Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Asam Lambung


__ADS_3

" Assalamu'alaikum warohmatulohi... ", Rania meraup wajahnya setelah menyelesaikan salam sholat subuh nya yang sedikit terlambat dari waktunya. Bibirnya berbisik lirih memanjatkan dzikir seperti yang biasa dilakukannya setelah sholat wajib. Kemudian memejamkan matanya sambil menengadahkan kedua tangannya didepan dada, berdo'a didalam hati dengan kusyuk meminta pada Sang Maha Pengasih dan Pencipta untuk segala hal yang dihadapi nya. Memasrahkan semua pada ketetapan Sang Pemilik segalanya di dunia ini.


Satu helaan nafas berhasil memenangkan hati Rania yang masih saja dihinggapi rasa bersalah dan keraguannya. Kini tugasnya sudah bertambah lagi, seberat dan sesulit apapun itu dia harus menerima kenyataan kalau saat ini dia sudah menikah lagi. Kewajiban tetap harus dilakukannya walaupun masih belum bisa menerima dan ikhlas dalam melakoni peran barunya sebagai istri seorang Arsha Wiguna yang sekaligus menjadi Bos nya sendiri dikantor. Semua ini pasti sudah ditakdirkan untuk dirinya dan juga anaknya. Sudah seharusnya dia berani menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapannya selama ini.


Manusia boleh saja berharap dengan garis hidupnya masing-masing, akan tetapi ketetapan dari Sang Maha Pencipta Kehidupan lah yang akan menentukan jalan hidup yang akan di lakoni nantinya. Tinggal bagaimana masing-masing individu akan menghadapinya, tetap pasrah tanpa berusaha atau berusaha untuk merubah alur cerita yang sudah diimpikannya menjadi lebih indah lagi.


Rania beranjak dari atas handuk putih bersih yang dijadikannya sebagai sajadah, yah... dia terpaksa menjalankan sholat shubuh dengan baju dan kain seadanya. Tidak ada mukena di apartemen ini, jadi dia hanya menutupi auratnya dengan jubah mandi dan meminjam baju hem Arsha yang tergantung di lemari pakaian. Kemudian berjalan keluar dari ruang walk in closet itu setelah merapikan kembali semua yang dipakainya untuk sholat.


*


Arsha menggeliat pelan mencoba meluruskan tubuhnya yang terasa pegal karena harus tidur disofa. Mengerjapkan kedua matanya yang silau terkena cahaya sinar matahari dari balik jendela besar yang sudah terbuka kain korden nya. Tangan kanannya sibuk mencari ponsel di sofa, sudah jam berapa sekarang?. Dia ingat tadi malam baru bisa tertidur setelah Rania menyelimuti tubuhnya yang kedinginan. Seulas senyum mengembang mengingat kejadian itu, sebuah permulaan yang cukup untuk dirinya. Kini dia sadar kalau semua ini harus dijalaninya dengan perlahan dan jangan sampai memaksa hingga membuat Rania semakin takut dan tertekan padanya. Dia sudah tau apa yang akan dilakukan nya nanti dan yang pasti dia harus siap dan banyak bersabar menghadapi penolakan Rania atas dirinya yang jauh dari kata sempurna menurut penilaian seorang Rania. Yah, setelah dipikirkan mana mungkin Rania mau dengan orang seperti dirinya yang tak pernah sholat, Rania pasti memimpikan memiliki suami yang bisa menjadi imam nya.


Arsha memicingkan mata menatap layar ponsel di tangan kanannya, ternyata sudah jam 7 lebih, pantas saja matahari diluar sana sudah terang benderang. Kemudian memusatkan indra penciuman nya yang mulai mencium aroma masakan yang memenuhi ruangan, sepertinya Rania sedang memasak didapur. Arsha tersenyum mendengar suara spatula yang beradu dengan wajan dari arah dapur, apakah begini rasanya punya istri?.


" Masak apa Rania? Harum sekali baunya. ", sapanya melihat Rania yang tampak sibuk dengan spatula di tangannya saat akan kekamar mandi didekat dapur.


" Ahh ini pak, saya masak buat sarapan, tapi maaf saya nggak tau pak Arsha biasanya makan apa untuk sarapan, jadi saya mengolah bahan yang ada dikulkas. ", jawab Rania spontan membalikkan tubuhnya dan sedikit kaget karena kini Arsha sudah ada dibelakangnya.


" Sebenarnya aku jarang sarapan, tapi karena kamu sudah masak aku akan sarapan pagi ini. ", Arsha menatap handuk kecil diatas kepala Rania, kemudian tersenyum maklum dengan tingkah Rania yang masih saja terasa kaku dan belum sepenuhnya bebas saat didepannya.


" Maaf... saya belum tau hal itu... ".


" Nggak papa, nanti aku akan beritau semua kebiasaan ku. ", Rania hanya mengangguk patuh, terlihat sekali ekspresi bersalah diwajahnya. Arsha beranjak meninggalkan dapur menuju ke kamar mandi, menyiapkan diri untuk sarapan pagi yang pertama kalinya dengan istrinya.


*


" Apa ini? ", tanya Arsha bingung melihat sayur hijau yang ada di piring.


" Itu sayur sawi pok coy ayam saus tiram. "


" Ohhh... kalau ini? ", tunjuknya pada piring satunya lagi.


" Kalau itu telur dadar tahu susu dicampur kornet sapi. Maaf saya benar-benar belum tau masakan kesukaan pak Arsha... ", ucap Rania dengan suara pelan.


" Nggak papa Rania, aku sudah sangat senang kamu mau menyiapkan sarapan untuk ku. "


" Kalau boleh tau, pak Arsha biasa sarapan pakai apa saja? ", tanya Rania ragu dan juga penasaran. Malu juga kalau nanti dirumah mama Hanum dia tidak tau harus menyiapkan menu sarapan buat suaminya sendiri.

__ADS_1


" Biasanya aku hanya minum madu hangat sama roti gandum panggang atau soup cream saja. "


" Sama sekali belum pernah sarapan pakai nasi? ", tanya Rania lagi semakin penasaran.


" Belum, kalau dulu sebelum aku kuliah diluar negeri masih sarapan dengan nasi. Tapi setelah kuliah sampai sekarang belum pernah mencoba nya lagi. "


" Apa semua nya, maksud saya mama dan Cantika juga sama, tidak pernah sarapan pakai nasi? "


" Mama selalu menyediakan nasi untuk sarapan, Cantika termasuk orang yang wajib makan nasi saat sarapan. Kalau mama biasanya hanya minum teh hangat saja, kemudian baru sarapan nanti jam 10 pagi. ", terang Arsha sambil menatap mata penasaran didepannya.


" Ohhh... Kalau begitu biar saya siapkan roti gandum saja pak. "


" Tidak usah Rania. ", Arsha menahan tangan Rania yang akan beranjak meninggalkan meja makan. " Mulai sekarang aku akan mencoba sarapan pakai nasi. Aku akan makan masakan mu saja, sepertinya sangat menggoda. "


" Tapi pak, saya takut nanti pak Arsha sakit perut karena belum terbiasa sarapan nasi. Tidak usah dimakan kalau belum terbiasa, saya ganti saja dengan menu biasanya. "


Arsha berdiri kemudian meraih kedua pundak Rania, membimbingnya untuk kembali duduk di kursi. " Aku kan sudah bilang, aku akan mencobanya. Lagipula dulu aku juga terbiasa sarapan pakai nasi, jadi apa salahnya mencobanya lagi. Ayo makan, aku benar-benar sudah lapar. "


Rania menyodorkan piring yang sudah di isi dengan sedikit nasi beserta sayur dan lauknya ke depan Arsha. Tanpa ragu Arsha langsung meraih sendok dan mulai memakan masakan Rania dengan sangat antusias. Kenapa rasanya bahagia sekali mendapatkan sarapan yang dimasak sendiri oleh istrinya?.


" Hhmmmm... enak sekali masakan mu. ", puji Arsha dengan mulut yang masih sibuk mengunyah. Masakan Rania ternyata sangat enak dan pas di lidah nya, ini bukan semata pujian supaya Rania senang, tapi ini benar-benar enak menurutnya.


*


" Apa sudah lebih nyaman perutnya? ", tanya Rania melihat Arsha yang masih memegangi perutnya setelah sebelumnya memberikan air hangat supaya sakit perutnya mereda.


" Masih sedikit nyeri, sepertinya asam lambung ku naik. "


" Maaf...", ucap Rania pelan, semakin merasa bersalah dan menyesal karena hari pertama menyiapkan sarapan tapi sudah sukses membuat perut suaminya sakit.


" Tidak papa Rania, aku memang sering mengalami sakit perut seperti ini, nanti juga akan sembuh sendiri.", Arsha mencoba menenangkan Rania yang terlihat bingung dan merasa bersalah padanya.


" Apa perlu kerumah sakit? ", tanya Rania khawatir melihat Arsha yang masih meringis kesakitan sambil memegangi perut bagian atas.


" Tidak usah, Edo sudah menyiapkan semuanya. "


" Edo?", tanya Rania tak mengerti.

__ADS_1


" Edo itu tamanku sekaligus dokter keluarga, dia yang biasa merawat keluarga kalau ada yang sakit. "


" Kalau begitu saya panggil kan dr. Edo saja biar secepatnya memeriksa keadaan pak Arsha. "


" Tidak Rania, Edo sudah menyiapkan obat obatan kalau asam lambung ku kambuh. Tolong ambilkan saja dikotak obat, di lemari gantung sebelah kulkas. "


Rania bergegas menuju lemari obat yang dimaksud oleh Arsha. Ternyata benar ucapan Arsha, obat lambung dilemari obat itu sangat lengkap. Dia sedikit paham dengan kegunaan obat untuk lambung karena pengalaman saat dulu mengandung Andra pada bulan-bulan awal kehamilan. Dengan cepat Rania meraih beberapa obat dan membawanya ke ruang keluarga dimana Arsha berada.


Rania menatap wajah Arsha yang tampak pucat menahan nyeri perutnya, tubuhnya bersandar ke sofa sambil memejamkan matanya erat. " Pak Arsha... ", panggil Rania dengan suara pelan. " Ini obatnya diminum dulu. "


Arsha menatap tangan Rania yang sedang memegang beberapa obat lambung untuk nya, kemudian meraih obat sirup yang ada di tangan kiri Rania. " Yang ini saja, terimakasih Rania. "


Rania hanya menganggukkan kepalanya saja, kemudian meraih gelas berisi air hangat yang ada dimeja sambil menunggu Arsha selesai meminum obat sirup itu. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan suaminya itu, menyesal karena sudah membuat suaminya sendiri sakit perut.


Arsha tersenyum melihat ekspresi wajah Rania yang khawatir dan merasa bersalah padanya. Kemudian tiba-tiba saja terbersit niat untuk mencoba mengerjai istrinya itu. " Auuwww perutku... ".


" Astaghfirullah..!! Pak Arsha, apa sakit sekali? Kita kerumah sakit saja ya pak. "


Arsha hanya menggelengkan kepalanya menolak ajakan Rania, apa jadi nya nanti kalau ketemu Edo dirumah sakit, pasti akan jadi bahan ejekan buatnya.


" Terus bagaimana pak?? Atau saya oles minyak angin saja supaya hangat perutnya? ".


Arsha menatap Rania yang terlihat panik, ide bagus juga mengoleskan minyak angin di perutnya. Ini inisiatif Rania sendiri untuk menyentuhnya, penasaran juga bagaimana nanti Rania menyentuh nya untuk yang pertama kalinya, toh bukan dia yang meminta nya, jelas-jelas tadi Rania yang mengusulkan sendiri.


" Aahhh... iya, coba saja lakukan... ", ucap Arsha masih terus berpura-pura kesakitan. Sebenarnya sakit perutnya sudah sedikit reda, karena obat sirup memang lebih cepat cara kerja nya.


Rania kembali bergegas menuju lemari obat, tadi dia sempat melihat ada minyak gosok ada dilemari itu. Dengan langkah tergesa-gesa kembali menghampiri Arsha disofa keluarga. Tiba-tiba muncul keraguan dihati Rania, 'apa harus aku yang mengoleskan minyak angin ini?', batinnya ragu, rasanya masih sangat canggung harus bersentuhan langsung dengan suaminya sendiri. Tapi tidak mungkin juga menyuruh Arsha mengoleskan nya sendiri disaat dia sedang kesakitan seperti itu. " Ma.maaf pak ArSha... ", panggil Rania ragu.


" Ahh iya Rania, tolong cepat oleskan disini. ", ucap Arsha sambil menarik kaosnya keatas dan langsung memperlihatkan otot perutnya pada Rania.


Rania sangat terkejut dan spontan langsung membuang mukanya kesamping. 'Astaghfirullah... bagaimana ini? '. Rania meremas botol minyak angin di tangan nya sambil terus memejamkan matanya erat.


" Rania... ", panggil Arsha mulai tak sabar, melihat Rania hanya diam saja dan malah membuang muka didepannya. Sebenarnya Arsha ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Rania saat ini, benar-benar sangat lucu baginya. Apakah dia memang selugu itu? Bukankah dia sudah pernah menikah sebelumnya?.


" Berikan padaku, biar aku saja... ", lama-lama Arsha merasa tak tega juga melihat Rania seperti tertekan dan terpaksa seperti itu.


" Maaf, biar saya saja yang mengoleskannya pak.", ucap Rania lirih, sudah sepantasnya dia bertanggungjawab setelah berhasil membuat perut Arsha sakit. Tanpa menunggu lama Rania segera duduk di samping Arsha kemudian dengan pelan mulai membalurkan minyak angin ke atas perut Arsha yang terbuka dengan tangan yang gemetaran. Sedikit memberi pijatan lembut berharap bisa meredakan sakit perut Arsha, seperti yang biasa dia lakukan saat Andra sakit perut.

__ADS_1


Sementara itu Arsha hanya diam saja sambil memejamkan matanya erat, mencoba menahan sensasi dari sentuhan jari-jari mungil Rania yang gemetaran diatas perutnya. Sepertinya kini dia mulai menyesali ide nya sendiri karena kembali terkena jebakan sendiri untuk yang kedua kalinya pada Rania.


__ADS_2