Tak Cinta Tapi Menikah

Tak Cinta Tapi Menikah
Emosi Hati


__ADS_3

Akhirnya semua jalan kehidupan terpaksa harus dilewati seperti biasanya, baik Arsha dan Rania sama-sama enggan untuk membuka tentang masalah Celine lagi. Rania tetap tenang menjalani aktivitas kesehariannya yang disibukkan dengan menyiapkan sarapan untuk Arsha dan Andra, kemudian menyiapkan perlengkapan Andra sebelum berangkat ke sekolah dan perlengkapan Arsha sebelum berangkat ke kantor. Setelah itu baru mengantarkan Andra kesekolah seperti biasanya. Semua tampak biasa saja selama dua hari ini, walaupun agak sedikit berbeda saat harus berdua didalam satu ruangan dengan suaminya sendiri, ada rasa canggung yang tercipta dari keduanya. Karena itulah Rania selalu berusaha menghindari Arsha untuk sementara waktu dengan cara tidur lebih awal dikamar Andra. Kebetulan Arsha dua hari ini juga sangat disibukkan dengan perjalanan bolak-balik Jakarta Bandung karena mega proyek yang akhirnya akan tetap di wujudkan dalam waktu dekat ini, dan membuatnya selalu pulang terlambat sampai larut malam.


Arsha menatap lekat istrinya yang saat ini sedang sibuk menyiapkan sarapan untuknya, Rania benar-benar tenang dalam diam dan selalu berusaha tetap tersenyum seperti biasanya. Sementara itu Andra sudah tampak rapi dengan seragam sekolahnya dan sudah duduk manis sambil mengayunkan kaki pendeknya menunggu bundanya menyiapkan sarapan untuknya. Hanya ada mereka bertiga diruang makan itu, mama Hanum semalam pergi ke rumah Cantika setelah ditelpon oleh suami Cantika yang mengabarkan kalo Cantika mengalami kontraksi palsu.


" Ini mas nasinya. ", Arsha menerima piring yang disodorkan Rania sambil terus menatap istrinya yang seperti enggan menatapnya.


" Daddy, besok Andra ada acara pentas seni disekolah. Daddy bisa kan datang ke sekolah liat Andra tampil?. ".


" Andra... Kan bunda udah bilang sama Andra kemarin. Daddy lagi banyak pekerjaan dikantor. ", potong Rania cepat sambil melirik suaminya yang tampak berubah raut wajahnya menjadi sedikit masam.


" Kok daddy nggak dikasih tau kalo Andra mau tampil?. ", ucap Arsha sedikit kecewa.


" Kata bunda daddy kan lagi sibuk, terus daddy juga pulangnya malam terus, jadinya Andra lupa mau bilang ke daddy. ", ucap Andra polos.


" Tapi kan harusnya daddy tetap dikasih tau dong, kan bisa telpon daddy dari kemarin. ", Arsha kembali melirik Rania yang seperti enggan bicara padanya.


" Daddy bisa kan ke sekolah liat Andra tampil?. Andra besok jadi tentara perang yang melawan musuh. ", ucap Andra dengan semangat.


" Andra, ayo dimakan dulu sarapan nya. Nanti terlambat lho, bunda suapin ya biar cepet makannya... ", bujuk Rania berusaha mengalihkan pembicaraan Andra.


" Iya bunda, Andra makan sendiri aja. ".


" Besok acaranya jam berapa?. ", tanya Arsha dengan datar.


" Jam berapa bunda?. ".


" Jam sepuluh Andra. ", sahut Rania tenang.


" Oke, Daddy usahain datang yah. ".


" Yeay... Daddy bisa bunda... ", seru Andra senang.


Rania hanya tersenyum tipis, kembali mengacuhkan suaminya yang dari tadi masih betah menatapnya.


" Rania, bisa bicara dikamar sebentar. ".


" Maaf mas, Andra masih belum selesai sarapannya. ", tolak Rania halus.


" Andra mau kan ditinggal sebentar. ".


Andra mengangguk patuh, " Iya daddy, Andra bisa makan sendiri kok. ".


" Aku tunggu diatas Rania. ".


Rania mendesah pelan, kemudian berjalan menyusul suaminya yang sudah lebih dulu ke kamar. Sesampainya di kamar Rania langsung mendekati Arsha yang tengah duduk dipinggir ranjang. " Ada apa mas?. ", tanya Rania tak bersemangat.


" Duduklah disini Rania. ", Arsha menepuk ranjang di sisi sebelahnya.


Rania menurut ikut duduk disebelah Arsha, "Kenapa nggak bilang kalo besok Andra ada acara pentas disekolah?. ".


" Maaf mas, aku tau mas Arsha lagi sibuk, makanya aku sengaja nggak bilang. Lagian itu juga acara pentas anak TK biasa aja kok mas. ".

__ADS_1


" Bukan masalah biasa dan nggak biasa Rania... Kamu kan bisa telpon atau WA, ngabarin kalo Andra mau tampil. ".


" Iya Maaf mas... ", sahut Rania singkat.


" Rania, kamu marah sama aku?. ", Arsha menggeser duduknya dan menatap Rania yang sedang tertunduk.


Rania mendongak menatap Arsha dengan senyum tipis, " Enggak mas, aku lagi nggak kenapa-napa kok... ", elak Rania berusaha menutupi keresahannya. Dua hari ini dia memang sedikit enggan untuk bertemu dengan suaminya sendiri. Hanya dengan melihat wajah suaminya saja sudah bisa mengingatkannya pada wanita itu. Setiap pagi dia selalu menyiapkan baju dan perlengkapan suaminya, setelah itu dia langsung turun ke bawah tanpa menunggu suaminya selesai mandi seperti hari biasanya.


" Rania, aku kan udah pernah bilang sama kamu, kalo kamu marah luapkan aja padaku... ".


" Mas, siapa yang marah sama mas Arsha, lagian aku juga biasa aja dari kemarin. ".


" Tapi sikapmu keliatan berbeda Rania, kan aku bisa menilai sendiri. ".


" Mas, tolong beri aku waktu untuk tenang dulu sebentar, lagian kan aku udah berusaha untuk tidak bertanya apapun sama mas Arsha, begitupun juga sebaliknya. Aku seperti ini juga karena permintaan mas Arsha sendiri kan, yang meminta ku untuk sabar menunggu. ", potong Rania cepat.


Arsha langsung terdiam, terkejut dengan perkataan Rania yang seolah merasakan ketidaknyamanannya selama ini. Ada nada kekecewaan yang sangat jelas dari kata-kata yang Rania ucapkan barusan.


" Rania, apa kamu benar-benar ingin tau semuanya sekarang?. ", tanya Arsha ragu.


" Aku tidak akan menuntut mas Arsha untuk mengatakan apapun itu sebelum mas Arsha bisa mengatasi kebingungan dalam diri mas Arsha sendiri. Aku tidak akan membuat mas Arsha bingung dengan langkah yang sudah mas Arsha jalani saat ini. Aku akan tetap sabar menunggu saja, tanpa bertanya apapun juga pada mas Arsha. ", Rania menghela nafasnya yang semakin berat, " Aku pamit ke bawah dulu mas, Andra harus segera berangkat ke sekolah. ".


" Rania... ", Arsha mencekal tangan Rania dengan lembut, yang hampir berdiri dari duduknya, seolah ingin menahannya supaya tetap duduk disampingnya, " Maafkan aku Rania, aku memang sebelumnya janji pada diriku sendiri nggak akan membuat mu sedih dengan masalah ini. Tapi nyatanya kamu justru sepertinya lebih terluka karena sikapku ini. ".


Rania tersenyum getir, entah kenapa ada sedikit ketidakpercayaan dalam hatinya setelah mengetahui fakta kalau saat ini Arsha justru membawa wanita itu ke apartemennya, walaupun dengan berbagai alasan yang mungkin memaksa suaminya melakukan hal itu, tapi Rania tetap merasa kalau tindakan Arsha kali ini benar-benar sudah diluar pikirannya.


" Mas, biarkan aku tetap diam seperti ini dulu. Jangan tanya kenapa, karena aku sendiri juga nggak tau kenapa sikapku jadi seperti ini. Kita memang harus menyadari kalau memang pernikahan ini pada dasarnya hanya karena keterpaksaan semata. Dari awal memang harapannya sangat kecil untuk bisa memahami satu sama lainnya. ".


" Mas, aku bukannya pesimis... Tapi aku lebih realistis saat ini. Kita memang dari awal tidak ada perasaan saling terikat, dan itu sangat sulit mengingat keadaan kita yang masih dibayangi masa lalu. Makanya dari awal aku tidak pernah memaksakan keadaan ini jadi seperti yang aku harapkan. Aku benar-benar tidak tau apa yang akan terjadi dimasa depan. Kalau memang nanti suatu saat mas Arsha masih bingung dengan perasaan mas sendiri, aku tidak akan kecewa lebih dalam lagi nantinya. Aku akan dengan ikhlas mundur dari keadaan yang tidak akan membawa kebahagiaan untuk suamiku sendiri. ".


" Rania, dengar ya!. ", Arsha menggeram kesal sambil mengeratkan tangannya di lengan Rania, "Jangan pernah berpikir untuk pergi dari pernikahan ini sedikitpun!. Aku yang akan mengurung mu dengan tanganku sendiri kalo kamu sampai berniat pergi dari sisiku. ", ancam Arsha.


Rania tercekat menatap mata tajam Arsha, " Mas, semua tergantung dari sikap dan tanggung jawab mas Arsha sebagai suamiku, tenang aja aku tidak akan lari sampai mas Arsha sendiri yang akan melepaskan nantinya. ".


" Rania... Aku tidak akan pernah melepaskan mu!. Ingat baik-baik sumpah ku ini!. ", Arsha sedikit mengguncang lengan Rania seolah ingin menyadarkan istrinya yang sedang marah.


" Kalau mas Arsha memang yakin dengan ucapan mas sendiri, silahkan segera selesaikan masalah itu. Aku akan tetap sabar menunggu sampai mas Arsha benar-benar bisa lepas dari masalah itu. ". Rania menarik nafasnya dalam-dalam sambil beristighfar dalam hati, mencoba meredam emosinya yang mau meledak pagi ini, " Maaf mas, aku harus pergi sekarang, Andra harus berangkat ke sekolah. ".


Rania mengurai tangan Arsha yang masih mencekal lengannya, kemudian melangkah pergi meninggalkan Arsha yang masih duduk terpaku menatap kepergiannya. Ini adalah debat pertama yang terjadi selama dua bulan pernikahannya dengan Arsha. Sebenarnya Rania sama sekali tidak ingin menyanggah perkataan suaminya sendiri, ini bukanlah sifat yang dimilikinya selama ini. Entahlah, mungkin karena hormon kehamilan nya yang mempengaruhi emosinya saat ini, rasanya seperti rollercoaster yang berlari kencang dan tiba-tiba melambat dengan sendirinya.


*


" Pak Joko, boleh saya ganti lagunya?. ", bisik Siska pelan, rasanya lama-lama pusing juga sepanjang perjalanan pulang dari Bandung harus mendengarkan musik rock yang berisik seperti itu.


" Maaf mbak, ini lagu kesukaan pak Arsha. ", jawab pak Joko ikut berbisik takut.


" Aneh banget, pantes aja orangnya bundet kayak musiknya. ", keduanya sama-sama terkekeh pelan.


" Siapa yang bundet?. ", tanya Dani dari jok dibelakangnya, persis disebelah Arsha.


" Ini pak Dani, musiknya kayak kaset bundet. ", Siska melirik Arsha yang masih melempar pandangannya kearah jalanan di sebelahnya. Dari tadi pagi seperti orang yang kurang asupan kasih sayang, mukanya merengut tak ada santainya barang sejenak. Pasti ada sangkut pautnya dengan masalah wanita itu, atau habis bertengkar dengan Rania. Tapi tadi dia mencoba menanyakan pada Rania, katanya nggak ada masalah apa-apa dengan suaminya.

__ADS_1


" Ganti aja, aku juga pusing dari tadi berangkat pulang musiknya berisik kayak gitu. ".


Siska langsung menekan tombol mencari list lagu dimonitor, ternyata hampir semuanya berisi musik rock cadas.


" Pak Joko, ada flashdisk musik lainnya nggak?. ", tanya Siska lagi.


" Ada mbak, itu di depan mbak Siska. Apa mau yang online juga bisa Mbak. Kalo Mbak Rania juga punya flashdisk bacaan alquran, saya sekarang malah jadi suka ikutan mbak Rania dengerin murottal, jadi adem hatinya. ".


" Nah iya pak Joko, murottal aja, biar bisa bikin orang adem pikirannya, nggak spaneng mikirin hal yang nggak penting. Sekalian bisa membersihkan hati orang yang sedang bimbang karena lagi banyak masalah. ".


" Kalian ngapain sih, kok malah pada bisik-bisik didepan. ", protes Dani.


" Ini pak Dani, katanya pak Joko mending dengerin murottal aja, biar sekalian bisa bikin tenang hati dan pikiran yang lagi bundet karena banyak masalah. ".


" Halah... Mbak Siska bisa aja, perasaan tadi saya nggak gitu ngomongnya. ", pak Joko terkekeh mendengar ucapan Siska.


" Ya udah cepetan diputer murottal nya, biar setannya pada keluar dari sini. ", seloroh Dani asal.


Arsha mendengus sebal mendengarkan bisikan mengganggu disebelah nya, " Setannya itu kalian berdua, jadi sekarang kalian yang harus keluar dari mobil ini. Pak Joko, berhenti dulu sebentar, biar mereka turun disini aja. ", sungut Arsha kesal.


" Bos, masa tega sih nyuruh kita turun disini. Ini masih jauh lho dari kantor. ".


" Kalian berdua terlalu berisik, cepat keluar!. ", bentak Arsha pada Dani.


" Bos... ".


" Keluar sendiri atau mau ditendang keluar sekarang juga?!. ", ancam Arsha dengan muka serius.


Akhirnya Dani dan Siska benar-benar menuruti perintah Arsha, keluar dari mobil dengan kesal karena Arsha seenaknya saja menurunkan mereka dipertengahan perjalanan pulang.


" Kamu sih, pake ngributin musik segala!. ", sungut Dani ikutan kesal pada Siska.


" Bukannya tadi pak Dani sendiri yang bilang pusing dengerin musik berisik seperti itu, kenapa sekarang jadi ikutan nyalahin aku?!. Emang pak Bos lagi mikirin masalah apa Pak Dani, kok dari tadi pagi keliatan nggak mood gitu?. ".


" Mana aku tau, lagi PMS kali. ", jawab Dani asal.


" Ishh pak Dani, ehh Pak... apa wanita itu sekarang masih tinggal di apartement pak Bos?. ".


" Darimana kamu tau?!. ", tanya Dani terkejut.


" Ups... ", Siska spontan langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya.


" Hei... jawab pertanyaanku, darimana kamu tau Sis?. Apa Rania udah tau tentang hal ini?. ", tanya Dani curiga.


" Eh itu ada taksi, taksi!!!. ", teriak Siska keras, dan langsung berjalan menghindari Dani sambil mengejar taksi yang kebetulan lewat.


" Siska!. Jawab dulu pertanyaan ku!. ", Dani ikut mengejar Siska yang kini sudah masuk kedalam taksi, kemudian menyusul duduk tepat disamping Siska.


" Pak Dani, please jangan bilang pak Bos kalau Rania udah tau masalah itu. ", pinta Siska penuh harap.


" Oke, aku janji nggak akan bilang, tapi kamu harus cerita dulu semuanya yang kamu tau. ".

__ADS_1


Siska langsung mengangguk patuh, dalam hati menyesali kecerobohannya sendiri.


__ADS_2