan kenapa Rania kelelahan?", seringai Arsha sambil menghadang Dani didepannya.


Dani langsung melotot tajam menatap Bos nya yang tanpa henti terus meledeknya, dengan sebal melangkah menuju sofa melalui Arsha begitu saja dan langsung menjatuhkan tubuhnya. " Ini titipan dari nyonya Hanum untuk Rania, dan ini berkas dari PT Angkasa sama dokumen yang lainnya. ", Dani dengan kasar meletakkan map berisi dokumen yang tadi dibawanya keatas meja, berikut totebag berisi pakaian Rania, kemudian bersandar dengan malas.


Arsha melirik totebag diatas meja, tadi dia memang meminta mama Hanum untuk menyiapkan baju ganti dan mukena untuk Rania, setelah mendapati Rania sholat dzuhur hanya memakai baju piyama dan handuk saja, dia jadi merasa bersalah karena Rania terpaksa harus menunaikan ibadah sholat nya dengan keadaan seperti itu. Dan masalah baju ganti, sebenarnya dia sendiri sama sekali tidak keberatan dengan penampilan Rania yang hanya memakai kaos oversize miliknya itu, entah kenapa dia malah suka melihatnya, Rania benar-benar terlihat sangat menggemaskan dan lucu karena tubuh kecilnya semakin tenggelam dalam pakaiannya.


" Tadi nona Sarah juga tanya kapan pak Bos berangkat ke kantor? Katanya ada hal penting yang mau dibicarakan tentang mega proyek di Bandung. Nona Sarah juga titip ini untuk Rania. ".


Arsha menatap amplop berwarna merah muda yang diletakkan Dani di atas meja, " Apa itu Dan?".


" Mana saya tau, saya tidak mungkin berani membuka amplop itu, itu untuk Rania. ", jawab Dani sambil menggedikkan bahunya.


Dengan cepat Arsha langsung mengambil dan membuka amplop itu, " Bos, itu untuk Rania! ", cegah Dani saat melihat Arsha langsung merobek sampul amplop itu.


" Aku suaminya, aku juga berhak tau isi amplop ini. ", dengan rasa penasaran yang besar Arsha mulai membaca surat pendek ditangannya, kemudian langsung meremas surat itu menjadi bulatan yang sangat kecil. " Dan, jangan sampai Rania tau tentang surat ini! ".


" Apa isinya Bos? ", tanya Dani penasaran melihat perubahan wajah Arsha yang langsung tegang setelah membaca surat itu.


" Pokoknya kamu nggak usah bilang tentang surat ini sama Rania!! ", ucap Arsha dengan suara penuh penekanan. Ada rasa tak tenang setelah membaca surat itu, sepertinya Sarah kali ini benar-benar ingin membuat hubungan nya dengan Rania semakin bertambah rumit.


*


" Apa mas Dani sudah pulang? ", tanya Rania saat melihat Arsha masuk kedalam kamar. Sepertinya ada berita yang tak mengenakan yang membuat raut wajahnya berubah menjadi tegang, entah apa itu, Rania tak berani menanyakan nya.


" Sudah, ini ada titipan dari mama. ", Arsha menyodorkan totebag kehadapan Rania dengan ekspresi wajah yang datar.


" Alhamdulillah, makasih... ", ucap Rania sambil meraih totebag dan langsung melihat isinya, ternyata mama Hanum sudah menyiapkan baju ganti dan mukena untuknya, spontan senyum Rania langsung mengembang lega.

__ADS_1


" Rania... ", Arsha terdiam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, seperti ada yang mengganjal dan bingung harus mengatakan apa pada Rania. " Kalau kamu ketemu Sarah dan Sarah mengatakan sesuatu yang tidak jelas tentang ku atau apapun itu, tolong jangan pedulikan itu. Sebisa mungkin untuk sementara ini kamu hindari bertemu dengan Sarah. ".


Rania terdiam, apa ini yang membuat Arsha terlihat berbeda?, " Apa bu Sarah masih marah? ", Rania tertunduk lesu, rasanya masih malu dan tak enak hati jika harus bertemu dengan Sarah.


" Sarah memang sangat marah dengan pernikahan ini, tapi sebenarnya dia orangnya sangat mudah memaafkan. Biar nanti aku saja yang menjelaskannya pada Sarah. Kamu nggak usah khawatir, biar aku saja yang mengatasinya. "


" Maaf, saya memang pantas mendapatkan kemarahan dari bu Sarah, beliau pasti sangat kecewa dengan saya. ", sesal Rania semakin menunduk dalam.


" Sudahlah, kamu nggak usah mikirin tentang Sarah. ", ucap Arsha mencoba menenangkan Rania.


" Kenapa pak Arsha tidak mau menerima bu Sarah? Beliau orang yang sangat cantik dan juga sangat baik. Dan kalian berdua benar-benar serasi jika menjadi pasangan. ", tanya Rania ingin penasaran. Sarah selalu saja curhat tentang perasaannya yang kecewa dan sedih dengan penolakan Arsha meski sudah mencoba berulang kali menyatakan cinta.


" Sarah sudah aku anggap seperti Cantika, seperti adikku sendiri. Aku menyayangi Sarah hanya sebatas sayang pada adik sendiri, itulah alasannya kenapa aku tidak bisa menerima Sarah.", Arsha terlihat menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menghalau rasa gelisah saat teringat isi surat tadi.


" Rania, bersiaplah. Sebentar lagi kita akan ke rumah mama. Bapak dan ibu sudah menunggu kita sebelum berangkat ke Jogja. ", Arsha mencoba mengalihkan pembicaraan supaya Rania tidak terlarut dalam dengan rasa bersalahnya.


" Ah iya, sampai lupa kalau Bapak Ibu mau pulang ke Jogja nanti malam. Sebentar saya ganti baju dulu. ", Rania bergegas menuju ruang ganti dengan langkah terburu-buru. Arsha tersenyum geli menatap perubahan ekspresi wajah istrinya yang seolah begitu bahagia akan terlepas dari sarang buaya.


*


" Bundaaaaa....!!! ", teriakan ala tarzan cilik menggema di ruang tamu rumah mama Hanum.


" Andra... Jangan lari-lari gitu sayang... ", ucap Rania khawatir saat melihat Andra yang berlari kencang ingin segera memeluk Bunda nya.


" Assalamu'alaikum anak Bunda... ", sapa Rania begitu berhasil menangkap tubuh kecil Andra dan langsung meraup ke dalam pelukannya.


" Andra nggak nakal kan sama Gemma? ", tanya Rania khawatir takut merepotkan mama Hanum karena harus mengurus Andra


" Enggak Bunda, Andra nurut sama Gemma. Andra tidurnya juga bareng Gemma. Gemma cerita banyak banget sama Andra. "


" Waahhh... Baik banget ya gemma nya Andra. ", Rania tersenyum melihat Andra yang sangat antusias bercerita.


" Hai jagoan daddy, nggak kangen nih sama daddy? Kok daddy dicuekin... ".


" Haloo daddy... ", Andra langsung melepas pelukan dan gantian memeluk leher Arsha yang sudah berjongkok disebelah Rania.


" Uuhhh... Hallo jagoan daddy... ", dengan satu tangannya Arsha langsung mengangkat tubuh kecil Andra kedalam pelukannya dan membawanya masuk kedalam ruang keluarga.


" Daddy, apa dedek bayi nya sudah ada diperut Bunda? ", tanya Andra dengan polosnya. Seketika mata Rania yang sedang berjalan mengekor dibelakang Arsha dan Andra langsung membulat sempurna.


" Andra... ", Rania langsung memberikan isyarat dengan jari telunjuknya supaya Andra tidak meneruskan pertanyaan konyolnya itu.


" Oohhh... Andra mau dedek bayi cowo apa cewe?", tanya Arsha dengan suara agak dikeraskan supaya terdengar oleh Rania.


" Temen Andra Yusuf punya adek cowo, tiap hari katanya dia main mobil-mobilan bareng sama adeknya. "


" Andra mau adek cowo? "

__ADS_1


" Mau daddy, Andra mau adek cowo, terus adek cewe juga biar nanti Bunda ada temen masak dirumah. ", ucap Andra sambil menganggukkan kepalanya kegirangan.


" Oke!! Sekarang Andra minta ke Bunda biar kasih Andra adek secepatnya yaa... ", Arsha berbisik ditelinga Andra tapi suaranya masih bisa terdengar oleh Rania dan langsung melirik Rania yang sudah memasang muka cemberut mendengar obrolan dua laki-laki didepannya itu. Puas sekali rasanya kalo sudah bisa membuat Rania memasang muka cemberut seperti itu.


" Bunda, Andra mau adek cowo sama cewe juga... Bolehkan Bunda? ", ucap Andra dengan takut-takut saat melihat muka Bunda nya sudah cemberut.


" Andra, Bunda kan udah pernah bilang, kalau minta sesuatu minta nya ke siapa ya? ".


" Minta sama Alloh... Jadi kalo Andra minta sama Alloh nanti diperut Bunda ada dedek bayinya kan Bunda? Yeeyy... Andra mau punya adek... ".


" Waahhhh, Andra beneran mau punya adek nih kayaknya... ", mama Hanum tersenyum bahagia sambil berjalan mendekati keluarga kecil putra kesayangannya.


" Assalamu'alaikum, Andra nggak nakal kan ma? ", Rania langsung menyalami mama Hanum dan mencium punggung tangannya.


" Enggak sama sekali, aku malah seneng Andra ada disini sekarang. Jadi inget dulu waktu Arsha kecil mintanya tidur sama mamanya terus. ".


" Ayo kita berangkat sekarang, Yang kung sama Yang uti udah nungguin Andra dari tadi. ", ajak mama Hanum yang sudah rapi dan siap mau ikut mengantar besannya pulang ke Jogja.


" Ah iya sebentar ma, Rania mau ambil tas dulu dikamar. ", tanpa menunggu jawaban, Rania langsung bergegas menuju kamar Arsha dilantai dua. Sesaat kemudian mereka berangkat ke rumah Rania untuk menjemput dan mengantarkan Bapak Ibu ke stasiun.


*


" Rania, sesulit apapun kamu menerima nak Arsha, kamu harus tetap ingat kodrat mu sebagai seorang istri, jangan sampai kamu lupa tentang kewajibanmu sekarang, Ibu sangat yakin nak Arsha orang yang sangat baik. Dia begitu menyayangi Andra seperti anaknya sendiri. Ibu bisa melihat ketulusannya walaupun ibu baru mengenalnya, dia benar-benar sangat bisa menjadi ayah yang baik untuk Andra. ".


Rania menundukkan kepalanya, " Iya Bu, do'akan Rania ikhlas menjalani pernikahan ini. ". Yah... Semua yang dikatakan oleh Ibunya memang benar adanya, hanya saja masih ada sisi terdalam dihatinya yang belum siap menjalani ini semua.


" Ibu ingin kamu jadi istri yang baik bagi suami mu, apapun keadaannya kamu harus selalu patuh padanya. Andra sangat butuh sosok ayah, dia pasti sangat merindukan seseorang yang bisa menjadi panutan saat akan beranjak dewasa nanti. ".


Panutan? Rania menghela nafas dalam, apakah Arsha bisa menjadi sosok panutan bagi anaknya?. Sedangkan yang dia tau Arsha bukanlah sosok laki-laki yang taat dalam ibadahnya. Selama mengenal Arsha, dia sama sekali belum pernah mendapati Bos nya sholat, kecuali saat di rumah makan steak saat itu, itupun karena Andra yang berhasil membuat nya terpaksa sholat. Sungguh bukan perkara yang mudah untuk dijalani nantinya, bagaimana dia akan membimbing Andra menjadi anak yang taat agama didalam keluarga Arsha yang seperti itu.


*


Suasana stasiun sudah ramai dengan calon penumpang yang akan berangkat ke kota tujuan masing-masing. Kereta sedang menunggu jam keberangkatan beberapa menit lagi, dan terdengar suara panggilan dari pengeras suara untuk semua penumpang agar segera masuk ke dalam kereta.


" Nak Arsha, Bapak titipkan putri dan cucu Bapak padamu. ", ucap Bapak sambil menepuk bahu Arsha. Tadi Bapak menarik tangan Arsha agar menjauh dari yang lainnya karena ingin bicara berdua dengan menantu barunya itu.


" Tolong jaga mereka, sayangi mereka dan jangan sakiti mereka. Saya tau nak Arsha belum sepenuhnya bisa menerima Rania, walaupun nak Arsha begitu menyayangi Andra. Tapi saya berharap suatu saat nanti nak Arsha juga bisa menyayangi Rania seperti menyayangi Andra. ", Bapak terdiam sejenak, kemudian menghela nafasnya yang terasa berat seolah ada sesuatu yang sangat sulit untuk dikatakannya.


" Jika suatu saat nanti nak Arsha benar-benar sudah menyerah dan tetap tidak bisa menerima Rania, tolong... kembalikan putri Bapak secara baik-baik pada Bapak. Dan jangan sekalipun menyakiti Rania dengan cara apapun itu, karena Bapak sendiri selama hidup tidak pernah menyakiti anak Bapak sendiri, sungguh Bapak tidak akan rela dan menerima hal itu terjadi pada putri Bapak. Jika sampai hal itu terjadi, Bapak pastikan Bapak sendirilah yang akan membalasnya. ", Bapak menundukkan kepalanya, tangannya terangkat menyeka air mata yang merembes keluar.


Arsha yang mendengar ucapan Bapak langsung tercekat, merasakan betapa beratnya perasaan orang tua yang harus merelakan putri kesayangannya pada orang lain. " Bapak, saya berjanji tidak akan pernah menyerahkan Rania kembali pada Bapak sampai kapanpun. Percayalah Pak, saya akan menjaga Rania dengan tangan saya sendiri seumur hidup saya. Jadi Bapak jangan berharap lagi saya akan mengembalikan Rania pada Bapak. ", ucap Arsha dengan penuh kesungguhan.


Bapak tersenyum haru menatap anak menantunya, " Terimakasih... ", ucapnya pelan sambil mengusap bahu kekar Arsha. " Rania begitu terpuruk selama lima tahun ini, ujian yang begitu besar sudah pernah dialami nya saat itu, akan tetapi dia tidak pernah sekalipun menampakkan kesedihannya didepan orang tuanya. Kali ini Bapak sangat berharap bisa melihat Rania kembali merasakan kebahagiaan dalam kehidupannya. "


" Bapak, percayalah saya akan membuat putri Bapak bahagia selama hidupnya. ", Arsha meraih tangan Bapak kemudian menggenggamnya erat, meyakinkan Bapak dengan kesungguhannya.


*

__ADS_1


__ADS_2